
''Rissa'' panggil ibunya.
''Iya mah'' ucap Shivanya.
Shivanya Nerissa lebih sering dipanggil "Rissa" oleh keluarganya.
''Hari ini mama dan papa ada acara di Bandung untuk bertemu rekan kerja kita disana, kamu tinggal di rumah pamanmu selama 1 minggu, nanti mama dan papa akan mengantarmu kesana" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Shivanya.
''Kamu berani gak sayang tinggal di rumah pamanmu?" tanya ibunya.
''Iya mah" ucap Shivanya.
''Baiklah, mama akan mengemasi barang-barangmu di koper nanti" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Shivanya.
Setelah ibunya selesai memasukkan seluruh pakaian, seragam sekolah, dan buku-buku pelajaran Rissa, mereka pergi ke rumah Farid pamannya atau adik dari ayah Rissa.
''Ayo sayang masuk ke dalam mobil'' ucap ibunya.
''Mah, Rissa mau ke rumah Aji dulu, kasian Aji kalau nanti dia datang malah tidak ada orang di rumah" ucap Shivanya.
"Iya Rissa" ucap ibunya tersenyum.
''Assalamualaikum Aji" ucap Shivanya di depan pintu rumah Aji.
''Wa'alaikumsalam, Shivanya ada apa?" tanya Aji membukakan pintu rumahnya.
"Ji, mama bilang 1 minggu ke depan aku akan tinggal di rumah pamanku" ucap Shivanya.
"Lalu?" tanya Aji.
"Ya, saya ingin memberitahu kamu, saya takut nanti kamu datang tidak ada orang dirumah kan kasihan" ucap Shivanya.
''Ah manis sekali ucapan mu itu" ucap Aji tersenyum.
''Apaan sih Aji" ucap Shivanya tersipu malu.
''Sampai berapa lama kamu disana?, selama 1 minggu?, bagaimana jika aku merindukanmu?'' tanya Aji.
''Ya, kita bisa video call kan Aji" ucap Shivanya.
''Hm, hati-hati di jalan ya putri tidur, ketika kamu sampai di sana, beri tahu aku" ucap Aji.
''Apa-apaan sih Aji, kenapa putri tidur?, kamu menyebalkan sekali" ucap Shivanya kesal.
''Hahaha, iya udah sana pergi" ucap Aji tertawa.
''Ngusir nih? oke bye" ucap Shivanya yang langsung pergi dari sana.
''Selamat tinggal" ucap Aji.
Shivanya menoleh dengan raut wajah kesal dan kembali melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dari sana.
''Kamu kenapa?" tanya ayahnya saat melihat wajah Shivanya yang kesal.
''Tidak apa-apa pah" ucap Shivanya.
"Ya udah masuk" ucap ayahnya.
"Iya pah" ucap Shivanya.
''Assalamualaikum Farid, ini abang mu Fajri, buka pintunya dek" ucap ayah Shivanya di depan pintu pagar adik laki-lakinya.
''Wa'alaikumsalam, iya bang, ayok masuk" ucap Farid membukakan pintu.
"Duduk bang" ucap Farid tersenyum mempersilakan Fajri dan keluarganya untuk duduk.
''Iya dek" ucap Fajri ayah Shivanya.
Mau minum apa bang?" tanya Farid.
''Apa saja" ucap Fajri.
''Mah, tolong buatkan minuman untuk bang Fajri, Rissa, dan istrinya" ucap Farid kepada istrinya dari ruang tamu.
"Iya pah" ucap Ayu istri Farid.
''Sebenarnya tujuan kami ke sini, kami ingin menitipkan Shivanya selama 1 minggu ke depan karena saya dan istri akan bertemu klien di Bandung" ucap Fajri.
''Permisi, ini minumannya mas, mbak, Rissa, diminum dulu" ucap Ayu datang membawakan makanan dan minuman.
''Ya terima kasih" ucap Fajri tersenyum.
''Mah, mereka ingin menitipkan Rissa di sini selama seminggu, bagaimana?" tanya Farid.
''Kalau mama, terserah papa saja" ucap Ayu
''Iya bang, ga apa-apa nginep disini aja, jadi rumah saya rame kan, saya sama istri juga belum punya anak" ucap Fajri.
''Ya terima kasih, oh ya, kami berangkat sekarang ya, takut ketinggalan pesawat" ucap Fajri.
''Ya hati-hati" ucap Farid mengantarkan Fajri dan
''Rissa, jangan nakal, kamu harus menuruti apa kata paman dan bibi mu" ucap ayahnya.
''Iya pah" ucap Shivanya mendongak menatap wajah ayahnya.
"Oke, Rid gw jalan dulu ya, jagain Rissa" ucap Fajri.
''Siap bang" ucap Farid.
''Assalamualaikum" ucap Fajri dan istrinya Nur.
''Wa'alaikumsalam" ucap Farid dan istrinya Ayu.
''Ayo Rissa,bibi antarkan ke kamar kamu" ucap Ayu.
''Ya bibi" ucap Shivanya mengangguk patuh dan mengikuti bibinya.
''Rissa kita sudah sampai, ini kamarmu, bagaimana kamu suka atau tidak sayang? apa kamu suka dengan kamar ini" tanya bibinya.
''Iya bibi aku suka" ucap Shivanya.
''Bagus deh kalau gitu, bibi tinggal ya, kamu istirahat saja dulu nanti bibi bawakan makanan ke kamar kamu" ucap bibinya tersenyum mengelus rambut Shivanya.
"Iya bibi" ucap Shivanya tersenyum.
Rissa... Rissa... Rissa... panggil suara misterius di sudut kamarnya.
''Kamu siapa? bagaimana kamu tahu nama saya? kamu masuk lewat mana? kok tiba-tiba ada didalam kamar aku?" tanya Shivanya.
"Ayo main" ucap perempuan misterius itu sambil menarik tangan Shivanya.
''Ikh apa sih kamu pegang-pegang aku? lepaskan" ucap Shivanya berusaha melepaskan cengkraman tangan perempuan misterius itu.
''Kita mau pergi kemana? Akh lepaskan sakit tahu" ucap Shivanya merintih kesakitan.
"Ikuti saja langkah kaki ku" ucap perempuan itu menoleh tersenyum dengan wajah yang pucat.
''Iya, tapi lepasin dulu, sakit banget tahu" ucap Shivanya.
''DIAM! SUDAH IKUTI SAJA AKU JANGAN BANYAK BICARA!!" bentak perempuan misterius itu.
''Oke" ucap Shivanya menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
''Apa yang ingin kita lakukan di sini?'' tanya Shivanya pada perempuan itu.
Mengapa diam? tanya Shivanya sambil menatap perempuan misterius di sampingnya.
''Mengapa hilang? perginya cepat banget deh, aku tidak melihatnya pergi, biarkan saja, tapi rumah siapa ini, mengapa dia membawaku ke sini, mengapa rumahnya begitu kotor? lantai tidak pernah disapu, tembok banyak sawang kenapa tidak dibersihkan? siapa pemilik rumah ini? apa dia sangat sibuk atau apa? saya akan mencoba mengetuk pintu kali aja ada orang di sana" ucap Shivanya.
''Tokkk... tokkk... assalamualaikum, assalamualaikum pak, bu, mbak, kak, om, tante apa ada orang di dalam? kok gak ada suaranya? apakah tidak ada orang di dalam? hm, mungkin penghuninya sudah pergi" pertanyaan demi pertanyaan Shivanya tidak mendapatkan jawaban yang akhirnya ia jawab sendiri.
CRACK!!
''Itu seperti ada suara sesuatu yang terjatuh dari dalam, tapi mengapa saya panggil daritadi enggak ada yang menjawab ya? ngintip kali ya dikit daripada penasaran" ucap Shivanya.
"Di dalam rame banget kok gak ada yang jawab panggilan aku ya? apa mereka gak denger suara panggilan aku?, perasaan aku manggilnya kencang deh, kok gak kedengaran ya?, eh itu didalam sana ada anak yang narik tangan aku tadi, katanya ngajak aku untuk bermain tetapi mengapa saya mengetuk pintu itu tidak dibukakan oleh dia, mengapa dia di bedong seperti itu? ini hari yang panas mungkinkah dia kedinginan?, lalu mengapa dia memakai topi seperti itu di rumah? apa dia baru pulang dari pantai? tapi kalau ke pantai masa pake baju panjang sih? apa gak kepanasan dia? aku saja pergi ke pantai memakai baju lengan pendek, rasanya panas sekali, dia memakai baju lengan panjang, aku bodoh sekali, mengapa aku memikirkan bajunya, aku coba panggil lagi akh sekali" ucap Shivanya di depan rumah misterius itu.
"Assalamualaikum" ucap Shivanya mengetuk pintu rumah itu.
Mereka tidak merespon ku sama sekali, mereka hanya melihat ku saja dan tidak membukakan pintunya, jadi mengapa dia membawa ku kesini? jika dia saja tidak mau membukakan pintu rumahnya, saya sakit menunggu di sini dan ada begitu banyak nyamuk yang mulai menggigiti tubuh saya, kok bisa ya mereka tinggal di rumah ini? ga gatal apa kalau digigitin nyamuk? tapi bagian dalam rumahnya bersih banget, kok di terasnya kotor banget ya? akh udah lah, aku pusing mikirin hal ini lebih baik aku pulang.
''Apa yang kamu lakukan di sini? tanya bibinya yang tiba-tiba berdiri disampingnya.
''Bibi jangan mengejutkanku" ucap Shivanya terkejut.
''Apa yang kamu lakukan di sini Rissa?" tanya bibinya.
"Tadi ada anak kecil, dia ngajak aku main dan narik tangan aku juga, dia bawa aku ke rumah ini tante, tapi tiba-tiba dia menghilang seperti hantu, tapi tadi aku lihat dari jendela, itu ramai, tapi mereka tidak membukakan pintu untuk saya, mereka hanya menatap aku, di dalam sana juga ada anak kecil yang narik tangan aku itu tante" kata Shivanya sambil menunjuk ke jendela.
''Kamu bilang apa sih Rissa? tidak ada orang di rumah sama sekali'' kata bibinya mengintip dari jendela.
''Ada bibi, sangat ramai di dalam sana" ucap Rissa.
''Tidak ada Rissa, coba ke sini dan lihat lagi, tidak ada siapapun didalam sana'' kata bibinya.
''Ada bibi, ada banyak orang didalam sana, kenapa ada anak laki-laki itu? perasaan tadi tidak ada anak laki-laki itu hanya anak perempuan saja, oke lah mungkin dia dari di dapur atau di kamar mandi" ucap Shivanya berbicara sendiri mengintip dari balik jendela.
''Hei Rissa, dengan siapa kamu berbicara?* tanya bibinya.
''Hehe bicara sendiri tante" ucap Shivanya tertawa kecil.
''Ada-ada saja kamu ini, ayok kita pulang" ucap Ayu menarik tangan Shivanya.
"Iya bibi" ucap Shivanya yang masih terheran dengan apa yang dia lihat berbeda dengan yang tantenya lihat.
''Bibi tidak melihat? meskipun di sana sangat ramai, apa hanya aku yang bisa melihat mereka? bibi dan yang lainnya tidak bisa, tapi jika hanya aku yang bisa melihat mereka, lalu siapa mereka? apa mereka hantu? Ikh seram!!, akh tapi jika mereka beneran setan, mengapa aku memikirkan mereka sih'' kata Shivanya sambil menepuk dahinya.
''Tapi aneh banget tante, tidak bisa melihatnya dan kenapa di rumah itu sangat bersih di dalam ruang tamunya tetapi halamannya sangat kotor, pohonnya juga sangat tinggi, semaknya juga banyak, kan tidak nyaman melihat pekarangan rumah yang kotor seperti itu, jika pekarangan kotor banyak nyamuk, kok betah ya mereka digigitin nyamuk?, saya baru lima menit di depan sana sudah tidak tahan, apalagi mereka? ya Allah aku memikirkan mereka lagi, aku benar-benar bodoh" batin Shivanya.
''Rissa, ayo makan, sayang" ucap bibinya.
''Iya tante, Rissa mau mandi dulu" ucap Shivanya.
''Iya sayang, tante tunggu di meja makan ya" ucap tantenya.
"Iya tante " ucap Shivanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian Rissa kembali ke meja makan.
''Kenapa makanannya tidak dimakan? apa masakan bibi tidak enak?" tanya bibinya.
''Tidak tante, masakan tante enak banget kok" ucap Shivanya.
''Lalu kenapa kamu tidak memakannya? apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya tantenya.
''Aku masih memikirkan yang tadi tante " ucap Shivanya.
''Astaga, tidak apa-apa sayang, jangan dipikirkan lagi, habiskan saja makanan kamu, tidak baik seperti itu di depan makanan sama saja dengan kamu menolak rezeki yang telah Allah berikan kepada kita" ucap tantenya.
"Iya tante" ucap Shivanya.
Setelah selesai makan Shivanya pergi ke dalam kamarnya.
"Tante, Rissa langsung ke kamar aja ya" ucap Shivanya.
"Iya sayang" ucap tantenya.
Shivanya pun membaringkan tubuhnya di atas kasur tapi saat matanya terpejam ada suara anak kecil tertawa.
HAHAHA!!! suara tertawa misterius.
"Kamu? kamu yang tadi ngajak aku main kan? tanya Shivanya.
"Iya, nama aku Mawar" ucap anak kecil misterius itu.
"Mengapa kamu tidak menjawab panggilan ku ketika berada di depa rumah mu tadi?" tanya Shivanya.
Tantenya yang tak sengaja mendengar shivanya berbicara sontak terkejut tetapi ia langsung pergi meninggalkannya.
"Rissa ngomong sama siapa ya? apa sama temennya di telepon? mungkin saja, sudah lah biarkan saja dia berbicara dengan temannya di ponsel" ucap tantenya.
"Aku sangat takut pada keluarga ku, jika aku membukakan pintu untukmu" ucap Mawar.
"Mengapa?" tanya Rissa.
"Apa kamu yakin ingin mengetahuinya?" tanya Mawar.
"Iya" ucap Shivanya mengangguk.
Tiba-tiba wajah Mawar berubah menjadi sangat pucat dengan tubuhnya yang banyak mengeluarkan cairan berwarna merah mengalir dari leher bahkan dari sela kakinya.
Shivanya yang melihat sontak terkejut melihat perubahan Mawar menjadi sosok yang sangat menyeramkan dengan bau mayat yang sangat khas.
"Iya, inilah wujud asli ku yang sebenarnya" ucap Mawar.
"Kalau boleh tahu, kamu meninggalnya kenapa?" tanya Shivanya.
"Mereka membunuh ku, menusuknya hingga aku tewas" ucap Mawar dengan nada sedih.
"Astagfirullahaladzim tega sekali mereka, lalu apa mereka juga sama seperti mu Mawar?" tanya Shivanya.
"Iya, mereka sama sepertiku, tetapi mereka semua mati dibunuh oleh seorang perampok yang sempat tinggal dirumah ku lalu kemudian pergi" ucap Mawar.
"Astagfirullahaladzim, yang sabar ya Mawar, kamu anak yang baik, apa kamu tidak ingin kembali ke dunia mu, ingat Mawar, ini bukan dunia kamu lagi dan ini juga bukan dunia keluarga kamu lagi" ucap Rissa memegang tangan Mawar yang terasa sangat dingin seperti es batu.
Mawar pun menoleh ke arah Rissa dengan tatapan mata sendu kemudian pergi dari sana.