
Ketika mas Amir sedang asik mendengarkan lagu, ada dering telepon yang bertuliskan "ibu" mas Amir langsung mengangkat telepon dari ibunya itu.
"Assalamualaikum nak"
"Wa'alaikumsalam buk"
" Gimana keadaan Rissa?"
"Rissa udah tidur buk"
"Kamu berapa hari di Jakarta nak?"
"Gak tahu buk, soalnya om sama tante gak ada di rumah, kata tante Shivanya, orang yang nolongin Rissa pas kecelakaan itu om sama tante gak ada di rumah dan katanya terakhir jenguk Rissa pas Rissa masih belum sadar, gak ada yang tahu om sama tante kemana, tetangga sekitar juga gak ada yang tahu, katanya ada satu tetangga yang lihat kepergian orangtua Rissa tapi pas ditanya orangtua Rissa gak mau jawab, langsung pergi gitu aja katanya"
"Astagfirullahaladzim, kasian sekali Rissa, tapi gimana sama sekolah kamu Amir?"
"Buk, kalau Amir pindah sekolah aja gimana?"
"Kamu mau pindah sekolah di Jakarta?"
"Iya buk, kasian Rissa nanti sendirian di rumah"
"Apa kamu yakin Amir?"
"Iya buk, boleh gak buk?"
"Ibu sih terserah kamu saja, yang terpenting bagi ibu itu kamu sekolah"
"Ibu bisa tolong urus di sekolah Amir? biar Amir gak bolak-balik Klaten - Jakarta"
"Ya udah nanti ibu kabarin lagi ya nak"
"Iya Bu, makasih ya bu"
"Sama-sama nak, ya udah nanti kita lanjut lagi ya ngobrolnya, ibu mau masak dulu, assalamualaikum"
"Iya bu, wa'alaikumsalam"
Rissa berjalan keluar kamar dengan mata yang masih terpejam.
"Eh itu anak mau kemana lagi?" tanya mas Amir saat melihat kepergian Rissa.
Mas Amir mengikuti kepergian Rissa yang entah kemana.
"Dek" panggil mas Amir.
"Itu anak tidur sambil jalan? kebiasaan deh, tapi dia ngapain pakai acara keluar-keluar segala, entar ketabrak aja"
"Dek kamu mau kemana?"
"Ini anak tuli banget ya dipanggil-panggil gak dengar" gerutu mas Amir.
Mas Amir mempercepat langkahnya dan memegang pundak Rissa namun Rissa menepisnya kembali berjalan.
"Kuburan? Rissa ngapain deh ke kuburan?" tanya mas Amir saat tiba di depan pemakaman.
"Lho? Rissa kemana? kok ilang tuh anak? cepat banget deh perginya, pergi kemana lagi tuh anak, oh iya, Rissa kan indigo apa jangan-jangan yang aku ikuti tadi itu bukan Rissa tapi hantu yang menyerupai Rissa, kalau tadi itu beneran Rissa, dia gak mungkin kan ke pemakaman ini? astagfirullahaladzim berarti Rissa sendirian di rumah, malah pintunya gak gw kunci lagi" ucap mas Amir yang langsung berlari meninggalkan tempat itu.
"Mas Amir" panggil Rissa mencari keberadaan Amir.
"Hei kamu siapa?" tanya Rissa saat melihat ada pria berbaju hitam membelakanginya.
Pria itu pun menoleh ke arah Rissa.
"Mas Amir, mas Amir ngapain? aku kira siapa tadi, kok aku panggil-panggil gak jawab sih tadi? mas Amir sehat kan? atau mas Amir sakit ya? akh jangan sakit dong, nanti kalau mas Amir sakit siapa yang jagain Rissa, pokonya mas Amir gak boleh sakit, dengar itu ya pangeran kodok" ucap Rissa.
Mas Amir hanya menatap Rissa dengan tatapan mata kosong.
"Kok kamu diam saja sih? apa kamu sekarang menjadi tuli? hei aku berbicara dengan mu! mengapa kamu tidak menjawab satupun perkataan ku? kamu bukan mas Amir ya?" tanya Rissa.
Kaki pria itu seketika tertarik ke atas dan wajahnya berubah pucat. Pria itu mendekati mas Amir dan Rissa perlahan mundur ke belakang. Rissa yang sampai di sudut ruangan pun terjatuh dan menangis ketakutan.
"Rissa" panggi mas Amir di depan pintu rumah mencari keberadaan adiknya yang saat ini tengah ketakutan oleh sosok seorang pria yang menyerupai dirinya.
"Itu suara Rissa" ucap mas Amir yang langsung berlari melihat setiap tempat mencari asal suara.
Mas Amir menemukan Rissa tengah menangis terduduk di sudut ruangan.
"Dek" ucap mas Amir menarik tangan Rissa.
"Akh pergi kamu!"
"Kamu kenapa dek?"
"Kamu bukan mas Amir, pergi kamu! akh jangan ganggu aku, pergilah dari sini, aku tidak ingin melihat keberadaan mu disini!"
"Hei! dek! ini mas Amir" ucap mas Amir menarik tangan Rissa.
Rissa menutup matanya dan tidak berani melihat mas Amir asli yang kini berada di depannya.
"Hei buka mata kamu! ini mas, jangan takut ya" ucap mas Amir yang langsung memeluk Rissa.
Rissa perlahan membuka matanya dan menatap perlahan mas Amir.
"Kamu kenapa sih dek? kenapa hm?"
"Tadi aku cari mas Amir terus mas Amir ada di depan kulkas, aku panggil-panggil mas Amir diam aja, aku ngomong sama sekali gak dijawab terus tiba-tiba kaki mas Amir melayang di udara, muka mas Amir jadi seram penuh darah dan pucat, aku mundur menghindari mas Amir tapi aku malah jatuh, dia terus mendekati ku, aku takut sekali, sepertinya rumah ini angker, aku tidak ingin tinggal disini lagi ya, ayok kita pergi dari sini mas" aja Rissa menarik tangan mas Amir.
"Kita mau tinggal dimana dek?"
"Dimana saja asalkan tidak disini, rumah ini berhantu, dia mengganggu ku tadi, apa kamu tidak merasa kasian sedikitpun pada adik mu ini hm?"
"Iya tapi kita mau tinggal dimana?"
"Di rumah mas saja, ayok kita pergi"
"Dek, gak mungkin lah tinggal di rumah mas"
"Emangnya kenapa?"
"Rumah mas kan di Jawa sedangkan sekarang kita lagi di Jakarta, jarak Jawa dan Jakarta itu tidak dekat dek"
"Apa itu sangat jauh dari tempat ini?"
"Iya sayang"
"Tidak apa, itu sangat bagus ya"
"Bagus? bagus gimana maksud kamu hm?"
"Semakin jauh dari tempat ini semakin baik mas, jadi hantu itu tidak akan mengikuti ku lagi, ayok kita pergi mas" ucap Rissa menarik tangan mas Amir.
"Sekarang juga? gak besok aja? kamu kan baru banget pulang dari rumah sakit dek"
"Apa mas Amir pengen aku masuk rumah sakit lagi?"
"Ya enggak lah dek"
"Ya sudah kalau begitu ayok kita pergi dari sini, mengapa kamu ingin menetap di rumah hantu ini? kamu ingin berkencan dengan hantu itu? silakan saja jika kamu ingin bersama hantu itu, biar aku pergi sendiri saja, kamu lebih menyayangi hantu itu dibandingkan aku" ucap Rissa berjalan ke kamarnya dan mengemas pakaiannya.
"Kok gitu sih dek? ya enggak lah! masa mas lebih sayang hantu sih daripada kamu?"
"Ya itu buktinya mas Amir gak mau ikut aku pergi dari rumah hantu ini!"
"Ya udah iya, kita pergi dari rumah hantu ini ya, biar kamu puas!"
"Kok gitu? terpaksa? ya udah gak usah ikut! biar aku pergi sendiri saja!"
"Emang kamu tahu arah jalannya kemana hm?"
Langkah Rissa seketika terhenti mendengar pertanyaan mas Amir itu. Mas Amir pun menghampiri Rissa.
"Kamu tunggu dulu ya, biar mas kemas pakaian mas dulu, duduk disini dulu" ucap mas Amir membawa Rissa ke kasur.
Rissa duduk di kasur samping mas Amir, sedangkan mas Amir mengemas pakaiannya. Mereka pun akhirnya pergi ke kampung mas Amir atas paksaan Rissa yang tidak ingin tinggal di rumah hantu itu lagi.