
"Ya udah kita pulang aja ya, ayok" kata ayah Aleta membantu putrinya itu.
"Iya pah"
Ketika mereka baru saja hendak keluar dari ruang pemeriksaan, handphone ayahnya berbunyi.
"Ada telepon, sebentar ya" kata ayah Aleta.
"Iya pah"
Ayah Aleta keluar ruangan untuk mengangkat teleponnya karena disana sangat berisik dan lemah sinyal.
Tak lama kemudian ayah Aleta kembali ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah sedih.
"Ada apa pah?" tanya istrinya.
"Kita harus ke China sekarang mah"
"Ke China? ngapain pah?"
"Kolega papah mempercepat pertemuannya mah, dan katanya dia juga mau melihat design-design baju mamah"
"Ya udah kalau gitu kita pulang dulu aja pah"
"Iya mah, ayok Al"
"Iya pah"
Aleta dan orangtuanya pun kembali ke rumah. Sesampainya di rumah orangtua Aleta langsung menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa untuk pergi ke China.
"Ayok mah kita berangkat" ajak suaminya.
"Iya pah"
"Aleta" panggil ayahnya mengetuk pintu kamar Aleta.
"Iya pah" kata Aleta membukakan pintunya.
"Mamah sama papah jalan ya nak, kamu hati-hati di rumah, kalau Hasan bawa wanita lagi ke rumah ini, kamu teriak saja, biar para tetangga datang dan mengusir mereka pergi"
"Iya pah"
"Assalamualaikum" kata ayah Aleta.
"Assalamualaikum" kata ibu Aleta.
"Wa'alaikumsalam" kata Aleta tersenyum mencium punggung tangan ayah dan ibunya.
Aleta mengantarkan ayah dan ibunya hingga ke depan. Ayah dan ibunya pun pergi ke bandara untuk menemui kolega mereka yang ada di China.
"Lebih baik aku cari Fredericka aja sekarang, tapi aku harus cari dia kemana ya? coba deh aku jalan-jalan aja sekitar sini, kali aja aku bertemu dengannya, walaupun aku gak tahu seperti apa wajahnya, tapi lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali bukan?, ya Allah pertemukan aku dengan Fredericka, kasian dia ya Allah, aku tidak ingin wanita itu menjadi korban mas Hasan selanjutnya, aku tidak ingin mas Hasan memanfaatkannya sama seperti ia memanfaatkan ku, ya Allah lindungilah Fredericka dimana pun ia berada, pertemukan aku dengannya agar aku bisa memberitahukan kepadanya jika mas Hasan adalah laki-laki yang tidak baik, aku ingin memberitahukan kepadanya jika mas Hasan hanya memperalat wanita-wanita kaya untuk bersenang-senang dengan wanita malam, Fredericka, semoga takdir mempertemukan kita ya, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada mu karena kamu berdama dengan mas Hasan" kata Aleta dengan ekspresi sedih menatap langit.
Aleta pun berjalan kaki menyusuri jalanan tanpa arah tujuan saat sedang mengandung hanya untuk mencari keberadaan Fredericka.
Setelah cukup jauh berjalan, perut Aleta terasa sangat sakit, mungkin sang jabang bayi merasakan lelah karena Aleta terus saja berjalan tanpa tujuan mencari Fredericka. Aleta masih terus berjalan menahan rasa sakit dan memegangi perutnya, saat itu juga ada seorang wanita muda yang tidak sengaja menabraknya.
"Maaf mbak saya gak sengaja" kata Fredericka.
"Tidak apa-apa, saya juga salah karena saya jalan menunduk jadi tidak melihat mu ada di depan ku" kata Aleta tersenyum menatap seorang wanita yang tanpa ia ketahui jika wanita itu adalah wanita yang ia cari yaitu Fredericka Nerissa.
"Mbak kenapa? mbak sakit?" tanya Fredericka memegang pundak Aleta.
"Iya perut saya sakit banget" kaya Aleta merintih kesakitan.
"Apa mbak sedang hamil?"
"Iya, saat ini saya memang sedang mengandung"
"Iya" kata Aleta tersenyum.
Fredericka membawa Aleta ke bangku yang tak jauh dari keberadaan mereka.
"Memangnya mbak mau kemana? suami mbak juga kemana? kok bisa-bisanya dia membiarkan mbak jalan kaki sendirian seperti itu"
"Saya tidak tahu ingin kemana"
"Maksudnya mbak?"
"Enam tahun yang lalu saya menikah dengan seorang pria dalam keadaan saya tengah mengandung, tepat di malam pertama kami, dia meninggalkan ku begitu saja, dan beberapa minggu yang lalu, dia kembali lagi ke rumah dan akhirnya kita melakukan malam pertama kita walaupun secara agama kami telah berpisah karena suami saya tidak memberikan saya nafkah sedikitpun, setelah kembalinya dia ke rumah, saya kira dia telah berubah tapi ternyata tidak, dia pulang ke rumah setelah kepergiannya dengan membawa seorang wanita dalam keadaan mabuk, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri jika mereka melakukan hubungan suami istri di dalam kamar ku, dia mengatakan jika aku hanyalah istri hitam diatas putih, hanya sebatas istri yang tercatat di pengadilan agama tanpa pernah ia cintai, dia menikahi wanita itu, beberapa hari kemudian aku memergoki mereka tengah bermesraan di taman, dia juga bilang akan menikahi wanita itu, dia hanya pulang ke rumah untuk meminta uang kepada ku, ketiga kalinya aku mendengar jika dia berbicara dengan seorang wanita jika wanita itu meminta uang kepada suamiku, suamiku mengatakan jika ia tidak memiliki uang dan wanita itu mengatakan "bagaimana kalau mas pinjam uang saja kepada Fredericka kekasih mu itu kan dia kaya raya juga" dan karena hal itulah aku ingin mencari wanita bernama Fredericka itu, aku tidak ingin dia menjadi seperti ku yang hanya dibutuhkan uangnya saja, aku tidak tahu harus mencarinya kemana, makanya aku berjalan tanpa tujuan hanya untuk menyelamatkannya dari pengaruh suamiku itu" kata Aleta menatap Fredericka.
"Fredericka?"
"Iya, apa kamu mengenalnya?"
"Nama saya Fredericka, yang mbak cari itu Fredericka siapa? karena pasti banyak wanita yang memiliki nama Fredericka, saya Fredericka Nerissa"
"Iya kamu benar, aku tidak tahu siapa nama lengkapnya, wanita itu hanya mengatakan Fredericka saja tanpa memberitahukan nama lengkapnya, apa boleh aku meminta nomor WhatsApp kamu? saya akan cari tahu info lebih jelas lagi tentang siapa nama lengkap Fredericka yang dimaksud oleh wanita itu"
"Oke baiklah, ini nomor saya, nanti kalau mbak udah dapat info lebih jelasnya, hubungi saya saja ya" kata Fredericka tersenyum menepuk pundak Aleta.
"Iya" kata Aleta menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ayok mbak saya antarkan pulang, oh iya, rumah mbak jauh gak ya dari sini? kalau jauh kita naik taksi aja, kasian mbak kalau harus jalan lagi ke rumah"
"Sepertinya tadi saya sudah berjalan cukup jauh"
"Ya udah kalau gitu saya pesan taksi dulu ya mbak"
"Iya"
"Ini mbak ketik aja sendiri nama jalan rumah mbak apa" kata Fredericka memberikan ponselnya.
"Iya"
"Mbak udah makan? kalau belum mau saya belikan makanan gak mbak? sembari menunggu taksi online itu datang, gimana? mau gak mbak?"
"Gak usah Fredericka, takut ngerepotin kamu, nanti saya makan di rumah saja sekalian minum vitamin untuk kandungan ku"
"Oh gitu, ya udah saya tungguin aja sampai taksi online itu datang"
"Iya makasih Fredericka" kata Aleta tersenyum.
"Hm, Ika aja mbak" kata Fredericka tersenyum kecil.
"Iya Ika, makasih ya" kata Aleta tersenyum memegang tangannya.
"Iya mbak sama-sama" kata Fredericka tersenyum kecil.
Tak lama kemudian taksi online yang Fredericka pesan pun tiba, dan Fredericka pun membantu Aleta masuk ke dalam taksi itu.
"Pak jalannya jangan ngebut ya, soalnya mbak ini sedang hamil, takut terjadi sesuatu kepada bayi dia nantinya" kata Fredericka pada supir taksi.
"Siap kak" kata supir taksi tersenyum menganggukkan kepala.
"Ini uangnya pak" kata Fredericka memberikan uang kepada supir taksi sesuai harga yang tertera di aplikasi.
"Makasih banyak ya Ka" kata Aleta tersenyum.
"Iya mbak sama-sama" kata Fredericka tersenyum menganggukkan kepala dan menjauh dari mobil.
Aleta pun kembali ke rumahnya dengan menggunakan taksi.