Sarah

Sarah
Rissa Bertemu Keluarga Shivanya



"Assalamualaikum Rissa, Amir" ucap Shivanya mengetuk pintu rumah Rissa.


"Wa'alaikumsalam" ucap Amir membuka pintu rumahnya.


"Eh tante, ayok masuk tante"


"Iya Amir terima kasih, Rissa kemana?"


"Ada di kamar tante, sebentar ya Amir panggilkan"


"Iya Amir"


Amir masuk ke kamar Rissa yang memang tidak dikunci.


"Dek, ada tante Shivanya tuh di depan" ucap Amir.


Mendengar perkataan Amir, Rissa langsung bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri tante Shivanya.


"Tante" ucap Rissa yang langsung berlari memeluknya.


"Kamu apa kabar sayang?"


"Alhamdulillah baik tante" ini apa tante?" tanya Rissa mengambil kantung plastik yang ada disamping tante Shivanya.


"Itu baju seragam untuk kamu dan untuk abang kamu"


"Untuk saya tante?"


"Iya Amir, tante sudah daftarkan kamu di sekolah yang sama dengan Rissa dan anak tante, jadi SD, SMP, SMA itu saling berdekatan, biar memudahkan kamu juga jika ingin bertemu dengan Rissa"


"Makasih ya tante"


"Iya Amir sama-sama"


"Baju seragam kalian cobain dulu, nanti kalau gak muat atau kegedean biar tante tukar"


"Iya tante" jawab mas Amir dan Rissa kompak.


"Baju aku yang mana?" tanya Rissa mengeluarkan semua baju"


"Jangan diacak-acak dek, lihat aja ukurannya"


"Yang mana ukurannya?"


"Itu kan ada diatasnya"


"Ini baju kamu yang kecil tuh"


"Oke"


Rissa berlari membawa bajunya ke kamar.


"Eh ini rok kamu sekalian cobain" ucap mas Amir menghentikan langkahnya.


"Oh iya" ucap Rissa kembali lagi mengambil roknya.


"Amir tinggal ya tante"


"Iya Amir"


"Tante ini makanan dan minumannya, Amir cobain bajunya dulu ya"


"Iya Amir terimakasih"


"Sama-sama tante"


Amir pergi meninggalkan tante Shivanya untuk mencoba bajunya.


Rissa keluar dari dalam kamarnya dengan memakai seragam sekolahnya.


"Tante" panggil Rissa.


Shivanya pun menatap perlahan Rissa.


"Sini sayang"


Rissa berjalan menghampiri tante Shivanya.


"Ikh cantik banget kamu, bajunya pas di badan kamu"


"Makasih tante"


"Sama-sama sayang"


Tak lama kemudian Amir datang dengan memakai baju seragamnya.


"Wah bajunya pas di kamu"


"Iya tante, makasih ya tante baju seragamnya"


"Sama-sama Amir"


"Untuk lebih memudahkan, bagaimana jika kalian tinggal di rumah tante saja, kan besok kalian sudah mulai masuk sekolah, biar sekalian tante ngurusnya, jadi kalian nanti bisa jalan bareng Eza dan Lisa ke sekolah"


"Eza dan Lisa siapa tante? anak tante?"


"Iya Amir, Eza dan Lisa itu anak tante, kalian mau kan tinggal di rumah tante?"


"Iya tante"


Amir dan Rissa pergi untuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Mas Amir membawa tas Rissa dan juga tas miliknya.


"Sini Amir, biar tante bantu bawakan" ucap tante Shivanya yang ingin mengambil satu tas yang Amir bawa.


"Gak apa-apa Amir, sini biar bawakan, kasian kamu keberatan gitu"


"Makasih ya tante"


"Sama-sama Amir"


Tante Shivanya membuka bagasi mobilnya dan meletakkan barang-barang Amir dan Rissa.


"Semua barang udah masuk kesini kan?" tanya tante Shivanya.


"Akh nanti dulu, ada yang kurang" ucap Rissa berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Apalagi yang kurang dek? kan baju kamu udah masuk kesini semua"


"Bukan baju mas Amir"


Rissa membawa semua bonekanya ke luar.


"Astagfirullahaladzim ternyata boneka!" ucap mas Amir menepuk keningnya sendiri.


"Mas Amir jangan hanya melihat ku saja! tolong bantu bawakan mereka!" pinta Rissa keberatan membawa semua bonekanya.


"Iya dek"


Mas Amir berlari menghampiri Rissa dan membawa sebagian boneka, tante Shivanya juga membantu membawa semua boneka Rissa.


"Ini udah semua dek?" tanya mas Amir.


"Sebenarnya belum, masih ada lagi di dalam kamar, tapi aku hanya membawa yang besar saja, sekalian buat bantal dan guling ya" ucap Rissa.


"Ya udah ini pintunya mas kunci ya, gak ada apa-apa lagi yang ketinggalan di dalam kan?"


"Gak ada mas" ucap Rissa yang langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah mengunci pintu rumahnya, Amir pun masuk ke dalam mobil tante Shivanya. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan tempat itu. Sesampainya di depan rumah, ada security yang langsung membukakan pintu pagar untuk mereka masuk ke dalam. Shivanya memarkirkan mobilnya di depan halamannya.


"Assalamualaikum mah, pah" ucap Shivanya memanggil orangtuanya.


"Wa'alaikumsalam"


Rissa berjalan keluar dengan membawa satu bonekanya setelah bersembunyi di balik tubuh Shivanya.


"Fredericka?" tanya ibu Shivanya terkejut melihat wajah Rissa.


"Papa ada Fredericka anak sulung kita pah" teriak ibu Shivanya memanggil suaminya.


"Ada apa sih mah? kok teriak-teriak gitu sih? gak enak kan sama tetangga" ucap suaminya datang menghampiri.


"Papa lihat! Fredericka kita masih hidup pah" ucap ibu Shivanya menunjuk Rissa.


Rissa terlihat sangat bingung mendengar perkataan mereka.


"Fredericka sayang, kamu kenapa jadi kecil lagi nak? kamu masih ingin bermain? kenapa kamu tidak mengatakannya langsung kepada kami nak? kenapa harus kamu meninggalkan kami terlebih dahulu?" tanya ayah Shivanya berjongkok memegang pipi Rissa.


"Siapa Fredericka? aku Rissa, bukan Fredericka" ucap Rissa dengan ekspresi wajah datar.


"Nak, kamu jangan berbohong pada kami sayang" ucap ayah Shivanya meneteskan air mata memegang pipi Rissa.


"Tidak! aku tidak berbohong! nama aku Rissa, bukan Fredericka!" ucap Rissa menggelengkan kepalanya.


"Pah, mah, dia berkata benar, nama dia adalah "Shivanya Nerissa" keluarganya memanggil dia dengan nama "Rissa" dia bukan kak Ika kita pah, mah" ucap Shivanya.


Ayah Shivanya pun segera berdiri menghampiri Shivanya.


"Apa? jika dia bukanlah Fredericka kita, mengapa wajahnya sangat mirip dengan Fredericka kita ketika masih kecil?" tanya ayahnya menatap Shivanya lalu menatap Rissa.


"Shivanya tidak tahu soal itu pah, mah, Shivanya bertemu dia karena dia adalah teman sekolah Eza dan Lisa, dia yang menyelamatkan nyawa Lisa ketika hampir tertabrak oleh mobil, saat pertama kali Shivanya bertemu dia, Shivanya juga bingung pah, mah, mengapa ada seorang anak yang sangat mirip dengan kak Ika kita" ujar Shivanya.


Orangtua Shivanya pun menatap kebingungan Rissa. Ibu Shivanya berjongkok dan melihat setiap sudut tubuh Rissa dari mulai tangan, kaki hingga ke leher Rissa.


"Leher kamu kenapa? mengapa berlubang?" tanya ibu Shivanya memegang lubang kecil di bawah leher Rissa.


"Aku tidak tahu, kata ibuku karena ibuku menjahit ketika sedang hamil aku, katanya pamali orang menjahit saat hamil di malam hari nanti leher anaknya berlubang, makanya leher aku berlubang seperti ini"


"Apa itu sakit?"


"Jika tidak disentuh tidak sakit, tapi jika disentuh agak sedikit perih"


"Pah, apa jangan-jangan Fredericka ketika mati di lautan dulu karena lehernya tertancap sesuatu? mama yakin jika anak ini adalah Fredericka yang hidup kembali di raga yang berbeda" ucap ibu Shivanya menatap suaminya.


"Bisa jadi mah, terakhir kan Fredericka kita juga bilang ke kita, jika nanti dia akan kembali datang, akan ada seorang anak yang terlahir sebagai perwujudan dari dirinya, mungkin anak yang dimaksud oleh Fredericka adalah anak ini, karena tidak ada satupun yang berbeda wajahnya dengan Fredericka kita" ucap ayah Shivanya.


"Bisa jadi pah"


"Apa itu reinkarnasi om, tante?" tanya Rissa.


"Belum saatnya kamu untuk tahu tentang hal ini sayang, udah yuk kita masuk aja, biar kamu bisa istirahat di dalam, barang-barang kamu nanti biar dibawakan oleh asisten kita" ucap ibu Shivanya tersenyum merangkul Rissa.


"Iya" jawab Rissa berjalan dan menarik tangan mas Amir.


"Dia siapa?" tanya ibu Shivanya menunjuk mas Amir.


"Dia abang ku, namanya mas Amir" jawab Rissa.


"Hai, salam kenal ya" ucap ibu Shivanya tersenyum menatap Amir.


"Iya tante" jawab Amir tersenyum menganggukkan kepala.


Ibu Shivanya mengantarkan Rissa dan mas Amir ke dalam kamarnya lalu pergi meninggalkan mereka agar mereka bisa beristirahat.