Sarah

Sarah
Rissa dan Ika Bermain



Beberapa menit kemudian Shivanya dan ibunya tiba di rumah.


"Assalamualaikum" ucap Shivanya membuka pintu rumahnya.


"Kok sepi banget ya mah? pada kemana orang-orang?" tanya Shivanya melihat sekelilingnya.


"Gak tahu nak, pada di kamar kali"


"Mungkin"


"Ya udah mama ke kamar dulu ya"


"Iya mah"


"Eza, Lisa, Rissa, Amir" panggil Shivanya.


"Iya mah" jawab Eza menghampiri ibunya.


Lisa, Rissa dan Amir pun datang menghampirinya.


"Ada apa tante?" tanya Amir.


"Amir, Rissa, Eza dan Lisa, mama mau kasih tahu ke kalian kalau besok kalian udah mulai masuk sekolah, jadi kalian harus bangun pagi hari, masukkan buku kalian ke dalam tas, untuk seragam nanti biar bibi yang setrika, nanti bibi yang ambil ke kamar kalian, sepatu dan kaos kakinya mama taruh lemari buku biar kalian gampang nyarinya" ucap Shivanya.


"Iya mah" jawab Eza.


"Ya udah sekarang kalian masuk ke dalam kamar, masukkan buku kalian ke dalam tas biar besok gak ribet" ucap Shivanya.


"Iya mah" jawab Eza.


Shivanya tersenyum menatap Rissa dan mencubit gemas pipi Rissa. Rissa hanya menatapnya tidak berkata apapun.


Lisa menatapnya tajam seolah tidak suka dengan perlakuan ibunya yang terlalu manis kepada Rissa.


Eza memegang tangan Lisa menatapnya menggelengkan kepala.


Mas Amir menarik tangan Rissa untuk pergi begitupun dengan Eza yang menarik tangan Lisa untuk mengajaknya pergi.


"Kamu kenapa sih? kamu gak suka ya kalau Rissa terlalu diistimewakan sama mama?" tnya Eza.


"Ya enggak lah bang! emangnya dia siapa di rumah ini hah? dia kan bukan siapa-siapa di dalam rumah ini, kenapa mama harus bersikap terlalu baik padanya, nanti kalau dia jadi orang yang gak tahu diri gimana bang? kalau dia ngelunjak karena berasa ratu di dalam rumah ini gimana?" tanya Lisa menatap Eza.


"Hm kalau menurut ku Rissa itu bukan tipikal orang kayak gitu deh dek"


"Sesaat mas! sesaat mas! tidak mungkin selamanya dia akan sama seperti gadis lugu, polos seperti itu!"


"Apa Rissa akan selamanya tinggal di dalam rumah ini hm? mas rasa Rissa dan abangnya itu cuma tinggal sesaat aja di rumah kita , mama juga bilang kan kalau Rissa dan Amir akan tinggal di rumah kita sampai orangtua Rissa kembali? ya udah kita tunggu aja orangtua Rissa kembali dan setelah itu Rissa dan abangnya itu akan keluar dari rumah kita"


"Kalau sebentar, kalau lama gimana mas? mama aja gak tahu dimana keberadaan orangtua Rissa kan? gimana caranya mama aka menemukan orangtua Rissa coba? aku yakin mama gak akan mencari lagi dimana keberadaan orangtua Rissa, lihat saja perlakuan mama ada Rissa yang sangat manis itu! aku rasa mama sengaja membuat Rissa tinggal lebih lama lagi di rumah kita mas, aku rasa mama gak mau kalau Rissa itu pergi dari rumah ini mas"


"Kamu jangan berkata seperti itu dulu dek, kita gak tahu kan gimana nantinya?"


"Aku yakin kalau mama ingin Rissa selamanya tinggal di rumah kita karena obsesi mama terhadap Rissa dan tante Ika itu sangat besar, kita hanya berdua di rumah ini mas, apa mas tidak mengerti juga akan hal itu hm?"


"Apa maksud mu dek?"


"Maksud ku itu, mama, nenek, kakek pasti akan jauh lebih membela Rissa dan abangnya itu karena obsesi dan keyakinan mereka yang terlalu berlebihan berpikir jika Rissa adalah tante Ika yang telah lama mati"


"Mama selalu bilang kalau tante Ika itu masih hidup kan? kenapa kamu bilang tante Ika sudah lama mati hm?"


"Logika saja mas, tidak ada orang yang dapat bertahan hidup tanpa sebuah bangunan, atap sedikitpun di bawah laut, apa di laut itu cuma ada air saja seperti kolam renang mas? enggak kan? di laut ada banyak ikan yang memakan manusia, dan aku yakin kalau tante Ika udah jadi santapan dari salah satu ikan mas, aku gak nyumpahin tante Ika jadi santapan ikan, tapi aku hanya mengandalkan pemikiran ku saja, tapi mereka lebih mengandalkan hati dan keyakinan mereka jika Rissa adalah tante Ika yang terlahir kembali"


"Kita juga tidak bisa memaksakan hati dan keyakinan mereka agar sesuai dengan pemikiran kita, biarkan saja mereka yakin aka sesuatu yang tidak mungkin terjadi, emang apa salahnya?"


"Jelas-jelas ada salahnya mas, mengertilah mas! aku cape harus mengulang perkataan ku berulang kali!"


"Ya aku ngerti, tapi kita harus apa hm? kita gak bisa melakukan apapun dek! mas mengerti apa yang kamu katakan tapi kamu yang tidak mengerti apa yang mas katakan!"


"Ya aku ngerti mas, tapi akh ya sudahlah!"


Eza memeluk Lisa untuk menenangkannya.


"Pah, tadi aku sama Shiva pergi ke tengah laut tempat terakhir Fredericka kita menghilang" ucap Davika Larasati ibu Shivanya kepada Gavin Adhiarja suaminya.


"Kita kesana naik salah satu perahu yang kita sewa pah, kita ingin bertemu dengan Fredericka untuk menanyakan tentang Rissa, apakah benar Rissa adalah hasil reinkarnasi darinya, karena mama merasa jika Rissa adalah Fredericka kita pah, apa papa tidak merasakan rasa yang mama sama Shiva rasakan?"


"Papa juga merasakan hal yang sama sih mah, tapi apa mungkin reinkarnasi itu ada?"


"Ada pah, dan Rissa adalah Fredericka kita pah"


"Apa maksud mama? apa mama berhasil untuk menemui Fredericka di sana?"


"Enggak pah, tapi si hijau-hijau datang terus bilang kalau Rissa adalah Fredericka, dan dia minta kita untuk menjaga Rissa dengan baik sama seperti kita menjaga Fredericka, agar Fredericka bisa merasakan kebahagiaan bersama dengannya di bawah sana"


"Si hijau-hijau siapa mah?"


"Siapa namanya aku lupa? itu lho pah yang cewek pakai baju serba hijau kaya bunglon itu siapa namanya? yang mitosnya kalau kita pakai baju hijau bakal ditarik sama dia ke laut"


"Oh nyi roro kidul"


"Akh iya itu pah! kata si hijau putri kita yang ingin terlahir kembali untuk mewujudkan mimpinya yang tidak sempat ia raih karena kekasihnya itu keburu membunuhnya"


"Akh itu gak mungkin lah mah! masa iya sih putri kita sampai meminta hal seperti itu kepada jin?"


"Tapi kenyataannya begitu pah, kata dia begitu pah"


"Jadi Rissa benar-benar Fredericka?"


"Iya pah"


"Pah, gimana kalau Rissa tinggal di rumah kita aja selamanya? lagipula orangtua Rissa kan juga gak jelas kemana perginya"


"Papa gak setuju mah"


"Kenapa pah?"


"Walaupun orangtua Rissa sekarang sedang pergi, tapi tetap kita harus memulangkan Rissa pada orangtuanya mah"


"Hm tapi pah.."


"Jika mama menyayangi Fredericka, seharusnya mama tidak berusaha untuk memisahkan Rissa dengan orangtuanya sendiri mah"


"Hm iya pah, mama minta maaf kalau mama salah ngomong, mama cuma mengutarakan isi hati mama aja kok pah"


"Iya mah, gak apa-apa kok"jawab Gavin tersenyum memeluk dan mengacak-acak rambut istrinya.


"ARgh papa! mama baru sisiran tahu! masa udah diacak-acak aja!"


"Gak apa-apa! biar kayak orang gila wle!" ucap Gavin meledeknya dan berlari mundur.


Davika yang kesal pun mengejar suaminya.


Rissa terbangun dari tidurnya dan ia melihat ada seorang perempuan sebaya dengannya yang mengajaknya bermain.


"Hai! main yuk!" ajak anak perempuan misterius itu.


"Kamu siapa? kok kamu bisa ada di dalam kamarku?" tanya Rissa.


"Aku Ika, kita main yuk! aku kesepian! makanya aku mau ajakin kamu main, ayok main sama aku Rissa"


"Kok kamu bisa tahu nama aku sih? emangnya kita pernah bertemu sebelumnya ya?"


"Iya! kita pernah bertemu sebelumnya"


"Kapan? kok aku gak ingat ya?"


"Mungkin karena kecelakaan itu, makanya kamu lupa sama aku"


Rissa pun sontak memegangi kepalanya.


"Mungkin! ya udah yuk kita main!"


Rissa pun akhirnya bermain dengan Ika. Mereka nampak sangat asik bermain hingga Rissa tidak menyadari jika Ika memiliki wajah yang sangat mirip dengannya. Rissa selalu tertawa bermain dengan Ika.