
"Tokkkk... tokkkk... tokkk... Alderts, Sarah buka pintunya" ucap Kinara mengetuk pintu rumah Alderts.
"Akhirnya mamah pulang juga, Sarah kangen banget sama mamah, mamah jangan pergi lagi, mamah disini saja sama papah, menemani Sarah" pinta Sarah berlinang air mata.
"Maafkan mamah Sarah, tapi mamah kesini hanya ingin bertemu dengan papah mu sebentar, tolong panggilkan papah mu Sarah" pinta Kinara.
"Papah, ada mamah pah, mamah ingin bertemu dengan papah" ucap Sarah.
"Ada apa Kinara?" tanya Alderts.
"Sarah, kamu masuk dulu ya ke dalam kamar kamu, tutup pintunya" pinta Alderts.
"Iya pah" ucap Sarah mengangguk patuh dan menutup pintu masuk.
"Kinara, apa yang kamu lakukan di sini? apa kamu masih belum puas telah menyakiti hati kami? pergi kamu Kinara, aku tidak ingin melihat mu lagi" ucap Alderts mengusirnya.
"Bahkan tanpa anda mengusir saya, saya juga akan pergi dari sini, saya datang kesini hanya untuk memberikan ini" ucap Kinara memberikan Alderts surat.
"Apa ini?" tanya Alderts.
"Buka saja" ucap Kinara menyeringai.
Alderts membuka surat yang Kinara berikan dan tiba-tiba menangis.
"Tanda tangani surat perpisahan kita, Ini pulpennya, ambillah" ucap Kinara memberikan sebuah pulpen.
Alderts pun menandatangani surat cerai yang dibawa oleh Kinara.
"Aku akan menunggumu di pengadilan agama" ucap Kinara.
"Baik" ucap Alderts.
Kinara pergi dengan membawa surat itu.
Sarah membuka pintu dan bertanya pada ayahnya dimana keberadaan ibunya.
"Papah, dimana mamah?" tanya Sarah.
"Mamah mu sudah pergi nak" ucap Alderts.
"Papah, mengapa mamah meninggalkan kita lagi?" tanya Sarah.
"Bersabarlah, sayang" ucap Alderts memeluk Sarah untuk menenangkannya.
"Ayo, masuk sayang" ucap ayahnya.
"Iya pah" ucap Sarah menyeka air matanya.
Sejak saat itu Sarah menjadi anak yang murung dan selalu berada di kamarnya.
"Tokkk... Tokkk... Tokkk... Sarah makan dulu sayang, kamu belum makan dari kemarin" ucap Alderts mengetuk pintu kamar Sarah.
"Buka saja pintunya pah, tidak terkunci" ucap Sarah.
"Sarah makan dulu sayang" ucap Alderts mengelus pucuk kepala Sarah.
"Sarah tidak lapar pah" ucap Sarah lemah.
"Kamu harus makan honey, kamu belum makan dari kemarin, nanti kamu sakit sayang" ucap ayahnya.
"Iya pah" ucap Sarah.
"Udah akh pah, Sarah kenyang" ucap Sarah.
"Satu suap lagi ya sayang, aaaa... ayok buka mulutnya, pesawat terbang datang" ucap Alderts tersenyum.
"Anak pinter, udah habis makanannya, papah keluar sebentar ya sayang" ucap Alderts tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.
"Iya pah" ucap Sarah.
"Assalamualaikum" ucap Alderts.
"Wa'alaikumsalam" ucap Sarah.
Beberapa saat setelah Alderts pergi, ada suara ketukan pintu terdengar.
"Mau cari siapa ya pak?" tanya Sarah membukakan pintu rumahnya.
"Dimana tuan Alderts?" tanya pria itu.
"Papah keluar tadi pak, bapak siapanya papah ya? karena papah ku tidak pernah memberitahu ku siapa bapak" ucap Sarah.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, kemana tuan Alderts pergi?" tanya pria itu.
"Saya tidak tahu pak, papah tidak memberi tahu saya kemana perginya" ucap Sarah.
"Oke baiklah, saya pulang saja, nanti beritahu tuan Alderts, Tommy datang dan beri tahu pada tuan Alderts, misi kita berhasil" ucap pria itu.
"Oh, ya sudah nanti aku kasih tau papah deh, biar Sarah antarkan ke depan gerbang pak" ucap Sarah.
"Tidak perlu, saya bisa jalan sendiri!" ucap pria itu yang ingin pergi namun Sarah menahannya.
"Tidak apa-apa pak, biar Sarah mengantarkan bapak ke depan gerbang" ucap Sarah.
"Kalau saya katakan tidak, itu berarti tidak!, apa anda tuli?" bentak pria itu.
Sarah hanya terdiam dengan raut wajah ketakutan yang sangat terlihat di wajahnya dan seluruh tubuhnya bergetar.
"Oke baik pak, silahkan" ucap Sarah gemetaran.
"Sinta, aku pulang dulu ya, assalamualaikum" ucap Alderts yang berniat untuk pulang ke rumahnya menemui Sarah putrinya bersama Kinara.
"Kamu baru sebentar disini mas, masa udah balik aja sih?" tanya Sinta kesal.
"Sinta maaf, aku harus pulang sekarang, kasian Sarah dirumah sendirian, dia masih sangat kecil, tidak mungkin jika aku meninggalkannya di rumah sendiri terlalu lama" ucap Alderts.
"Lalu bagaimana dengan Rafly anak kita?" tanya Sinta.
"Sinta tolong mengerti kondisi ku, sudah lah, tidak ada gunanya berdebat dengan kamu, mau seribu perdebatan kita itu akan sia-sia, karena kamu hanya mau di mengerti, tetapi tidak pernah mengerti keadaan ku" ucap Alderts yang langsung pergi meninggalkannya.
"Mas" panggil Sinta yang berusaha menghentikan langkah Alderts.
Alderts hanya menatap sekilas Sinta dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Setelah pria itu pergi Sarah masuk ke dalam dengan langkah kaki gemetar. Tak lama kemudian, Alderts kembali ke rumah.
"Tokkk.. tokk.. tokk.. Sarah buka pintunya, ini papah sayang" ucap Alderts mengetuk pintu rumahnya.
"Masuk pah" ucap Sarah tersenyum membukakan pintu.
"Sarah, tolong buatkan kopi untuk papah ya sayang, kamu bisa kan sayang?" tanya Alderts.
"Iya pah, bisa kok, kan mamah dulu pernah ajarin aku cara bikin kopi" ucap Sarah tersenyum.
Sebelum kepergian Kinara, ia sempat mengajarkan Sarah bagaimana caranya membuat kopi kesukaan Alderts.
"Papah, ini kopinya" ucap Sarah membawakan kopi yang bergetar karena tangan kecilnya tidak begitu kuat untuk memegangnya.
"Terima kasih sayang" ucap Alderts tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.
"Kenapa papah pulang larut malam? papah darimana? oh iya, tadi ada yang datang mencari papah dan dia meninggalkan pesan, katanya "misi kita berhasil", apa maksud dia pah?" tanya Sarah.
"Siapa yang bilang itu Sarah?" tanya Alderts.
"Tommy pah, papah misi apa yang Tommy maksud?, dan siapa tommy sebenarnya?, kenapa dia memanggil papah dengan sebutan tuan?" tanya Sarah bingung.
"Tommy adalah salah satu dari rekan kerja papah, dia sangat suka bercanda, jadi wajar saja jika dia memanggil papah dengan sebutan"tuan" dan misi yang dia maksud adalah proyek yang sedang kita kerjakan sayang" ucap Alderts tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.
"Oh, jadi begitu ceritanya, Sarah tidur dulu ya pah, Sarah ngantuk banget" ucap Sarah menguap.
"Iya, sayang" ucap Alderts tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.
"Papah juga tidur ya, ini sudah larut malam" ucap Sarah.
"Iya sayang" ucap Alderts tersenyum mengelus pucuk kepala Sarah.
Kebiasaan Alderts masih belum berubah. Dia masih menyembunyikan pekerjaannya itu dari Sarah bahkan cinta terlarangnya bersama Sinta. Kinara pergi tapi sepertinya tidak mempengaruhi Alderts sama sekali. Dia hanya berpura-pura saja kehilangan Kinara di depan Sarah, padahal sebenarnya ia tidak merasa kehilangan Kinara sedikit pun, karena telah lama ia menikah dengan Sinta tanpa sepengetahuan Kinara dan Sarah, karena Sinta telah mengandung anak Alderts hasil dari hubungan gelapnya.