
"Assalamualaikum mah" ucap ayah Shivanya mengetuk pintu rumahnya.
''Wa'alaikumsalam pah, masuk pah" ucap istrinya mencium punggung tangan suaminya dan mempersilakannya masuk.
"Ini pah minumannya, di minum dulu" ucap istrinya sambil memberinya segelas air.
''Iya mah terima kasih" ucap suaminya terseyum.
''Mamah, maaf papah belum dapat bambu kuningnya, tapi papah sudah dapat daun kelornya'' ucap suaminya memberikan kantung plastik berisi 5 batang daun kelor beserta akarnya.
''Iya gapapa pah, besok kita cari lagi ya, sekarang lebih baik papah istirahat saja, biar mamah yang tanam daun kelor ini" ucap istrinya terseyum.
''Iya mah" ucap suaminya tersenyum dan beranjak pergi ke dalam kamarnya.
''Tanam dimana lagi ya daun kelor ini? di depan kamar Shivanya sudah, ada 5, 2 udah di tanam di depan kamar, 2 di depan kamar mandi, 1 di samping rumah Amir, udah kali ya? ya udah deh" ucap ibu Shivanya pada dirinya sendiri.
''Mah, udah atau belum menanam pohonnya?" tanya suaminya dari dalam kamar.
''Sudah pah, mamah mau mandi dulu" ucap istrinya.
"Iya mah" ucap istrinya.
''Akh mas mau kemana?'' tanya Shivanya yang terbangun dari tidurnya saat Amir ingin meninggalkannya.
''Ingin pulang kerumah" ucap mas Amir.
''Siapa yang menyuruh mas Amir pulang? mas Amir tidak boleh pulang, tidur saja di sini bersama Shivanya, Shivanya takut tahu, mengapa kamu sangat jahat meninggalkan ku sendiri?" tanya Shivanya kesal.
'Iya dek, mas gak pulang kok, sekarang kamu tidur lagi ya sayang" ucap mas Amir sambil mengelus puncak kepala Shivanya.
''Tidak mau" ucap Shivanya.
''Kenapa?" tanya mas Amir.
''Aku kebelet akh, awas minggir" ucap Shivanya berlari melangkahi mas Amir.
''Siapa di kamar mandi?'' tanya Shivanya mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup.
''Mamah sayang'' ucap ibunya dari kamar mandi.
''Permisi mah, Shivanya sudah tidak tahan, udah di ujung tanduk nih" ucap Shivanya yang langsung masuk mengunci pintu kamar mandinya.
''Mamah tinggal ya sayang" ucap ibunya.
''what? aku nabung di dalam kamar mandi samping sumur, panggil mas Amir kali ya? takut banget aku" ucap Shivanya pada dirinya sendiri.
"Mas, mas Amir sini sebentar" teriak Shivanya.
''Mengapa?" tanya mas Amir datang menghampirinya dan menunggu di depan pintu kamar mandi.
''Saya kebelet mas, tunggu di depan pintu kamar mandi, saya takut" ucap Shivanya.
"Takut apa? tidak ada apapun disini" ucap mas Amir.
''Jangan tinggalkan aku, nanti aku ditinggalin lagi" ucap Shivanya.
''Tidak, sudah cepat masuk sana, kamu bilang kamu kebelet buang air kecil" ucap mas Amir.
"Iya" ucap Shivanya.
''Sudah?" tanya mas Amir.
''Ayok mas masuk, aku takut di sini" ucap Shivanya memegang tangan mas Amir menatap sekelilingnya.
''SHIVANYA... SHIVANYA'' terdengar suara wanita misterius memanggilnya.
''Apakah mas mendengar suara itu?" tanya Shivanya.
''Apa yang kamu dengar?" tanya mas Amir.
''Seperti suara seorang gadis memanggil saya mas" ucap Shivanya menatap sekelilingnya.
''SHIVANYA" terdengar kembali suara wanita misterius.
''Bener mas ada suara wanita yang panggil aku, kedengarannya dari dalam sumur itu mas" ucap Shivanya menunjuk ke sumur samping kamar mandinya.
''Shiv, tidak mungkin seorang wanita berada di dalam sumur itu, bahkan jika ada, dia pasti sudah meninggal di dalam sumur itu dek" ucap mas Amir.
''Iya kalau masih hidup gimana mas? kasian tahu, liat aja dulu yuk" ucap Shivanya menarik tangan mas Amir.
''Sudah akh itu sangat tidak masuk akal, lebih baik sekarang kita masuk dan tidur lagi" ucap mas Amir menarik tangan Shivanya namun Shivanya melepaskannya.
"Shivanya, jangan aneh-aneh kamu dek, ini udah malam dan tidak mungkin ada seorang wanita yang bertahan di dalam sumur itu dek, sumur itu sangat dalam dek, kemungkinan ia sudah mati tenggelam didalam sana" ucap mas Amir.
"Aku yakin dia masih hidup mas, udah ayok akh" ucap Shivanya menarik tangan mas Amir.
''Dimana?, tidak ada seorang wanita di dalam sana" ucap mas Amir menatap ke dalam sumur.
''Mengapa begitu gelap?" tanya Shivanya yang kesulitan melihat ke dalam sumur itu.
"Ya gelap lah dek, sumur itu sangat dalam dan ini juga sudah tengah malam" ucap mas Amir.
''Mas tolong ambilkan senter, Shivanya tunggu di sini" ucap Shivanya.
''Tidak" ucap mas Amir menolaknya.
''Kenapa sih mas?" tanya Shivanya.
''Jika mas meninggalkan kamu sendirian di atas sumur seperti ini, bagaimana jika kamu terjatuh ke dalam sumur?" tanya mas Amir.
''Tidak jatuh mas, Shivanya tunggu disini, jaraknya sangat jauh dari sumur itu bukan? ayok dong mas tolong" ucap Shivanya memohon.
''Sama saja, begini saja, kamu ikut mas saja cari senter itu" ucap mas Amir.
''Hm, tapi bagaimana dengan wanita itu?" tanya Shivanya.
''Tinggalkan saja sebentar" ucap mas Amir.
"Hm oke, sabar ya mbak, mas Amir dan aku ingin mencari senter dan tali dulu untuk membantumu keluar dari dalam sumur'' ucap Shivanya dari atas sumur.
''Ayok" ucap mas Amir.
''Iya mas" ucap Shivanya yang berjalan dengan mata yang terus melihat ke arah sumur.
Beberapa menit kemudian mereka kembali ke sumur dengan senter yang telah dinyalakannya.
''Di mana dia?, tidak ada orang di bawah sana" ucap mas Amir menatap ke bawah sumur dengan senter yang menyinarinya.
''Kamu terlalu lama mencari senter itu'' ucap Shivanya.
''Orang senternya ngumpet, salahin senternya lah siapa suruh main petak umpet saat sedang dibutuhkan" ucap mas Amir.
''Akh, itu hanya alasan kau saja mas, mana ada senter main petak umpet? sejak kapan senter bisa menyembunyikan dirinya sendiri?" tanya Shivanya memukul lengannya.
''HA HA HA" mas Amir hanya tertawa tanpa mengucapkan satu kata pun.
''Tidak ada orang di sana kan? ayok masuk tidur lagi, sudah larut, kamu mau jadi kelelawar? yang tidak tidur malam'' ucap mas Amir.
''Kenapa jadi aku di samakan dengan kelelawar? sungguh menyebalkan sekali dirimu" ucap Shivanya membelakangi tubuh mas Amir kesal.
''Kamu saja menyamakan ku dengan katak tapi aku tidak marah, mengapa kamu saya samakan dengan kelelawar kamu marah?" tanya mas Amir mengangkat alisnya.
''Ya karena aku CANTIK tidak seperti kelelawar yang menakutkan itu" ucap Shivanya kesal.
''Aku tampan tapi kamu samakan dengan katak" ucap mas Amir.
'Ya, karena kamu suka bermain di kebun, sawah yang penuh dengan katak, ngambil anak kmu pelihara hingga ia mempunyai anak lagi, jadi tidak salah jika saya menyamakan mas Amir dengan katak, lagipula saya juga menambahkan ''PANGERAN'' kan? jadi tidak terlalu jelek dan menakutkan jadi ''PANGERAN KODOK'' sangat cocok dan pantas untuk mas Amir'' ucap Shivanya.
''Hm, kamu juga pergi ke sawah dan kebun kan? itu artinya kamu juga seperti kodok" ucap mas Amir.
Shivanya hanya terdiam bingung harus membalas dengan kata apa.
''Diam saja haha'' ucap mas Amir menertawakan Shivanya.
''Ya, tapi aku hanya suka melihat sawah, tidak bermain lumpur seperti yang sering kamu lakukan, dan selain itu, aku juga tidak suka kebun yang sudah ditumbuhi rumput liar dan banyak lumpur, sedangkan kamu menyukainya dan anda juga suka menangkap kodok, jadi wajahmu terlihat seperti kodok, dan baumu juga sama seperti kodok'' ucap Shivanya.
'Hm masa sih? akh tidak aku masih tampan seperti pangeran begini juga disebut kodok, dan baunya juga harum semerbak'' ucap mas Amir di depan cermin yang terpasang di pintu masuk depan kamar mandi.
"Iya semerbak, semerbak katak" ucap Shivanya berlari meninggalkan mas Amir.
“Awas aja kamu ya kalau kena, saya ceburkan ke dalam sumur” ucap mas Amir mengejar Shivanya.
''Coba tangkap saja kalau bisa wlee" ucap Shivanya berlari meledeknya.
''Akh'' ucap Shivanya ketika dia tidak sengaja menabrak ibunya.
''Mah, maaf Shivanya tidak bermaksud begitu" ucap Shivanya.
"Nah ketangkep kan, sekarang kita tidur, terima kasih tante" ucap mas Amir memeluknya dari belakang lalu menggendongnya masuk ke kamar.