Sarah

Sarah
Mas Amir Menjenguk



"Mamah" ucap Callista berlari masuk ke dalam kamar perawatan Rissa.


"Cari siapa ya dek?" tanya mas Amir menatap gadis kecil yang tiba-tiba masuk.


"Dimana mama ku?" tanya Callista.


"Mama mu? siapa mama mu?" tanya mas Amir.


"Adek tunggu dong" ucap Altezza yang tiba-tiba masuk.


"Kalian berdua kembar ya? kayaknya muka kalian mirip deh" ucap mas Amir menatap Eza dan Lisa.


"Iya kak kita kembar, dia adik ku" jawab Eza menepuk pundak Lisa sembari tersenyum menganggukkan kepala menatap mas Amir.


"Pantas saja muka kalian mirip" ucap mas Amir.


"Iya mas" jawab Eza tersenyum menganggukkan kepala.


"Assalamualaikum" ucap Shivanya memasuki ruang perawatan Rissa.


"Wa'alaikumsalam" jawab Eza, Lisa, mas Amir, Rissa dan Aji kompak.


Eza dan Lisa berbalik badan melihat siapa yang datang.


"Mama" ucap Lisa berlari memeluk ibunya.


"Ada apa nak?" tanya ibunya.


"Mama kok gak pulang-pulang sih? mama udah lupa ya sama aku dan kak Eza?" tanya Lisa menatap ibunya dengan ekspresi sedih.


Shivanya menunduk dan memegang kedua pipi Lisa.


"Mama gak lupa kok sama kalian, tapi kasian Rissa tidak ada yang menunggunya disini"


"Lagi-lagi Rissa, emangnya keluarganya dimana?" tanya Lisa.


"Tadi mama habis ke rumah Rissa, orangtua Rissa tidak ada di rumahnya, mama juga gak tahu orangtua Rissa kemana, tetangga sekitarnya juga gak tahu dimana orangtua Rissa, tadi tetangganya cuma lihat orangtua Rissa pergi, tapi dia gak tahu orangtua Rissa pergi kemana"


"Tante yang membawa Rissa ke rumah sakit?" tanya mas Amir.


"Iya, saya yang membawa Rissa ke rumah sakit, kamu siapa ya? tanya Shivanya.


"Saya Amir tante, sepupunya Rissa dari kampung, Aji menelepon saya memberitahukan jika Rissa masuk rumah sakit, makanya saya langsung ke Jakarta" jawab mas Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Oh gitu" jawab Shivanya menganggukkan kepala.


"Iya tante" ucap mas Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Mah, ayok kita pulang kan sudah ada mas Amir yang akan menjaga Rissa disini" ajak Lisa menarik tangan ibunya.


"Iya sebentar nak" pinta ibunya.


"Ayok mah" ajak Lisa menarik tangan ibunya.


"Amir, saya pulang dulu ya sama anak saya" ucap Shivanya tersenyum.


"Iya tante, tenang aja, Amir ada disini kok tante, Amir akan menjaganya, makasih ya tante selama ini sudah menjaga Rissa ku" ucap Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Iya Amir sama-sama, ini kartu nama saya, kalau kamu butuh bantuan, hubungi saya saja ya" ucap Shivanya tersenyum memberikan kartu namanya yang berisi nomor WhatsApp miliknya kepada Amir.


"Siap tante" jawab Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Ya sudah saya pamit pulang ya, assalamualaikum" ucap Shivanya tersenyum menganggukkan kepala.


"Iya tante, wa'alaikumsalam" jawab Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Ayok Lisa, Eza kita pulang" ajak Shivanya merangkul pundak anak-anaknya.


"Iya mah" jawab Altezza.


Shivanya dan anak kembarnya kembali ke rumah.


"Iya" jawab mas Amir tersenyum dan mengelus pucuk kepala Rissa.


"Tapi kok aku sama sekali tidak ingat sama kamu sih?"


"Sudahlah, nanti kamu juga akan ingat kok sama mas"


"Hm oke"


"Apa aku tidak punya orangtua?" tanya Rissa.


"Hm!"


"Ada apa mas?"


"Kamu punya orangtua kok dek"


"Tapi kemana mereka? mengapa mereka tidak pernah terlihat di rumah sakit ini?"


"Mungkin mereka sedang sibuk kali dek" ucap mas Amir tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.


"Sesibuk itu?"


"Mungkin saja, udah ya, gak usah dipikirkan lagi, kan masih ada mas Amir sama Aji di samping kamu, yang penting sekarang kamu sehat dulu ya sayang" ucap mas Amir tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.


"Hm oke, aku tidak mengingat tentang mu, tetapi aku tidak tahu mengapa aku merasa sangat dekat dengan mu, dan karena itulah aku percaya padamu walaupun aku tidak mengingat sedikitpun tentang kamu" ucap Rissa menatap mas Amir.


"Ya karena hubungan kita terjalin bukan atas dasar pikiran tapi atas dasar hari, walaupun memori mu tentang ku menghilang, tetapi pasti hati kamu percaya dan yakin jika aku adalah saudara mu, hubungan keluarga akan selalu mengikat batin seseorang, percaya padaku, cepat atau lambat, kamu pasti akan bisa mengingat ku lagi, mengingat Aji, dan mengingat semua kejadian yang pernah terjadi di dalam kehidupan kamu" ucap mas Amir tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.


"Aku merasa jika kehidupan ku tidak seindah itu untuk kembali di ingat, aku tidak ingin bisa mengingat semuanya kembali, tetapi aku ingin mengingat siapa kalian, entah kenapa ada satu keyakinan di hati ku, jika masa lalu kita untuk sangat indah, tetapi aku tidak bisa mengingat sedikitpun" kata Rissa menundukkan kepala sedih.


"Udah ya dek, jangan terlalu dipikirkan, kamu harus sehat dulu, kalau kamu sehat nanti pasti ingatan kamu akan kembali lagi" jawab mas Amir tersenyum mengelus pucuk kepala Rissa.


"Bisakah sedikit saja aku mengingat kejadian itu? hatiku mengatakan jika aku tidak ingin mengingat semuanya" ucap Rissa menatap mas Amir dengan ekspresi wajah sedih.


"Permisi, saya ingin mengantarkan makanan" ucap perawat mengantarkan makanan Rissa.


"Oh iya mas, makasih ya" jawab mas Amir tersenyum menganggukkan kepala.


"Sama-sama mas" jawab perawat itu tersenyum menganggukkan kepala dan langsung pergi.


"Daripada kamu berisik, mending kamu makan dulu, aaa" ucap Aji membuka mulutnya dan mengarahkan makanan ke mulut Rissa.


Rissa pun makan makanan yang Aji berikan.


Mas Amir yang melihatnya pun tersenyum.


"Aji" panggil mas Amir menatap Aji.


"Iya mas, ada apa?" tanya Aji menatap mas Amir sambil menyuapi Rissa.


"Berjanjilah padaku jika kamu akan selalu menjaga adik ku Rissa, aku tahu jika ini terlalu cepat, tapi aku percaya padamu, aku mohon jangan khianati kepercayaan yang sudah aku berikan padamu" ucap mas Amir tersenyum menepuk pundak Aji.


"Iya mas, aku berjanji akan selalu menjaganya" ucap Aji tersenyum menatap mas Amir.


"Aku harap kamu selalu menepati janji mu itu, dan semoga takdir mengizinkannya untuk tidak pernah memisahkan kalian berdua" ucap mas Amir menundukkan kepala.


"Mas kenapa sedih seperti itu? aku tidak apa, jangan sedih seperti itu" ucap Rissa memegang dagu mas Amir.


Mas Amir menatap Rissa perlahan.


"Tidak, aku tidak sedih kok" ucap mas Amir tersenyum menghapus air matanya.


"Kamu berbohong! jika kamu tidak bersedih, lalu mengapa kamu menangis seperti itu?" tanya Rissa menatap mas Amir.


"Aku gak nangis kok, ini cuma kemasukan debu aja tadi" ucap mas Amir tersenyum mengucek-ngucek matanya.


"Hm ya sudahlah kalau begitu, mengapa kamu berhenti menyuapiku?" tanya Rissa menatap Aji.


Mendengar perkataan Rissa membuat Aji dan mas Amir tertawa. Aji kembali menyuapi Rissa. Rissa menatap mereka kebingungan tapi tidak berkata sedikitpun.