Sarah

Sarah
Sinta Meninggal



2 tahun telah berlalu, kini Dimas dan Love sudah mulai sekolah. Saat hendak pulang sekolah, Sinta menjemput Dimas dan Love dengan mobilnya. Love yang melihat Sinta langsung berlari ke arah Sinta. Dari depan, sebuah mobil yang tengah melaju dengan kecepatan kencang yang hendak menabrak Love.


''Love awas'' ucap Dimas dan Sinta berteriak.


Sinta berlari menyelamatkan Love. Sinta mendorong Love menjauh dari sana hingga kaki Love terluka dan Dimas menghampirinya. Sinta yang menyelamatkan Love pun tak sempat menghindar akhirnya tertabrak mobil dan terpental sejauh 10 meter dari tempat kejadian. Sinta yang terpental jatuh terbalik dan dadanya terbentur oleh batu. Warga sekitar yang melihatnya langsung berlari menolong Love dan Sinta.


Sinta dibawa ke rumah sakit dengan mobilnya sementara kaki Love diobati oleh warga sekitar, kemudian membawanya ke rumah sakit tempat Sinta dibawa. Warga mencoba menghubungi Alderts dengan ponsel yang ada di tas Sinta.


"Assalamualaikum pak, saya Anjani, saya ingin menginformasikan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sedang dirawat oleh dokter di rumah sakit" kata warga setempat.


Alderts yang mendengarnya tiba-tiba kaget dan kakinya lemas hingga jatuh tersungkur ke atas lantai dan ponselnya pun terjatuh ke atas lantai.


Alderts mencoba menguatkan dirinya sendiri dan segera pergi ke rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaan Sinta, Love, dan Dimas.


Dimas dan Love berlari memeluk Alderts dan mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia. Selama ini Dimas dan Love sudah menganggap Sinta sebagai ibu kandung mereka.


Alderts yang mendengar pun melepaskan pelukannya dan berlari ke kamar Sinta. Alderts tidak menyangka bahwa dalam waktu 2 tahun, dia harus kehilangan seseorang lagi yang berharga untuknya.


Luka yang belum sembuh sempurna kembali melebar. Satu per satu dia mulai kehilangan keluarganya. Alderts memeluk tubuh Sinta dan meneteskan air mata, begitu pula dengan Dimas dan Love. Mereka keluar untuk mengurus semua biaya rumah sakit dan Aldert pun membawa Sinta. Alderts yang merasa hancur dan merasa semuanya sudah berakhir, melajukan mobilnya dengan sangat kencang hingga nyaris menabrak namun nasib masih menyelamatkan nyawa mereka.


Sesampainya di rumah, mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman Sinta dan pengajiannya.


Alderts pun memandikan jenazah istrinya dan membantu mengenakan kain kafan. Wajah Sinta tampak berseri-seri dengan senyum indah terukir di bibirnya persis seperti kematian Kinara.


Mereka pun membawa Sinta ke masjid untuk menggelar salat jenazah. Usai menggelar salat jenazah, mereka membawa jenazah Sinta ke pemakaman untuk dimakamkan. Sinta dimakamkan tepat di sebelah makam putrinya Dinda. Sepeninggalan Rafly dan Dinda, Sinta meminta Alderts untuk membelikan tanah di sebelah keluarga mereka agar mereka bisa dimakamkan bersama. Alderts pun membelikan kuburan untuknya, Sinta, Dimas, dan Love agar mereka selalu bersama.


Sebelum kematian Sinta, dia habis mengunjungi makam Sarah, Kinara, Rangga, Rafly dan Dinda. Sinta pergi ke kuburan mereka untuk berdoa untuknya dan mengatakan di antara kuburan putra dan putrinya bahwa cepat atau lambat mereka akan bersama lagi.


Mungkin benar apa yang dikatakan orang bahwa "ucapan adalah doa". Sinta yang baru saja mengatakan hal itu kini berada di samping makam Dinda. Umur hanya Allah yang mengetahuinya tapi ada baiknya kita tidak mengatakan sesuatu yang buruk karena Tuhan mungkin saja mengabulkan semua ucapan kita setelah berucap jadi berhati-hatilah dalam berbicara karena mulut mu adalah harimau mu, lidah merupakan perisai yang tajam, siap kapan pun untuk menggoreskan luka.


"Papah sabar ya pah" ucap Dimas menepuk pundak Alderts.


Love memegang tangan Alderts untuk menguatkannya.


Kini hanya dia yang tersisa sebagai tameng pelindung bagi Dimas dan Love. Tak ada lagi bahu untuk bersandar. Tidak ada lagi orang yang selalu menghiburnya dan membangunkannya ketika dia jatuh.


Alderts yang sangat lemah mencoba untuk bangun demi putra dan putrinya yang masih kecil. Bahunya harus kuat untuk anak-anak tercintanya. Meski hatinya hancur berkeping-keping. Dia harus menjalani hidupnya dengan hati yang hancur. Dia mengingat semua masa lalunya dan berpikir bahwa ini semua adalah hukuman dari Tuhan atas semua kejahatannya.


Setelah meninggalnya Sinta, Alderts mengajak Dimas dan Love untuk berlibur di Belanda sesampainya di Belanda, Alderts pergi ke ruang kedap suara di rumahnya dan memukul-mukul dinding. Dia melihat kayu yang dia gunakan untuk mengikat Pieter dan memerintahkan anak buahnya untuk memukul Pieter hingga tewas. Dia kembali ke ruangan tempat dia membunuh Pieter. Dia berteriak dan mengacak-acak ruangan. Ada juga foto Pieter, Sarah, Kinara, Rangga, Rafly dan Dinda dan dia mengambil foto Sinta dan meletakkannya di sebelah foto mereka. Di setiap foto ia menulis surat permintaan maaf, rasa bersalah, dan cinta.


Alderts berniat untuk mengakhiri hidupnya tetapi dia sadar ketika Dimas dan Love mengetuk pintu di depan. Suara Dimas dan Love membuat dia menghentikan apa yang ingin dia lakukan dan membuka pintu dan memeluk mereka. Dimas dan Love yang melihat kamar sangat berantakan dan bertanya pada Alderts.


''Papah, mengapa ruangan ini sangat berantakan?'' tanya Dimas.


"Tidak apa-apa sayang, ayo kita keluar" ucap Alderts.


"Iya papah" ucap Dimas dan Love kompak.


1 tahun telah berlalu, kini Alderts sudah tidak bekerja lagi sebagai seorang bos mafia dan hanya fokus mengasuh putra dan putrinya. Alderts selalu mengajak Dimas dan Love berlibur agar anak-anaknya merasa senang. Dimas dan Love terlihat sangat bahagia tapi tidak dengan Alderts. Alderts mengingat Sarah dan Kinara. Dia yang selalu menegur Kinara, mengunci Kinara dan Sarah di rumah.


Selama Kinara dan Sarah bersamanya, hatinya tertutup oleh gemerlapnya dunia. Dalam pikirannya hanya uang dan uang. Sekarang dia menyadari apa yang dikatakan Kinara sebelumnya bahwa "semuanya membutuhkan uang tetapi uang bukanlah segalanya". Kinara benar, "keluarga yang lengkap dan harmonis jauh lebih penting daripada kekayaan dan tahta". Sekarang aku telah merasakannya sendiri maksud dari perkataan Kinara dulu. Keluarganya tidak utuh, semuanya pergi, hanya menyisakan raja dan ratu kecilnya.


''Jika aku menyadari segalanya sebelum perpisahan kita dan sebelum kematian mu, aku mungkin masih bersamamu dan Sarah saat ini. Mungkin sekarang kita masih hidup bahagia bersama. Maafkan aku Kinara Kim, selalu menyakiti hatimu dulu dan maafkan aku Sinta sampai sekarang masih ada nama Kinara Kim di hatiku, Kinara Kim, aku berjanji padamu, aku akan menjaga putra dan putrimu untuk menebus kesalahan kecil ku pada mu, aku sadar ini tidak sebesar rasa sakit yang telah ku berikan padamu tapi hanya ini yang bisa ku lakukan dan untuk mu Rangga, terima kasih telah menjadi pelangi setelah hujan di kehidupan Kinara dan Sarah sebelum ajal menjemput mereka. Terima kasih telah membuatnya bahagia setelah banyak luka yang kuberikan padanya'' kata Alderts menatap langit dan meneteskan air mata sambil tersenyum.


Senja pun tiba, kini Alderts, Dimas, dan Love bergegas kembali ke penginapan setelah liburan mereka. Mereka makan malam dan tidur bersama.