Sarah

Sarah
Kuntilanak Pemesan Sate



''Waktunya pulang, sekarang kalian kemas buku-buku kalian dan pulang ke rumahnya masing-masing'' ucap bu Dita.


''Oke bu'' ucap seluruh siswa kompak.


"Dek" kata wanita misterius memanggil Shivanya.


''Saya?'' tanya Shivanya menunjuk dirinya sendiri.


''Ya, kemari sebentar dek'' kata wanita misterius.


''Ada apa ya kak?'' tanya Shivanya.


''Dekk, tolong belikan 100 tusuk sate disana, kaki kakak sakit, ini uangnya" kata wanita misterius itu.


"Iya kak, ditunggu ya" ucap Shivanya.


''Iya dek" ucap wanita misterius itu.


''Paman, beli 100 tusuk sate'' kata Shivanya.


''Masya Allah banyak banget dek untuk siapa?" tanya penjual sate.


''Buat kakak yang di sana pak" ucap Shiva menunjuk wanita misterius itu.


''Dimana? tidak ada siapa-siapa disana" kata penjual sate.


''Lah kok kakak tadi udah pulang, tadi suruh beli sate, terus gimana satenya? tanya Shivanya.


''Satenya pedas atau tidak?" tanya penjual sate.


''Hmm, tidak pak, sedeng aja" ucap Shivanya.


''Oke, tunggu sebentar, saya akan membuatkan satenya" ucap penjual sate.


''Ya pak, bungkus ya" ucap Shivanya.


''Oke, harap tunggu" ucap penjual es sate.


"Iya pak" ucap Shivanya duduk disalah satu bangku.


"Mungkin kakak tadi lagi ke kamar mandi kali ya? ya udah deh" ucap Shivanya.


"Ini satenya" dek ucap penjual sate memberikan beberapa kantung plastik yang berisi 100 tusuk sate.


"Iya pak, ini uangnya, terima kasih pak" ucap Shivanya memberikan uang yang tadi dikasih oleh wanita misterius.


"Iya, sama-sama, ini kembaliannya" ucap penjual sate.


"Iya pak, terima kasih pak" ucap Shivanya tersenyum.


"Iya dek sama-sama" ucap penjual sate membalas senyuman Shivanya.


Setelah kepergian Shivanya, tukang sate pun bersiap untuk pulang ke rumahnya karena seluruh satenya telah habis diborong oleh Shivanya tadi.


Sesampainya dirumah tukang sate menghitung omset penjualannya pada hari itu, ketika membuka laci tempat menyimpan uang dari Shivanya tadi, penjual sate itu dibuat terkejut karena seluruh uang yang Shivanya berikan tadi berubah menjadi beberapa lembar daun kering dan bunga-bunga yang telah layu.


"Ini kok ada daun kering sama bunga mawar dan melati yang sudah layu, ada bunga kamboja lagi, terus duit adik tadi yang pesen 100 tusuk sate kemana? kok ga ada sih? perasaan tadi aku taruh didalam laci ini deh, kenapa adanya cuma beginian doang ya? terus uangnya kemana? apa ada orang yang iseng ambil duit aku terus menukarnya dengan ini semua? tapi apa iya ada orang sejahil itu? jika mau maling mengapa harus ditukarkan dengan bunga dan dedaunan kering seperti ini? apa jangan-jangan... akh gak mungkin kakinya napak kok tadi diatas tanah gak melayang, gak mungkin kalau adik tadi itu makhluk jadi-jadian alias kuntilanak, lantas mengapa semua yang ia berikan berubah menjadi seperti ini? tadi dia bilang, dia mau membelikan pada seorang wanita, dia juga nunjuk ke satu tempat tapi pas aku liat gak ada siapa-siapa apa jangan-jangan adik tadi dikerjain lagi sama kuntilanak, kasian adik itu kalau sampai benar tadi ia dikerjai oleh kuntilanak, semoga kuntilanak itu gak menyakitinya" ucap penjual sate.


"Hm, kemana kakak tadi? kenapa belum datang-datang juga? kalau aku tinggal di sini makanannya akan diambil oleh orang lain, kasian kakak tadi, baiklah, aku akan menunggu lebih lama lagi" kata Shivanya duduk menunggu wanita misterius yang meminta tolong untuk dibelikan sate pada Shivanya.


"Dek" panggil wanita misterius yang tiba-tiba datang dengan kaki yang pincang.


"Ya terima kasih" ucap wanita itu tersenyum menahan rasa sakitnya.


"Iya kak sama-sama" ucap Shivanya tersenyum.


Ketika sedang bersama dengan wanita misterius itu, ada Callista dan Sinta salah satu pembully Shivanya di sekolahnya namun Shivanya tidak menyadari jika ia sedang diperhatikan dengan Sinta dan Dinda.


"Callista liat deh itu disana, ada musuh bebuyutan lu tuh" ucap Dinda pada Sinta.


"Samperin yu" ucap Callista mengangkat alisnya sebagai kode untuk Dinda.


''HEH SHIVANYA!! apa yang kamu lakukan di sini? belajar menjadi orang gila ya?" tanya Callista dengan lantang.


"HA HA HA!! ada yang sebentar lagi on the way rumah sakit jiwa nih sepertinya, UPS!! keceplosan" ucap Sinta menutup mulutnya.


"Tidak kok Cal, Sin, aku hanya sedang membantu kakak ini untuk duduk, kakinya sakit" kata Shivanya menunjuk keberadaan wanita misterius itu namun wanita itu sudah tidak ada lagi disampingnya.


"Apa? Cal? nama gw "CALLISTA" bukan "CAL"!! bentaknya.


"Apa bedanya Callista dengan Cal? itu sama saja bukan?" tanya Shivanya mengangkat alisnya menantang Callista.


"WAH!! berani tuh anak sama lu" ucap Sinta mengangkat alisnya menatap Shivanya.


"Berani banget lu ya sama gw!!" bentaknya menjambak rambut Shivanya ke belakang.


"AKH!! iya iya maaf Callista'' ucap Shivanya menahan rasa sakitnya.


"Sekali lagi lu berani sama gw, akan gw pastikan keesokan harinya lu hanya tinggal nama saja!!" ancam Callista mendorong Shivanya.


Shivanya hanya menatap mata Callista tidak berkata satu katapun.


"Sinta udah ayok pergi dari sini, entar yang ada kalau kelamaan disini gw bisa-bisa ketularan virus gilanya dia lagi" ucap Callista menunjuk Shivanya dengan tatapan jijiknya.


Sama dengan saya juga, oke ayo 'kata Dinda'


"Ya udah ayok pergi, gak tahan gw kalau kelamaan disini sama si miskin, udah gatal-gatal nih semua badan gw" ucap Sinta menatap Shivanya dan berpura-pura menggaruk tangannya secara bergantian.


Ketika sedang menunduk bersedih wanita misterius itu tiba-tiba muncul dan memanggilnya "dek" ucapnya.


"Kakak, kakak darimana saja?" tanya Shivanya.


"Dari belakang sana" ucap wanita misterius itu menunjuk salah satu tempat.


"Ini satenya kak" kata Shivanya sambil menyodorkan bungkusan sate yang ia beli tadi.


"Kenapa kakak itu hilang lagi, lalu bagaimana dengan sate ini? apakah aku bawa pulang aja ya? tapi kalau nunggu kakaknya dateng lagi nanti hujan, udah mendung, nanti kehujanan lagi, saya tidak membawa payung atau jas hujan, tetapi jika saya pergi, maaf kakaknya lapar, saya akan membawa makanannya pulang nanti, kata Shivanya.


''Yah gerimis lagi, aku pulang aja deh takut hujannya makin gede, aku masukin satenya ke tas dulu deh biar gak kehujanan" ucap Shivanya.


''Assalamualaikum, mah Shivanya pulang" ucap Shivanya di depan pintu rumahnya.


''Wa'alaikumsalam nak, ya ampun, kamu kehujanan nak" ucap ibunya.


''Iya bu, lupa bawa payung" ucap Shivanya.


''Ya ampun, ya udah yuk masuk, kamu mandi dulu terus makan ya, jangan lupa keramas nanti pusing kepalanya" ucap ibunya.


"Iya mah" ucap Shivanya pergi meninggalkan ibunya.