
"Bete banget ke rumah Shivanya akh" ucap Aji pada dirinya sendiri.
"Assalamualaikum Shivanya main yuk" ucap Aji mengetuk pintu rumah Shivanya.
"Assalamualaikum om, tante, Shivanya main yuk" ucap Aji mengetuk pintu rumah Shivanya.
"Rumahnya kok sepi banget ya? apa lagi pada pergi ya" ucap Aji mengintip dari jendela.
"Aku panggil sekali lagi deh kalau gak ada orang juga aku pulang aja, besok lagi kesini" ucap Aji.
"Assalamualaikum" ucap Aji mengetuk pintu rumah Shivanya.
"Hm ya udah lah besok lagi aja kesini mungkin lagi pada jalan-jalan tapi kok firasat aku gak enak ya? udah lah mungkin aku aja yang berlebihan ha-ha-ha" ucap Aji menertawakan diri sendiri.
"Pah, mamah lupa ngasih tahu Aji kalau Shivanya kecelakaan" ucap ibu Shivanya.
"Kasih tahu mah kasian, biar gimanapun juga kan Aji teman main Shivanya" ucap suaminya.
"Assalamualaikum Aji" ucap ibu Shivanya di telepon.
"Wa'alaikumsalam tante ada apa ya?" tanya Aji.
"Tante mau kasih tahu ke kamu kalau Shivanya kecelakaan sekarang lagi dirawat di rumah sakit, Shivanya kritis Ji" ucap ibu Shivanya meneteskan air matanya.
"Apa tante? kecelakaan? ya udah Aji kesana sekarang ya tante, tolong kirimin alamat rumah sakitnya" ucap Aji.
"Iya Ji" ucap ibu Shivanya.
"Assalamualaikum tante" ucap Aji.
"Wa'alaikumsalam Ji" ucap ibu Shivanya menutup panggilan telepon.
Ibu Shivanya pun mengirimkan nama dan alamat rumah sakit tempat Shivanya dirawat. Setelah mendapatkan lokasi rumah sakit, Aji pergi ke rumah sakit.
"Mamah, Aji pamit mau ke rumah sakit ya" ucap Aji pada ibunya.
"Mau ngapain nak? kamu sakit juga?" tanya ibunya.
"Enggak mah, mau jenguk Shivanya, dia Kecelakaan kata ibunya" ucap Aji.
"Innalilahi, kok bisa kecelakaan sayang? emang Shivanya habis ngapain?" tanya ibunya.
"Gak tahu mah" ucap Aji.
"Ya udah kamu hati-hati ya sayang, ini uangnya, mamah gak bisa ikut kan adik kamu lagi sakit" ucap ibunya.
"Iya mah gak apa-apa kok, assalamualaikum mah" ucap Aji mencium punggung tangan ibunya.
"Wa'alaikumsalam nak" ucap ibunya.
"Suster ICU dimana ya?" tanya Aji.
"Lurus aja dek sampai ujung nanti belok ke kiri" ucap suster.
"Makasih suster" ucap Aji.
"Sama-sama" ucap suster tersenyum.
"Assalamualaikum om, tante" ucap Aji menghampiri orangtua Shivanya.
"Wa'alaikumsalam" ucap orangtua Shivanya kompak menatap Aji dengan berlinang air mata.
"Kamu kesini sendiri sayang?" tanya ibu Shivanya.
"Iya tante, kenapa?" tanya Aji.
"Ayah ibu kamu kemana?" tanya ibu Shivanya.
"Papah gak tau kemana kalau mamah dirumah nungguin adik aku soalnya dia lagi sakit" ucap Aji.
"Sakit apa Ji?" tanya ibu Shivanya.
"Demam biasa aja kok tante" ucap Aji.
"Oh gitu" ucap ibu Shivanya.
"Iya tante, om, tante gimana kondisi Shivanya?" tanya Aji.
"Shivanya masih kritis" ucap ibu Shivanya meneteskan air mata.
"Shivanya sakit apa om, tante?" tanya Aji.
"Shivanya kecelakaan saat menolong anak saya Callista" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Tante siapa ya?" tanya Aji.
"Saya ibunya Callista, Callista itu teman satu sekolah Shivanya Nerissa" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Oh gitu" ucap Aji.
"Om, tante, aku boleh masuk ke dalam gak? mau liat Shivanya dari dekat" ucap Aji.
"Masuk aja" ucap ayah Shivanya.
"Makasih om, tante" ucap Aji.
Ayah Shivanya hanya tersenyum memberikan isyarat pada Aji.
Aji pun masuk ke dalam kamar ICU untuk melihat Shivanya dari dekat. Ketika melihat alat yang terpasang di seluruh tubuh Shivanya air matanya tidak bisa terbendung lagi. Aji memeluk Shivanya meneteskan air matanya.
"Shivanya bangun, gw gak mau kehilangan lu" ucap Aji histeris.
"Gw tahu lu denger suara gw, bangun Shiv" ucap Aji.
"Pah, aku mau masuk ke dalam ya, nemenin Aji, kasian dia pasti sedih banget deh" ucap ibu Shivanya.
"Iya mah" ucap ayah Shivanya.
Ibu Shivanya masuk ke dalam ruangan ICU memeluk Aji yang nampak kehilangan arah. Ibu Shivanya berusaha menenangkannya dan membawa Aji ke luar kamar ICU.
"Aji udah sayang, kita keluar yuk" ucap ibu Shivanya mengelus pucuk kepala Aji.
"Tapi tante... !" ucap Aji.
"Ayok sayang" ucap ibu Shivanya.
"Iya tante" ucap Aji.
"Ini udah masuk waktu sholat isha, kita sholat dulu yuk" ucap ayah Shivanya.
"Iya pah" ucap istrinya.
"Iya om" ucap Aji.
Orangtua Shivanya, Aji, Shivanya Ayuningtyas, Callista dan Altezza pun pergi ke musholla yang ada tak jauh dari rumah sakit.
"Ya Allah, aku sayang salah satu ciptaan mu itu, aku mohon selamatkan dia, tetapi jika Engkau lebih menyayanginya bantulah aku untuk kuat dan ikhlas menerimanya" ucap Aji meneteskan air matanya diatas sajadah.
"Aji kelihatannya tulus banget ya sama Shivanya, mereka seperti dua insan yang saling ketergantungan satu sama lain, bagaimana nantinya jika ternyata menurut takdir nama mereka tidak tertulis di Lauhul Mahfudz satu sama lain, atau bagaimana jika jodoh salah satu dari mereka adalah kematian, cinta mereka tulus, semoga takdir tidak pernah berniat untuk memisahkan mereka" ucap Lia sedih menatap Aji yang masih meneteskan air matanya diatas sajadah musholla.
"Aji, om juga ngerasain apa yang kamu rasakan, saat ini kita hanya bisa berusaha dengan cara mendoakan Shivanya agar doa mampu melewati masa kritisnya, kita harus yakin kalau Shivanya pasti akan sadar secepatnya, karena kalau kita yakin Insha Allah hasilnya juga akan memuaskan, semua sudah diatur oleh yang di Atas, kita hanya pemain atas skenario hidup yang telah diatur oleh sang Pencipta sebelum kita terlahir ke dunia, sebelum kita terlahir ke dunia kita sudah ditanya berkali-kali oleh malaikat "apakah kamu yakin ingin terlahir ke dunia?", kita harus yakin kalau Shivanya kuat" ucap ayah Shivanya.
"Iya om" ucap Aji.
"Sekarang kita balik lagi ya ke kamar Shivanya, kasian dia kalau terlalu lama ditinggal sendirian" ucap ayah Shivanya.
"Iya om" ucap Aji.
"Dimana Altezza?" tanya ayah Shivanya.
"Om" ucap Altezza datang menghampiri Aji dan ayah Shivanya.
"Altezza, ayok kita balik ke kamar Shivanya" ucap ayah Shivanya.
"Iya om" ucap Altezza.
"Papah" ucap istrinya datang menghampiri.
"Dimana ibu dan adikmu Callista?" tanya ayah Shivanya.
"Gak tahu om" ucap Altezza menggelengkan kepala.
"Mamah gak bareng sama ibu dan adiknya Altezza?" tanya ayah Shivanya pada istrinya.
"Enggak pah, mamah gak liat mereka, banyak orang mungkin pah jadi gak kelihatan" ucap istrinya.
"Ya sudah kita tunggu di depan pohon sana saja biar terlihat oleh mereka" ucap ayah Shivanya.
"Iya pah" ucap istrinya.
"Iya om" ucap Altezza dan Aji kompak.
"Mamah Callista mau pulang ngantuk tahu" ucap Callista.
"Nanti ya sayang" ucap ibunya.
"Kapan mah? Callista mau pulang" ucap Callista.
"Tidur di ruang tunggu dulu aja ya sayang" ucap ibunya tersenyum mengelus pucuk kepala putrinya.
"Tapi mah... !" ucap Callista.
"Sayang, Shivanya begini kan juga karena nolongin kamu, gak enak banget mamah sama keluarganya" ucap ibunya.
"Kan mamah juga udah bayarin biaya rumah sakit dia, udah sih mah ayok pulang" ucap Callista.
"Nanti ya sayang, kita tunggu sebentar lagi, habis itu kita pulang" ucap ibunya.
"Hm, itu udah deh mah" ucap Callista.
Tak lama menunggu, Shivanya Ayuningtyas menghampiri bersama Callista. Setelah berkumpul mereka pun kembali ke ruang tunggu di depan ICU.
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan, Callista terus saja meminta ibunya untuk pulang kerumah.
"Mamah ayok pulang" rengek Callista.
"Sabar sayang" ucap ibunya.
"Ibu kalau mau pulang, gak apa-apa bu pulang aja, kasian anaknya mau pulang, mungkin anak ibu lelah" ucap ibu Shivanya.
"Kamu sih Callista berisik banget tuh kan ibu Shivanya jadi dengar" ucap Shivanya Ayuningtyas pada Callista.
"Biarin aja" ucap Callista.
"Pak, bu, dek, tante sama anak-anak tante pamit pulang ya, assalamualaikum" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum.
"Wa'alaikumsalam" ucap orangtua Shivanya dan Aji kompak.
"Ayok Callista, Altezza kita pulang" ucap Shivanya Ayuningtyas pada anak-anaknya.
"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak.
"Callista, Altezza kita minta surat sakit dulu yuk untuk Shivanya" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Altezza.
"Lagi-lagi Shivanya hm, menyebalkan... !" gerutu Callista.
"Callista jangan gitu sayang" ucap ibunya.
"Ya udah lah terserah mamah aja" ucap Callista.
"Nah gitu dong" ucap ibunya.
"Suster saya mau minta surat dari rumah sakit untuk izin tidak masuk sekolah" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Atas nama siapa bu?" tanya suster.
"Atas nama Shivanya Nerissa suster" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Untuk berapa hari bu suratnya?" tanya suster.
"Hm, suster gini Shivanya Nerissa kan kritis, baiknya gimana ya?" tanya Shivanya Ayuningtyas.
"Surat ini cuma bisa 3 hari saja bu, kalau lebih ibu bisa minta lagi kesini" ucap suster.
"Baik suster" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Sebentar ya bu, saya buatkan suratnya dulu" ucap suster tersenyum.
"Iya suster" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum.
"Ibu, ini suratnya" ucap suster.
"Makasih ya suster" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum.
"Sama-sama bu" ucap suster tersenyum.
"Ayok Altezza, Callista kita pulang" ucap ibunya.
"Iya mah" jawab mereka kompak.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah.
"HUFT... ! akhirnya sampai rumah juga" ucap Callista yang langsung rebahan di sofa ruang tamu.
"Lain kali jangan kayak gitu ya Callista" ucap ibunya.
Callista hanya menatap ibunya dan langsung pergi ke kamarnya.
"Callista... !" ucap ibunya bernada tinggi.
"Mah, udah mah... ! mungkin Callista lelah makanya dia ngajak pulang terus daritadi di rumah sakit" ucap Altezza.
"Iya sayang, kamu mandi, ganti baju terus istirahat ya, kalau lapar lagi ambil aja di kulkas, mamah mau istirahat juga" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Altezza tersenyum.