
"Permisi bos saya mau menyerahkan koper ini" ucap salah satu anak buahnya.
"Saya bilang berapa kali sama kamu hah? Jangan pernah datang ke sini, bagaimana jika anak saya melihat kamu?" tanya Alderts bernada tinggi.
"Maaf bos tapi saya sudah menghubungi bos tapi hp bos tidak bisa dihubungi jadi saya datang kesini untuk menyerahkan koper ini" ucap anak buah Alderts.
"Jangan keras-keras, nanti jika Sarah mendengarnya bagaimana?" tanya Alderts.
"Oke baik bos" ucap anak buahnya.
"Bagaimana dengan masalah tanah di daerah X?" tanya Alderts.
"Aman bos, sudah berhasil kita sita tanah itu dan ini hasil dari penjualan tanah itu" ucap anak buahnya smirk.
Oke, baiklah.
"Bagaimana dengan yang di daerah Y?' Alderts bertanya kepada anak buahnya.
"Kami masih belum bisa menyita lahan itu, karena pemiliknya menolak untuk menggusur pondok pesantren" ucap anak buahnya.
"Beri pelajaran pada salah satu ustadz yang ada di sana, di depan para santri dan ustadz lainnya sebagai tanda peringatan, agar mereka jera karena telah melawan kita" ucap Alderts.
"Baik bos" ucap anak buahnya menunduk patuh.
"Tokkkk.... Tokkkk.... Tokkkk... assalamualaikum" ucap Fredericka mengetuk pintu depan rumah Alderts.
"Wa'alaikumsalam, kak Ika, ayo masuk kak" ucap Sarah menarik tangannya.
"Iya sayang" ucap Fredericka tersenyum.
"Apakah kamu sendirian di rumah Sarah?" tanya Fredericka.
"Tidak kak, papah ada di rumah" ucap Sarah.
"Papah, papah ada dimana? ada kak Ika nih" ucap Sarah.
"Cepat kau keluar lewat pintu belakang agar putriku tidak melihatmu" ucap Alderts pada anak buahnya panik.
"Baik bos" ucap anak buahnya beranjak pergi melalui pintu belakang.
"Papah" ucap Sarah berlari menemuinya.
"Iii-ya sayang, ada apa?" tanya Alderts gugup.
"Dengan siapa papah berbicara?" tanya Sarah melihat sekelilingnya.
"Ooo-hhh, itu teman papah yang menelepon tadi" ucap Alderts terbata-bata.
"Oh gitu, papah, ada kak Ika di depan" ucap Sarah.
"Oke, ya sudah kita samperin kak Ika yuk sayang, kasihan kak Ika, kalau ditinggal sendirian" ucap Alderts.
"Iya pah" ucap Sarah mengangguk patuh.
"Om" said Fredericka.
"Iya Fre, kamu mau minum apa Fredericka? mau makan apa Fre?" tanya Alderts.
Alderts telah menganggap Fredericka seperti putrinya sendiri.
"Apa saja om" ucap Fredericka tersenyum.
"Oke, tunggu sebentar" ucap Alderts tersenyum.
Bibi buatkan Fredericka beberapa makanan dan bawakan minuman juga untuknya.
''Baik tuan'' ucap bi ijah asisten rumah tangganya.
"Permisi tuan"ucap asisten rumah tangganya melewati Alderts
"Ini minumannya non, silakan diminum ya, maaf non Ika, non Sarah, tuan, saya permisi ke dapur lagi" ucap bi Ijah tersenyum.
"Hm" ucap Alderts yang masih terus menatap layar ponselnya.
Sementara itu Alderts sibuk membalas WhatsApp dari bawahannya.
"Bos gimana ini, pemilik tanah yang kita sita lapor ke pihak berwajib" notifikasi WhatsApp dari Rizal anak buahnya.
"Kamu bahkan tidak bisa mengurus hal sekecil itu, sungguh bodoh sekali anda jadi manusia" ucap Alderts.
"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya Rizal.
"Mengapa anda tidak menghentikannya di jalan?" tanya Alderts.
"Ya, maaf tuan" ucap Rizal.
"Percuma punya anak buah yang tidak pandai bekerja seperti kamu... ! biar aku yang akan mengurusnya sendiri nanti, aku tidak bisa mempercayaimu" ucap Alderts.
"Baik tuan" ucap Rizal.
"Oh ya Sarah, papah mau pergi dulu, pulang seperti biasa" ucap Alderts kepada Sarah.
"Papah pulang larut malam lagi?" tanya Sarah dengan wajah sedih.
"Ya, papah memiliki banyak pekerjaan saat ini" ucap Alderts mengelus pucuk kepala Sarah.
Hm.
"Jangan lupa kunci pintunya" ucap Alderts tersenyum.
"Iya papah" ucap Sarah mengangguk patuh.
"Fredericka saya titip anak saya, jaga dia" ucap Alderts.
"Siap om" ucap Fredericka tersenyum.
"Kak Ika" panggil Sarah.
"Iya Sarah, ada apa?" tanya Fredericka.
Aku mau ikut sama kak Ika aja, di rumah kak Ika, aku bosan disini kak, aku baru sebulan tinggal dengan papah lagi setelah 6 tahun aku tinggal bersama mamah, tapi papah selalu meninggalkanku dirumah sendirian" ucap Sarah sedih.
"Ya, mungkin papah mu sedang sibuk Sarah, kamu harus bisa mengerti papah mu" ucap Fredericka tersenyum dan mengelus pucuk kepala Sarah.
"Hm tapi kak, mamah juga sibuk tapi di sore hari dia selalu ada untuk Sarah, begitu juga dengan papah baru Sarah, Sarah hanya diperbolehkan pergi ke sekolah dengan papah Alderts, Sarah tidak bisa bermain di luar dengan anak-anak lain, selalu diawasi oleh mereka" ucap Sarah menunjuk anak buah Sarah yang berjaga didepan.
"Hm, ya sudah kita pergi ke rumah kakak" ucap Fredericka.
"Yeay asik" ucap Sarah tertawa bahagia.
"Permisi non Sarah mau kemana?" tanya Fajri.
"Aku mau ke rumah kak Ika" ucap Sarah.
"Tapi non... !" ucap anak buah Alderts.
"HUST... !, jangan berisik, sudah ah!, aku mau pergi" ucap Sarah.
"Tidak perlu, aku ingin pergi naik mobil kak Ika, jangan mengikuti saya, titik no debat... !" ucap Sarah.
"Tapi non Sarah... !" ucap anak buah Alderts.
"Ayo Kak" ucap Sarah menarik tangan Fredericka.
"Non Sarah" panggil Fajri.
"David, Dimas, Rizal cepat kejar non Sarah" ucap Fajri.
"Oke" ucap David.
"Kak, ayo cepat" ucap Sarah pada Fredericka.
"Iya Sarah, ini juga sudah cepat" ucap Fredericka.
"Hei Fredericka hentikan mobilmu sekarang... !" ucap David.
"Kak jangan dengerin dia,abaikan saja, ayok kak cepat... !" ucap Sarah.
"Kak, bagaimana kalau kita membuat mereka bingung saja?" tanya Sarah.
"Maksudnya sayang?" tanya Fredericka.
"Kak, ayok kita pergi ke rumah orang lain yang jauh dari rumah kakak dan tinggalkan mobilmu di sana agar mereka tidak mengejar kita lagi" ucap Sarah.
"Oke, ide yang bagus" ucap Fredericka.
"Bagaimana kalau kita ke hutan saja, kebetulan di dekat rumah kakak ada hutan, kita kesana saja dulu untuk menyesatkan mereka" ucap Fredericka.
"Iya kak" ucap Sarah.
"Fredericka" ucap Dimas.
"Kakak cepat... !" ucap Sarah panik.
"Iya Sarah" ucap Fredericka.
"Kak cepetan, berapa detik lagi lampu merah, kalau kita stuck di lampu merah, mereka bisa mengejar kita" ucap Sarah.
"Iya Sarah" ucap Fredericka.
"Tinnnnn..... Tinnnnn..... Tinnnnn.... !" David, Dimas, Rizal, dan Fajri membunyikan klakson motor mereka karena terjebak di lampu merah.
"HUFT... !, untung saja tadi kita jalan sebelum lampu merah dan untung saja mereka terjebak di lampu merah sana kalau tidak kita akan tertangkap oleh mereka" ucap Sarah.
"Kak, kita langsung ke rumah kakak saja" ucap Sarah.
"Oke" ucap Fredericka.
"Nah ini rumah kakak, ayok kita turun Sarah" ucap Fredericka.
"Iya kak" ucap Sarah.
"Kak, ini rumah kakak?" tanya Sarah.
"Ya Sarah, ada apa Sarah?" tanya Fredericka.
"Hm, tidak apa-apa kak, rumah kakak sangat bagus dan mewah" ucap Sarah tersenyum.
"Oh gitu, terima kasih sayang, ayok masuk Sarah" ucap Fredericka tersenyum.
"Iya kak" ucap Sarah tersenyum.
"Duduk dulu Sarah, kakak akan membuatkan kamu minum dulu" ucap Fredericka.
"Iya kak" ucap Sarah tersenyum.
"Ini minumnya sayang, di minum dulu, kamu pasti capek kan?" tanya Fredericka tersenyum.
"Iya kak makasih" ucap Sarah tersenyum.
"Sama-sama sayang" ucap Fredericka tersenyum.
"Fredericka, mama sama papa mau pergi ke Singapura dulu ya sayang, kamu mau nitip apa?" tanya ibunya.
"Mau ngapain mah ke Singapura? jauh banget" ucap Fredericka.
"Jalan-jalan aja sayang, kamu mau ikut?" tanya ibunya.
"Enggak deh mah, kasian Sarah kalau ditinggal sendirian" ucap Fredericka.
"Adik kamu Shivanya sama Azeer mana sayang?" tanya ibunya.
"Gak tahu mah,di kamarnya mungkin" ucap Fredericka.
Ayah dan ibunya pergi menemui Shivanya dan suaminya Azeer.
"Shivanya, Azeer" ucap ibunya mengetuk pintu kamarnya.
"Iya mah" ucap Shivanya membukakan pintu.
"Mama sama papa mau pergi ke Singapura sayang, kamu sama Azeer mau ikut gak?" tanya ibunya.
"Kak Ika ikut gak mah?" tanya Shivanya.
"Enggak sayang" ucap ibunya.
"Ya udah aku sama mas Azeer juga gak ikut deh mah" ucap Shivanya.
"Ya udah sayang, mama sama papa berangkat ya" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Shivanya.
"Assalamualaikum" ucap ibunya.
"Wa'alaikumsalam mah" ucap Shivanya dan Azeer kompak mencium punggung tangan ibunya secara bergantian.
"Hati-hati dijalan ya mah, pah" ucap Shivanya tersenyum.
"Iya sayang" ucap ibunya tersenyum.
"Fredericka mama sama papa pamit ya, assalamualaikum" ucap ibunya.
"Iya mah wa'alaikumsalam" ucap Fredericka tersenyum.
"Wa'alaikumsalam" ucap Sarah.
"Hati-hati mah, pah" ucap Fredericka.
"Iya sayang" ucap ibunya tersenyum.
"Untung anak-anak kita gak ada yang mau ikut ya mah, jadi mereka gak tahu apa yang sebenarnya terjadi" ucap suaminya.
"Iya pah" ucap istrinya.