
Ayah Aji bernama Aldi. Aldi dikenal sebagai sosok suami dan ayah idaman di mata para tetangganya. Namun Aldi mulai mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Ia menjadi suami dan ayah yang kasar dan sombong. Aldi jarang pulang. Setiap kali dia pulang, dia hanya mengambil pakaiannya ke dalam tas dan kemudian pergi lagi. Aku sudah menanyakannya berkali-kali, tapi dia tetap diam.
Terjadi pertengkaran di keluarga Aji.
''Kamu mau pergi kemana? baru sampai rumah udah mau pergi lagi ya udah lah, gak ingat Aji dan Wulan, mereka udah nungguin dari kemarin pah eh kamu pulang cuma buat ngambil baju'' ucap ibu Aji.
''Plakkk!! tamparan keras didapatkan ibu Aji.
""BERISIK!! BISA DIAM ATAU TIDAK?" bentak ayah Aji.
"Kenapa papah tega menampar mama?" tanya Aji.
"Aji, masuk ini bukan urusanmu, ini urusan papah dan mamah" kata ayahnya.
"Jelas ini urusan Aji, papah telah menyakiti mamah, mengapa papah tega menampar mamah?" tanya Aji pada ayahnya.
Plakkk!! sebuah tamparan keras diberikan kepada Aji.
''Papah, kenapa papah begitu kasar pada Aji?" tanya istrinya.
''Biarkan saja dia masih anak-anak, tapi sudah ikut campur dengan masalah orang tuanya, siapa yang menyuruhnya untuk terlibat?'' bentak ayahnya.
''Aji, masuk dulu ke dalam kamar kamu ya nak, nanti mamah obati pipi mu'' ucap ibunya.
"Iya" kata Aji sambil terisak tangis.
''Papah, mamah tidak mengerti mengapa papah berubah seperti ini, apakah ada wanita lain di luar sana? sampai papah berubah seperti ini" ucap istrinya.
''Tidak usah ikut campur masalah saya, sekarang anda menyingkir, saya ingin pergi'' ucap suaminya mendorong istrinya dan langsung meninggalkannya.
''Tapi papah'' ucap istrinya.
Fitri pun terbangun dan beranjak untuk mencari Aji.
''Aji, dimana adik mu Wulan?'' tanya ibunya.
''Di kamarnya'' ucap Aji.
''Sebentar, mamah ambilkan dulu obatnya'' ucap ibunya pergi mengambil sesuatu untuk mengobati pipi Aji.
"Iya mah" ucap Aji.
''Akh sakit mah'' rintih Aji kesakitan saat ibunya mengobati luka di pipinya.
''Tahan sayang'' ucap ibunya.
''Mah, mengapa papah tega kayak gitu sama kita? apa papah tidak mencintai kita lagi ya?'' tanya Aji.
''Tidak apa-apa sayang papa masih sayang kita, mungkin papah masih pusing dengan pekerjaan makanya papah seperti itu'' ucap ibunya tersenyum mengelus rambut Aji.
''Tapi mah'' ucap Aji.
''Sayang udah gak usah dipikirin lagi ya, sekarang lebih baik kamu istirahat aja, mamah mau belanja di pasar dulu, kunci pintunya sayang, mama bawa kunci cadangannya kok" ucap ibunya.
''Iya mah'' ucap Aji.
“Wulan, buka pintunya” kata Aji di depan pintu kamar adiknya, Wulan.
''Masuk aja mas, pintunya tidak dikunci'' ucap Wulan sesenggukan.
''Kenapa kamu menangis?'' tanya Aji.
"Mas, kenapa papah bersikap kasar seperti itu? apakah papah tidak mencintai kita lagi?" tanya Wulan yang langsung memeluk Aji.
''Kata mamah tadi itu, papah cuma pusing sama kerjaannya aja kok, jangan nangis lagi ya sayang'' ucap Aji menghapus air mata Wulan.
''Tapi papah masih mencintai kita kan mas?'' tanya Wulan.
''Ya, sayang, cupp... cupp.. cup, jangan menangis lagi ya dek'' ucap Aji menepuk-nepuk pundak Wulan.
''Iya mas, pipi mas masih sakit gak?'' tanya Wulan menunjuk pipi Aji yang terluka.
''Tidak kok, mamah sudah mengobatinya tadi'' ucap Aji tersenyum.
''Mas, mamah dimana?'' tanya Wulan.
''Mamah sedang belanja ke pasar, kamu istirahat saja, jangan dipikirkan lagi ya dek'' ucap Aji tersenyum merebahkan tubuh adiknya.
''Iya mas'' ucap Wulan.
Aji meninggalkan kamar Wulan.
''Aji, Wulan, ayo makan dulu nak, ini mamah beli mie ayam bakso favorit kalian" ucap ibunya.
"Iya mah" jawab Aji.
''Dimana adik mu Wulan?" tanya ibunya.
''Mungkin sedang tidur di kamarnya, Aji akan melihat ke kamarnya sebentar'' ucap Aji pergi ke kamar adiknya.
''Ya sayang'' ucap ibunya mengangguk tersenyum.
''Oh, Wulan lagi tidur ternyata" ucap Aji mengintip di depan pintu kamar Wulan.
"Mah, Wulan lagi tidur" ucap Aji.
''Bangunin aja nak, suruh makan dulu, dia belum makan nanti sakit lagi'' ucap ibunya.
''Iya mah" ucap Aji.
"Wulan, bangun, makan dulu, mama beli mie ayam bakso tuh, nanti melar mienya kurang enak kalau melar, dek bangun'' ucap Aji menepuk-nepuk pundak Wulan.
''Makan dulu, mienya gak enak nanti" ucap Aji menepuk-nepuk pundak Wulan.
''Iya iya, Wulan mau ke kamar mandi dulu buat cuci muka, kamu sama mamah, makan aja duluan'' ucap Wulan.
''Oke, jangan lama-lama'' ucap Aji.
''Ya bawel" ucap Wulan pergi meninggalkannya.
''Dimana adikmu sayang?'' tanya ibunya.
''Wulan mau cuci muka dulu katanya, itu orangnya, sini, duduk'' ucap Aji pada ibunya saat melihat kedatangan Wulan.
''Ini dimakan dulu nak, mamah ke kamar dulu ya sayang" ucap ibunya beranjak pergi ke dalam kamarnya.
''Iya mah'' ucap Nawang dan Aji kompak
Saat ingin menaruh piring kotor ke dalam dapur, Aji merasakan kepalanya sangat sakit dan berniat untuk mencari obat pusing.
''Kenapa pakai pusing segala sih? dimana lagi obat sakit kepala? aku tahu apa obat pusingnya, nelpon Shivanya aja, kenapa dimatikan masih ngambek pasti nih anak, telpon lagi akh, Shivanya angkat dong, kenapa dimatikan lagi, coba lagi akh kalau sekali lagi gak diangkat aku gedor-gedor pintu rumahnya, nah akhirnya diangkat juga" ucap Aji saat panggilan teleponnya tersambung.
''Assalamualaikum Denya'' ucap Aji.
''Wa'alaikumsalam'' ucap Shivanya jutek.
''Jawaban yang sangat kasar, seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya" ucap Aji.
''Kenapa kamu sangat menjengkelkan?, mengapa kamu menelepon? apa ada sesuatu yang sangat penting? sampai kamu menelepon saya" ucap Shivanya
''Tidak apa-apa, aku hanya ingin bicara, apa itu tidak boleh?'' tanya Aji.
''Tidak, kamu sangat menyebalkan, aku tidak mau berbicara dengan mu" ucap Shivanya.
''Hm oke, aku minta maaf padamu, maafkan aku, Shivanya Nerissa yang cantik" ucap Aji tersenyum.
Hm.
''Ini salah lagi?, jadi apa yang harus saya lakukan?'' tanya Aji.
''Salto dari atas Menara Eiffel'' ucap Aji.
''Ini orang bener-bener ya, yang ada mati gw kalau melakukan hal bodoh itu'' ucap Aji.
Hahaha!!
''Apakah kamu sangat senang ketika saya mati nanti?" tanya Aji tersenyum dengan berlinang air mata.
''Aji istighfar'' ucap Shivanya.
''Mengapa?'' tanya Aji.
''Mengapa anda mengatakan seperti itu? ingat lho, UCAPAN ADALAH DOA" ucap Shivanya.
''Bagaimana jika aku mati? kamu kesepian kan tanpa aku? Hahaha!!" ucap Aji menertawakan Shivanya.
''Biasa saja, malah bagus, tidak ada orang yang menjengkelkan lagi seperti kamu" ucap Shivanya.
''Astagfirullahaladzim gitu ya? yakin nih?" tanya Aji.
''Tidak, jangan pergi, kamu telah berjanji padaku untuk tidak akan pernah meninggalkan ku, mengapa saat ini kamu ingin pergi meninggalkan ku?" tanya Shivanya.
''Aku sudah tahu kamu tidak bisa hidup tanpaku'' ucap Aji.
''Apa sih Aji, aku tidak bisa hidup tanpa oksigen, bukan tanpa kamu, memangnya siapa kamu? kita belum halal jadi mengapa saya tidak bisa hidup tanpamu?'' ucap Shivanya mengelak.
''Mau halal?'' tanya Aji.
''Apaan sih Aji, kita masih kecil, udah bahas itu aja'' ucap Shivanya.
''Hehehe saya tanya, kalau mau nanti saya halalkan kalau sudah besar tapi haha'' ucap Aji tertawa.
Shivanya yang mendengar sontak gembira namun ia tidak ingin Aji menyadarinya.
'Apaan sih Aji?, udah akh, jangan bicarakan lagi" ucap Shivanya.
''Apakah itu berarti anda menginginkannya?'' tanya Aji.
''Apa yang kamu katakan? aku tidak mendengarnya" ucap Shivanya mengelak.
''Itu'' ucap Aji.
''Apa?, aku mau mandi, selamat tinggal'' ucap Shivanya.
'Ciee pasti lagi gerogi nih, pasti pipinya merah, ngaku aja" ucap Aji meledeknya.
''Tidak, pipi ku biasa saja, tida memerah" ucap Shivanya panik.
''Betulkah?'' tanya Aji.
''Ya, sudah aku mau mandi, sampai jumpa'' ucap Shivanya.
"Assalamualaikum" ucap Shivanya.
"Wa'alaikumsalam" kata Aji.
''Hm mengapa dia hebat sekali? dia bisa mengembalikan moodku yang berkabut menjadi cerah kembali, saya tidak tahu mengapa, tetapi setiap kali dia marah, saya malah sangat senang melihat perilakunya yang seperti itu, apa ini yang disebut cinta? apakah aku mencintainya? cinta bisa membuat hal-hal kecil menjadi besar, cinta bisa membuat seseorang merasa bahagia dan aku mengakuinya jika aku bahagia berada disampingnya, haruskah aku mengungkapkan perasaanku padanya? setiap kali saya membahas masalah cinta, dia selalu menjadi topik utama, mungkin saat ini dia masih meragukan ku, mungkin untuk saat ini dia masih tidak bisa mencintaiku, tapi aku akan terus berusaha, agar dia bisa mencintaiku, jika tidak sekarang, saya yakin suatu hari nanti kita akan bersama selamanya, tinggal di satu atap yang sama, aku berjanji, kita tidak akan pernah berpisah, bahkan ketika kita sudah dewasa, aku berjanji akan tetap memilihmu, tidak peduli seberapa cantik wanita baru yang datang dalam hidupku, aku rela menerima segala kekuranganmu agar kita bisa bersama selamanya, saya berjanji kepada anda Shivanya Nerissa" Kata Aji menatap langit-langit rumahnya sambil meneteskan air mata dan tersenyum.
Di tempat lain, Shivanya juga sedang memikirkan Aji.
''Mungkinkah aku mencintainya? dia sangat menyebalkan tapi kenapa sehari saja tanpa dia aku selalu merindukannya? apa ini yang dinamakan cinta? bolehkah aku mencintainya? tingkahnya yang sangat menyebalkan justru membuatku merasa nyaman, aku ingin kita selalu bersama, tapi apakah itu mungkin? kamu pernah berjanji padaku, tidak akan pernah meninggalkanku, apakah kamu akan menepati janjimu sampai kita dewasa kelak? kamu sangat tampan, ketika kita dewasa nanti, pasti kamu akan menjadi pria tampan yang di dambakan oleh banyak wanita, pasti banyak wanita yang akan mendekati kamu ketika kita dewasa, apakah mungkin, kamu akan tetap memilih saya? meski nantinya aku tidak secantik wanita yang mendekatimu, apakah kamu sebaik Nabi Muhammad S.A.W. yang bisa menerima segala kekurangan Siti Aisyah? bisakah saya mempercayai kata-kata kamu itu? aku mencintaimu meskipun mungkin kamu tidak mencintaiku, aku akan selalu mencintaimu sampai kita dewasa meskipun nantinya cintaku bertepuk sebelah tangan, andai saja kau tahu, jika aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu, ucapan adalah doa bukan? saat ini aku hanya bisa berkata sesuatu yang baik agar kelak nantinya bisa menuntun kita ke jalan yang baik pula, mengapa saya memikirkan anda terus? lebih baik saya tidur" ucap Shivanya yang langsung memejamkan matanya.