Sarah

Sarah
Bullying



"Mah, Rissa berangkat ke sekolah dulu ya assalamualaikum" ucap Shivanya mencium punggung tangan ibunya.


"Iya Rissa wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan ya" ucap ibunya.


"Iya mah" ucap Shivanya.


Shivanya yang hendak masuk ke dalam gerbang sekolahnya melihat Agnes yang tengah kesal turun dari dalam mobilnya. Agnes yang kesal pun tidak melihat jalanan yang tanpa ia sadari ada motor melintas didepannya, Shivanya berlari mendorong Agnes menjauhkannya dari motor yang akan menabraknya itu.


"Agnes awas!!!'' ucap Shivanya mendorongnya.


"AKH!!!" ucap Agnes kesakitan.


"Siapa lagi yang ngedorong gw? Shivanya? jadi tuh anak yang dorong gw tadi" ucap Agnes kesal menarik tangan Shivanya hingga berdiri.


"Kurang ajar banget ya lo!!! berani-beraninya lo ngedorong gw sampai jatuh" bentak Agnes.


"Tapi Nes..." ucap Shivanya menghentikan perkataannya.


"Dek, kamu tuh udah di tolongin sama dia bukannya bilang terimakasih malah nyalahin dia kayak gitu, kalau gak ada dia, kamu udah ketabrak motor saya" ucap pengendara motor yang tadi hampir menabrak Agnes.


Agnes yang mendengarnya sontak terdiam dan langsung pergi meninggalkan Shivanya. Shivanya masuk ke dalam sekolahnya dengan kaki yang pincang. Jam istirahat tiba-tiba, Shivanya menghampiri Agnes dan teman-temannya untuk mengajaknya bermain bersama namun Agnes malah mengusirnya.


"Hai Agnes, bolehkah aku bermain dengan kalian?" tanya Shiva menghampiri salah satu teman di sekolahnya.


''Mengapa anda sok banget akrab? siapa anda? anda lebih baik bermain di sana dengan setan, orang gila seperti anda itu lebih pantas bermain dengan iblis daripada sama manusia, saya tidak ingin bermain dengan anda, nanti saya dan teman-teman saya bisa tertular virus gila anda jika kami bermain bersama anda, sudah sana pergi" ucap Agnes mengusirnya.


"Ya" kata Shivanya sambil menunduk sedih.


"Hai Shivanya, kenapa kamu sedih?" tanya wanita misterius yang dia temui pertama kali.


''Hei kak, kakak kemana kemarin? satenya kemarin aku tinggal di dekat sana, lagipula, kamu tidak datang, sudah hujan, maaf, saya tinggal di sana, apakah satenya masih enak saat dimakan?" tanya Shivanya.


''Ya masih enak kok, nggak apa-apa kok salah saya kemarin ada urusan mendadak jadi langsung pergi deh, pas balik kmu udah nggak ada, cuma ada satenya doang di pojokan untung gak dimakan kucing" ucap wanita misterius itu menahan tawanya.


''Sekali lagi maaf" ucap Shivanya menatapnya.


''Tidak apa-apa kok satenya tetap enak dimakan meski terkena air hujan" ucap wanita misterius itu.


''Apakah itu benar?" tanya Shivanya.


''Iya, satenya masih enak kok" ucap wanita misterius itu tersenyum.


''Alhamdulillah kalau masih enak ngomong-ngomong, nama kakak siapa? di mana rumah kakak? apa di dekat sekolah ini?" tanya Shivanya.


''Nama saya Feby, ya, rumah saya dekat dari sini" ucap wanita misterius itu.


''Dimana itu? bolehkah aku bermain ke rumahmu?" tanya Shivanya.


"Boleh kok, ya udah yuk" ucap Feby.


''Tunjukan saja, biar aku ikut, oh ya, berapa umurmu Feby?" tanya Shivanya.


"Umur kakak 23 tahun" ucap mbak Feby tersenyum mengelus pucuk kepala Shivanya.


''Oh maaf, ternyata kamu lebih tua dariku" ucap Shivanya menunduk malu.


''Haha, nggak apa-apa kok, ini rumah kakak, mau masuk dulu?" tanya mbak Feby berhenti di salah satu rumah.


"Nanti saja deh kak, kapan-kapan soalnya sebentar lagi bel masuk" ucap Shivanya melirik jam di tangannya.


''Oke, kakak antar ya ke sekolah kamu lagi" ucap mbak Feby.


''Tidak perlu kak, jaraknya sangat dekat dari sini" ucap Shivanya menggelengkan kepalanya.


''Iya kak" ucap Shivanya menganggukkan kepalanya.


"Kak, terima kasih telah mengantarku ke sekolah lagi" ucap Shivanya tersenyum.


''Ya sama-sama, kalau istirahat ke rumah kakak aja nggak apa-apa kok, kakak malah senang banget kalau ada seseorang yang berkunjung ke rumah kakak, soalnya kakak tinggal di sana sendiri" ucap mbak Feby.


''Orangtua kakak emang kemana?'' tanya Shivanya.


''Sudah meninggal dunia'' ucap mbak Feby.


''Astagfirullah maaf kak Shivanya tidak tahu" ucap Shivanya.


''Iya sayang gak apa-apa kok" ucap mbak Feby tersenyum.


''Kak aku masuk ke dalam kelas dulu ya assalamualaikum"


''Iya Shiva wa'alaikumsalam" ucap mbak Feby.


"Tante Ayu kemana ya? kata mamah tadi mau dijemput tante Ayu, katanya mamah sama papah mau pergi lagi, tapi tante Ayu kemana ya?" tanya Shivanya pada dirinya sendiri.


"Mbak Feby" ucap Shivanya melambaikan tangannya saat melihat mbak Feby di jalan.


''Hei, apa yang kamu lakukan di sini?'' tanya mbak Feby.


''Aku lagi nunggu tante Ayu katanya dia mau jemput aku tapi belum datang juga" ucap Shivanya.


"Lisa, lihat deh musuh bebuyutan mu berbicara sendiri lagi" ucap Jennie salah satu pembully Shivanya.


"Samperin yuk, udah lama gak gangguin dia" ucap Lisa mengangkat alisnya menyeringai.


"Ayolah, aku sangat gatal jika tidak mengerjai dia" ucap Jennie.


''Haha, ya, ya, benar, ayo samperin dia" ucap Lisa mengangkat alisnya menyeringai.


"HEH KEMOCENG!!" kata Lisa mendorong Shivanya.


''Maaf tapi nama saya Shivanya Nerissa bukan kemoceng" ucap Shivanya.


"Hei, orang seperti lu itu tidak pantas tahu diberi nama Shivanya Shivanya" kata Dinda mendorong Shivanya.


"Memang benar orang sepertimu itu lebih pantas jika dipanggil dengan kemoceng, kamu itu seperti orang gila, kamu sering berbicara sendiri, jadi kamu pantas disebut kemoceng, jika kamu mengeluarkan kemoceng dari tempatnya, dan kemoceng itu akan sama seperti rambut mu itu yang kayak orang gila HAHA'" ucap Sinta menertawakannya.


"Rambutmu sama seperti orang gila, lihatlah sendiri" ucap Dinda sambil melepas ikat rambut Shivanya dan memberikannya cermin.


"AKH!!" rintih Shivanya kesakitan saat Jennie menarik paksa ikat rambutnya hingga kepalanya tertarik ke belakang.


''Jennie kembalikan ikat rambut ku sini" ucap Shivanya yang berusaha menggapai ikat rambutnya.


"Mau ini? ambil saja sendiri" ucap Jennie melemparkan ikat rambut Shivanya ke atas loteng sekolah.


''Tinggalin aja yuk, dia cengeng banget'' kata Dinda meninggalkan Shivanya yang menangis.


"HUH!!! DASAR KEMOCENG CENGENG!!!" kata Sinta meledek Shivanya dan meninggalkannya.


Shivanya hanya terdiam dan menangis tersedu-sedu menatap ke atas loteng sekolahnya memikirkan bagaimana cara dia mengambil ikat rambutnya itu yang di lempar oleh Jennie ke atas sana.


"Tinggi banget gentengnya, gimana caranya aku ngambil kunciran ku itu? tapi aku malu jika terus seperti ini, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengambilnya diatas sana, sekolah sudah sangat sepi, pak security juga gak ada" ucap Shivanya yang masih terus menatap ke atas loteng sekolahnya.


Shivanya pun jatuh tersungkur menatap ke atas loteng dengan berlinang air mata dan masih terus memegangi rambutnya agar tidak seperti orang gila.