Sarah

Sarah
Orangtua Rissa Pergi



"Assalamualaikum Rissa, tante" kata Aji memasuki ruang perawatan Shivanya.


"Wa'alaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Rissa? siapa Rissa? kamu siapa? aku tidak mengenal mu" kata Shivanya Nerissa menatap Aji kebingungan.


"Aji ikut tante" kata Shivanya Ayuningtyas menarik tangan Aji.


Shivanya Ayuningtyas mengajak Aji keluar ruang perawatan.


"Aji, dia amnesia, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati ya, dia bukan bermaksud untuk melupakan kamu, tapi kata dokter benturan di kepalanya cukup keras hingga membuat dia hilang ingatan atau amnesia"


"Jadi Rissa amnesia tante?"


"Iya Aji, dokter tadi melakukan pemeriksaan di kepalanya, tapi hasilnya belum keluar Ji, kata dokter kalau ada pembekuan darah di kepala, Rissa harus secepatnya di operasi"


"Astagfirullahaladzim, kasian sekali Rissa"


"Iya Ji"


"Hm tante, orangtua Rissa kemana?"


"Tante juga gak tahu Ji, orangtua Rissa hanya datang pas tahu Rissa kecelakaan, semenjak Rissa sadar, orangtuanya belum kesini, ya mungkin keluarganya sibuk kali Ji, tapi masa iya sih, sesibuk-sibuknya orangtua tidak bisa menyempatkan waktu untuk anaknya sendiri, apalagi anaknya kan masuk rumah sakit"


"Rissa pernah cerita ke aku tante, kalau perlakuan orangtuanya berubah semenjak ayah Rissa dikeluarkan dari pekerjaannya"


"Berubah gimana Ji?"


"Rissa gak cerita detailnya sih tante, Rissa cuma bilang jika perlakuan orangtuanya ke dia berubah semenjak ayahnya dikeluarkan dari pekerjaan"


"Tante boleh minta tolong gak sama kamu?"


"Apa tante?"


"Tolong jaga dia sebentar ya Ji, tante ada urusan sebentar" kata Shivanya Ayuningtyas tersenyum menepuk pundak Aji.


"Iya tante" jawab Aji tersenyum.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam tante"


Shivanya Ayuningtyas pergi meninggalkan rumah sakit dan Aji masuk ke dalam ruang perawatan Rissa.


"Tante Shivanya mana?" tanya Rissa menatap sekelilingnya.


"Tante Shivanya pergi sebentar Rissa, dia menitipkan kamu sama aku" kata Aji tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.


Rissa yang tidak ingat siapa Aji pun menepis tangan Aji.


"Kamu siapa? jangan pegang-pegang" kata Rissa ketakutan.


"Aku Aji, sahabat kamu" jawab Aji tersenyum.


"Sahabat? benarkah itu? mengapa aku tidak mengingat mu?"


"Tidak apa jika kamu tidak mengingat ku" jawab Aji tersenyum.


"Kenapa?"


"Seiring dengan berjalannya waktu, aku yakin kok, kamu pasti nanti bakal ingat siapa aku sebenarnya"


"Hm okay"


"Assalamualaikum dek, kamu gak apa-apa kan?" tanya seorang pria datang menghampiri Rissa dengan wajah paniknya.


"Ikh kamu siapa lagi? aku gak kenal sama kamu"


"Aku pangeran kodok mu, masa kamu lupa sih sama aku?"


"Pangeran kodok siapa? aku tidak mengenal mu" jawab Shivanya.


"Hei! aku mas Amir, abang kamu, abang mu yang kamu panggil pangeran kodok hanya karena aku suka bermain dengan kodok"


"Aji, ada apa ini sebenarnya? mengapa dia tidak mengingat ku sama sekali?" tanya mas Amir berbisik pada Aji.


"Tadi kata tante Shivanya, Rissa mengalami amnesia mas"


"Tante Shivanya? siapa dia? mengapa dia mengenal adik ku?"


"Tante Shivanya itu orang yang telah menolong putri tidur dan membawanya ke rumah sakit mas"


"Putri tidur? kamu memanggil adik ku putri tidur?"


"Hehehe! iya mas" kata Aji tersipu malu.


"Oh gitu"


"Iya mas"


"Lantas kemana tante Shivanya pergi? mengapa dia tidak ada disini? mengapa dia meninggalkan adik ku sendiri disini?"


"Lalu aku dianggap apa mas? dedemit kah? adik mu tidak sendirian, ada aku disampingnya, apa kamu tidak bisa melihat ku?"


"Bukan itu maksud ku, maksud ku itu, bagaimana kalau nanti dokter atau suster memanggil salah satu keluarga pasien, sedangkan kamu masih kecil, kamu pasti tidak mengerti apa yang mereka katakan"


"Oh gitu, iya tadi tante Shivanya bilang kalau dia mau pergi sebentar entah kemana, tadi kan tante Shivanya nanya ke aku, kenapa orangtua Rissa gak datang ke rumah sakit, kata tante Shivanya tadi hm orangtua Rissa hanya datang sekali pas Rissa kecelakaan, selebihnya tidak pernah datang berkunjung menjenguk Rissa, terus aku bilang ke tante Shivanya kan kalau orangtua Rissa berubah semenjak ayah Rissa dikeluarkan dari pekerjaannya, setelah aku bilang kayak gitu tante Shivanya langsung pergi gak bilang mau kemana"


"Berarti dia pergi ke rumah Rissa"


"Mungkin aja sih mas"


"Kalian membicarakan hal apa? kalian membicarakan tentang ku ya?" tanya Rissa.


"Hm, enggak kok dek" jawab mas Amir tersenyum kecil mengelus pucuk kepala Rissa.


Rissa hanya menatap kebingungan mas Amir dan juga Aji.


Beralih ke Shivanya Ayuningtyas, kini ia telah tiba di rumah Rissa.


"Assalamualaikum pak, bu" ucap Shivanya Ayuningtyas mengetuk pintu rumah Rissa.


"Assalamualaikum" ucap Shivanya mengetuk-ngetuk pintu rumah Rissa.


"Cari siapa mbak?" tanya tetangga Rissa.


"Hm cari keluarganya Rissa bu" jawab Shivanya Ayuningtyas.


"Oh cari keluarganya Rissa, udah lama keluarganya Rissa tidak terlihat, terakhir saya ketemu ibunya beberapa hari yang lalu, katanya ada urusan penting gitu mbak, tapi saya gak tahu deh ada urusan apa, soalnya ibunya Rissa gak bilang apapun"


"Ibu tahu gak ibunya Rissa pergi kemana?"


"Hm, saya gak tahu mbak, ibunya Rissa gak bilang apapun ke saya"


"Perginya ke arah mana ya bu?"


"Ke arah sana sih mbak" ucap ibu itu menunjuk jalan.


"Hm, makasih ya bu, nanti kalau ibu lihat keluarganya Rissa saya titip salam ya bu, bilang kalau Shivanya Ayuningtyas ke rumah untuk mencari mereka"


"Baik mbak" kata tetangga Rissa tersenyum menganggukkan kepala.


"Kalau gitu saya permisi ya bu, assalamualaikum" kata Shivanya tersenyum menganggukkan kepala.


"Iya mbak, wa'alaikumsalam" jawab ibu itu tersenyum menganggukkan kepala.


"Ternyata keluarganya Rissa tidak ada di rumah, pantas saja mereka tidak menemui Rissa di rumah sakit, tapi keluarga Rissa pergi kemana? apa sepenting itukah urusannya? sampai-sampai ia melupakan Rissa begitu saja? sepenting apa urusannya itu ya? sampai ia bisa untuk meninggalkan Rissa begitu saja dengan orang lain, aku memang akan bertanggungjawab kepada Rissa, karena ia telah menyelamatkan nyawa anak ku, tapi bukan berarti orangtuanya lepas tanggung jawab untuk menjaganya begitu saja" ucap Shivanya dengan ekspresi sedih.


"Hm, ya sudahlah, lebih baik sekarang aku balik aja lagi ke rumah sakit, Aji juga masih kecil kan? kalau dokter butuh keluarga pasien, tidak mungkin dokter akan mempercayakan hal itu kepada Aji, secara Aji masih kecil, pasti dia tidak tahu apapun tentang medis, ya aku harus secepatnya kembali ke rumah sakit" kata Shivanya yang langsung masuk ke dala mobilnya dan memacu mobilnya dengan kencang karena jalanan saat itu tengah sepi.


"Mas tolong nyalakan tv itu" pinta Shivanya menunjuk televisi yang ada di depannya.


"Iya dek" kata mas Amir bangkit dan mengambil remot tv.


Mereka bertiga pun menonton kartun kesukaan Rissa yaitu Spongebob Squarepants.