
"Rissa bangun udah pagi sayang" ucap bibinya.
"Aku masih ngantuk tante, masih mau tidur" ucap Shivanya.
"Makan dulu Rissa nanti kamu sakit" ucap bibinya.
"Nanti saja tante, Rissa benar-benar mengantuk.
''Rissa... Rissa... Rissa" panggil wanita misterius.
''Bibi akh Rissa masih mengantuk tahu" ucap Shivanya.
''Rissa... Rissa... Rissa" panggil wanita misterius.
''Bibi berisik akh Rissa mau tidur ngantuk" ucap Shivanya.
"Rissaaaa" panggil wanita misterius.
"Bibi kenapa kamu pegang-pegang, Rissa ingin tidur" ucap Shivanya bangun dari tidurnya
"Lah, kok kagak ada orang sih? lalu siapa yang membangunkan ku tadi? coba tanya tante Ayu dulu deh, mungkin tante Ayu yang membangunkan ku tadi tapi tante Ayu langsung keluar kamar" ucap Shivanya sendiri.
''Bibi ... bibi ... bibi ... bibi di mana? mengapa tidak ada? pak Joddy supirnya juga tidak ada, berarti saya di rumah sendirian? Lalu siapa yang membangunkan ku tadi?" tanya Rissa sendiri.
"Aku" kata wanita misterius di belakangnya.
''Kamu siapa? dari mana anda masuk? pintunya terkunci" ucap Shivanya.
"Dari sana" kata wanita misterius itu sambil menunjuk salah satu pintu.
''Pintu masuk? itu terkunci, siapa kamu? kamu asisten rumah tangga baru bibiku ya? kenapa kamu pergi, aku masih berbicara denganmu, hm, oke, lebih baik aku makan saja" ucap Shivanya.
"Hm, masakan bibiku enak sekali, Aji lagi ngapain ya? mengapa aku merindukannya?, ya udah deh aku telepon aja.
"Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi" suara operator berbunyi.
''Kenapa Aji tidak aktif? pasti dia belum bangun, apa aku kerumahnya saja ya? tetapi saya harus mengirimkan pesan pada bibi terlebih dahulu, saya takut nanti dia akan mencari ku" ucap Shivanya.
"Bibi, Rissa mau pergi ke rumah Aji ya, rumahnya gak jauh kok dari sini" notif WhatsApp dari Shivanya untuk bibinya.
"Iya sayang, hati-hati ya, maaf tante pergi nggak bilang kamu dulu, habis tante mau bangunin kamu gak enak, kamu pules banget tidurnya" notif WhatsApp dari tante Ayu.
"Iya tante, Rissa jalan ya tante, assalamualaikum" notif WhatsApp dari Shivanya.
''Iya wa'alaikumsalam" notif WhatsApp dari tantenya.
''Oke udah bilang sama tante Ayu, sekarang aku mandi atau gak usah mandi ya? hm mandi di rumah Aji aja deh'' ucap Shivanya.
Beberapa menit kemudian Shivanya sampai di rumah Aji.
''Assalamualaikum Aji" ucap Shivanya didepan pintu rumah Aji.
''Wa'alaikumsalam Kok bisa kesini? kamu bilang 1 minggu, kamu kangen aku kan?" tanya Aji mengangkat alisnya menyeringai.
Hm.
''Saya sudah tahu" ucap Aji.
"Ya, kalau sudah tahu kenapa bertanya?" tanya Shivanya dengan nada sinis.
''Sinis banget sih" ucap Aji.
Selalu menyebalkan" ucap Shivanya.
''Ya sudah masuk, mau berdiri disana seharian?" tanya Aji.
''Dari tadi dong, minggir akh tuan putri mau lewat" ucap Shivanya mendorong Aji.
''Ya ya ya, kamu sangat cantik seperti tuan putri" ucap Aji.
"Aku memang cantik, kemana saja selama ini kamu baru menyadari akan hal itu" ucap Shivanya.
''Tidak, saya hanya bercanda mengatakan jika kamu sangat cantik, jangan dimasukkan ke dalam hati" ucap Aji.
"Aji, menyebalkan sekali" kata Shivanya sambil mencubit lengan Aji.
"Akh sakit tau" erang Aji kesakitan.
''Bodoamat" ucap Shivanya kesal.
''Ahhh udah akhhh sakit tau, tuh kan merah" ucap Aji melihat lengannya yang merah.
''Ya, ya, maafkan aku" ucap Shivanya.
Hm.
''Assalamualaikum tante" ucap Shivanya saat melihat ibu Aji keluar menghampirinya.
''Wa'alaikumsalam Shivanya, duduklah, kamu mau makan apa? minum? biar tante ambilkan" ucap ibu Aji.
"Apa saja tante" ucap Shivanya.
''Tunggu sebentar ya nak" ucap ibu Aji.
''Ya bibi" ucap Shivanya.
Tak lama kemudian ibu Aji datang membawakan makanan dan minuman.
''Shivanya ini dimakan dulu" ucap ibu Aji.
''Iya tante terima kasih" ucap Shivanya
''Tante tinggal ke dalam ya Shiva" ucap ibu Aji.
''Ya bibi silahkan" ucap Shivanya mengangguk tersenyum.
"Shiv main yuk" ajak Aji.
''Mau main apa?" tanya Shivanya.
Hm.
''Ayo main ini, yang kalah pakai bedak bayi sampai mukanya cemong, gimana?" tanya Aji mengangkat alisnya menyeringai membawa permainan ular tangga dan bedak bayi.
''Oke, siapa takut, saya yakin saya akan menang" ucap Shivanya mengangkat alisnya menyeringai.
''Hm, kita lihat saja nanti, suit dulu ayok untuk memutuskan siapa yang bermain duluan" ucap Aji.
''Ya, cepatlah" ucap Shivanya.
Hm.
"Yeay aku menang, berarti aku main dulu, sini dadunya, aku naik tangga, aku sudah di nomor 38, mas belum, sebentar lagi aku menang" kata Shivanya mengejek Aji.
''Ini juga baru 38, lihatlah masih banyak untuk mencapai 100" ucap Aji.
Beberapa saat kemudian Shivanya memenangkan permainan ular tangga lagi.
''Yeay saya menang, apa yang saya katakan sebelumnya? saya menang kan? Gak percaya banget jadi orang wlee sini bedaknya, tapi kayak masih ada yang kurang deh?" tanya Shivanya berfikir.
''Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Aji.
''Mana karetnya?" tanya Shivanya.
''Ambil di wastafel di sana" ucap Aji.
''Diam di sini, saya akan mengambil karetnya" ucap Shivanya.
Beberapa saat kemudian Shivanya kembali membawa karet gelang dan menguncir 2 rambut Aji.
''Kenapa di kuncir seperti ini? ini seperti boneka mampang" ucap Aji.
''Ah, jangan lepaskan dulu, kita foto dulu" ucap Shivanya
''Saya tahu saya tidak pernah jelek, saya tahu saya seperti ini terlihat sangat tampan" ucap Aji.
''Sejak kapan kamu tampan?'' tanya Shivanya.
''Sejak lahir" ucap Aji mengangkat alisnya menyeringai.
''Sangat tampan seperti boneka dashboard" ucap Shivanya perlahan menahan tawanya.
"Apa yang kamu katakan tadi? saya tidak mendengarnya" ucap Aji.
"Alhamdulillah untung tidak dengar" ucap Shivanya menghela nafas panjang.
Hm.
''Mas ngantuk, pinjam kamarnya ya, tidak terima penolakan" ucap Shivanya membungkam mulut Aji.
Hm.
''Ya, saya ingin beauty sleep dulu dada" ucap Shivanya melambaikan tangan dan pergi ke kamar Aji.
''Apakah anda benar-benar tahu apa arti dari bahasa Inggris yang anda ucapkan?" tanya Aji.
''Ya, saya tahu, jika saya tidak tahu, mengapa saya mengatakan itu?" tanya Aji.
''Apa artinya?" tanya Aji.
''Tidur syantik" ucap Shivanya mengedipkan sebelah matanya.
Hm.
''Benar kan?" tanya
''Ya ya ya" ucap Aji.
Shivanya pun pergi tidur dikamar Aji "Zzz...zzz...zz" suara dengkuran Shivanya terdengar hingga keluar kamar.
''Sudah menjadi kebiasaan anak ini, cantik-cantik hobi mendengkur lagi, udah malam buka pintunya Shiv, aku mengantuk, hei buka pintunya" ucap Aji mengetuk pintu kamarnya dengan keras
"Buka saja, tidak dikunci, jangan berisik, aku masih mengantuk" kata Shivanya.
''Jadi aku tidur dimana?" tanya Aji.
''Tidur sama tikus sana mas di loteng jangan berisik akh" ucap Shivanya yang masih memejamkan matanya.
''Kau sangat lucu, ini kamarku, awas minggir" ucap Aji mendorong Shivanya.
''Kenapa kamu dorong-dorong" ucap Shivanya kesal.
''Geser aku mau tidur ngantuk" ucap Aji.
''Letakkan guling di sini sebagai pembatas antara kita, awas saja kalau guling ini sampai dipindahkan" ancam Shivanya.
''Terserah kau saja, aku sudah mengantuk, selamat malam" ucap Aji.
''Selamat malam mas Aji, anak laki-laki paling menyebalkan di dunia" ucap Shivanya.
''Itu tidak benar" ucap Aji.
''Hm oke, selamat malam mas Aji, anak laki-laki paling tampan di dunia" ucap Shivanya tersenyum dengan terpaksa.
''Ya udah aku mau tidur" ucap Aji.
''Zzz..zzz..zz'' suara dengkuran Shivanya.
''Hm katamu, jangan geser gulingnya, kenapa kau yang menggesernya?" tanya Aji.
Hm.
"Kenapa kau memelukku itu kan ada guling, kenapa aku gugup, aneh sekali" kata Aji dalam hati sambil mengusap kepala Shivanya dan mencium kening.
Lia yang masih mengikuti kepergian Shivanya, terbawa perasaan melihat kemesraan mereka.
''Mereka benar-benar sangat romantis, kisah cinta yang sangat indah'' kata Lia dengan berlinang air mata.