
''Shivanya bangun'' ucap ibu Shivanya sambil menepuk pundaknya.
''Amir bangun mir'' ucap ibu Shivanya sambil menepuk pundaknya.
''Shivanya bangun'' ucap ibu Shivanya sambil menepuk pundaknya.
''Amir'' ucap ibu Shivanya membangunkannya.
''Hm'' ucap mas Amir terbangun dari tidurnya
''Buk lek jam berapa sekarang?'' tanya mas Amir sambil menguap.
"Jam 8 Mir" ucap ibu Shivanya.
''Permisi buk lek, Amir mau ke kamar mandi dulu" ucap mas Amir.
''Oh iya silahkan Mir" ucap ibu Shivanya.
''Bangun sayang, udah siang ini, hai, makan dulu nak" ucap ibunya.
''Shivanya belum bangun buk lek?'' tanya mas Amir.
''Belum Mir, susah banget membangunkannya" ucap ibu Shivanya.
''Hm buk lek, Amir tahu bagaimana cara untuk membangunkannya" ucap mas Amir.
''Shivanya bangun, hujan, banjir'' ucap mas Amir sambil menyiram wajah Shivanya dengan seember air.
"Ah, hujan" ucapnya terbata-bata.
''Bagaimana air bisa masuk ke dalam kamar? apakah atapnya ada yang bolong? tidak ada lubang perasaan, kenapa bisa ada air ya?" tanya Shivanya sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung.
''Tidak ada yang berlubang dan juga tidak ada hujan, lihatlah diluar terik, Amir yang siram kamu pakai air lihat saja tuh dia megang gayung sama ember" ucap ibunya sambil menunjuk ke ember berisi air.
"Mas Amir, jahat banget sih jadi orang, aku kan lagi tidur kenapa diguyur air?" tanya Shivanya kesal.
"Mandi biar segar" ucapnya sambil tertawa.
"Aku sudah mandi, mengapa disuruh mandi lagi?" tanya Shivanya kesal.
"Mandi lagi lah kan bangun tidur kotor tahu bau iler" ucap mas Amir menahan tawanya.
"Emangnya mas Amir udah mandi apa?" tanya Shivanya.
"Belum, nanti saja aku mandinya tunggu kamu bangun dulu" ucap mas Amir.
"Rese banget sih mas Amir" ucap Shivanya kesal.
"Hehe, aku mandi dulu ya" ucap mas Amir lari terbirit-birit.
"Huss husss sana pergi" ucap Shivanya.
"Emangnya aku kucing apa?" tanya mas Amir menghentikan langkahnya dan kembali ke depan kamar Shivanya.
"Iya, mas Amir itu kucing liar, udah sana pergi yang ada aku makin kesal saja liat muka mas Amir" ucap Shivanya kesal.
Hm.
"Assalamualaikum" ucap Amir dari luar pintu rumah Shivanya.
''Wa'alaikumsalam, mau ngapain lagi kamu kesini?'' tanya Shivanya kesal.
"Hm, masih kesal aja sih dek, maaf deh kalau mas keterlaluan bangunin kamu tadi" ucap mas Amir.
Hm.
"Jalan-jalan yuk dek" ucap mas Amir.
''Mau kemana mas?" tanya Shivanya.
''Muter-muter aja" ucap mas Amir.
"Ayo jalan" ucap mas Amir memegang tangan Shivanya membantunya untuk berdiri.
''Naik apa? dimana sepeda motornya?'' tanya Shivanya mencari sepeda motor milik mas Amir.
''Mengapa kamu menanyakan sepeda motor ku? saya mengajak anda jalan kan? ya berarti jalan kaki, bukan mengendarai sepeda motor" ucap mas Amir.
''Jalan kaki nih? naik motor aja sih mas" ucap Shivanya.
''Saya mengajak kamu jalan kan? bukan naik motor, kan tadi aku bilangnya apa? "jalan yuk" bukan "naik motor yuk", gimana sih kamu?" tnya mas Amir.
''Astagfirullahaladzim, gak gitu juga konsepnya mas Amir" ucap Shivanya.
''Jadi bagaimana konsep yang benarnya? saya benar kan? kalau saya bilang "Ayo naik motor, jalan-jalan" baru naik motor kan tadi saya hanya bilang "jalan yuk" ucap mas Amir.
'Hm, terserah kamu aja lah mas, pusing aku" ucap Shivanya.
''Ya udah ayok" ucap mas Amir.
Hm.
"Itu apa mas yang tertutup bambu" ucap Shivanya sambil menunjuk suatu tempat.
''Tempat buang air besar seperti WC umum, jadi di kampung umumnya WC hanya ditutupi oleh bambu seperti itu" ucap mas Amir.
''Oh gitu, apakah ada air di dalam sana? apa pakai air kalinya?" tanya Shivanya.
''Ada air di dalam menggunakan ember kecil tapi tidak ada kran air di dalam toilet itu, jadi kita harus mengambil air dulu ke tempat lain, jauh dari sini" ucap mas Amir.
"Ada dimana mas? aku mau lihat dong" ucap Shivanya.
''Ya udah ayok" ucap mas Amir.
''Nah ini adalah tempat untuk mengambil airnya" ucap mas Amir.
"Bersih mas?" tanya Shivanya.
"Iya" ucap mas Amir.
''Jadi kalau kebelet kita harus ambil air dulu baru ke tempat yang tadi itu?" tanya Shivanya.
"Iya dek" ucap mas Amir.
''Itu terlalu jauh kalau udah kebelet banget gak tahan gimana? keluar di celana dong?" tanya Shivanya.
''Itu mah kamu" ucap mas Amir tersenyum menggelengkan kepalanya.
''Mas Amir pernah keluar di celana ya pasti makanya ketawa" ucap Shivanya.
"Hm tidak pernah hehe" katanya malu-malu.
''Pohon di depan sungai itu milik siapa mas? mengapa mereka mengambil jambu air itu?'' tanya Shivanya.
''Entahlah, memang benar orang di sini suka petik jambu itu, manis banget" ucap mas Amir.
''Apakah mas Amir pernah memakannya?" tanya Shivanya.
"Pernah dek, manis banget sumpah" ucap mas Amir.
"Aku mau mas" ucap Shivanya.
''Mari kita ambil" ucap mas Amir menarik tangan Shivanya.
''Itu banyak banget mas, merah-merah lagi, pasti manis, panjat mas, ambil jambu-nya" ucap Shivanya.
''Kenapa aku yang manjat?" tanya mas Amir.
"Kan mas Amir yang cowok aku cewek masa aku yang manjat sih? udah cepat manjat aku tunggu dibawah" ucap Shivanya menepuk pundak mas Amir.
"Iya, ya sayang" ucap mas Amir.
"Lempar saja, biar Shivanya yang menangkapnya" ucap Shivanya.
Hm.
''Apa sudah cukup jambu-nya?" tanya mas Amir.
"Kurang mas, masih sedikit" ucap Shivanya.
"Dasar rakus" ucap mas Amir.
HAHAHA.
''Aku capek tahu manjat terus" ucap mas Amir.
''Ya sudah cukup kalau begitu" ucap Shivanya.
"Halo" sapa wanita dengan rambut acak-acakan berbaju sobek yang tiba-tiba datang menepuk pundak mas Amir dan hendak menciumnya.
“Akh mas takut” ucap Shivanya bersembunyi di balik tubuh Amir.
"Kamu sangat tampan'' ucap wanita itu sambil membelai pipi mas Amir.
"Ikhh geli, ngapain sih kamu pegang-pegang aku?" ucap mas Amir kegelian.
''Ayok lari cepat,ada orang gila" ucap mas Amir.
"Mas tunggu" ucap Shivanya berlari mengejarnya.
''Dimana kita akan bersembunyi?" tanya Shivanya.
"Ayok cepat kita kesana saja" ucap mas Amir sambil menarik tangan Shivanya ke kandang babi yang tidak terkunci.
"Diam, jangan bersuara" ucap mas Amir sambil menutup mulut Shivanya.
"Bagaimana bisa aku diam, sedangkan babi itu semakin mendekati ku, apa yang kamu lakukan babi? jangan ... kenapa kamu mencium ku? geli tahu" ucap Shivanya geli karena dicium oleh babi itu.
''Huft syukurlah dia sudah pergi" ucap mas Amir.
"Mas Amir, aku tidak bisa bernapas tahu" ucap Shivanya.
''Hehe, maaf ya, kamu berisik sih, nanti kalau aku nggak tutup mulut kamu, kamu teriak lagi" ucap mas Amir.
''Bagaimana aku tidak berteriak, kalau Babi, cium aku, aku jijik tahu dicium sama babi" ucap Shivanya kesal.
''Cie yang habis dicium sama babi'' ledek mas Amir.
"Kenapa mas Amir ngeselin banget sih?" tanya Shivanya kesal.
''Itu artinya babi itu menyukaimu, dan itu sebabnya dia mencium mu tadi" ucap mas Amir menahan tawanya.
''Saya tidak suka pada babi itu" ucap Shivanya.
"Ada babi lagi tuh" ucap mas Amir menunjuk babi yang akan mendekati Shivanya.
"Mas, ini babinya kok warna pink kenapa ya? terus kok ada yang hitam?" tanya Shivanya.
''Yang hitam itu induknya kalau yang merah muda itu anaknya, yang tadi nyium kamu itu anak babi" ucap mas Amir.
"Oh gitu" ucap Shivanya.
''Dia pikir kamu adalah orang tuanya haha" ucap mas Amir menunjuk anak babi yang tadi mencium Shivanya.
''Aku cantik mas Amir masa disamakan dengan induk babi sih?" tanya Shivanya kesal.
''Ya sudah ayok pulang mandi, ingat mandi wajib mandi karena babi kan salah satu hewan yang haram dalam agama Islam" ucap mas Amir.
''Ya gara-gara mas Amir" ucap Shivanya kesal.
"Loh kenapa jadi aku dek?" tanya mas Amir.
Hm.
''Karena orang gila tadi kan bukan karena aku, siapa yang menyuruh orang gila tadi untuk mengejar kita?" tanya mas Amir.
''Dia naksir sama kamu tahu mas Amir" ucap Shivanya.
''Astagfirullahaladzim" ucap mas Amir mengelus dadanya sendiri.
''Mas seharusnya tidak melarikan diri sehingga dia tidak akan mengejar kita" ucap Shivanya.
''Lalu haruskah aku diam saja?" tanya mas mir.
"Iya" ucap Shivanya.
“Astagfirullahaladzim, tega sekali kau padaku duhai adinda” ucap Amir sambil mengelus dadanya.
"Apaan sih mas Amir? lebay banget deh" ucap Shivanya kesal.
"HAHAHA!!! ya sudah ayok kita pulang" ucap mas Amir menarik tangan Shivanya.
Hm.