Sarah

Sarah
5. PRAKTEK LARI



Happy reading.


"Selamat pagi dunia, kuharap hariku seindah cerahnya sambutanmu."_Lady future


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pagi hari ini cukup cerah.


Semua murid di kelas Sarah tengah berbaris di lapangan.


Mata pelajaran pertama adalah olahraga.


Untuk pengambilan nilai ujian praktek.


Pak Dedi memilih olahraga yang paling di gemari seluruh umat manusia yaitu lari (dari kenyataan).


Karna murid-muridnya yang sudah terbiasa menjadi kaum rebahan yang pemalas butuh sedikit gerak.


"Baiklah anak-anak hari ini kita akan mengambil nilai praktek" Ujar Pak Dedi mengamati muridnya satu persatu.


"Peraktek hari ini adalah lari jarak pendek. Bagi siswa maupun siswi yang tidak bisa mengikuti ujian praktek harap angkat tangan" Tanya pak Dedi


Dua tangan terangkat menunjukan kalau mereka tak bisa mengikuti praktek karna fisik yang you know lah.


Mereka itu adalah Kania dan Sarah.


Kania memang mempunyai riwayat jantung lemah sudah jadi makanan setiap pelajaran olahraga dia tak perna bisa mengikuti.


Sedangkan Sarah murid pendiam dominan ke cuek itu juga mengangkat tangan .


Membuat mereka bergosip ria karna Sarah yang biasanya selalu mengikuti pelajaran Pak Dedi tanpa kendala apapun mengangkat tangan.


Membuat setiap manusia di lapangan itu bertanya-tanya.


Termasuk Sean yang sendiri mantap Sarah yang disampingnya.


"Sarah maju kedepan" Merasa terpanggil Sarah pun berjalan ke depan.


Dengan raut cuek dengan mulut yang rapat terdiam.


"Apa alasan kau tidak bisa mengikuti Praktek kali ini?" Tanya Pak Dedi.


"Saya sedang datang bulan pak." Ucap Sarah datar tanpa rasa malu menatap mata Pak Dedi yang terkejut dengan jawaban Sarah yang terlalu santai.


"Hanya perkara datang bulan kau tak bisa mengikuti pelajaran saya!." Balas Pak Dedi sedikit canggung karena membahas hal yang sedikit sensitif itu.


"Bapak punya saudara perempuan?." Pertanyaan Sarah itu membuat Pak Dedi mengerenyitkan dahi bingung.


"Saya anak tunggal kenpa?" Jawab pak Dedi sewot.


"Pantasan dan saya tebak Bapak pasti jomblo kan" Kata Sarah berdecak pinggang sedikit menunduk menahan nyeri yang tiba-tiba datang.


"Hei omongan di jaga" Ucap Pak Dedi kesal karena tebakan Sarah menusuk tepat sekali.


"Bapak si laki-laki mana tau rasa sakitnya datang bulan seperti apa" Sarah masih saja menatap datar Pak Dedi guru muda yang baru setengah tahun mengajar di sekolah Sarah itu.


"Terserah. Kau harus tetap ikut praktek kali ini tanpa bantahan atau alasan apapun." Ucap Pak Dedi tegas.


"Auww." Saat Pak Dedi menyentil dari dahi Sarah pelan sambil terkekeh.


"Dasar jomblo karatan." Sarah mengupat pelan kembali ke barisan ya.


"Aaww ampun-ampun" Ucap Sean meringis pelan.


Sean yang tadinya berniat mengusap puncak kepala Sarah menghilangkan rasa sakit.


Namun sebelum tangan itu mengenai Sarah. Dengan sigap di pelitir membuat sang empunya mengasuh sakit.


Hingga mendapat pelototan dari guru jomblo namun sayangnya ganteng itu.


Sarah melepaskannya perlahan sambil menjulurkan lidah tak peduli.


Merekapun melakukan pemanasan singkat gunaΒ  meregangkan otot-otot dan menghindari cedera


"Praktek lari kali ini di bagi dua jenis yaitu kategori pria dan wanita jarak 60 meter bolak balik. Para pria yang sebentar lagi jadi calon imam mendapatkan kesempatan lebih dulu. Nama yang bapak panggil ambil posisi start sesuai urutan."


Pak Dedi mengabsen sesuai urutan.


Mereka berlari penuh semangat persaingan.


Mulai dari saling senggol atau tarik-tarikan celana.


Hingga lapangan penuh suara sorak gembira.


Mengundang perhatian dari kelas yang letaknya dekat dengan lapangan.


Sean yang kini dapat urutan ke 3 maju dengan percaya diri diikuti jeritan kuntilanak yang sendiri tadi tak mau diam.


"Kyaaa.. Sean kau pasti bisa love you Seann."


"Sean Rahimku hangat karena keringatmu."


"Sean aku padamu."


Iya begitulah suara yang mendominasi lapangan saat ini.


Sarah sudah biasa dengan popularitas temannya itu.


Siapa yang tidak mengagumi Sean yang notabenenya senior Ekskul bergengsi terfavoritΒ  mungkin di semua sekolah yaitu paskibra serta anggota tim basket kebanggan sekolah.


Badan tinggi dengan kulit kecoklatan akibat matahari serta mata coklat terang menjadi semakin eksotis.


Semua mengambil posisi bersiapΒ Β  menunggu aba- aba dari Pak Dedi yang sudah siap dengan senjata nyaring di tanganya.


"Are you ready"


"Ready" ucap Mereka serempak.


"Siap" Sambung Pak Dedi hingga posisi muridnya membungkuk siap menunggu aba-aba terakhir.


"Pprritt" Suara pluit berbunyi nyaring.


Sean berlari dengan kaki jenjangnya santai tapi pasti mendahului lawannya.


Saat putaran balik Sean menambah kecepatan.


Hingga lawannya yang tadi beriringan dengannya tertinggal jauh.


Diiringi paduan suara para fans alay kurang belaian.


"Ppritt" Peluit kembali berbunyi nyaring.


Penenang dari peraktek sesi ke 3 ini pasti kalian sudah tau.


Iya benar sekali.


Sean yang menyabet peringkat pertama.


Praktek kembali berjalan hingga semua sudah di panggil termasuk Sarah yang sendiri tadi diam dengan raut kesal yang lucu.


Maklum lah faktor M dan para wanita pasti tau.


Semua Siswi yang sudah di panggil dalam posisi siap.


Mereka melakukan instruksi sesuai aba-aba dari Pak Dedi.


"Pprittt." Bunyi Pluit kembali berbunyi nyaring.


Sarah berlari secepat yang ia bisa.


Mengikuti cara yang Sean lakukan berharap bisa menang walau tadinya ia sempat berpikir sangat malas.


Namun sayang di detik-detik terakhir sekitar satu setengah meter dari garis finis perutnya kembali ngilu.


Sarah memperlambat langkahnya mencoba bertahan.


Dan saat pas di garis Finis Sarah lagsung terjatuh memegangi perutnya.


Pak Dedi yang di dekatnya langsung datang begitupun


Dengan sigap Sean berlari menghampiri Sarah.


"Ap"


"Yang mana yang sakit" tanya Sean memotong ucapan Pak Dedi dengan raut wajah khawatir.


Yang di tanya hanya bisa meringis pelan sambil menunduk memegang perut.


"Ini gara-gara Bapak. Kalau saja Bapak mengizinkan Sarah tadi dia seperti ini." Ditepisnya tangan Pak Dedi yang ingin membantu.


"Aku akan bawa Sarah ke UKS dulu dan makan nilai sempurana sepuas yang kau mau Pak" Ucap Sean sinis.


Asmosfer di lapangan mulai panas.


Sean yang biasanya dikenal sangat sopan santun dengan guru maupun orang yang lebih tua walau dengan sifat cueknya kali ini berubah hanya karna Sarah.


Sean menggendong Sarah bridal style teriakan tertahan terdengar.


Banyak perempuan belingsakan gak jelas.


Namun yang di gendong tetap diam dengan wajah sedikit lebih pucat.


Sambil mencengkram baju bagian depan Sean hingga kusut.


Sesampainya di UKS Sean membaringkan Sarah secara perlahan.


Di usapnya wajah itu di banjiri keringat dengan mata teduh menenangkan.


Mengambil minyak kayu putih dan menyerahkannya kepada Sarah.


"Tunggu sebentar disini aku ambil air panas dulu." Ucap Sean mengusap rambut Sarah yang memejamkan mata.


Sean berjalan menuju pintu UKS.


Sean mengamati Sarah yang meringkuk bagai janin dalam kandungan memegang perutnya sambil meringis.


Dengan perasaan tak tega Sean melihatnya. Pintu tertutup kembali secara perlahan.


Menyisakan kesepian dalam kesakitan di dalam ruang berwarna biru dengan bau obat-obatan hingga pintu di ketuk dari luar.


Suara Pintu terbuka perlahan.


Namun hal itu tak di hiraukan oleh Sarah yang masih terpejam.


Derap langkah kaki terdengar pelan dari sepasang sepatu berwarna abu-abu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


******Hallo manteman reader sekalian.😊


Apa kabar?


Masih pada Nunggui Update cerita Sarah kan 😊


Biar semangat Author membara buat nulis dan update terus mudah kok 😁


Jangan lupa vote,komen,shere,serta tekan jempol sebanyak-banyaknya ya..Β 


Salam cinta dari Author..


See youu******