Sarah

Sarah
Chasing Under The Rain



''Kok dingin banget ya dek, padahal tadi biasa aja deh'' ucap Aji


''Apa yang kamu lakukan di sini?'' tanya Shivanya.


''Dengan siapa kamu berbicara?'' tanya Aji berbisik pada Shivanya.


''Sama cewek di sebelah kanan mas Aji'' ucap Shivanya.


''Apakah ada orang di sana? sepertinya tidak ada'' ucap Aji.


''Ada mas'' ucap Shivanya.


''Hantu?'' tanya aji.


''Mungkin'' ucap Aji.


''Oh tidak heran tiba-tiba menjadi sangat dingin'' ucap Aji.


''Iya mas'' ucap Shivanya.


''Kok pergi sih mbak-nya?" tanya Shivanya.


''Ya Allah namanya juga setan wajar lah kalau dia datang tak di jemput dan pulang tak diantar'' ucap Aji.


''Apa sih mas emangnya jelangkung apa" tanya Shivanya tertawa kecil.


''Apakah ada yang lucu?'' tanya Aji.


''Ada mas, lagi pula apa hubungannya jelangkung dan setan?'' tanya Shivanya.


''Ya ada lah hubungannya kan jelangkung sama-sama setan'' ucap Aji.


''Beda mas'' ucap Shivanya.


''Apa bedanya? perasaannya sama saja'' ucap Aji.


''Tapi perasaan ku berbeda'' ucap Shivanya.


''Astagfirullahaladzim seriusan kenapa'' ucap Aji.


Shivanya hanya menertawakan Aji.


''Malah ketawa lagi'' ucap Aji.


''Kenapa? kamu tidak menyukainya?'' tanya Shivanya.


''Suka kok, suka banget, cinta bahkan'' ucap Aji.


''Cinta? Sebagai?'' tanya Shivanya.


''Kakak adek aja deh dulu kalau pacarnya kan belum cukup umur'' ucap Aji.


''Oh gitu'' ucap Shivanya.


''Bagaimana menurutmu?'' tanya Aji.


''Tidak'' kata Shivanya.


''Pertanyaan ku sebelumnya belum dijawab sama kamu, jawab dulu'' ucap Aji.


''Pertanyaan yang mana?'' tanya Shivanya.


''Kamu masih muda tapi sudah lupa ingatan? seperti nenek-nenek saja kamu ini ya" ucap Aji.


Shivanya hanya tertawa tidak menjawab pertanyaan Aji.


''Zubaedah, jawab dulu pertanyaan aku yang tadi'' ucap Aji.


''Pertanyaan yang mana sih mas?" tanya Shivanya.


"Apa perbedaan antara Jelangkung dan hantu?'' tanya Aji.


"Oh yang itu bilang dong daritadi" ucap Shivanya.


"Hm, ya udah cepet jawab!!" ucap Aji.


''Jelangkung itu medianya, media untuk memanggil hantu, jadi beda kan?'' tanya Shivanya.


''Oh gitu, perasaan sama aja deh" ucap Aji.


''Intinya berbeda, tidak ada perdebatan, malas aku berdebat sama kamu'' ucap Shivanya.


''Ya sudah berbeda terserah kamu" ucap Aji.


''Akh kenapa kamu seperti itu'' kata Shivanya sedih.


''Jadi bagaimana sayang? sebelumnya kamu mengatakan tidak ada perdebatan'' ucap Aji.


''Ya, itu benar'' ucap Shivanya.


"Lantas mengapa kamu mengatakan hal seperti itu tadi?" tanya Shivanya.


''Hm, tidak apa-apa ya" ucap Shivanya.


''Ini anak kebiasaan ya kalau makan seperti anak kecil saja'' ucap Aji sambil membersihkan sisa makanan di bibir Shivanya dengan tangannya


''Aku memang masih kecil'' kata Shivanya dengan wajah polos.


''Apa? kecil?'' tanya Aji.


''Saya memang masih kecil, saya baru berusia 6 tahun'' ucap Shivanya.


"Saya juga 6 tahun tapi tidak seperti anda" ucap Aji.


''Mengapa kamu sangat menyebalkan?'' tanya Shivanya kesal.


''Ayo pulang'' ucap Shivanya.


''Jam berapa sekarang?, apa yang akan kamu lakukan dirumah sehingga terburu-buru seperti itu?, lebih baik tetap di sini bersamaku'' kata Aji.


''Apa yang akan kita lakukan jika hanya tetap diam di sini? menunggu nyamuk berlalu lalang kah? aku sangat bosan berdiam diri seperti patung disini tanpa arah dan tujuan yang pasti'' ucap Shivanya.


''Baiklah, jika kamu bosan, mari kita berkeliling dan makan angin" ucap Aji.


''Makan saja hatimu sendiri mas" ucap Shivanya.


''Tidak apa-apa, aku akan memakan hatimu disini'' ucap Aji.


''Astagfirullahaladzim apakah anda adalah seorang kanibal?" tanya Shivanya terkejut.


''Bercanda, ayok pergi ke taman'' ucap Aji.


''Ayok'' ucap Shivanya.


''Mengapa kamu terdiam seperti itu? sehat kan? gak lagi kerasukan?'' tanya Aji.


'Kelihatannya menjadi dewasa itu enak ya?'' Shivanya bertanya pada Aji dan terus melihat orang-orang di sekitarnya.


''Apakah menurut mu menjadi dewasa itu enak?'' tanya Aji.


''Iya, sepertinya menjadi dewasa itu sangat enak, kita bisa membeli apapun sesuka hati kita, mengambil barang di ketinggian'' ucap Shivanya tersenyum dengan tatapan mata sendu.


''Gak usah dipikirin, nanti kita akan tumbuh dewasa dengan sendirinya, tidak mungkin kita seperti ini terus kan? pasti ada masanya nanti kita akan tumbuh menjadi remaja, dewasa, dan lansia" ucap Aji tersenyum.


''Aji, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?'' tanya Shivanya.


''Apa yang ingin kamu tanyakan? tanyakan saja padaku" ucap Aji.


''Bisakah kita bersama selamanya? apakah kita akan terus seperti ini sampai kita dewasa kelak?'' tanya Shivanya.


'Ya, kita akan selamanya seperti ini' Aji melingkarkan lengannya di leher Shivanya dan sedikit mencubit hidungnya.


''Janji?'' tanya Shivanya.


"Ya, aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, jika suatu hari nanti jarak memisahkan kita, aku akan kembali lagi pke dalam pelukan mu dan akan tetao memilih mu walau sebanyak apapun wanita baru yang masuk di dalam kehidupan kelak" ucap Aji melingkarkan jari kelingkingnya dengan Shivanya tersenyum.


Shivanya meneteskan air mata karena terharu mendengar perkataan Aji.


"Sudah, jangan menangis lagi'' ucap Aji menyeka air mata dari pipi Shivanya.


''Ya'' ucap Shivanya.


''Mengapa hujan? padahal cerah'' kata Shivanya sambil menatap langit.


''Ya, tapi menyenangkan bermain di tengah hujan'' ucap Aji.


''Aji, ayo pulang'' ucap Shivanya.


''Tidak mau'' ucap Aji membawa sepedanya kencang.


''Awas saja, kalau ketangkep'' ucap Shivanya menunjuk Aji kesal dan mengejar Aji dengan sepedanya.


''Ya, cobalah kejar aku jika anda bisa'' ucap Aji melihat ke belakang sejenak.


''Tidak jauh dari sana, Aji berhenti di depan rumah Shivanya, namun Shivanya yang tidak menyadarinya turun dari sepeda dan memeluk Aji dari belakang.


''Yeay ketangkep" ucap Shivanya.


''Yakin?'' ucap Aji melihat ke samping dan mengangkat alisnya menahan tawa.


''Kenapa ada di depan rumahku?'' tanya Shivanya.


''Katamu tadi kamu mau pulang'' ucap Aji.


''Hm'' ucap Shivanya.


''Udah masuk sana, mandi, ganti baju, makan, biar gak sakit'' Aji tersenyum pada Shivanya dan mencubit hidung Shivanya.


''Ya'' ucap Shivanya.


''Aku pulang dulu ya, assalamualaikum'' ucap Aji tersenyum.


''Wa'alaikumsalam'' ucap Shivanya tersenyum.


Aji meninggalkan rumah Shivanya.


''Assalamualaikum ibu, Shivanya pulang'' ucap Shivanya.


''Wa'alaikumsalam, kenapa kamu tersenyum seperti itu?'' tanya ibunya.


''Tidak apa-apa mah'' ucap Shivanya.


''Habis memikirkan Aji kan? akui saja kamu, bahagia kan berada disampingnya'' ucap ibunya.


''Tidak bu'' ucap Shivanya.


''Jangan berbohong kamu sama ibu'' ucap ibunya.


''Benar ibu, Shivanya tidak berbohong pada ibu" ucap Shivanya.


''Ya sudah, kamu mandi dulu lalu makan'' ucap ibunya.


''Iya, bu'' ucap Shivanya.


Di dalam kamar, Shivanya terus tersenyum-senyum sendiri seolah sedang jatuh cinta pada seseorang.


''Sepertinya, Shivanya telah mengenal apa itu cinta namun ia masih belum menyadari jika cinta untuk Aji itu sudah masuk ke dalam lubuk hatinya yang terdalam, semoga takdir tidak pernah berniat untuk memisahkan mereka selamanya, cinta mereka sangat tulus dan suci, semoga takdir tidak mengotori kesucian cinta mereka, jika suatu saat mereka berpisah, semoga takdir menyatukan kembali mereka dijalan yang halal dan dijalan yang di ridhoi oleh-Nya" ucap Lia tersenyum dan masih terus mengikuti Shivanya.