
Keesokan harinya, Sinta menyebarkan video yang berisi percakapan antara Callista, Altezza dan bu Kinara.
"Eh liat deh itu kan si Callista si pembunuh itu" ucap Elvina berbisik pada temannya menunjuk Callista dan Altezza yang tengah melintas.
"Guys... guys... sini deh gw bilangin" ucap Sinta memanggil seluruh teman sekolahnya.
"Ada apa?" tanya salah satu siswa.
"Jangan dekat-dekat dengan Roshni Callista sama Bright Altezza deh, mereka psikopat, ikh jangan-jangan bokapnya is dead gara-gara dibunuh sama mereka lagi, UPS! keceplosan!" ucap Sinta menutup mulutnya sendiri.
"Jaga bicara lu" ucap Altezza dengan nada tinggi menunjuk Sinta.
"Kurang ajar lu ya" ucap Callista menjambak rambut Sinta lalu membenturkannya ke tembok berkali-kali dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Kalian liat sendiri kan? ada psikopat disekolah kita" ucap Sinta smirk.
"Kurang ajar lu" ucap Callista menunjuk Sinta kesal.
"Dek udah jangan, semakin lu kesal dia semakin berulah, mending kita tinggalin aja nih orang sakit jiwa sendirian" ucap Altezza.
"Wow... ! seorang Bright Altezza yang terkenal pendiam ternyata gak jauh berbeda dengan adiknya Roshni Callista, apa jangan-jangan kalian terlahir dari keluarga psikopat?" tanya Sinta smirk.
"Percuma ngomong sama orang gila kayak lu" ucap Callista smirk dan langsung pergi meninggalkan Sinta.
"Pergi sana, tapi jangan lupa akan satu hal" ucap Sinta.
"Apa itu?" tanya Callista menghampirinya.
"Dinda coba putar rekamannya" ucap Sinta pada salah satu siswa yang sengaja merekam Callista yang tengah menyiksa Sinta tadi.
"Kurang ajar ya lu" ucap Callista kesal menunjuk Sinta setelah menyaksikan rekaman video itu.
"Jadi bagaimana Roshni Callista? lu masih berani sama gw?" tanya Sinta smirk.
"Lu pikir gw takut sama lu hah? enggak...!" ucap Callista smirk.
"Oke kita lihat saja nanti" ucap Sinta berdiri dan mendorong Callista dan Altezza.
Sinta memberikan rekaman video itu pada kepala sekolahnya.
"Callista, Altezza, kalian dipanggil sama kepala sekolah tuh" ucap salah satu siswa.
"Ada apa ya?" tanya Callista.
"Gw juga gak tahu deh, coba aja sana kalian tanyakan langsung sama pak kepala sekolah" ucap siswa itu.
"Oke makasih ya" ucap Callista tersenyum.
"Sama-sama" ucap siswa itu membalas senyuman Callista.
"Bang lu aja yang ketuk pintunya, takut banget gw" ucap Callista.
"Hm, oke" ucap Altezza.
"Assalamualaikum pak" ucap Altezza mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
"Wa'alaikumsalam, masuk saja" ucap pak kepala sekolah.
"Ayok dek" ucap Altezza menarik tangan Callista.
"Iya" ucap Callista ketakutan.
"Silakan duduk" ucap pak kepala sekolah.
"Iya pak, terima kasih" ucap Altezza.
"Maaf pak, ada apa ya? bapak memanggil saya dan Callista ke ruangan bapak" ucap Altezza ketakutan.
"Ada yang ingin saya bicarakan pada kalian" ucap pak kepala sekolah.
"Apa itu pak?" tanya Altezza ketakutan.
"Kalian lihat video ini" ucap pak kepala sekolah memperlihatkan video yang Sinta kirimkan kepadanya.
"Hm, iya pak" ucap Altezza.
"Jadi Callista, Altezza apa kalian menyadari apa kesalahan kalian berdua?" tanya pak kepala sekolah.
"Hm, iya pak" ucap Callista dan Altezza menunduk ketakutan.
"Ini ada surat untuk orangtua kalian, kalian di skors selama satu bulan karena Sinta mengalami cidera yang cukup parah" ucap pak kepala sekolah.
"Hm, baik pak" ucap Callista dan Altezza menunduk ketakutan.
"Baik pak, kamu permisi, assalamualaikum" ucap Callista dan Altezza menunduk ketakutan.
"Wa'alaikumsalam'' ucap pak kepala sekolah.
''Hahaha! kasian! ada yang di skors nih ye selama satu bulan" ledek Sinta yang berdiri di depan pintu.
Callista dan Altezza hanya menatap Sinta dengan tatapan bencinya.
"Ayok dek kita pulang" ucap Altezza.
"Iya" ucap Callista.
"Assalamualaikum mah, Altezza sama Callista pulang" ucap Altezza mengetuk pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam nak, baru jam segini kok kalian udah pulang?" tanya ibunya.
"Hm, ini mah" ucap Altezza memberikan ibunya surat yang tadi ia terima dari kepala sekolah.
"Kalian berdua di skors satu bulan karena bikin Sinta cidera?" tanya ibunya.
"Iya mah" ucap mereka menunduk ketakutan.
"Ayok masuk" ucap ibunya menarik paksa tangan anak-anaknya dan segera mengunci pintu rumahnya.
"Mau jadi apa kalian hah? mau malu-maluin mamah, iya? itu yang kalian mau?" tanya ibunya.
"Maaf mah tapi kita gak bermaksud untuk seperti itu" ucap Altezza ketakutan.
"Kenapa kamu jadi seperti Callista?" tanya ibunya pada Altezza.
Altezza menatap Callista yang terkejut mendengar perkataan ibunya.
"Eza jawab pertanyaan mamah" ucap ibunya bernada tinggi.
"Mamah emang gak pernah menyayangi Callista, mamah hanya menyanyi kak Eja" ucap Callista berlari meneteskan air matanya.
"Callista tunggu" ucap Altezza berlari mengejarnya.
"Callista kamu mau pergi kemana?" tanyq Altezza yang masih terus mengejar kepergian Callista.
Callista hanya menatap sekilas Altezza dengan air mata yang terus mengalir.
Melihat kepergian anak-anaknya, Shivanya pun ikut mengejarnya.
"Callista tunggu" panggil ibunya.
Callista yang mendengar menghentikan langkah kakinya.
"Callista maafin mamah, kita pulang ya sayang" ucap ibunya.
"Aku gak mau pulang mah, mamah pulang saja berdua dengan kak Eja" ucap Callista.
"Tapi sayang kamu mau pergi kemana? mamah gk mau kamu kenapa-kenapa Callista, kita pulang ya sayang" ucap ibunya meneteskan air mata.
"Dek, kita pulang ya" ucap Altezza memegang tangan adiknya.
Shivanya dan Altezza pun membawa Callista pulang ke rumah.
"Mah, sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah kamu" ucap Altezza.
"Lalu?" tanya ibunya.
"Sinta menghina papah dan bukan hanya papah yang dihina oleh Sinta tetapi juga mamah bahkan Callista hingga akhirnya kami kesal dan Callista melakukan hal itu hingga Sinta terluka parah" ucap Altezza.
"Menghina bagaimana?" tanya ibunya.
"Sinta merekam percakapan mamah, aku dan Callista waktu kita menyerahkan surat Shivanya Nerissa sakit karena kecelakaan dan Sinta menyebarkan video itu ke teman-teman sekolah hingga akhirnya Callista di bully, aku juga, terus Sinta bilang kalau kita terlahir dari keluarga psikopat, pembunuh" ucap Altezza.
"Astagfirullahaladzim, maafin mamah ya Callista" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Callista.
"Maafin mamah juga ya Za" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Altezza.
''Ya sudah habiskan makanan kalian lalu kalian istirahat dikamar tenangkan diri kalian dulu, tidak usah terlalu dipikirkan tentang kalian di skors dari sekolah" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap mereka kompak.
Selesai makan Callista dan Altezza pergi ke kamarnya masing-masing, mengunci pintu kamarnya. Callista dan Altezza menghela napas panjang mengingat seluruh kejadian tidak mengenakkan yang terjadi pada mereka di hari itu hanya karena satu orang bermulut ember dan kompor yang bernama Sinta Levronka.