
Fredericka sudah tidak bertemu Hasan selama 6 tahun sejak pertemuan pertamanya di rumah sakit. Fredericka selalu memikirkan Hasan. Pertemuan singkat yang benar-benar membuatnya terkesan.
Paginya, Fredericka ingin mengunjungi rumah sahabatnya yang bernama Lianty Aresya, dalam perjalanan ke rumah Lia, Fredericka bertemu dengan Hasan.
''Hai, kamu Fredericka kan?" tanya Hasan.
"Iya, saya Fredericka, kamu Hasan kan?
"Iya, saya Hasan, kamu masih ingat sama saya?, saya pikir kamu lupa sama saya kan kita udah sangat lama tidak bertemu" ucap Hasan menggaruk kepalanya tersipu malu.
"Saya tidak pernah melupakan anda" ucap Fredericka tersipu malu.
"Oh ya, maaf, saya tidak pernah chat kamu, karena sejak hari itu ada seseorang yang telah merampas ponsel saya" ucap Hasan.
"Astagfirullahaladzim, kamu baik-baik aja kan mas?" tanya Fredericka panik.
"Tidak apa-apa, hanya luka ringan" ucap Hasan tersenyum.
"Terima kasih ya Allah" ucap Fredericka tersenyum menatap langit.
"Sepertinya nih cewek suka deh sama gw, gw tembak aja kali ya? lumayan sih dapetin cewek polos kayak dia, bisa dimanfaatin, body dia juga bagus sih, pas gitu mantep, pahanya juga mulus banget, walaupun kecil sih kalau dilihat, kali aja dibuka gede ya kan?, deketin aja deh" batin Hasan smirk menatap Fredericka dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu kenapa? kok ngeliatin aku kayak gitu sih? apa ada yang salah sama aku? make-up aku berantakan ya?, rambut?, atau ada yang salah sama baju aku?" tanya Fredericka menurunkan dres pendek yang ia pakai.
"Gak apa-apa kok" ucap Hasan tersipu malu.
"Beneran?" tanya Fredericka.
"Iya, gak apa-apa, oh ya, kamu mau kemana?" tanya Hasan.
"Aku mau pergi ke rumah teman aku, kami ingin pergi jalan-jalan tetapi dia meminta untuk bertemu di rumahnya" ucap Fredericka.
"Oh gitu, temanmu itu laki-laki atau perempuan?" tanya Hasan.
"Seorang wanita, namanya Lia" ucap Fredericka tersenyum.
"Oh gitu, saya akan mengantarkan mu untuk pergi ke rumahnya" ucap Hasan tersenyum.
"Gak usah mas, takut ngerepotin mas, saya bisa pergi sendiri kok" ucap Fredericka.
"Tidak apa-apa, ayok, biar saya antarkan kamu" ucap Hasan tersenyum.
"Iya mas" ucap Fredericka mengikuti langkah Hasan menuju mobilnya.
Sesampainya di depan mobil, Hasan membukakan pintu untuk Fredericka.
Fredericka tidak pernah ingin menggunakan semua fasilitas ayahnya, dia ingin hidup mandiri. Dia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, bukan di atas kaki orang tuanya.
Fredericka melakukan pekerjaan apapun, selama itu halal agar dia bisa mendapatkan uang. Dia tidak pernah malu dengan teman-temannya.
Sesampainya di rumah Lia, ternyata ada kekasihnya Iqbal. Mereka memang merencanakan liburan bersama hanya berdua, tapi kenapa ada Iqbal?, itu artinya aku akan menjadi nyamuk diantara Lia dan Iqbal.
Fredericka pun masuk ke rumah Lia yang memang terbuka dan Lia melihatnya. Lia pum menarik tangan Fredericka untuk berbicara dengannya secara pribadi.
"Cie siapa itu?" tanya Lia menyenggol lengan Fredericka dengan tangannya.
"Apaan sih, dia itu cuma temanku saja kok" jawab Fredericka malu.
"Teman apa, teman?" tanya Lia mengangkat alisnya mengejek Fredericka.
"Ya teman, terus apa dong?" tanya Fredericka memukul lengan Lia dengan wajah merah.
"Hm, iya" ucap Lia menghela nafas panjang.
"Ngapain ngajak Iqbal sih?, katanya cuma berdua aja, gimana sih lu?" tanya Fredericka kesal.
"Iya maaf, tadi malam aku bilang ke Iqbal mau jalan-jalan sama kamu, eh, Iqbal minta ikut, aku bilang jangan, eh dia malah ke sini" ucap Lia.
Hm.
"Ya sudah gini aja, aku dan Iqbal, kamu dan cowokmu itu" ucap Lia menaik turunkan alisnya.
Hm.
"Bagaimana? daripada kamu sendirian kan?" tanya Lia.
"Hm, ya, ya, kau tahu itu sangat menyebalkan" ucap Fredericka, menyenggol lengan Lia dan membuatnya kesal.
Lia pun mengikuti jejak Fredericka.
"San, bisa gak kalau kamu ikut dengan kami pergi? Hm, biar saya gak jadi nyamuk, bagaimana? apa kamu mau?" tanya Fredericka.
"Ya, saya mau, kita naik apa ke sana? bagaimana kalau naik mobil saya saja?" tanya Hasan
"Ya udah ayok" ucap Lia antusias.
Kekasih Lia itu pun langsung melirik Lia dengan tajam menandakan bahwa ia tidak menyukai sikap Lia yang terlalu baik kepada laki-laki lain.
Mereka pergi dengan mobil Hasan.
Sesampainya disana mereka berpisah. Lia dan Iqbal berlawanan arah dengan Fredericka dan Hasan.
Hasan dan Fredericka tertawa gembira. Mereka bercanda satu sama lain. Hasan mulai memegang-megang Fredericka dan Fredericka pun menanggapi perlakuan Hasan terhadapnya.
Fredericka dan Hasan kejar-kejaran tetapi saat mengejar Hasan, kakinya tersandung batu yang membuatnya ingin terjatuh. Hasan yang berada di depan melihat Fredericka langsung berlari menangkap tubuh Fredericka yang hendak terjatuh. Keduanya saling berpandangan hingga akhirnya Lia datang bersama kekasihnya dan mengejutkan mereka. Hasan yang terkejut langsung membantu Fredericka bangkit dari pelukannya.
"Cie cie" ucap Lia mengejek Hasan dan Fredericka.
Hasan dan Fredericka langsung gugup. Wajah keduanya memerah karena malu.
"Hei, ayo makan" ucap Lia mengajak mereka makan.
Usai mengantar Lia dan Iqbal pulang, Hasan pun mengantar Fredericka pulang sebelum pulang ia membawa Fredericka ke tempat yang sangat indah dan romantis, dihiasi dengan bunga dan lampu warna-warni menambah suasana romantis di tempat itu. Hasan mengambil mikrofon penyanyi kafe untuk mengungkapkan perasaan yang telah lama disimpannya.
"Perhatian perhatian semuanya, maaf mengganggu waktu makan malam kalian semua, di sini saya akan menyampaikan sesuatu kepada gadis yang ada di sana bernama Fredericka Nerissa. Fredericka Nerissa, maukah kamu menjadi kekasihku, menjadi pendamping hidupku, menemaniku di saat suka maupun duka" ucap Hasan menggunakan mikrofon.
Fredericka hanya mengangguk dan meneteskan air mata kebahagiaan.
Hasan pun memberikan mikrofon kepada penyanyi kafe dan berlari ke Fredericka. Hasan membungkuk, memberinya cincin berlian, tanda bahwa mereka resmi berpacaran. Setelah memakaikan cincin di jari manis Fredericka, dia memeluknya dan membelai punggung Fredericka.
Setelah resmi berpacaran, mereka pulang. Sesampainya di rumah, Fredericka menelepon Lia untuk mengabarkan kabar gembira itu.
"Gw jadian sama Hasan" ucap Fredericka kepada Lia melalui video call WhatsApp.
"Hasan?" tanya Lia.
"Iya, Hasan, kenapa emang?" tanya Fredericka.
"Hasan yang lu ceritain ke gw itu?" tanya Lia.
"Iya, mengapa wajahmu seperti itu?, kamu tidak setuju dengan saya? apakah anda memiliki perasaan pada Hasan? apakah kamu menyukai hasan?" tanya Fredericka.
"Tidak, saya sudah memiliki Iqbal" ucap Lia.
"Lalu kenapa kamu terlihat seperti tidak suka saat mendengarnya, ada apa?" tanya Fredericka.
Hm, Fre kamu kan baru ketemu sama Hasan ya, ya emang sih kamu kenal sama dia udah enam tahun yang lalu, tapi selama itu kamu gak pernah komunikasi lagi kan sama dia? gak pernah ketemu lagi sama dia, katanya hp nya hilang di rampok orang, menurutku ya, coba kamu cari tau Hasan lebih jauh dulu, berteman dulu, bersahabat lalu pacaran, kamu sudah lama bersamanya, kamu sudah tahu seperti apa karakternya, jika kamu langsung menerimanya sebagai seorang kekasih, jujur aku tidak setuju, karena aku khawatir dia bukan orang baik. Kamu tau kan? pria itu seperti apa sekarang? apakah anda mengerti apa yang saya maksud?" tanya Lia.
"Ya, saya mengerti maksud anda" ucap Fredericka mengangguk.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengacaukan kebahagiaanmu, tapi aku hanya tidak ingin kamu menyesal nanti karena kamu memilih orang yang salah. Aku sahabat mu Fre, aku hanya ingin kamu bahagia. Kamu harus berhati-hati dengannya, jangan mudah percaya dengan apa yang pria katakan karena tidak semua perkataan pria bisa dipercaya. Ketika wanita sepenuhnya percaya pada kata-kata pria, di situlah pria bertindak sewenang-wenang terhadap wanita. Jadi jangan terlalu percaya dan terpengaruh dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut pria. Jika dia membuat janji untuk "tidak pernah meninggalkan" kamu, kamu tidak boleh percaya janjinya karena tidak ada janji yang bisa dipercaya kecuali janji yang diucapkan di depan penghulu dan para saksi. Janji yang tulus itu hanya ada dalam hubungan pernikahan selain itu jangan pernah percaya" ucap Lia.
"Iya bawel" ucap Fredericka.
"Nih anak ya kalo dibilangin juga, jika kamu mempercayainya dengan penuh terus nanti dia pergi kamu pasti akan menangis dan saya juga yang susah harus menghibur kamu" ucap Lia.
Fredericka hanya tertawa terbahak-bahak.
"Hm Fre PJ dong" ucap Lia.
"PJ apa?" tanya Fredericka.
"Pajak jadian lah" ucap Lia.
Pajak jadian itu seperti memberikan hadiah kepada teman terdekatnya karena memiliki pasangan/kekasih.
"Minta Hasan sana, kenapa minta sama gw?" tanya Fredericka.
"Ya, kamu kan temanku" ucap Lia smirk mengangkat alisnya.
Hm.
"Coba ceritain dong bestie, gimana dia nembak lu tadi, penasaran nih gw" ucap Lia tertawa kecil.
"Akh keppo lu" ucap Fredericka.
"Jahat banget lu sama gw" ucap Lia sedih.
"Iya, iya bawel jadi tadi tuh dia bawa gw ke kafe romantis, banyak bunga dan lampu warna-warni tergantung di setiap sudut. Ada penyanyi juga di kafe, jadi dia berbicara dengan penyanyi itu, aku tidak tahu apa yang ia katakan pada penyanyi kafe itu sampai penyanyi itu memberinya mikrofon, lalu dia nembak gw dengan mikrofon dan dia juga memberi gw cincin ini" ucap Fredericka tersenyum menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Akh so sweet" ucap Lia baper terbawa perasaan.
"Sangat romantis" ucap Fredericka tersipu malu.
"Itu berlian ya?" tanya Lia melihat cincin yang terpasang di jari Fredericka.
"Mana gw tahu, kayaknya sih iya" ucap Fredericka memandangi cincin yang ia pakai.
"Ikh enak banget dikasih berlian, gw kapan?" tanya Lia sedih.
"HEHEHE iya, ya lu minta lah sama doi lu" ucap Fredericka.
"Gak enak gw minta sama mas Iqbal" ucap Lia.
"Ya sudah" ucap Fredericka.
"Eh tapi kan lu baru ketemu lagi Fre sama Hasan, lu beneran yakin nih?" tanya Lia mencoba meyakinkan.
"Iya, gw yakin" ucap Fredericka tersenyum.
"Oke, jika kamu senang, aku juga senang, tapi inget ya, jika sekali saja dia menyakitimu, beri tahu pada saya agar saya bisa memberinya pelajaran, beraninya ia menyakiti sahabatku" ucap Lia kesal terbawa suasana.
"Gitu dong, iya bawel lu akh" ucap Fredericka kesal.
"Gitu ya lu kalau dibilangin, aku serius tau" ucap Lia cemberut.
"Iya, iya sahabatku" ucap Fredericka tersenyum.
"Hm oke" ucap Lia.
"Eh, gw ngantuk banget nih, besok lagi ya, nanti gw ceritain deh semuanya ke lu besok, sampai jumpa di acara ghibah berikutnya" ucap Fredericka menguap dan melambaikan tangannya ke kamera.
"Ghibah always time" ucap Lia tertawa kencang.
"Ya, itu benar" ucap Fredericka tertawa kencang.
''Aku udah ngantuk, bye" ucap Fredericka mengakhiri panggilan.
"Yah, mati" ucap Lia kecewa teleponnya berakhir.
Fredericka tertidur dan Lia melanjutkan sleep call dengan Iqbal, hingga mereka tertidur dan panggilan itu mati karena tidak sengaja tersentuh oleh tangan mereka yang tertidur pulas.