Sarah

Sarah
Malam Pertama H.A



Hasan yang suasana hatinya sedang senang pun kembali ke rumah Aleta setelah selama enam tahun ia tak kembali.


"Buka pintunya!" murka Hasan


"Mau apalagi kamu kesini hah? selama bertahun-tahun kamu meninggalkan putri ku, bahkan disaat hari kelahiran putra kalian pun kamu tidak ada di sampingnya, lantas untuk dasar apakah kamu datang kesini lagi?" tanya ibu Aleta membukakan pintu rumahnya.


"Ada apa mah? ini juga rumah ku bukan?" tanya Hasan menatap ibunya sinis.


"Apa? rumah mu? setelah enam tahun kamu pergi meninggalkan anak ku begitu saja kamu masih bisa menyebut jika kamu adalah suami Aleta begitu?" tanya ibunya menatap Hasan.


"Untuk apalagi kamu datang kesini Hasan? apa kamu tidak puas telah berbuat perilaku hina seperti itu pada putri kami?" tanya ayah Aleta.


"Ada apa mah pah?" tanya Aleta datang menghampiri.


Mata Aleta seketika terbelalak melihat kehadiran Hasan.


"Mau apalagi kamu kesini mas?" tanya Aleta berlinang air mata dan langsung menundukkan kepalanya.


"Apa kamu juga membenciku sayang? aku tahu jika aku salah, tapi setiap manusia pasti memiliki kesalahan bukan? aku mohon maafkan aku sayang" ucap Hasan dengan ekspresi wajah sedih dan memegang tangan Aleta.


Aleta yang benar-benar jatuh cinta pada Hasan pun meneteskan air matanya dan langsung memeluk Hasan. Ibu Aleta yang melihat sontak tidak percaya dengan keputusan Aleta yang masih mau menerima Hasan sebagai suaminya.


"Aleta ingatlah satu hal, secara agama kalian sudah bukanlah suami istri" ucap ibunya menatap Aleta dengan ekspresi tidak suka.


"Iya aku tahu mah, tapi secara hukum aku dan mas Hasan masih sah sebagai sepasang suami istri, sudahlah mah tidak usah dibahas lagi, aku sangat mencintai mas Hasan, dan aku hanya ingin hidup bersamanya mah, Aleta mohon mah, restui Aleta kembali membina rumah tangga" kata Aleta memegang tangan ibunya.


"Tapi Al.. " kata ibunya menghentikan perkataannya.


"Mah" ucap Aleta tersenyum kecil memegang tangan ibunya.


"Oke baiklah, terserah kamu saja, dan jika kamu menyakiti anak ku lagi, jangan pernah kamu menginjak kaki mu lagi di dalam rumah ini!" perintah ibunya.


"Terima kasih mah pah" ucap Hasan tersenyum kecil dan berlutut di hadapan orangtuanya.


Aleta membantu Hasan berdiri dan Hasan pun tersenyum memeluk Aleta.


"Aku benar-benar tidak habis pikir mas sama pola pikirnya Aleta" tanya ibu Aleta menatap suaminya.


"Sudahlah biarkan saja mah, kita sebagai orangtuanya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga mereka, ya walaupun secara agama mereka telah lama berpisah, tapi secara hukum mereka masih sah suami istri"


"Tapi pah, apa itu berarti anak kita Aleta telah melakukan hubungan terlarang karena bersama dengan pria yang bukan muhrimnya lagi?"


"Di dalam agama memang iya mah, tapi Aleta lebih mengikuti pengadilan agama, secara pengadilan mereka masih suami istri, walaupun secara agama mereka sudah lama terpisah karena Hasan tidak pernah menyentuhnya lagi dan bahkan memberinya nafkah sedikitpun, sudahlah mah, jangan terlalu dipikirkan, nanti mamah malah sakit lagi, kita doakan saja yang terbaik untuk rumah tangga mereka"


"Iya pah" ucap istrinya tersenyum menatap dengan berlinang air mata.


Suaminya mengajak istrinya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


"Mas, sebentar lagi Dylan anak kita akan pulang sekolah, sebaiknya kita jemput dia di sekolahnya, dia pasti senang deh bisa bertemu dengan mu" ucap Aleta tersenyum menepuk pundak Hasan.


"Iya sayang, kamu beri nama siapa putra kita sayang?" tanya Hasan tersenyum mengelus pucuk kepala Aleta.


"Altezza Dylan Farzan mas" ucap Aleta tersenyum menatap Hasan.


"Nama yang sangat indah" ucap Hasan tersenyum menatap Aleta.


"Iya mas" kata Aleta tersenyum kecil menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah ayok kita ke sekolah Dylan" ucap Hasan tersenyum merangkul istrinya.


"Iya mas" kata Aleta tersenyum kecil menganggukkan kepalanya.


Hasan dan Aleta pergi untuk menjemput Dylan di sekolahnya. Di perjalanan Hasan membuka pembicaraan dengan Aleta.


"Aku bilang kalau kamu lagi kerja diluar kota mas" ucap Aleta tersenyum kecil.


"Oh ya sudah" kata Hasan.


Sesampainya disekolah Dylan, Aleta dan Hasan menghampirinya, namun Dylan tidak mengenal Hasan.


"Sayang" kata Aleta memeluk Dylan.


"Mamah, pria itu siapa?" tanya Dylan menunjuk Hasan.


"Pria ini ayah mu nak" ucap Aleta tersenyum mengelus pucuk kepala Dylan.


"Jadi ini ayah aku mah?" tanya Dylan berjalan menghampiri Hasan.


"Iya nak, dia ayah mu" kata Aleta.


"Papah" kata Dylan memeluk Hasan.


Hasan pun menggendong putranya.


"Papah kemana saja selama ini?" tanya Dylan.


"Papah ada kerjaan di luar kota sayang" kata Hasan tersenyum mengelus pucuk kepala anaknya.


"Aku kira papah udah lupa sama aku dan mamah" kata Dylan.


"Masa papah lupa sih sama jagoan kecil papah, ya enggak dong sayang, ya udah ayok kita pulang sekarang" kata Hasan menggendong Dylan ke mobil.


Dylan tersenyum dan terlihat sangat bahagia melihat kehadiran Hasan disampingnya meski Hasan bukanlah ayah kandungnya. Aleta yang melihat putranya bahagia sontak tersenyum.


Sesampainya di rumah Hasan, Aleta, Dylan dan orangtuanya makan bersama.


Setelah makan Dylan pergi ke kamarnya begitupun dengan Hasan dan Aleta.


"Maafkan aku Al, aku meninggalkan mu tepat di malam pertama kita" kata Hasan menatap Aleta dengan ekspresi wajah sedih.


Aleta yang mendengar hanya menatap Hasan dan langsung menundukkan kepalanya, namun Hasan memegang dagunya dan perlahan mendekatinya. Hasan dan Aleta melakukan malam pertamanya setelah tertunda selama enam tahun. Mereka melakukannya hingga malam hari tiba.


Selesai bercinta ekspresi wajah Aleta berubah seperti seseorang yang sedang kebingungan dan ketakutan.


"Kamu kenapa? kamu tidak suka dengan cara permainan ku?" tanya Hasan menepuk pundak Aleta.


Aleta hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.


"Ada apa sayang? ceritakan semuanya padaku" ucap Hasan tersenyum kecil mengelus pucuk kepala Aleta yang masih terdiam.


"Mas kita sudah lama berpisah, jika kita melakukan hal ini bukankah itu berarti sama saja dengan berzina?" tanya Aleta menatap Hasan.


Mendengar perkataan Aleta membuat Hasan sontak terkejut dan teringat jika dia sudah enam tahun pergi meninggalkan Aleta.


"Apakah kamu tidak menganggap ku sebagai suami mu lagi?" tanya Hasan.


"Aku masih menganggap mu sebagai suami ku mas, tapi sudah sangat lama kamu tidak menafkahi lahir dan batin ku, secara agama kita sudah resmi berpisah" kata Aleta menatap Hasan.


"Tapi secara hukum kita masih sah sebagai sepasang suami istri Al" kata Hasan.


"Iya sih mas, tapi..." kata Aleta menghentikan perkataannya.


"Sudahlah sayang lupakan akan hal itu yang terpenting sekarang adalah bagaimana kehidupan keluarga kita ke depannya" kata Hasan.


"Hm iya mas" ucap Aleta tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.