Sarah

Sarah
Mengapa Hama Diciptakan?



"Oh iya dek tunggu dulu" ucap mas Amir.


"Ada apa sih mas?"


"Tante Shivanya gimana? katanya dia mau mendaftarkan sekolah untuk kamu, dan kalau kita pergi tanpa memberitahunya kasian dia dek, dia juga kan udah banyak bantu kita"


"Hm iya juga sih, tapi rumah itu berhantu mas"


"Kita balik lagi ya dek"


"Gak mau akh mas"


"Dek dengarkan mas ya, perlakukan orang lain sebagaimana kamu yang ingin diperlakukan, karena jika kita menanam kebaikan pasti hasil yang kita dapatkan akan baik juga"


"Iyakah? lantas mengapa hama diciptakan? jika yang kita tanam baik, mengapa ada hama perusak? kan jadinya apa yang kita tanam hasilnya jadi tidak bagus karena sudah dirusak oleh hama"


"Gini dek, tumbuhan dan hama itu sama seperti manusia"


"Sama? dari segi mana?"


"Biji yang baru kita tanam itu ibaratkan ketika kita masih ada di dalam kandungan, dan tunas kecil yang tumbuh setelah beberapa hari biji di dalam tanah itu sama seperti ketika kita bayi baru lahir ke dunia ini, semua tanaman berawal dari biji yang di tanam di dalam tanah bukan? sama seperti manusia, semua ada di dalam kandungan bukan? apa semua manusia letak pertama kalinya berbeda-beda, misalnya di kaki gitu, enggak kan? kenapa ketika tunas membesar itu hasilnya ada yang berbeda? contohnya ada yang dimakan hama dan ada yang tidak, ketika daun dimakan hama, pasti daun itu akan berlubang atau menjadi tidak indah seperti apa yang kamu bilang itu, daun itu ibaratkan hati manusia, hati yang terus menerus tersakiti pasti akan meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh, yang pada akhirnya merubah sifat seseorang dari baik menjadi jahat, seberes apapun trauma pasti akan meninggalkan rasa takut berlebih akan memulai sesuatu hal yang baru, mengapa hama diciptakan? agar kita bisa belajar, jika menjaga itu jauh lebih baik daripada mengobati, menjaga tumbuhan dengan memberinya pupuk dan apapun yang dapat mengusir hama lebih baik daripada membuang daun yang terkena hama itu, sama seperti manusia, jauh lebih baik menjaga hati sendiri daripada menjaga hati orang lain, memprioritaskan hati sendiri itu bukan egois, tapi untuk menjaga sikap agar kebaikan kita tidak berubah menjadi kejahatan, membatasi diri dengan semua orang itu jauh lebih baik untuk kesehatan hati dan mental kita sendiri, hama ibaratkan seseorang yang telah menyakiti hati kita, kita tahu dia jahat tapi kita masih terus membelanya yang membuat hati kita semakin rusak, sama seperti hama, dari hanya setitik terkena hama bisa menyebabkan lubang atau kerusakan yang besar pada daun itu sendiri, yang ada akhirnya petani memutuskan untuk membuang daun itu agar hamanya tidak menyebar ke daun lain, apa kamu mengerti?" tutur mas Amir.


"Hm iya aku paham, jadi hama diciptakan itu untuk pembelajaran kita kan untuk selalu menjaga daun agar tetap sehat dan tidak berlubang"


"Iya"


"Hm, ya udah ayok kita pulang, gak jadi pergi, kasian tante Shivanya, dia sudah banyak membantu aku, menjaga aku selama aku di rumah sakit, dia sangat menyayangi aku, apa aku ini anaknya?"


"Bukan dek, ibu kamu bukan tante Shivanya, dia hanya orang yang Allah kirimkan untuk membantu kamu"


"Oh iya, di rumah sakit aku pernah ketemu seorang wanita, dia sangat cantik, kulitnya putih, bersih, dan dia mengatakan jika dia adalah aku, apa maksud dari perkataannya itu mas?"


"Apa kamu mengenal wanita itu dek?"


"Tidak, aku tidak mengenalnya, tapi dia wanita yang baik, senyumnya manis, dia sangat ramah padaku, dia bilang kalau nama dia itu Fredericka Nerissa, siapa dia mas? apa mas Amir mengenalnya? aku tidak ingat siapapun, siapa tahu mas Amir mengingatnya dan tahu siapa dia"


"Fredericka Nerissa?"


"Iya, dia bilang namanya itu Fredericka Nerissa, apa dia salah satu dari keluarga kita?"


"Keluarga kita tidak ada yang bernama Fredericka Nerissa dek"


"Iya dek, Shivanya Nerissa itu memang nama kamu, tapi Fredericka Nerissa itu bukan bagian dari keluarga kita, di keluarga kita tidak ada yang bernama Fredericka Nerissa"


"Mungkin mas Amir lupa, coba di ingat-ingat lagi, karena tidak mungkin dia bisa tahu nama ku, jika dia bukan bagian dari keluarga kita"


"Mungkin dia teman kamu kali dek, tapi kamu ga ingat sama dia"


"Teman aku? aku berteman dengan wanita yang jauh lebih tua dari ku? benarkah? aku tidak ingat, dia bilang belum saatnya aku tahu siapa dia sebenarnya, wanita cantik yang sangat aneh, dia malah main teka-teki sama aku, aku kan jadi semakin penasaran sama dia, tapi dia tidak mau mengatakan siapa dirinya sebenarnya, apa dari keluarga papa aku? aku punya papa kan mas?"


"Iya dek, mungkin saja dia dari keluarga papa kamu kali"


"Hm oke, nanti aku tanyakan sama papa ku"


"Jangan dek"


"Kenapa? aku ingin tahu siapa dia sebenarnya, mengapa tidak boleh?"


"Aku takut jika sebenarnya wanita itu adalah wanita yang jahat"


"Tidak mungkin dia jahat, aku merasa nyaman berada disampingnya, dia sangat baik, ramah, dia juga perhatian sama aku, dia tidak mungkin wanita yang jahat, mas Amir tidak boleh menuduhnya jahat, dia baik, jangan gitu, kak Ika baik seperti mas Amir yang menyayangi aku, dia juga wanita yang lembut, tidak seperti ku ya"


"Ngaku kamu dek" ucap mas Amir tertawa kecil menutup mulutnya.


"Ya, aku jahil kan? aku sadar, aku nakal, aku jahil sama mas Amir terus kan, tapi mas Amir tidak pernah memarahiku, sama sepertinya, aku ingin bertemu dengannya lagi, tapi aku tidak tau dimana tempat tinggalnya"


"Kalau gitu, kamu harus jauh lebih sabar lagi dalam menunggu waktu, kan dia bilang seiring berjalannya waktu, kamu akan tahu siapa dia sebenarnya, ya mungkin menurut dia untuk saat ini kamu belum siap untuk mengetahui segala fakta yang ada"


"Kok gitu?"


"Ya mungkin karena dia pikir kamu masih kecil kali, mungkin saja dia menunggu kamu dewasa dulu, baru dia akan ceritakan semuanya sama kamu, tentang siapa dia, mengapa dia bisa mengetahui nama kamu, udah ya jangan dipikirkan lagi"


"Tapi aku merindukannya, entah mengapa aku merasa kehilangan saat dia tidak ada disamping ku, seperti ada sesuatu yang hilang dariku, aku tidak mengerti mengapa aku merasakan hal itu, padahal aku dan dia baru bertemu sekali, tapi rasanya seperti kita sudah sangat lama bersama, menurut ku ini adalah kenyamanan yang aneh"


"Apa jangan-jangan Rissa adalah hasil dari reinkarnasi dia? dia bilang kan jika Rissa adalah dia, berarti wanita itu hidup kembali dalam raga Rissa, dan itu berarti hidup Rissa hanya untuk mengulang semua luka dan memperbaiki masa lalunya yang kelam, kasian sekali kamu dek, kamu harus menanggung luka mu sendiri dan juga luka orang lain" batin mas Amir meneteskan air mata menatap Rissa.


"Mas Amir kenapa? kok nangis?" tanya Rissa menepuk pundak mas Amir.


"Enggak kok dek, ini cuma kemasukan debu aja, ya udah ayok kita pulang"


"Iya mas"