
Anak-anak buah Alderts menghias taman belakang rumah Alderts untuk acara buka puasa bersama. Ketika ingin memasang lampu warna-warni, Sarah tidak bisa memasangnya karena tempatnya yang terlalu tinggi. Sarah terkejut karena ada tangan laki-laki yang mengambil lampu itu dari tangannya, ternyata yang datang itu adalah Pieter. Sarah memandangi wajah Pieter yang sedang memasangkan lampu yang tadi ingin ia pasang namun tidak sampai.
"Thanks" ucap Sarah tersenyum menatap Pieter tersipu malu.
"Iya, sama-sama" ucap Pieter mengusap pucuk kepala Sarah.
Sarah sontak diam mematung karena perlakuan Pieter kepadanya itu.
"Sorry" ucap Pieter malu-malu.
"Iii-ya" jawab Sarah terbata-bata.
"Pieter, Sarah" panggil Alderts dari arah belakang memecahkan keheningan diantara mereka.
Pieter dan Sarah kompak menjawab panggilan Alderts. "iya" ucap mereka kompak saling bertatapan karena mengucapkan kata yang sama secara berbarengan.
"Tempatnya udah jadi sekarang kita tinggal masak-masak aja, ayok kita kesana" ucap Alderts.
Pieter dan Sarah tidak menjawab perkataan Alderts dan hanya mengikuti langkah kaki Alderts serta saling curi pandang satu sama lain.
Sarah dan Pieter membantu Alderts dan yang lain membakar ayam serta jagung untuk buka puasa nanti.
Ketika Sarah ingin mengambil bumbu bakar, Pieter pun melakukan hal yang sama, hingga tangan mereka saling bersentuhan satu sama lain. Sarah yang terkejut pun sontak menatap wajah Pieter, Pieter yang menyadarinya langsung melepaskan tangannya dari atas tangan Sarah.
"Sorry" ucap Pieter tersenyum kecil dan menunduk malu.
Sarah hanya mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan dengan Pieter. Sarah menggigit bibir bawahnya menahan suaranya agar tidak keluar, karena hatinya yang semakin tidak karuan dan tangannya mulai bergetar, Sarah pun pergi dari sana meninggalkan Pieter. Pieter memandang Sarah hingga ia jauh meninggalkannya.
Sarah yang sudah tidak berada di samping Pieter pun masih sesekali melihat ke belakang, menatap ke arah Pieter yang terus memandanginya. Pieter yang menyadari jika Sarah menatapnya langsung menunduk dan tersenyum malu serta mengacak-acak rambutnya.
2 jam berlalu kini makanan yang ia buat bersama sudah siap di atas meja makan. Menunggu adzan Maghrib mereka pun menyanyikan lagu dengan gitar secara bergantian. Ketika tiba giliran Pieter, ia menyanyikan lagu romantis sambil terus menatap wajah Sarah. Sarah yang terus di tatap oleh Pieter menjadi panas dingin, jantungnya berdetak tidak karuan apalagi hatinya. Sarah semakin terbang terbawa suasana hingga lagu yang dinyanyikan oleh Pieter berakhir. Pieter memberikan gitar itu ke rekan yang berada di sampingnya. Alderts yang melihat jika putrinya Sarah dan Pieter asisten pribadinya saling jatuh cinta dan memendam perasaan satu sama lain pun hanya bisa menatap dengan tatapan tajam dan tidak suka melihat mereka bersama.
Adzan Maghrib pun berkumandang, mereka bergegas ke meja makan untuk mengambil makanan. Pieter membawa 2 piring yang berisi makanan menuju ke ibunya. Sarah yang menatapnya dari kejauhan dibuat baper karena Pieter begitu sayang pada ibunya.
"Ternyata Pieter bukan hanya baik sama aku ya, tapi sama ibunya juga, benar-benar idaman sekali pria itu,udah tampan, baik hati pula" ucap Sarah pelan dan tersenyum.
"Pieter" ucap Sarah yang tiba-tiba datang.
"Iya Sarah kenapa?" tanya Pieter.
"Aku boleh duduk disini gak?" tanya Sarah.
"Boleh kok, tapi apa lu mau duduk di tikar kayak gini?, kan kotor" ucap Pieter menatap tikar yang ia duduki.
"Gak apa-apa kok" ucap Sarah.
"Oke" ucap Pieter.
"Kenapa?, kok gak dimakan makanannya?" tanya Pieter pada Sarah yang tengah asik memainkan sendok.
"Gak apa-apa kok" ucap Sarah.
Setelah makanan ibunya habis Pieter pun makan, begitu pun dengan Sarah.
"Jangan bilang kamu nungguin aku makan ya?" tanya Pieter melihat nasi dan lauk di piring Sarah yang masih utuh.
"Dih pede banget, emang kamu siapa?" tanya Sarah memalingkan wajahnya.
"Hm, ya udah makan" ucap Pieter.
"Y" ucap Sarah jutek.
"Bodo" ucap Sarah.
"Kenapa sih?" tanya Pieter.
"Gak apa-apa" ucap Sarah.
Sarah kembali melanjutkan makannya.
Pieter yang tengah makan melihat ada nasi yang menempel di bibir Sarah lalu menegur Sarah.
"Sarah" panggil Pieter.
"Kenapa?" tanya Sarah.
"Itu" ucap Pieter menunjuk.
"Apa sih?" tanya Sarah.
"Bibir kamu" ucap Pieter.
"Kenapa?, ada apaan?" tanya Sarah.
"Ada nasinya" ucap Pieter pelan.
"Dimana?" tanya Sarah mengusap bibirnya mencari dimana keberadaan nasi yang tertempel di bibirnya.
Pieter pun membantu Sarah mengambil nasi yang tertempel di bibirnya. Sarah yang terkejut sontak menatap tajam mata Pieter tak berkedip sekalipun.
"Sorry, gw cuma mau bantuin lu doang kok, gak ada niatan lain" ucap Pieter tersipu malu.
"Iii-ya" ucap Sarah terbata-bata.
Melihat kemesraan mereka, membuat Fredericka, Shivanya Azeer, Kinara dan Rangga tersenyum kecil, namun berbeda dengan Alderts ayah kandung Sarah yang nampak tidak suka melihat kemesraan putrinya dengan seorang laki-laki yang tidak selevel dengannya itu.
Jantungnya berdetak sangat kencang dan membuat tubuhnya bergetar. Sarah berusaha mengontrol hatinya agar Pieter tidak menyadari bahwa ia mencintainya dalam diam.
Setelah selesai makan mereka sholat berjamaah di dalam masjid yang terdapat di dalam rumah Alderts. Setelah selesai sholat, mereka menuju kamarnya masing-masing.
Sarah langsung mengunci pintu kamarnya dan berteriak sembari menutup mulutnya dengan tangan karena hatinya yang sangat bahagia saat itu.
"Haduh itu cowok manis banget sih, malah ganteng banget lagi akh, kurang dimiliki doang sih fix, tapi akh apa mungkin?, aku takut papah Alderts gak merestui hubungan aku sama Pieter, kalau papah Rangga sepertinya welcome aja sama Pieter, tapi apa papah Alderts bisa menerima Pieter, dan apa Pieter juga menyukaiku?, sepertinya sih begitu" ucap Sarah tersenyum menutup mukanya dan menatap ke atas berhalusinasi.
"Kenapa gw jadi mikirin Sarah terus ya?" tanya Pieter pada dirinya sendiri di dalam kamar.
Sarah dan Pieter keluar kamar, menatap langit di depan kamar mereka masing-masing dan tersenyum. Sarah merasakan ada kehadiran seseorang di dekatnya begitupun dengan Pieter yang membuat mereka melihat ke arah samping.
"Kamu belum tidur?" tanya Pieter pada Sarah.
"Belum, ini baru mau tidur kok" ucap Sarah gugup.
"Good night" ucap Pieter tersenyum.
"Good night too" jawab Sarah tersenyum.
Mereka pun memasuki kamarnya masing-masing. Sarah dan Pieter terlihat sangat bahagia di dalam kamar mereka masing-masing dengan terus memikirkan satu sama lainnya.
"Udah akh, mikirin dia terus yang ada nanti aku gak tidur-tidur" ucap Sarah.
Sarah pun akhirnya tertidur begitu pun Pieter yang juga sudah tertidur pulas di kamarnya.