
Dalam perjalanan ke sekolah, Sarah terciprat air jalanan karena mobil seseorang dan seseorang turun dari mobilnya. Ternyata dia adalah Sasha, murid yang sering mem-bully-nya.
"Ada nenek lewat" ucap Sasha, menertawakannya.
"Nenek" ucap Nadia.
"Aku bukan nenek lho" ucap Sarah kesal.
"Benarkah itu? tapi usiamu 6 tahun lebih tua dari kami" ucap Sasha dengan ekspresi meledek.
Sarah saat ini duduk di bangku kelas tujuh tetapi sudah berusia 17 tahun karena ia baru bersekolah semenjak Kinara dan Alderts berpisah.
Saat Sarah dibully oleh Sasha dan Nadia, Alderts melintas dan melihat putrinya sedang di bully oleh teman-temannya. Alderts turun dan menghampiri mereka dengan menggunakan kaca mata hitamnya.
"Sarah" panggil Alderts memanggilnya.
"Papah" ucap Sarah berlari sambil menangis memeluknya.
"Apa yang sedang kalian lakukan? apakah orang tua kalian tidak mengajarkan kalian sopan santun? berpendidikan tapi tidak bermoral! hobinya membully orang lain, untuk apa kalian sekolah jika hanya menjadi pembully saja?" ucap Alderts memarahi teman Sarah yang sedang mem-bully putrinya.
"Ada apa ini pak? kenapa anda marah begitu pada putri saya?" ucap ayah Sasha turun dari mobilnya menghampiri Alderts.
Mendengar itu, Alderts tiba-tiba melihat ke belakang dengan tatapan tajam.
Ayah Sasha merupakan HRD di perusahaan yang baru saja didirikan Alderts. Ayah Sasha pun dibuat terkejut ketika melihat atasannya.
"Pak Alderts, saya minta maaf pak jika saya bersikap kasar kepada bapak" ucap ayah Sasha membungkukkan badan.
"Ajari anak anda yang benar! agar tidak mem-bully anak saya lagi! apa anda terlalu sibuk? sampai-sampai tidak bisa mengajari putri anda perbuatan yang benar? apa pekerjaan kantor yang saya berikan kepada anda terlalu banyak? sampai-sampai putri anda tubuh menjadi anak yang tidak bermoral seperti itu!" ucap Alderts dengan tatapan mata dingin menunjuk Sasha.
"Saya minta maaf untuk anak saya pak, karena sudah membully anak bapak, Sasha cepat minta maaf sama dia" ucap ayah Sasha.
"Tapi pah... !" ucap Sasha.
"Sasha" bentak ayahnya.
"Maaf" ucap Sasha dengan nada terpaksa dan memalingkan wajahnya.
"Ini anak ya" ucap ayahnya pelan.
"Mulai hari ini, saya tidak ingin kamu ada lagi di kantor saya, kamu saya pecat!" ucap Alderts.
"Pak, tidak pak, saya mohon, jangan pecat saya pak" ucap ayah Sasha memohon dan memegang tangan Alderts.
"Lepaskan" kata Alderts dengan suara bernada tinggi.
"Tapi pak... !" ucap ayah Sasha.
"Aku bilang lepaskan, ya lepaskan!" bentak Alderts.
"Baik pak" ucap ayah Sasha.
"Ini uang untuk menghormati semua kerja keras anda di perusahaan saya, dan mulai hari ini, besok dan seterusnya, saya tidak ingin melihat anda ada di kantor saya lagi, mengerti?" tanya Alderts melepas kacamata hitamnya.
"Baik pak, sekali lagi saya mohon maaf" ucap ayah Sasha.
"Ayok Sarah" ucap Alderts.
"Iya pah" ucap Sarah.
Sarah pergi dengan papahnya Alderts.
"Siapa sebenarnya dia? sungguh menyebalkan sekali orang itu" ucap Sasha kepada ayahnya.
"Plakkk...!" Sasha mendapat tamparan keras dari ayahnya.
"Dia bos papah, pemilik perusahaan tempat papah bekerja dan kamu menggertak putrinya" ucap ayahnya sambil menunjuk Sasha dengan marah.
"Tapi aku tidak tahu pah" ucap Sasha.
Ayahnya meninggalkan Sasha dan Nadia. Sasha dan Nadia terpaksa berjalan kaki, karena mood Sasha yang buruk, dia mengajak Nadia ke mall daripada ke sekolah, padahal saat itu mereka sedang ada ujian.
"Ayo kita pergi ke mall" ucap Sasha.
"Enggak akh, kan ada ulangan" ucap Nadia.
"Bagaimana jika saya mentraktir kamu?" tanya Sasha.
"Hm boleh juga" ucap Nadia.
Sasha dan Nadia berjalan menuju mall yang tidak jauh dari sana. Mereka pun memesan makanan dan minuman serta snack. Saat hendak membayar di kasir, dia memberikan kartu ATM-nya tetapi kasir mengatakan kartu ATM tersebut sudah tidak bisa digunakan karena saldonya habis.
"Dek, maaf, kartu ATM ini tidak dapat digunakan karena saldo rekeningnya habis, apakah ada uang tunai?" tanya kasir.
"Apa? habis? kok bisa habis kak? kemarin masih lima puluh juta" ucap Sasha kesal.
"Tunggu sebentar mbak" ucap Sasha kepada kasir.
"Oke" ucap kasir.
"Papah, kenapa saldo rekening ATM Sasha kosong?" tanya Sasha di telepon kesal.
"Papah yang sudah menukarkan kartu ATM mu sebelum kamu pergi ke sekolah, papah melakukan itu dengan sengaja, karena kamu yang terlalu boros, papah memberi mu lima puluh juta itu selama satu tahun tapi kamu menghabiskannya dalam waktu satu minggu, untuk apa Sasha? kamu baru berusia empat belas tahun tetapi telah menghabiskan lima puluh juta dalam satu minggu, apa saja yang kamu beli Sasha?" tanya ayahnya.
"Pah, Sasha butuh liburan, belanja, makan, make-up, pergi ke salon, ya uangnya habis lah, pokonya Sasha tidak mau tahu, papah harus kirim uang ke Sasha sekarang, papah, Sasha lagi di restoran ini tidak bisa membayarnya, karena ulah papah!" ucap Sasha.
"Apa? restoran? kamu bolos sekolah?" tanya ayahnya.
Sasha bingung dan terdiam panik.
"Sasha jawab pertanyaan papah! apakah kamu bolos sekolah sekarang?" tanya ayahnya dengan nada tinggi.
"Iya, Sasha dan Nadia bolos sekolah karena Sasha sedang pusing saat ini" ucap Sasha.
"Sasha, kamu ada ujian hari ini, bagaimana jika kamu tidak lulus nanti?" ucap ayahnya.
"Papah bisa bayar kepala sekolah supaya Sasha bisa lulus, gampang kan?" tanya Sasha.
"Sasha dengar, sekarang papah sudah tidak lagi bekerja, dan itu semua karena kecerobohan mu, jadi papah tidak bisa membantu mu lagi" ucap ayahnya.
"Ya papah cari pekerjaan lain saja, itu sangat mudah, pokonya Sasha tidak ingin hidup susah, oke? malu lah sama temen-temen Sasha di sekolah, mau taruh dimana nanti muka Sasha kalau jadi orang miskin" ucap Sasha yang langsung mematikan teleponnya.
"Sasha" ucap papah nya membentaknya tapi telepon terputus.
"Lalu bagaimana cara aku membayar makanannya?" tanya Sasha pada dirinya sendiri.
Ketika kasir sedang sibuk, Sasha diam-diam meninggalkan tempat itu, tetapi sebelum dia bisa pergi, Sasha tertangkap oleh petugas keamanan.
"Dek mau kemana kamu?" tanya mbak kasir yang menyadari kepergian Sasha.
"Security tahan dia! dia belum membayar pesanannya" pinta mbak kasir.
Security memegang tangan Sasha dengan erat agar ia tidak bisa kabur.
"Masih kecil kok udah jadi maling sih?" tanya security.
"Jaga ya omongan lu! gw bukan maling!" ucap Sasha dengan nada tinggi menunjuk pak security dengan penuh amarah.
"Bayar dulu baru pergi, begitu aturannya" ucap mbak kasir menghampiri.
"Panggil owner saja, biar dia yang memutuskan, harus kita apakan anak ini" ucap pak security.
"Oke" ucap mbak kasir pergi.
"Pak, di depan ada anak kecil yang ingin kabur dan tidak mau membayar, tapi sudah ditahan oleh pak Riko.
"Ayok kita kesana" ucap owner.
"Baik pak"
"Pak, ini anak yang mau kabur setelah memesan dan tidak mau membayar pesanannya"
Owner pun berlutut dan menatap Sasha yang menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu lari dek? kamu tidak bisa membayarnya?" tanya owner.
"Rekening ku kosong, karena papah aku telah menukar kartu rekening ku dengan kartu rekening kosong, makanya tidak ada sedikitpun saldo yang tersisa, aku juga tidak ada uang, teman ku juga lari meninggalkan ku" jawab Sasha ketakutan.
"Ya sudah kalau kamu tidak bisa membayar dengan uang, kamu bisa membayar dengan bekerja"
"Apa maksud mu?" tanya Sasha menatap owner.
"Kamu harus membersihkan tempat ini, menyapu, mengepel lantai dan mencuci piring sampai tutup, bagaimana?"
"What? gw dijadiin pembantu? tapi ya udah deh, daripada masalahnya tambah panjang, mau gak mau deh gw harus jadi pembantu disini, ini semua gara-gara papah, kalau papah gak menukar rekening gw kan gw gak perlu jadi pembantu disini" batin Sasha.
"Bagaimana?" tanya owner.
"Oke baiklah" jawab Sasha.
"Tunjukkan dia pekerjaannya" pinta owner pada karyawannya.
Sasha diajak ke dapur dan mencuci semua piring kotor hingga malam hari, sebelum tempat itu tutup, Sasha mengepel dan menyapu lantai lalu kembali ke rumahnya.
"Sasha, kemana saja kamu? baru pulang jam segini? mau jadi apa kamu hah?" tanya ayahnya marah.
Sasha hanya menatap tajam ayahnya dan langsung masuk ke kamar, mengunci pintu kamarnya.