
Sasha membuka kerudungnya karena merasa kegerahan saat memakainya.
"Pakai kerudungnya Sasha! kenapa kamu membukanya?"
"Panas pah!"
"Sasha pakai! papa bilang pakai ya pakai!" gertak ayahnya.
"Iya pah, ini pesantrennya di tengah hutan apa gimana sih pah? kok ngelewatin hutan segala? emang ada dimana sih pesantrennya pah?"
"Diamlah Sasha! nanti kamu juga akan tahu ketika kita sampai disana, sebentar lagi kita akan sampai di pesantren kamu, lihatlah! itu bangunannya sudah terlihat" ucap ayah Sasha menunjuk sebuah bangunan yang terlihat di ujung jalan.
"Turun Sasha!" pinta ayahnya ketika mereka tiba di depan pintu masuk pesantren.
"Iya pah"
"Assalamualaikum pak ustadz, ini Sasha anak saya, saya ingin memasukkan dia ke dalam pesantren ini agar dia bisa belajar tentang ilmu agama, karena dia baru saja dikeluarkan dari sekolahnya karena satu hal"
"Wa'alaikumsalam, ayok masuk, nanti saya berikan formulir pendaftarannya di dalam ya"
"Baik ustadz" ucap ayah Sasha tersenyum menatap pak ustadz.
"Ayok Sasha masuk!" ajak ayahnya.
Sasha melihat sekelilingnya dengan tatapan aneh.
"Panjang banget baju mereka ya, kok kebanyakan pada pakai gamis sih? emang gak pada kepanasan apa? lihat tuh! mataharinya menyengat sekali! ini seriusan gw harus pakai baju kayak mereka terus-menerus? mana tahan gw! gw pakai baju panjang aja kepanasan, apalagi ini harus pakai baju rapat, tertutup, gak ada celah, papa mau bunuh gw secara perlahan kali ya biar dia bisa leluasa sama jalaang itu, oh Tuhan! aku ingin pulang! baru melihat mereka saja aku sudah tidak nyaman, apalagi aku harus tinggal bersama mereka, udah tempatnya ada di pinggir hutan, pasti hp juga gak ada sinyal, terus dengan apa gw mengisi kegabutan yang melanda nanti? ini semua karena Sarah! karena dia jadi gw yang harus menanggung hukumannya! sedangkan dia enak-enakan hidup di kota! gw ditaruh di hutan, apa gak angker ini pesantren kalau malam? pasti angker deh kalau malam, soalnya kan ada di tempat terpencil begini, siapa sih yang bikin konsep pesantren ini? bisa-bisanya dia bikin pesanan melewati hutan" batin Sasha.
"Assalamualaikum" ucap pak ustadz saat memasuki ruangan kosong.
"Wa'alaikumsalam" jawab ayah Sasha.
"Ini formulir pendaftarannya bisa tolong di isi dulu, biar kami mengetahui tentang biodata anak bapak"
"Baik pak"
Ayah Sasha mengisi formulir pendaftaran, sedangkan Sasha menatap sekelilingnya.
"Hm ruangannya kecil banget, malah sumpek lagi, pengap, kok bisa dia betah ya? kenapa orang-orang disini itu pada aneh? tahan di ruangan sekecil ini" batin Sasha yang masih terus menatap sekelilingnya.
"Assalamualaikum ayah" ucap seorang anak laki-laki datang dengan mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam"
Anak laki-laki itu menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangan ayahnya.
"Ada apa Azka?"
"Hm gak jadi deh, Azka ngomongnya nanti aja, gak enak soalnya ada tamu" jawab Azka.
"Oke baiklah"
"Ini formulirnya pak, sudah saya isi semua" ucap ayah Sasha memberikan formulir pendaftaran kepada pak ustadz.
"Sasha Floella" ucap pak ustadz membaca nama yang tertera di formulir pendaftaran.
"Iya, ada apa?" tanya Sasha ketus.
"Hm Azka, tolong antarkan Sasha ke depan gerbang santri putri, biar ayah mengantarkan ayahnya Sasha keluar"
"Iya ayah" ucap Azka tersenyum menatap ayahnya.
Silakan, kamu jalan duluan saja" ucap Azka menundukkan pandangan dan mempersilahkan Sasha jalan terlebih dahulu.
"Dasar cowok aneh!" ucap Sasha ketus.
"Astagfirullahaladzim" ucap Azka mengelus dadanya.
"Ini kamar santri putri, untuk kamar kamu dimana, nanti tanya aja sama ustadzah Mirna, saya tidak bisa mengantarkan kamu hingga depan kamar kamu, saya permisi, assalamualaikum" ucap Azka tersenyum kecil dengan pandangan mata yang masih menatap ke bawah.
"Wa'alaikumsalam" jawab Sasha ketus.
Azka pergi meninggalkan Sasha di depan pintu pagar pemisah antara kamar santri putra dan santri putri.
Sasha menghentikan salah satu santri yang melintas di depannya.
"Misi, lu liat ustadzah Mirna gak?" tanya Sasha.
"Assalamualaikum" ucap santri putri itu tersenyum menganggukkan kepala.
"Wa'alaikumsalam, liat kagak?"
"Kamu santri baru disini ya?"
"Iya"
"Oh gitu, maaf ya, tapi aku gak tanya, yang aku tanyakan ke kamu itu, kamu lihat ustadzah Mirna atau enggak? bukan nama kamu atau nama dia, itu gak penting buat aku!"
"Mau saya antarkan bertemu dengan ustadzah Mirna?"
"Daritadi dong! ribet banget lu jadi orang! ya udah jalan duluan!"
"Iya" jawab Qila tersenyum.
"Nama kamu siapa?" tanya Qila tersenyum menatap Sasha.
"Nama gw Sasha Floella, panggil aja Sasha"
"Oh oke, salam kenal ya" ucap Qila tersenyum menatap Sasha.
"Hm!"
"Itu ustadzah Mirna" ucap Qila menunjuk seorang wanita yang sedang mengajarkan seorang santri membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar.
"Oke thanks"
"Sama-sama, saya tinggal ya, assalamualaikum" ucap Qila tersenyum menganggukkan kepala.
"Hm!"
Sasha pun menghampiri ustadzah Mirna.
"Misi, aku mau tanya dimana kamar aku, aku santri baru disini" ucap Sasha ketus.
"Astagfirullahaladzim" ucap ustadzah Mirna memejamkan mata dengan menarik nafas sembari mengelus dadanya.
"Assalamualaikum" ucap ustadzah tersenyum menganggukkan kepala.
"Wa'alaikumsalam, kamar aku dimana ya? capek banget nih, perjalanan jauh soalnya dari kota ke tempat ini"
"Mari ikut saya, biar saya antarkan kamu ke kamar kamu"
"Oke"
Ustadzah Mirna mengantarkan Sasha hingga ke depan kamarnya.
"Ini kamar kamu" tunjuk ustadzah Mirna.
"Oke makasih"
Sasha pun langsung berjalan pergi meninggalkan ustadzah Mirna begitu saja.
"Kalau butuh apa-apa bisa temui saya, saya permisi assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam!"
Sasha berusaha membuka pintu kamar namun tidak bisa karena dikunci dari dalam.
"Ada orang gak di dalam? bukain pintunya dong! gw capek nih pengen istirahat" ucap Sasha menggedor-gedor pintu kamar.
"Siapa sih diluar? tanya salah satu santri.
"Gak tahu, biar gw buka pintunya"
"Assalamualaikum, kamu siapa ya?" tanya salah satu santri membukakan pintu kamar.
"Wa'alaikumsalam" ucap Sasha yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.
"What? gubuk ini disebut kamar? tanya Sasha kebingungan saat melihat kamarnya yang kecil.
"Astagfirullahaladzim, jaga mulut kamu, dan kamu siapa? kenapa kamu datang-datang masuk ke dalam kamar kita?"
"Gw Sasha Floella! tadi ustadzah Mirna yang mengantarkan gw kesini, apa masih belum puas juga dengan jawaban yang gw berikan hm?"
"Tidak! sudah cukup! saya sudah cukup mengerti! kamu pasti santri baru kan disini, oh iya kasur kamu yang ada di atas itu ya" ucap santri itu tersenyum menunjuk kasur yang ada diatas.
"Maaf gw gak bisa tidur diatas begitu, gw mau di kasur bawah, ribet pakai naik-turun tangga"
"Oke baiklah, kalau begitu kamu bisa tidur di kasur ku saja, nanti biar aku tidur di kasur kamu" jawab santri itu tersenyum.
"Oke! begitu lebih baik, ya udah gw mau istirahat, cepat bawa barang-barang lu itu"
"Oke baiklah" santri itu membawa barang-barangnya dan membawanya ke kasur atas yang tadinya adalah kasur Sasha.
Sasha meletakkan barang-barang dan tiduran di kasurnya dengan melepaskan kerudungnya. Sasha masih terus menatap kamarnya yang sangat tidak nyaman baginya itu.