Sarah

Sarah
Hasan Diusir Icha



"Icha! Icha buka pintunya!" teriak Hasan menggedor-gedor pintu rumahnya membawa sebotol minuman.


"Mas kamu gak ada kerjaan lagi apa selain minum hah?" tanya Icha.


"Minggir kamu!" ucap Hasan mendorong Icha hingga kepalanya terkena ujung pintu.


"Mau kemana kamu mas?" tanya Icha menarik baju belakang Hasan.


"Ada apa kamu menarik baju ku seperti itu hah? apa kamu mulai berani padaku seperti Aleta?" tanya Hasan yang langsung minum.


"Ada apa kamu bilang? uang mana hah? kamu tidak pernah memberikan aku uang semenjak kita menikah" ucap Icha.


"Kalau mau uang ya kerja bukan minta! siapa kamu minta uang padaku hah?" tanya Hasan.


"Aku istri mu mas"


"Kamu bukan istri ku, kamu hanya sekedar pemuas nafsu ku saja, apa kamu lupa? jika selama ini kita bermain menggunakan pengaman, dan ketika kita tidak menggunakan pengaman, aku selalu meminta mu untuk meminum obat penggugur kandungan agar kamu tidak hamil seperti Aleta, aku tidak memiliki istri satupun, tidak Aleta, tidak kamu ataupun tidak wanita diluar sana, mereka semua bodoh, karena mereka berpikir jika aku mencintai mereka, padahal yang aku inginkan hanya uang mereka, aku hanya mencintai satu orang wanita yaitu Fredericka Nerissa, wanita pertama yang aku temui sebelum aku bertemu dengan Aleta, tapi semenjak aku mengetahui jika Fredericka adalah wanita kaya raya dan merupakan anak tunggal aku jadi mencintai hartanya dan tidak mencintai dia lagi, uang lebih penting di mataku daripada cinta, mengapa wanita mementingkan hatinya? apa dengan cinta kalian bisa kenyang? tidak kan? mengapa kalian mau menikah dengan seorang pria karena berlandaskan cinta hm? apalagi pria seperti ku, kalian sudah tahu jika aku adalah pria pemabuk, penjudi dan suka bergonta-ganti pasangan, tapi bodohnya kalian mau menjadi pasangan ku, aku tidak salah kan? kalian yang salah! kalian yang salah karena telah memilih laki-laki seperti itu, wanita cerdas pasti tidak akan memilih laki-laki seperti ku, dan jika telat menyadari kalian bisa pergi dan aku bisa mencari wanita baru yang jauh lebih cantik, jauh lebih mantap tubuhnya dan pastinya jauh lebih kaya raya, hati tidak penting bagi ku, karena yang terpenting bagi ku hanyalah uang, dengan hati aku tidak bisa bermain, membeli minuman ini, tapi dengan uang, aku bisa mendapatkan segala yang aku inginkan, jadi untuk apa hati itu diciptakan? seharusnya hanya ada uang yang tercipta di dunia ini, karena semuanya menggunakan uang" ucap Hasan yang langsung pergi meninggalkan Icha.


"Kamu tidak boleh masuk ke dalam rumah ku sebelum kamu memberikan ku uang! ada uang kamu bisa tinggal di rumah ku ini, tapi tanpa uang, aku tidak akan pernah mengizinkan mu untuk menginjakkan kaki mu itu ke dalam rumah ku ini! pergi kamu mas! jangan kembali jika tidak membawa uang sepeser pun! usir Icha mendorong Hasan.


Hasan yang lemah karena pengaruh alkohol pun terjatuh dan botol minumannya pecah karena terlempar. Icha segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


"Minuman ku, minuman ku jatuh" ucap Hasan memegang botol minuman Hasan yang pecah.


Hasan pun berdiri perlahan dan berjalan ke arah pintu.


"Hei buka! ucap Hasan mengetuk-ngetuk pintu rumah Icha.


"Buka pintunya! kamu telah menumpahkan minuman ku, aku harus minum apa? aku tidak bisa minum lagi karena kamu, kamu jahat! salah minuman ku apa? dia tidak salah, mengapa kamu menumpahkannya?" tanya Hasan mengetuk-ngetuk pintu rumah Icha.


Icha mendengarkan di balik pintu. Hasan berjalan pergi meninggalkan rumah Icha dengan langkah kaki yang tidak stabil. Icha membuka sedikit pintunya dan melihat Hasan pergi sempoyongan.


"Bagus deh jika pemabuk itu sudah pergi dari rumah ini" kata Icha tersenyum dan kembali menutup pintunya.


****************


Ayah dan ibu Aleta kembali setelah kepergiannya yang cukup lama ke luar negeri. Selama ini ternyata ibu Aleta menjalani beberapa pengobatan untuk penyembuhan penyakit alzheimer.


"Pah, mama minta papa jangan pernah memberitahukan hal ini kepada Aleta, kasian dia pah, masalahnya yang suaminya berikan sudah sangat banyak, jangan menambah beban pikirannya lagi, mama gak apa-apa kok pah, jangan kasih tahu Aleta ya pah, mama mohon" ucap istrinya menatap suaminya sedih dan memegang tangan suaminya.


"Iya mah" jawab suaminya tersenyum menganggukkan kepala.


"Ketika kita nanti sampai di bandara Indonesia, jangan bilang ke Aleta ya pah, kita naik taksi online saja, Aleta sedang hamil pah, kasian jika dia harus menjemput kita ke bandara" ucap istrinya.


"Iya mah" ucap suaminya tersenyum menganggukkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, ayah dan ibu Aleta tiba di bandara Indonesia. Mereka memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Taksi online yang membawa ayah dan ibu Aleta tidak sengaja menyerempet Hasan yang berjalan tidak stabil. Ayah, ibu dan supir taksi terpental ke belakang tapi tidak terpental keluar mobil.


"Ada apa sih pak? kenapa ngerem mendadak seperti itu?" tanya ayah Aleta.


"Maaf pak, bu, sepertinya tadi saya menabrak seseorang" ucap supir taksi menatap ke belakang.


Ayah, ibu, dan supir taksi itu turun dari mobil untuk memeriksa seseorang yang habis mereka tabrak.


"Hasan" ucap ayah Aleta terkejut saat melihat Hasan yang tertabrak oleh supir taksi itu.


"Bapak dan ibu mengenalnya?" tanya supir taksi itu.


"Iya, dia suami anak saya pak" jawab ayah Aleta.


Ayah Aleta membantu supir taksi itu. Ketika Hasan berdiri, Hasan mendorong ayah Aleta dan supir taksi itu.


"Papa aku minta uang" ucap Hasan mengulurkan tangannya.


"Kamu harus ke rumah sakit Hasan" jawab ayah Aleta.


"Aku bisa pergi sendiri, aku minta uang" ucap Hasan.


"Pah kasih saja uangnya" pinta ibunya.


"Iya mah" ucap ayah Aleta menatap istrinya.


"Ini Hasan, kamu harus ke rumah sakit ya" ucap ayah Aleta memberikan sejumlah uang kepada Hasan dan menepuk pundaknya.


"Iya pah" ucap Hasan dan langsung pergi.


"Eh tunggu" ucap supir taksi menepuk pundak Hasan.


"Ini untuk kamu, maafkan saya karena telah menabrak mu tadi" ucap supir taksi memberikan sejumlah uang.


"Hm oke!" kata Hasan yang langsung pergi mengambil uang yang diberikan oleh supir taksi itu.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya.


"Ini uangnya pak, makasih ya pak" ucap ayah Aleta tersenyum menganggukkan kepala memberikan sejumlah uang.


"Sama-sama pak" ucap supir taksi itu tersenyum menganggukkan kepala dan mengambil uang ayah Aleta.


Ayah dan ibu Aleta turun dari taksi dan masuk ke dalam rumahnya karena pintu pagar tidak dikunci.


"Assalamualaikum Al" ucap ibunya mengetuk pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam mah, pah, kok gak bilang sama Aleta dulu sih kalau mau pulang? kan biar Aleta bisa jemput" ucap Aleta.


"Gak usah nak, kan kamu juga sedang hamil besar" ucap ibunya tersenyum.


"Hm iya mah, ayok mah, pah masuk" ucap Aleta tersenyum dan menepi agar kedua orangtuanya bisa masuk ke dalam.


"Iya sayang" ucap ibunya tersenyum.


"Arghhhhh!" rintih Aleta kesakitan memegangi perutnya.


"Kamu kenapa nak?" tanya ibunya panik dan langsung menghampirinya.


"Perut Aleta sakit banget mah" ucap Aleta memegangi perutnya.


"Astagfirullahaladzim, ya udah kalau begitu kita ke rumah sakit aja, ayok Al" pinta ibunya menuntun Aleta berjalan.


"Iya mah" ucap Aleta berjalan perlahan sembari terus memegangi perutnya.


"Pak Agus siapkan mobil segera" pinta ayah Aleta.


"Siap tuan" jawab pak Agus yang langsung berlari mengeluarkan mobil dari garasi.


Mereka segera membawa Aleta ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.