Sarah

Sarah
Awal Kehidupan Sasha dan Nadia



"Mas ayok kita pulang" ajak Sinta menarik tangan Alderts.


"Kamu kenapa sih? kita kan baru sebentar disini"


"Aku gak nyaman ada di tempat ini mas"


"Hanya kamu yang tidak nyaman ada di tempat ini, lihatlah Rafly dan Dinda, mereka terlihat sangat bahagia bermain dengan Sarah kakaknya, kamu tidak bahagia karena ada Kinara disini kan? tujuan ku hari ini adalah untuk membahagiakan anak-anak ku, dan ketiga anak ku terlihat sangat bahagia bermain, jadi lebih baik kamu diam! jika kamu tidak menikmatinya karena melihat Kinara ada disini, lebih baik kamu ke tempat lain saja yang jauh dari Kinara"


"Kok kamu jadi ngusir aku sih mas?"


"Aku tidak mengusir kamu, tapi kamu hanya mementingkan diri kamu sendiri! kamu tidak mementingkan kebahagiaan anak-anak kamu!"


"Sebelum berbicara itu alangkah baiknya untuk bercermin terlebih dahulu mas! Kinara meninggalkan kamu dan memilih pria lain itu karena kamu tidak bisa membahagiakan Kinara dan juga anak kandung kamu Sarah, jika kamu mengatakan aku lebih mementingkan diri ku sendiri, lantas bagaimana dengan kamu mas? tidak ada perbedaan diantara kita, peganglah bedak aku dan bukalah" pinta Sinta.


Alderts membuka bedak Sinta menatapnya kebingungan.


"Berkacalah mas!" pinta Sasha membalik bedak itu dan mengarahkan kacanya kepada Alderts lalu pergi.


Alderts hanya menatap kepergian Sinta dan menutup bedak yang ia pegang.


"Pah, mama mau kemana?" tanya Dinda menghampiri Alderts.


"Mama mu mau pergi sebentar kok, nanti juga mama kamu balik lagi, kamu lanjut aja mainnya ya" pinta Alderts tersenyum mengelus pucuk kepala Dinda.


"Iya pah" ucap Dinda berlari menghampiri kedua kakaknya dan lanjut bermain.


Beralih pada Nadia, ayah Nadia mendapatkan kabar jika Nadia tidak diterima di sekolah yang kemarin ia daftarkan.


"Nadia" panggil ayahnya.


"Iya pah, ada apa?"


"Pihak sekolah memberitahukan jika kamu tidak bisa masuk ke sekolah itu"


"Tapi Nadia pengen masuk sekolah itu pah, pokonya Nadia gak mau tahu, Nadia harus bisa masuk ke dalam sekolah itu!" ucap Nadia yang langsung pergi meninggalkan ayahnya.


Ayah Nadia kembali ke kamar dan membuka brankas tempat ia menyimpan beberapa uangnya. Ayah Nadia memasukkan banyak uang ke dalam tas dan pergi.


"Tunggu pak, bapak ingin bertemu siapa ya?" tanya salah satu guru menghalangi ayah Nadia masuk.


"Minggirlah! saya ada urusan dengan kepala sekolah, bukan dengan anda! jangan halangi jalan saya!" ketusnya.


Ayah Nadia langsung masuk ke dalam ruang kepala sekolah tanpa mengetuk pintunya.


"Ini uang untuk anda, saya ingin anak saya Nadia Azkadina diterima di sekolah ini! jika uang ini kurang, katakan saja, biar akan ku tambahkan lagi, yang terpenting bagiku adalah putriku bisa sekolah disini, karena putriku menginginkan sekolah ini" ucap ayah Nadia dingin.


"Tapi pak..."


"Bukalah dulu, dan lihatlah! saya tidak suka terlalu terburu-buru mengambil suatu keputusan, lihat dan pikirkanlah lagi!"


Kepala sekolah membuka tas yang berisi tumpukan uang merah.


"Berapa jumlah semua uang ini?"


"Seratus juta rupiah, ada apa? apa itu masih kurang untuk membuat Nadia masuk ke sekolah ini hm?"


"Tidak! oke baiklah! Nadia anak bapak boleh bersekolah di sekolah ini"


"Begitu lebih baik, saya permisi!" ucap ayah Nadia yang langsung pergi begitu saja.


Ayah Nadia kembali ke rumah untuk memberitahukan kepada Nadia jika ia diterima di sekolah yang ia inginkan.


"Nadia" panggil ayahnya.


"Iya pah, ada apa?"


"Kamu diterima di sekolah yang kamu inginkan itu"


"Benarkah itu pah?"


"Iya, papa memberikannya uang seratus juta rupiah dan dia langsung berubah pikiran" ucap ayah Nadia menyeringai.


"Makasih ya pah" ucap Nadia memeluk ayahnya.


"Iya sayang sama-sama, kamu sekolah yang benar ya! jangan sampai dikeluarkan lagi dari sekolah"


Ayahnya pun tersenyum memeluknya.


"Diterima dengan uang itu bukan diterima namanya Nadia!" ucap ibunya yang datang dari belakang.


"Maksud mama apa?" tanya Nadia menoleh ke belakang.


Ibunya berjalan menghampirinya.


"Maksud mama itu kamu tidak benar-benar diterima di sekolah itu, pihak sekolah terpaksa menerima mu karena sogokan uang dari papa mu itu"


"Terpaksa atau tidak itu tidak penting bagi Nadia mah! yang terpenting bagi Nadia adalah Nadia bisa masuk ke dalam sekolah itu!"


"Benar kata Nadia, pihak sekolah terpaksa atau tidak menerimanya itu tidak penting! sepertinya kamu tidak suka ya jika anak kamu melanjutkan pendidikannya lagi hm? apa kamu ingin Nadia memiliki pendidikan terakhir sekolah dasar begitu? aku memilih mu karena kamu berpendidikan, kamu lulusan S3 dan menjadi rektor di salah satu universitas, tapi kamu ingin anak mu menjadi bodoh begitu? Nadia masih kecil, jadi bagiku itu adalah hal yang wajar jika dia nakal, semua anak kecil juga ku rasa seperti itu, kamu sebagai orangtua harusnya mendidiknya bukan menyindirnya!"


"Kamu memang seorang dokter, dan dokter terkenal akan kepintarannya, tapi mengapa kamu bodoh mas? uang sogokan bukanlah jalan yang terbaik!"


"Itu cara terbaik atau tidak sama sekali tidak penting bagiku! dengarlah Alyna Andressa, aku tahu apa yang terbaik untuk putriku Nadia Azkadina, dan kamu hanya ingin memberikan semua yang terbaik untuknya"


"Perlu kamu ketahui Bryan Alkhalifi, uang memang segalanya tapi tidak semuanya dapat kamu beli dengan uang mu itu! itu sama saja kamu membeli sekolah itu demi Nadia diterima di sekolah itu"


"Terserah apa katamu! lebih baik kamu pergi dari hadapan ku!"


"Oke baiklah!" ucap ibu Nadia yang langsung pergi.


"Mama mau kemana?" tanya Nadia memegang tangan ibunya.


"Mama mau kerja sayang, kamu sama papa kamu dulu ya, nanti sore mama pulang kok"


"Hm ok mah, mama hati-hati ya"


"Iya sayang, assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam mah" ucap Nadia mencium punggung tangan ibunya.


"Nadia" panggil ayahnya.


"Iya pah"


"Kamu masuk ya ke kamar kamu, siapkan barang-barang mu untuk besok, karena besok kamu sudah mulai masuk sekolah"


"Iya pah"


"Kalau udah siap semua barang-barang kamu, kamu istirahat aja ya"


"Iya pah"


Nadia pun pergi ke kamarnya, sedangkan Bryan bersandar di kursi dan menyalakan televisi.


Nadia memasukkan semua buku-bukunya, menyiapkan baju seragamnya lalu beristirahat.


Beralih ke pesantren, kini giliran Sasha untuk membaca Al-Qur'an.


"Sasha Floella" panggil pak ustadz.


"Haduh nama gw dipanggil lagi!" batin Sasha panik.


"Sasha Floella, ini giliran kamu membaca Al-Qur'an"


"Hm maaf pak, sebelumnya saya tidak pernah belajar membaca Al-Qur'an" ucap Sasha ketakutan.


"Azka Dzuhairi Hisyam" panggil pak ustadz.


"Iya abi"


"Kamu kan abi tugaskan untuk mengajarkan para santri dan santriwati untuk membaca Al-Qur'an, ajari Sasha juga dengan yang lain ya, ustadzah Mirna, temani Azka dan Sasha ya"


"Baik pak ustadz.


"Ayok" ajak Azka.


Azka dan ustadzah Mirna mengajarkan Sasha membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar.