Sarah

Sarah
Aleta Melahirkan



"Dokter gimana kondisi anak saya?" tanya ibu Aleta panik.


"Pasien akan segera melahirkan, suster cepat bawa pasien ke ruang VK" pinta dokter.


"Baik dokter"


Aleta ditemani ibunya menjalani proses lahiran, sementara Hasan tidak ada di sampingnya.


"Kalau aku pulang ke rumah si Icha, mau taruh dimana harga diriku? dia sudah mengusir ku, ya kali aku kembali padanya, kayak gak ada wanita lain aja deh! wanita kan banyak di dunia ini yang mau sama aku, bukan dia doang! emangnya dia pikir dia siapa? bisa seenaknya ngusir aku dari rumah, lihat saja kamu Icha, aku akan membalas perbuatan mu itu" ucap Hasan.


Hasan dihampiri oleh seorang wanita cantik namun gila.


"Suami aku" ucap wanita itu memeluk Hasan.


"Apaan sih lu? gak jelas banget! gw bukan suami lu!" bentak Hasan melepaskan pelukan wanita itu.


"Mas jangan tinggalkan aku lagi ya" ucap wanita itu yang kembali memeluk Hasan.


Wanita itu mengenakan baju sobek-sobek namun terlihat kulit aslinya yang putih walaupun terkena debu.


"Ini cewek gila tapi kulitnya mulus banget ya? aku bawa pulang aja kali ya? di mandiin juga pasti cantik deh, tapi bawa pulang kemana? ke hotel dulu aja deh" batin Hasan menatap wanita itu.


"Ayok ikut aku" ucap Hasan menarik tangan wanita itu.


Wanita itu berjalan mengikuti Hasan.


"Kamu tunggu sini dulu ya" pinta Hasan.


"Mas mau kemana?"


"Mas mau beli baju untuk kamu dulu ya"


"Baju?" tanya wanita itu memegang kerah bajunya.


"Iya"


"Oke, tapi janji ya, mas gak boleh pergi lagi"


"Iya"


Hasan pergi meninggalkan wanita itu dan membelikan pakaian serta make up dan kembali menghampirinya.


Hasan memberikan jaket dan topi yang ia beli kepada wanita itu.


"Pakai ya" ucap Hasan membantu wanita itu mengenakan jaketnya.


Hasan memakaikan topi pada wanita itu dan mengajaknya pergi.


"Kalau kayak gini kan gak bakal ada yang tahu kalau dia orang gila" batin Hasan menatap wanita itu.


Hasan memesan satu kamar hotel untuk mereka dari uang yang orangtua Aleta dan supir taksi yang telah menabraknya.


"Kamu mandi dulu ya, ini bawa sana" pinta Hasan.


"Tapi kamu jangan kemana-mana ya"


"Iya"


"Nanti pakai baju ini ya" pinta Hasan memberikan baju dinas pada wanita itu.


"Iya"


Seorang wanita cantik, dan seksi keluar dari dalam kamar mandi.


"Gila! ini cewek cantik banget ya, benar dugaan gw tadi, kulit aslinya putih, mulus, karena dia gila aja makanya kecantikannya tertutupi" batin Hasan menatap wanita itu dari atas hingga ke bawah.


"Sini sayang" pinta Hasan.


Wanita itu berjalan menghampiri Hasan dan mereka pun melakukan adegan terlarang.


Di rumah sakit, Aleta tengah berjuang untuk melahirkan anak Hasan, di hotel Hasan malah sedang bikin anak dengan wanita lain.


Anak Hasan dan Aleta akhirnya terlahir kedua dengan jenis kelamin perempuan yang diberi nama "Ratu Mezzaluna Kayyisa".


"Mah, siapa yang akan mengumandangkan adzan untuk Luna? apa mas Hasan ada di depan?" tanya Aleta.


"Tidak ada nak, terakhir mamah sama papah nyuruh dia ke rumah sakit karena supir taksi kita tadi gak sengaja menabrak Hasan"


"Astagfirullahaladzim, terus mas Hasan gak apa-apa mah?"


"Hasan gak kenapa-kenapa kok, supir taksi itu juga memberikan uang untuk biaya pengobatan Hasan"


"Oh gitu, jadi Luna bagaimana mah?"


"Iya mah"


Ibunya meletakkan Luna di samping Aleta.


"Pah, tolong kumandangkan adzan untuk Luna" pinta ibu Aleta.


"Anak Aleta diberi nama Luna mah?"


"Iya pah, Aleta memberikan nama anaknya Luna"


"Ya sudah, ayok kita ke dalam"


"Iya pah"


Ayah Aleta mengumandangkan adzan untuk Luna putri kecil Aleta.


Suster datang menghampiri dan membawa bayi Aleta ke inkubator yang ada di depan.


"Anaknya diberikan nama siapa?" tanya suster.


"Ratu Mezzaluna Kayyisa suster" jawab Aleta tersenyum.


"Nama yang bagus, nama panggilannya siapa?"


"Makasih suster, nama panggilannya Luna suster"


"Oke, selama dua puluh empat jam bayi anda harus berada di inkubator"


"Oh oke suster"


"Mah, pah, aku kepikiran sama mas Hasan deh, kondisi kesehatan mas Hasan gimana ya?"


"Mama juga gak tahu nak"


"Tolong telponin mas Hasan mah"


"Iya nak"


Handphone Hasan berdering namun Hasan mengabaikannya karena ia sedang bersenang-senang.


"Gak diangkat nak"


"Apa terjadi sesuatu sama mas Hasan ya?"


"Entahlah, dia di telpon juga gak diangkat, kamu jadikan cerai sama Hasan?"


"Iya mah"


"Kalau begitu biar mama sama papa yang mengurusnya ya"


"Nanti Aleta yang urus sendiri mah kalau udah pulang dari rumah sakit, takutnya nanti ada sesuatu yang perlu di tanda tangani disana kan biar sekalian gitu"


"Oh ya sudah jika itu keinginan kamu, sekarang kamu istirahat dulu aja ya, jangan terlalu dipikirkan, pikirkan dulu kesehatan kamu, jangan mikirin suami kamu itu"


"Iya mah, mah aku haus, boleh tolong ambilkan minum?"


"Minum ya? sebentar ya, mamah belikan minuman sama makanan dulu buat kamu"


"Iya mah"


Ibu Aleta turun ke bawah untuk membelikan Aleta makan dan minuman. Setelah beberapa saat kemudian, ibu Aleta kembali membawa tiga nasi bungkus dan minuman botol. Ibu Aleta memberikan minum dan menyuapi Aleta makanan.


"Pah makan dulu, itu mama belikan papa makanan juga"


"Iya mah"


Aleta terlihat sedih saat melihat kebersamaan orangtuanya.


"Ada apa nak?" tanya ayah Aleta.


"Disaat aku melahirkan Dylan, mas Hasan gak ada di samping aku, mas Hasan meninggalkan aku, dan disaat aku melahirkan Luna, lagi-lagi mas Hasan gak ada di samping ku, ini semua memang salah ku, salah ku yang telah memberikan kesempatan kedua kepada mas Hasan, seharusnya aku sadar, jika dari awal pernikahan ku telah hancur, tapi aku masih saja membelanya, aku masih saja bertahan, dan berharap sesuatu yang tidak akan pernah mungkin terjadi yaitu perubahan mas Hasan menjadi suami idaman, benar kata orang, jika laki-laki telah lama pergi meninggalkan kita tanpa kabar itu berarti ada orang ketiga yang hadir di suatu hubungan, dan laki-laki yang telah sekali berselingkuh akan kembali mengulang hal yang sama, karena perselingkuhan yang membuatnya bahagia, dia bahagia dengan banyak wanita yang hadir di dalam kehidupannya, dan mengabaikan aku, bukan wanita itu yang pelakor tapi memang status ku saja yang hanya sebatas istri hitam diatas putih, seharusnya aku sadar, jika aku dan mas Hasan telah lama berpisah, hanya saja nama kita masih terikat secara hukum, dan kali ini aku akan memutus ikatan hukum itu dengan berpisah dengannya, aku tidak ingin lagi menjadi beban untuknya" ucap Aleta meneteskan air mata.


"Bukan kamu yang beban untuknya, tapi dialah beban di dalam kehidupan kamu, dia hanya hidup di atas kaki mu, bukan di atas kakinya sendiri, dia memiliki banyak wanita, itu dari uang mu, dari pekerjaan yang ayah kamu berikan, bukan atas kerja kerasnya sendiri, ketika kamu berpisah dengannya nanti papa akan mengeluarkan Hasan dari kantornya, iya kan pah?" tanya ibu Aleta menatap suaminya.


"Iya mah" jawab ayahnya tersenyum menganggukkan kepala.


"Udah ya, sekarang kamu makan" pinta ibu Aleta.


"Iya mah"