Sarah

Sarah
Diculik Arwah Rumah Kosong



Sesampainya di rumah, Shivanya terus ditanyai oleh ibu, ayahnya, dan Amir, mengapa dia meninggalkan rumah tetapi Shivanya tidak menjawab pertanyaannya dan hanya memberinya tatapan kosong.


"Shivanya, ini kamu minum dulu sayang" ucap ibunya memberikannya segelas air.


Shivanya hanya diam mematung bahkan menolak saat ibunya memberikannya minum.


''Apa yang kamu lakukan disana? Rumah itu sudah kosong sejak 15 tahun lalu, penghuninya berangkat ke Jakarta, sampai sekarang belum ada yang berani masuk ke rumah itu, katanya rumah itu sangat angker" ucap mas Amir.


''DIA HARUS MATI!!'' ucap Shivanya yang melotot dan tertawa keras tapi tatapannya masih kosong.


''Siapa dia?'' tanya ayah Shivanya.


''HIHIHI!!'' Shivanya tertawa melengking dan mencekik leher Amir.


''KAMU JUGA HARUS MATI!!'' ucap Shivanya sambil mencekik leher Amir.


''Shivanya sadar sayang'' ucap ayahnya menggoyangkan bahu anaknya.


''Siapa Shivanya? aku Nina'' ucap Shivanya sambil menatap kedua orang tuanya dengan ekspresi wajah datar dan mata yang melotot tidak berkedip sama sekali.


''Nina? siapa Nina? kamu Shivanya sayang" ucap ibu Shivanya yang berusaha menyadarkan Shivanya.


"Nina korban pemerkosaan 10 tahun lalu di rumah yang berada di tengah perkebunan itu'' ucap ibu mas Amir yang tiba-tiba masuk.


"Dia bukan Shivanya, dia hantu yang menyerupai Shivanya" kata ibu Amir.


''Lalu di mana Shivanya?'' tanya ibu Shivanya dengan air mata berlinang.


''Nina dimana Shivanya?'' tanya ibu Amir.


Nina pun melepaskan tangannya dari leher Amir yang hampir kehabisan napas, lalu melirik ibu Amir.


DIA DAN DIA HARUS MATI!! Kata Nina sambil menunjuk Amir dengan ekspresi dendam.


Mengapa? ada apa dengan Shivanya dan anakku? tanya ibu Amir.


''Mereka telah mengambil kupu-kupu putriku, siapapun yang mengganggu putriku harus MATI!!!" ucap arwah penasaran itu.


''Nina, maafkan kesalahan saya dan Shivanya, saya mohon kembalikan Shivanya'' ucap Amir.


''Aku akan mengembalikan Shivanya, jika kamu mengembalikan kupu-kupu putriku yang telah dicuri oleh Shivanya di depan rumah ku sebagai gantinya'' ucap Nina.


''Oke baiklah, aku akan mengambil kupu-kupu itu tapi lepaskan leherku dulu" ucap Amir terbata-bata.


Nina melepaskan cengkeramannya di leher Amir.


"Nina, ini kupu-kupunya" ucap Amir memberikan toples berisi kupu-kupu yang mereka tangkap kemarin.


''Sekarang kembalikan putriku, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan'' ucap ayah Shivanya.


Nina tidak berkata apa-apa dan langsung pergi diikuti oleh orangtua Shivanya, Amir, dan ibunya.


''Mamah... papah... mas Amir tolong keluarkan Shivanya dari dalam sini.. Shivanya takut'' ucap Shivanya dengan suara serak karena dia tidak bisa berhenti menangis.


''Shivanya'' ucap ibunya.


''Mah, Shivanya takut'' ucap Shivanya sambil memeluk ibunya.


''Shivanya, maafkan mas" kata Amir sambil memeluknya dan meneteskan air mata.


''Sekarang lebih baik kita cepat pergi dari sini takut terjadi sesuatu, nanti kita bicarakan semuanya di rumah saja'' ucap ayah Shivanya.


''Mas takut'' ucap Shivanya merengek dan memeluk Amir.


Shivanya pun pulang dengan digendong oleh Amir.


"Assalamualaikum" ucap ayah Shivanya sebelum memasuki rumah.


Shivanya duduk disini dulu biar mas ambilkan air minum dulu.


Beberapa saat kemudian, Amir datang dengan membawa segelas air dan memberikannya kepada Shivanya.


''Ini minumnya dek, diminum dulu" ucap mas Amir.


“Iya mas Amir, terima kasih” ucap Shivanya mengambil segelas air dengan tangannya yang gemetar.


''Sini mas bantuin" ucap mas Amir mengambil alih gelas dari tangan Shivanya.


Shivanya menarik tangan mas Amir, menandakan bahwa sudah cukup mas Amir memberinya minum.


''Kok kamu bisa ke sana sih dek? gimana ceritanya?'' tanya Amir sambil mengelus puncak kepala Kanya.


''Iya nak, bagaimana kamu bisa sampai di sana?'' tanya ibunya.


''Seseorang panggi aku terus mah, Shivanya'' Shivanya Shivanya" gitu, aku pikir mas Amir yang membangunkan ku, karena aku masih sangat mengantuk hingga aku tidak bisa benar-benar melihat sosoknya, tapi sepertinya dia jauh lebih tinggi dari mas Amir'' ucap Shivanya.


''Om Wowo siapa mas?' tanya Shivanya.


''Itu lho dek yang besar, tinggi dek" ucap mas Amir.


Oh.


"Mengerti?" tanya mas Amir.


"Ya saya mengerti" ucap Shivanya.


''Kenapa mas tidak langsung menyebutkannya saja? jangan pakai nama samaran seperti itu, apakah mas takut pada om Wowo?'' tanya Shivanya.


''Hehe, kayak kamu tidak takut aja sama dia dek'' ucap mas Amir.


''Hehe, aku juga takut sih mas'' ucap Shivanya malu.


''Kak, kenapa tidak menanam bambu kuning saja di kebun atau makan daun kelor juga, atau keduanya, menurut Google, bambu kuning bisa mengusir jin usil dan daun kelor bisa mengusir Paman Wowo'' ucap ibu Amir kepada ibu Shivanya.


"Ya nanti aku cari bambu kuning dan daun kelor untuk ditanam di perkebunan itu supaya Shivanya tidak diganggu lagi'' ucap ayah Shivanya.


''Shivanya, kamu istirahat saja di kamarmu dulu, tenangkan dirimu'' ucap ayahnya.


''Tapi aku takut pah'' ucap Shivanya.


“Sebentar, mamah akan mengambil bawang putih dulu di dapur, katanya bawang putih bisa mengusir jin juga, nanti kamu bawa bawang putihnya ya Shivanya, taruh di saku celana atau bajumu, atau di samping tempat tidur mu" ucap ibu Shivanya.


"Taburkan saja kak garam kasar di setiap sudut rumah ini, sambil menunggu suami mu pulang dengan membawa bambu kuning dan daun kelornya untuk ditanam'' ucap ibu Amir.


''Iya bener apa yang dia bilang ya, yaudah papah jalan dulu cari daun kelor dan bambu kuning ya mah assalamualaikum" ucap suaminya.


''Wa'alaikumsalam'' ucap istrinya sambil mencium punggung tangan suaminya.


“Ini taruh bawang putihnya langsung didalam saku mu nak” ucap ibunya memberikan bawang putih.


''Shivanya, mamah pergi ke toko dulu ya, mau beli garam kasar" ucap ibu Shivanya.


''Iya mah" ucap Shivanya.


“Kak nggak usah beli di toko, saya ada kok garam kasar dirumah, kalau kurang nanti saya yang beli saja, saya ambilkan sebentar” ucap ibu Amir.


"Iya terima kasih" ucap ibu Shivanya.


''Ini garam kasarnya, nanti saya bantu taburkan di dalam kamar Shivanya'' ucap ibu Amir.


''Ya, aku akan menaburkannya di luar kamar Shivanya dulu, karena itu yang terpenting" ucap ibu Amir.


''Iya kak" ucap ibu Shivanya.


"Garamnya sudah habis" ucap ibu Shivanya


“Oke, saya belikan sebentar” ucap ibu mas Amir.


"Iya" ucap ibu Shivanya.


"Assalamualaikum" ucap ibu mas Amir.


"Wa'alaikumsalam" ucap ibu Shivanya.


Beberapa menit kemudian, ibu Amir datang dengan membawa 2 kantung plastik besar berisi garam kasar.


''Ini garam kasar" ucap ibu mas Amir.


''Mengapa anda membeli begitu banyak?" tanya ibu Shivanya.


''Ya, tidak apa-apa, taburi saja yang banyak" ucap ibu mas Amir.


''Ya terima kasih banyak" ucap ibu Shivanya.


''Ya sama-sama" ucap ibu mas Amir.


Beberapa menit kemudian ibu Shivanya dan ibu Amir selesai menaburkan garam kasar di seluruh rumah.


''Sayang, mamah sudah menaburkan garam di setiap sudut rumah, kamu jangan takut lagi ya, sekarang kamu istirahat, ayok sayang mamah antarkan ke dalam kamar kamu'' ucap ibunya sambil mengarahkan Shivanya masuk ke dalam kamarnya.


"Iya mah" ucap Shivanya mengikuti langkah kaki ibunya.


''Amir, buk lek tinggal dulu ya, jaga Shivanya, jangan ditinggalin, buk lek mau masak dulu" ucap ibu Shivanya.


"Iya buk lek" ucap mas Amir menganggukkan kepalanya.


JANGAN MENGAMBIL APA PUN DI TEMPAT YANG ANDA KUNJUNGI JIKA TIDAK INGIN TERJADI SESUATU YANG TIDAK DI INGINKAN TERJADI, KARENA MEREKA YANG TAK TERLIHAT TIDAK AKAN MENGGANGU MANUSIA JIKA MANUSIA ITU TIDAK MENGGANGGU MEREKA YANG TAK KASAT MATA