Sarah

Sarah
Bersatu di Dimensi Yang Berbeda



Iqbal dan kekasihnya telah menikah selama lima tahun. Nadia, istri Iqbal bertemu dengan seorang teman lama bernama Rizal. Mereka mengobrol satu sama lain dan bertukar nomor WhatsApp. Keduanya sering bertemu. Rizal yang mengetahui Nadia sudah menikah, tetap mendekatinya. Mereka juga berkencan


tanpa sepengetahuan Iqbal.


Tepat 1 hari pacaran, Rizal meminta Nadia untuk mengambil semua harta milik Iqbal. Awalnya Nadia menolak namun karena Iqbal mengancam akan meninggalkannya, akhirnya Nadia menuruti keinginan Rizal. Nadia yang sudah sangat mencintai Rizal tak ingin Rizal meninggalkannya. Mereka pun merencanakan segalanya, sehingga mereka bisa mendapatkan semua kekayaan Iqbal.


Nadia bahkan tidak memikirkan nasib anak-anaknya. Yang dia pikirkan hanyalah tinggal bersama Iqbal. Kecintaannya pada Rizal berhasil membutakan matanya. Nadia dan Rizal pun berhasil mengambil semua harta milik Iqbal. Nadia berhasil membuat Iqbal menandatangani surat perubahan nama untuk rumah dan semua aset yang dimiliki Iqbal.


Nadia meninggalkan anak-anaknya bersama Iqbal tanpa meninggalkan sedikit pun harta untuknya. Nadia mengusir Iqbal dan anak-anaknya dari rumah. Namun ketika Nadia menunjukkan kepada Iqbal sertifikat rumah yang telah berganti nama, Iqbal tiba-tiba terkejut, dia tidak menyangka istrinya tidak memperdulikannya, bahkan dia juga tega kepada anaknya dan anaknya sendiri. Iqbal dan kedua anaknya keluar dari rumah. Iqbal yang tiba-tiba teringat Lia, menghampirinya untuk meminta maaf. Iqbal mencari keberadaan Lia tetapi tidak menemukannya. Iqbal dan anak-anaknya tinggal di rumah kontrakan kecil.


Saat ini Alderts dan Dimas kembali lagi ke Jakarta karena Alderts ditugaskan oleh atasannya untuk mengelola sebuah perusahaan yang berlokasi di daerah Jakarta.


Iqbal terus mencari keberadaan Lia hingga suatu hari ia bertemu dengan Alderts. Ia yang mengetahui bahwa Alderts mengenal Lia segera menghampirinya dan menanyakan keberadaan Lia, mungkin Alderts mengetahui keberadaan Lia.


''Permisi pak Alderts, saya Iqbal, mantan Lia, Lia teman Fredericka, saya mau tanya, pernah ketemu Lia di jalan gak ya om?'' tanya Iqbal pada Alderts.


Aldert yang mendengar hal itu berusaha menguatkan hatinya dan menceritakan semuanya kepada Iqbal.


"Lia sudah lama meninggal, Lia meninggal saat membantu saya dan Dimas mempersiapkan pemakaman Love putri saya" kata Alderts.


''Innalilahi wa innailaihi raji'un, bolehkah saya tahu dimana makam Lia? maukah om mengantarkan ku ke makam Lia?'' tanya Iqbal.


''Aku menguburkan Lia di samping makam Love, makam anak ku, biar aku antar tapi kita ke sekolah dulu ya, soalnya aku mau jemput anak ku Dimas" tanya Alderts.


''Ya, tidak apa-apa om" ucap Iqbal.


Iqbal masuk ke mobil Alderts dan menuju ke sekolah Dimas untuk menjemputnya.


Dimas yang melihat Alderts dan Iqbal langsung mencium punggung tangan mereka.


''Papah, siapa dia?'', tanya Dimas.


"Dia mantan kekasih kak Lia, dia ingin mengunjungi makam kak Lia, ayo ke sana dulu sayang, ajak Paman Iqbal," kata Alderts.


''Iya papah'' ucap Dimas.


Mereka bertiga pergi ke pemakaman. Alderts mengantar Iqbal ke makam Lia. Iqbal yang melihat batu nisan bertuliskan nama Lianty Aresya tiba-tiba merasa lemas dan jatuh tersungkur ke atas tanah, air matanya tak bisa terbendung lagi. Dia memeluk makam Lia dan meminta maaf padanya atas semua kesalahan yang telah dia lakukan pada Lia.


Alderts dan Dimas memeluk makam Love yang berada tepat di sebelah makam Lia. Alderts dan Dimas berdoa untuk Love. Lalu mereka menoleh ke makam Kinara, Dimas memeluk makam ibunda tercintanya. Alderts dan Dimas berdoa untuk Kinara. Alderts yang melihat Dimas sangat terpukul dan memeluknya. Mereka melanjutkan ke makam Rangga, mereka berdoa untuk Rangga. Saat mereka tiba di tengah kuburan Rafly dan Dinda, Alderts menangis dan memeluk kuburan mereka secara bergantian. Dimas memeluknya. Alderts berdoa untuk putra dan putri kandungnya. Mereka berbelok ke kuburan terakhir, makam Sinta. Alderts dan Dimas memeluk makam Sinta dan mendoakannya. Iqbal yang menyadari bahwa di sebelah makam Lia adalah makam keluarga Alderts pun mendoakannya. Alderts, Dimas, dan Iqbal meninggalkan pemakaman, sebelum pergi mereka berpamitan dan tersenyum.


Lia, Love, Sarah, Kinara, Rangga, Rafly, Dinda, dan Sinta yang melihat kedatangan keluarga mereka tersenyum dan menatap dengan tatapan sedih. Alderts, Dimas dan Iqbal yang tidak bisa melihat keluarganya segera pergi dari sana.


Sarah berlari memeluk Alderts dari belakang begitu juga dengan Rafly, Dinda dan Sinta. Karena merasa tubuhnya sangat berat sehingga sulit untuk digerakkan, ia menghentikan langkahnya dan memberi tahu Dimas bahwa tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan.


''Dimas, Iqbal tunggu, badan saya tidak bisa digerakkan'' ucap Alderts berusaha menggerakkan tubuhnya namun sangat kaku seperti ada seseorang yang menahannya dari belakang.


Dimas dan Iqbal yang mendengar ucapan Alderts berusaha membantunya namun tak lama kemudian Kinara, Rangga, dan Love menghampiri Dimas dan memeluknya. Sarah yang tadi memeluk Alderts berbalik memeluk Dimas. Sedangkan Lia hanya menatap Iqbal dari kejauhan dengan tatapan mata sendu. Setelah Love, Sarah, Kinara, Rangga, Rafly, Dinda dan Sinta melepaskan kerinduan mereka akan keluarga, mereka melepaskan pelukan dan berjalan pergi. Setelah tubuh Alderts dan Dimas bisa digerakkan, mereka melanjutkan langkah mereka sambil melihat ke belakang dan tersenyum. Love, Sarah, Kinara, Rangga, Rafly, Dinda, dan Sinta yang melihat senyum Alderts dan Dimas pun membalas dengan senyuman meski Alderts dan Dimas tidak bisa melihat senyuman mereka.


Lia terisak karena Iqbal tidak peduli padanya. Sarah dan Love memeluknya mencoba untuk menenangkannya. Alderts dan Dimas mengantar Iqbal ke depan rumahnya dan kemudian kembali ke rumah mereka. Alderts dan Dimas mandi. Sesampainya di rumah, mereka mandi dan mereka pun pergi makan bersama di restoran.


Setelah makan bersama, mereka kembali ke rumah. Dimas masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Sementara itu Alderts juga berlari ke kamar dan mengunci pintu. Alderts dan Dimas menjerit dan terisak di kamar masing-masing. Mereka yang sama-sama terluka tidak memperhatikan satu sama lain.


"Pah, maafin Dimas" ucap Dimas meneteskan air matanya.


Alderts pun memeluknya. Dimas langsung memeluk ayahnya.


1 tahun telah berlalu. Dimas selalu mengeluh sakit di kepalanya. Alderts sudah memberi Dimas obat sakit kepala tapi tidak berpengaruh sama sekali pada Dimas. Dimas masih merasakan sakit yang luar biasa bahkan setelah meminum obat yang diberikan Alderts kepadanya.


Alderts pun membawa Dimas ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Dimas menderita kanker otak stadium akhir dan dokter juga menanyakan apakah ada anggota keluarganya yang menderita kanker otak atau tidak. Dimas yang mendengarnya tiba-tiba menjawab bahwa ibunya Kinara, telah meninggal dunia karena kanker otak stadium akhir. Alderts yang mendengar kata-kata Dimas tiba-tiba terkejut karena sampai saat ini, dia tidak mengetahui penyebab kematian Kinara.


Dokter juga mengatakan bahwa Dimas harus segera dioperasi untuk menghilangkan kanker di otaknya. Alderts pun meminta dokter segera melakukan hal ini agar Dimas bisa sembuh. Ia tidak ingin kehilangan Dimas, karena saat ini Dimas adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.


Keesokan harinya, Dimas menjalani operasi pengangkatan kanker. Setelah 3 jam menunggu, lampu di luar ruang operasi mati yang menandakan bahwa operasi telah selesai. Dokter dan perawat keluar membawa Dimas dari ruang operasi dengan wajah tertutup oleh kain putih.


''Dokter, ada apa dengan anak saya? kenapa anak saya ditutupi kain putih seperti ini?'' tanya Alderts.


''Maaf pak, kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi Tuhan berkehendak lain. Putramu meninggal tepat setelah operasi'' kata dokter pada Alderts.


Alderts yang mendengar itu langsung memeluknya dan berteriak. Dokter dan perawat berusaha menenangkan Alderts. Alderts pun menggendong Dimas dan membawanya pulang menggunakan mobilnya sendiri.


Sesampainya di rumah, ia memberi tahu asisten rumah tangganya bahwa Dimas sudah meninggal. Asisten rumah tangganya pun membantu Alderts menyiapkan segalanya. Dimas dimakamkan di sebelah makam Sinta.


Sesampainya di rumah, ia mengubah rumah tempat tinggalnya menjadi panti asuhan. Sementara itu, rumah Kinara dan Rangga yang ia sewakan kepada orang lain, ia ubah menjadi panti jompo. Dia pun merobohkan rumahnya bersama Kinara dan Sarah di Belanda dulu yang dia tinggali bersama Dimas di sebelahnya dan dia membangun sebuah masjid yang sangat besar dari rumah lamanya dan rumah barunya di Belanda.


Dia mempekerjakan orang untuk mengurus panti asuhan dan panti jomponya. Ia meminta salah satu ustadz di Belanda untuk mengurus masjid yang telah dibangunnya dan menyerahkan sertifikat tanah dan memerintahkan ustadz untuk mengganti nama yang tertera di sertifikat itu menjadi namanya sebagai pengurus masjid itu, bukan nama Alderts lagi. Ia juga menyerahkan sertifikat rumahnya di Jakarta serta sertifikat rumah Kinara untuk diganti namanya kepada pengurus panti asuhan dan panti jompo. Dia mengurus semuanya sesuai dengan kemauannya.


Alderts melakukan semua itu karena dia saat ini menderita kanker otak stadium akhir. Setelah semuanya selesai dia terjatuh tepat di panti jomponya. Penjaga panti jompo memeriksa denyut nadi Alderts tetapi tidak ada denyut nadi. Alderts telah meninggal dunia. Mereka menguburkan Alderts di sebelah makam Dimas. Sekarang keluarga mereka lengkap dan bersatu dalam dimensi yang berbeda.


Alderts memeluk Sinta, Rafly, Dinda, Dimas, Love, dan Sarah secara bergantian. Ia pun meminta maaf kepada Sarah, Kinara, dan Rangga dengan air tatapan mata sedih seperti ingin menangis namun tidak bisa mengeluarkan air mata karena saat ini ia hanya sebuah jiwa tanpa raga.


''Sarah, maafin papah nak, karena papah kamu jadi seperti ini" ucap Alderts.


"Iya pah, Sarah udah maafin papah kok" ucap Sarah.


"Makasih sayang" ucap Alderts tersenyum dengan tatapan mata sendu mengelus pucuk kepala Sarah.


"Kinara maafkan segala kesalahan ku dan Rangga maaf karena aku pernah berniat merebut Kinara dari mu" ucap Alderts menunduk tidak enak.


"Iya gak apa-apa kok" ucap Rangga tersenyum menepuk bahu Alderts.


"Aku juga udah lama maafin kamu kok mas" ucap Kinara tersenyum menepuk pundak Alderts.


Sarah, Kinara, dan Rangga sudah lama melupakan kejadian itu dan memaafkan Alderts. Alderts tersenyum mendengarnya dan mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih Sarah, Kinara dan Rangga, karena kalian mau memaafkan segala kesalahan ku selama ini pada kalian" ucap Alderts.


"Iya sama" ucap Sarah, Kinara dan Rangga kompak tersenyum.


Sinta pun menghampiri Alderts dan memeluknya begitupun dengan Rafly dan Dinda.