
Satu bulan berlalu, Shivanya masih belum sadarkan diri. Hari ujian kenaikan kelas tiba. Shivanya Ayuningtyas yang sangat menyayanginya pun melakukan apa saja untuk kenaikannya. Shivanya Ayuningtyas meminta izin pada gurunya, sehingga dia sendiri yang mengerjakan soal ujian itu untuk Shivanya Nerissa karena Shivanya Nerissa sangat mirip dengan kakak tiri yang sangat ia sayangi.
"Mah, aku sama Altezza berangkat ke sekolah dulu ya assalamualaikum'' ucap Callista mencium pucuk kepala Callista.
"Wa'alaikumsalam" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Altezza juga pamit ya mah assalamualaikum" ucap Altezza.
"Callista, Altezza tunggu" panggil ibunya.
"Ada apa mah?" tanya mereka kompak.
"Kapan kalian ujiannya?" tanya ibunya.
"Hari ini mah" ucap Altezza.
"Hari ini?" tanya ibunya.
"Iya mah, ada apa?" tanya Altezza.
"Mamah ikut kalian ke sekolah" ucap ibunya bergegas mengunci pintu rumahnya.
"Ayok sayang" ucap ibunya menarik tangan anak-anaknya.
"Iya mah" jawab mereka kompak.
"Tumben banget gak sih bang, mamah mau nganterin kita ke sekolah?" tanya Callista berbisik pada Altezza.
"Iya sih, tumben banget ya, ada apa ya sebenarnya?" tanya Altezza.
"Mana gw tahu" ucap Callista.
"Ibu, tunggu" panggil Shivanya Ayuningtyas memberhentikan Kinara.
"Iya bu, ada apa?" tanya bu Kinara.
"Apa benar ibu wali kelasnya Shivanya'' Nerissa?" tanya Shivanya Ayuningtyas.
"Hm, jadi gini bu, boleh tidak, jika saya yang menggantikan Shivanya Nerissa untuk mengerjakan soal ujiannya, karena Shivanya Nerissa masih kritis di rumah sakit" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Hm, gimana ya bu? saya juga gak enak, saya kan hanya wali kelasnya Shivanya saja" ucap bu Kinara.
"Saya mohon bu, kasian Shivanya jika dia harus tinggal kelas" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Hm, oke baiklah, akan saya coba bantu bicarakan hal ini dulu pada kepala sekolah" ucap bu Kinara.
"Terima kasih banyak bu, saya tunggu disini ya bu" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Oke" ucap bu Kinara tersenyum.
"What? mamah kenapa sih peduli banget sama si kemoceng itu?" tanya Callista kesal.
Kinara yang juga mencintai Shivanya Nerissa mengizinkannya dan akhirnya Shivanya Nerissa dan putri kandungnya Altezza dan Callista lulus dengan nilai bagus.
Kinara datang mengunjungi Shivanya di rumah sakit. Kinara yang melihatnya pun meneteskan air matanya dan memeluk Shivanya. Kinara mengelus pucuk kepala Shivanya dan mencium keningnya.
Shivanya meneteskan air mata, tak lama kemudian jari-jarinya bergerak dan matanya perlahan terbuka. Kinara yang melihat Shivanya terbangun langsung memeluknya.
Lia yang melihat keharmonisan Kinara dan Shivanya tiba-tiba teringat akan keharmonisan sahabatnya Fredericka dengan Kinara, ibu kandung Sarah. Dia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini lagi. Kebahagiaan terpancar dari wajah Shivanya dan Kinara. Keduanya seperti ibu dan anak kandung.
Kinara, ibu kandung Sarah, juga peduli dan menyayangi Fredericka. Seorang wanita dengan hati yang tulus dan lembut. Kinara tidak hanya mencintai Sarah, Love, dan Dimas, tetapi dia juga sangat mencintaiku, Fredericka, dan lingkungan sekitarnya juga sangat menyayanginya seperti keluarganya sendiri.
"Permisi pak" ucap bu Kinara memasuki ruang kepala sekolah.
"Silakan masuk bu Kinara" ucap kepala sekolah.
"Terima kasih pak" ucap bu Kinara tersenyum.
"Silakan duduk bu" ucap kepala sekolah.
"Terima kasih pak" ucap bu Kinara tersenyum.
"Ada keperluan apa bu Kinara?" tanya kepala sekolah.
"Hm, gini pak, saya ngomongnya gak enak pak" ucap bu Kinara.
"Ngomong aja bu" ucap pak kepala sekolah.
"Jadi gini pak, salah satu orangtua murid, lebih tepatnya ibu dari Callista dan Altezza ingin membantu untuk mengerjakan soal ujian Shivanya Nerissa pak, karena saat ini Shivanya Nerissa masih belum sadarkan diri, jadi bagaimana ya pak? apa di izinkan?" tanya bu Kinara.
"Sesuai dengan peraturan tidak boleh bu" ucap kepala sekolah.
"Tapi pak, saya mohon, kasihan Shivanya, dia anak yang pintar sayang kalau dia tinggal kelas" ucap bu Kinara.
"Terima kasih pak" ucap bu Kinara memegang tangan kepala sekolah dan langsung memeluknya.
"Sama-sama" ucap kepala sekolah melepaskan pelukannya.
Bu Kinara langsung menemui Shivanya Ayuningtyas untuk memberitahukan berita itu.
"Bu Shivanya" panggil bu Kinara.
"Iya bu, jadi bagaimana bu, apakah boleh jika saya yang mengerjakannya?" tanya Shivanya Ayuningtyas.
"Boleh bu, silakan masuk" ucap bu Kinara.
"Alhamdulillah, terima kasih ya bu" ucap Shivanya Ayuningtyas tersenyum.
Shivanya Ayuningtyas masuk ke dalam untuk mengerjakan soal ujian Shivanya Nerissa. Anak-anaknya yang melihat pun dibuat semakin membenci Shivanya Nerissa.
"Mamah apa-apaan sih? kenapa coba dia pakai acara sok baik sama si kemoceng itu hah? ngabisin waktu doang, kayak gak ada kerjaan aja deh" gerutu Callista.
"Tahu, gw jadi ikutan kesal deh sama si kemoceng itu, it's okay! tadinya gw emang gak terlalu benci sama si kemoceng, ya paling cuma kebawa suasana kesal doang gara-gara lu kesal sama si kemoceng, tapi sekarang gw jadi kesal beneran sama si kemoceng" ucap Altezza.
"Iya kan? ngeselin tuh orang, kenapa ya? dia itu gak mati aja sekalian, pakai acara kritis segala lagi" ucap Callista.
"Iya, kesal juga gw, kenapa tuh orang gak langsung mati aja?, pakai setengah hidup, setengah mati segala" ucap Altezza.
"Eh bang, lu sepemikiran gak sama gw? kalau mamah itu beneran anggap si kemoceng itu adalah hasil dari reinkarnasi tante Ika, iya gak? lu mikir gitu juga gak sih?" tanya Callista.
"Iya sih gw juga mikir kayak gitu, eh tapi emang reinkarnasi itu beneran ada ya? bukannya cuma sekedar mitos belaka?" tanya Altezza.
"Nanti aja deh kita bahas lagi setelah ujiannya kelar" ucap Callista.
"Oke" ucap Altezza.
Ujian akhir pun selesai. Callista dan Altezza tidak pulang bersama ibunya dan tetap disekolah untuk membicarakan hal yang tadi mereka bicarakan mengenai "reinkarnasi".
"Ica, Eja, pulang sama mamah yuk" ucap ibunya.
"Hm, aku sama Ica pulang berdua aja deh mah, soalnya masih ada tugas di sekolah" ucap Altezza.
"Iya mah benar, kita masih ada tugas di sekolah" ucap Callista gugup.
"Oh ya sudah, mamah pulang dulu ya kalian hati-hati" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak.
"Assalamualaikum" ucap ibunya.
"Wa'alaikumsalam mah" ucap Altezza dan Callista kompak.
"HUFT... ! untung mamah gak curiga ya bang" ucap Callista.
"Iya dek, ya udah kita lanjut bahas yang tadi aja, tutup pintunya biar gak ada yang dengar" ucap Altezza.
"Oke" ucap Callista menutup pintu kelas.
"Eh ini gw nemu 1 artikel yang bilang kalau reinkarnasi itu artinya seseorang yang telah meninggal dunia terlahir kembali, mengalami deja-vu" ucap Altezza menatap Callista bingung.
"Deja-vu itu apa bang?" tanya Callista.
"Deja-vu itu seseorang pernah merasakan atau mengalami situasi yang pernah dialami kehidupan sebelumnya" ucap Altezza.
"Apa reinkarnasi itu wajahnya mirip?" tanya Callista.
"Kalau dari artikel yang aku baca sih, reinkarnasi itu wajahnya sangat mirip berarti si kemoceng itu beneran hasil dari reinkarnasi tante Ika dong?" tanya Altezza menatap Callista ketakutan.
"Kok gw jadi merinding ya bang? balik yuk" ucap Callista.
"Ayok" ucap Altezza ketakutan menatap sekitar.
"Shivanya Nerissa memang benar hasil dari reinkarnasi ku dan kalian tidak boleh lagi membully dia, jika kalian masih berani untuk membully dia, aku tidak akan segan-segan untuk menyakiti kalian walaupun kalian adalah keponakan ku sendiri tetapi, penjahat tetaplah penjahat... !" ucap Fredericka Nerissa yang tiba-tiba muncul.
"Tante... ! tante kan udah meninggal dunia, kenapa tante sekarang ada di sini?" tanya Altezza ketakutan.
"Iya tante, kan tante udah meninggal dunia, kenapa ada di sini?" tanya Callista ketakutan.
"Bang, pergi yuk" ucap Callista ketakutan melirik Altezza.
"Ayok" ucap Altezza ketakutan.
Callista dan Altezza pun lari terbirit-birit karena ketakutan melihat arwah penasaran Fredericka Nerissa tante mereka.