
Rangga mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan tidak fokus membawa mobilnya hingga akhirnya ia mengalami kecelakaan.
Warga sekitar yang melihat mobil Rangga menabrak pembatas jalan mendekatinya dan membawa Rangga dan Kinara ke rumah sakit. Warga yang tidak mengetahui bahwa Kinara sudah meninggal terlebih dahulu pun membawa Kinara ke rumah sakit juga dan juga Rangga yang bersimbah darah.
Warga membawa Rangga dan Kinara ke rumah sakit yang baru saja mereka kunjungi. Dokter yang tidak menyangka mereka akan kembali ke rumah sakit dan memberi tahu warga bahwa mereka baru saja pergi dari rumah sakit ini. Istrinya meninggal karena kanker otak dan suaminya membawa mayat istrinya di mobilnya sendiri.
Rangga mendapat perawatan setelah salah satu warga membayar biaya rumah sakitnya. Tidak lama kemudian, dokter keluar dan memberitahukan bahwa pasien laki-laki tersebut telah meninggal dunia.
Rangga meninggal 10 menit setelah kematian Kinara. Dokter dan warga yang bingung dengan keluarganya akhirnya membuka dompet Rangga dan melihat alamat rumah tangga berdasarkan kartu identitas di dompetnya.
Warga juga menyewa ambulans untuk membawa jenazah mereka kembali ke rumah masing-masing. Ketika mereka sampai di rumah, hanya ada putra dan putri mereka yang masih kecil.
Warga juga menurunkan jenazah Rangga dan Kinara yang ditutup kain putih untuk menutupi wajah mereka. Warga yang tak tega melihat putra dan putri kecil Rangga dan Kinara membantunya mengurus kematian mereka.
Tubuh Kinara dan Rangga yang akan dibalut kain kafan terlihat sangat tampan dan cantik dengan senyum manis di bibir mereka. Sarah yang mengetahui bahwa ayah dan ibunya telah meninggal, meneteskan air mata namun Kinara dan Rangga memeluknya dan tersenyum bahagia karena kini mereka telah dipertemukan kembali.
Putra-putri Rangga dan Kinara yang tidak mengerti itu malah merasa bingung kenapa orang tuanya berpakaian seperti itu. Warga sekitar juga membawa jenazahnya ke masjid untuk sholat sebelum dimakamkan.
Putra-putri kecil Kinara dan Rangga yang melihat ayah dan ibu mereka dikubur di dalam tanah langsung berteriak “jangan” dengan nada menggemaskan. Putra-putri kecil Rangga dan Kinara lari dan ingin masuk ke makam ayah dan ibunya namun ditahan oleh warga sekitar.
Salah satu warga yang mengetahui histori keluarga Kinara pun menghubungi Alderts mantan suaminya berharap jika Alderts mau menjaga Dimas dan Love yang masih kecil itu.
"Assalamualaikum pak Alderts" ucap tetangga Kinara.
"Wa'alaikumsalam, ini siapa?" tanya Alderts sinis.
"Saya tetangganya bu Kinara ingin memberitahukan jika ibu Kinara dan suaminya meninggal dunia" ucap tetangga Kinara.
"Kinara sama Rangga meninggal?" tanya Alderts terkejut.
"Iya pak" ucap tetangga Kinara.
"Lalu bagaimana dengan kedua anak Kinara dan Rangga?" tanya Alderts.
"Kedua anaknya masih hidup pak, apa bapak mau untuk menjadi orangtua sambung bagi Dimas dan Love?'' tanya tetangga Kinara.
"Iya, dimana Kinara dan Rangga dimakamkan?" tanya Alderts.
''Di TPU Jeruk Purut pak" ucap tetangga Kinara.
"Oke saya kesana sekarang, kamu jaga dulu kedua anak Kinara dan Rangga" ucap Alderts.
"Iya pak, saya tunggu" ucap tetangga Kinara.
Dimas dan Love memainkan bunga yang bertaburan diatas makam kedua orangtuanya. Dimas dan Love yang masih sangat kecil pun tidak mengerti apa-apa, jika saat ini kedua orangtuanya telah tiada.
Sesampainya disana, Alderts langsung memeluk makam Kinara dan meminta maaf dengan isak tangis.
''Kinara, maafkan aku, maafkan aku selalu menyakitimu, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu, meskipun aku selalu kasar padamu dan meskipun aku sudah memiliki Sinta tapi hatiku masih untukmu, selamat tinggal sayang, semoga tenang disana. Semoga suatu saat keluarga kita bisa bersatu kembali di alam, I love you Kinara Kim'' ucap Alderts sambil menangis memeluk batu nisan Kinara dan menciumnya.
Rangga, Kinara, dan Sarah yang masih berada di depan kuburan tiba-tiba kaget dan menangis.
Sarah juga melirik ibunya yang terlihat sangat terpukul dengan pengakuan Alderts di depan makamnya.
''Cinta? kamu sebut itu cinta? Kemana saja kamu Alderts selama ini, kamu telah menyia-nyiakan Sarah dan aku, kamu bahkan tega menjadikan Sarah taruhanmu sampai Sarah terbunuh. Cinta seperti apa yang kamu maksud? itu bukan cinta Alderts. Anda tidak mengerti apa arti cinta Alderts. Cinta itu melindungi, mencintai bukan menyakiti'' kata Kinara terisak tangis.
Alderts memeluk anak-anak Kinara dan mengusap puncak kepala mereka.
"Sayang, ayo pulang sama om" kata Alderts sambil mengelus pipi anak Kinara.
"Tapi om, kami ingin berada di sini bersama mamah dan papah" ucap Dimas dengan nada menggemaskan.
Love masih sibuk memainkan bunga diatas makam Kinara dan Rangga.
"Papah dan mamah telah meninggal sayang, ikut paman ya sayang" ucap Alderts berlinang air mata tersenyum dan mengelus pucuk kepala Dimas.
"Iya paman" ucap Dimas dengan nada menggemaskan.
Alderts membantu Dimas dan Love berdiri untuk pergi dari sana namun Love sempat menolak karena masih ingin bermain disana, Alderts pun menggendong Dimas dan Love untuk ikut pergi bersamanya.
Alderts pulang bersama putra dan putri kecilnya Kinara bersama Rangga.
Sesampainya di rumah, Sinta yang melihat suaminya pulang bersama anak Kinara merasa cemburu dan menyuruh Alderts untuk membawa anak Kinara kembali ke rumahnya, Alderts memarahi Sinta.
''Tokkkk tokkk assalamualaikum'' kata Alderts mengetuk pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam" kata Sinta sambil membukakan pintu untuk Alderts dan mencium punggung tangannya.
"Sayang, mengapa kamu membawa putra dan putri Kinara ke rumah kita?" tanya Sinta.
''Sayang, kalian tunggu di sini sebentar, paman dan bibi ingin bicara sebentar'' kata Alderts kepada anak-anak Kinara.
"Iya paman" jawab Dimas dan Love kompak dengan nada menggemaskan menatap mata Alderts.
''Sini kamu ikut aku'' ucap Alderts meraih tangan Sinta dan menjauh dari anak Kinara.
"Kinara dan Rangga telah meninggal dunia, jadi mulai hari ini mereka tinggal di sini bersama kita" ucap Alderts.
"Aku tidak ingin mereka tinggal di sini sayang" ucap Sinta.
"Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus mengizinkan mereka untuk tinggal disini karena ini rumahku, aku berhak mengajak siapa pun untuk tinggal di rumahku, mengerti?" tanya Alderts sambil menunjuk Sinta.
"Tapi sayang..'' ucap Sinta.
"Keluar dari rumahku, jika kamu tidak ingin mengasuh anak-anak Kinara" ucap Alderts.
"Oke, aku akan keluar dari rumahmu dengan putra dan putri kita. Dulu kamu lebih memilih aku daripada Kinara sekarang kamu lebih memilih anak Kinara daripada anak kita sendiri? bagus sekali kamu ya" ucap Sinta smirk.
''Diam, aku tidak ingin mendengar omong kosong mu Sinta, sekarang cepat kemasi barang-barangmu dan tinggalkan rumahku karena aku tidak ingin kamu menyakiti anak kinara ketika aku tidak ada di rumah" ucap Alderts.
"Beraninya kamu mengusirku dan anak-anak kita dari rumahnya sendiri hanya demi anak orang lain" ucap Sinta berlinang air mata.
"Cepat pergi dari sini Sinta!!" ucap Alderts.
"Baiklah jika itu keinginanmu, aku akan meninggalkan rumah ini bersama anak-anak kita" ucap Sinta mengangguk dengan ekspresi tidak terima meninggalkan Alderts.
Sinta pergi ke kamarnya, memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper setelah dia selesai dia pergi ke kamar putra dan putrinya untuk memasukkan pakaian mereka ke dalam koper. Sinta dan anak-anaknya pergi meninggalkan rumah atas permintaan Alderts. Kebencian terpancar dari matanya ketika dia melihat anak-anak Kinara yang lugu dan polos menatapnya. Dia pergi dengan dendam di hatinya terhadap anak-anak kinara.