Sarah

Sarah
Hantu Ruang Kelas



"Gimana caranya aku keluar dari sini ya?" tanya Shivanya pada dirinya sendiri.


''TOLONG!!! siapapun yang ada diluar tolong bukain pintunya" ucap Shivanya mendorong-dorong pintunya dengan keras sekuat tenaga yang ia miliki.


Dari arah belakang terlihatlah sekelebat bayangan putih melintas, Shivanya yang menyadari sontak menengok ke arah belakang.


''Aneh banget kok gak ada orang ya? tadi perasaan aku kayak ada sekelebat bayangan melintas deh" ucap Shivanya kebingungan.


''TOLONG!!! siapapun yang ada diluar tolong bukain pintunya" ucap Shivanya mendorong-dorong pintunya dengan keras sekuat tenaga yang ia miliki.


Saat tengah meminta pertolongan, "HIHIHI!!" terdengarlah suara wanita tertawa dari arah belakang yang sangat nyaring hingga membuat dia menutup kedua telinga dengan kedua tangannya dan memejamkan mata.


Ketika suara itu menghilang, Shivanya membuka tangannya yang semula menutupi telinganya dan memberanikan diri untuk membuka matanya secara perlahan.


Saat mata Shivanya terbuka separuh ia dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita berwajah pucat pasi dengan darah yang terus mengalir membanjiri lantai yang ia pijak. Shivanya pun berteriak kencang sejadi-jadinya "AKHH!!" ucapnya berteriak ketakutan yang tanpa ia sadari mendorong wanita berwajah pucat pasi itu hingga terpental ke belakang dan Shivanya terus mendorong-dorong pintu itu agar terbuka dan terus berteriak meminta pertolongan.


''TOLONG!!! TOLONG BUKAKAN PINTU INI!! HEI!! apa ada orang diluar sana? TOLONG SAYA!! saya terkunci di dalam gudang ini, siapapun TOLONG SAYA!!, SAYA SANGAT TAKUT!! di dalam sini ADA SETAN!!" ucap Shivanya mendorong-dorong pintunya dengan keras sekuat tenaga yang ia miliki.


Karena terus di dorong-dorong oleh Shivanya akhirnya ganjalan pintu itu terpental ke atas tanah dan Shivanya pun keluar dari dalam sana dengan berlari ketakutan sambil terus menatap ke arah belakang takut hantu wanita tadi mengikutinya hingga keluar gudang.


"Rissa" ucap ibunya.


"Iya mah" ucapnya ketakutan.


"Kamu kenapa sayang? kok kayak orang lagi ketakutan begitu sih?" tanya ibunya.


''Engg-enggak apa-apa kok mah" ucap Shivanya terbata-bata.


"Beneran sayang kamu gak kenapa-kenapa?" tanya ibunya.


"Iya mah gak kenapa-kenapa kok, oh iya, mamah, papah, kapan kalian tiba di Jakarta?'' tanya Shivanya.


“Tadi malam nak, sekarang kita pulang yuk, oh ya, sore hari ini kita akan pulang kampung sayang, sudah lama tidak pulang kampung kan?, kamu berapa lama nak?” tanya ibunya.


''Yeay pulang kampung bisa jalan-jalan ke sawah deh sama mas Amir, kata ibu guru tanggal 15 Agustus masuk'' ucap Shivanya.


“Bagus, artinya kita bisa lama tinggal di desa, sekarang kita pulang ya sayang” kata ibunya.


"Iya mah" ucap Shivanya.


"Sayang, jangan keluar jendela, itu berbahaya, lihat saja dari dalam jendela ya sayang" kata ibunya


''Iya mah" ucap Shivanya.


"Mama WhatsApp mas Amir suruh jemput aku'' kata Shivanya.


''Sayang, kita pergi dengan mobil, mengapa kamu meminta Amir untuk menjemputmu?" tanya ibunya.


''Tidak apa-apa, aku ingin mas Amir yang menjemput ku" ucap Shivanya.


"Iya sayang" ucap ibunya.


''Mah, biar Shivanya yang berbicara sendiri dengan mas Amir" ucap Shivanya pada ibunya.


"Iya sayang" ucap ibunya.


"Assalamualaikum mas, jemput Shivanya, gak mau tau intinya, Shivanya mau dijemput mas Amir" rengek-nya.


''Iya, peri cantikku" ucap mas Amir tersenyum.


''Hm, saya tidak tahu mengapa mas Amir memanggil saya dengan sebutan itu" batin Shivanya.


''Di mana jemput-nya dek?'' tanya mas Amir.


"Di terminal" ucap Shivanya.


''Jauh banget" ucap mas Amir.


''Akh cepatlah Shivanya tunggu jangan lama-lama" ucap Shivanya.


''Iya, ya sayang" ucap mas Amir.


''Ah, mas Amir mengapa anda sangat menjengkelkan?" tanya Shivanya kesal.


''Hehe maaf maaf" ucap mas Amir tertawa.


''Y" jawabnya jutek.


Setengah jam kemudian, Mas Amir tiba di terminal.


''Ayok kita pulang'' ucap mas Amir.


''Iya" ucap Shivanya.


"Mas, Shivanya lapar" ucap Shivanya.


''Apa yang ingin kamu makan?'' tanya mas Amir.


''Terserah kamu saja'' ucap Shivanya.


"Apakah kamu ingin makan soto?" Tanya Pak Amir.


''Tidak mau" ucap Shivanya menggelengkan kepalanya.


''Mau nasi kucing?'' tanya mas Amir.


''Tidak mau" ucap Shivanya menggelengkan kepalanya.


''Mie ayam?" tanya mas Amir.


''Tidak mau" ucap Shivanya menggelengkan kepalanya.


''Semuanya gak mau dek tadi katanya terserah aku, gimana sih kamu" ucap mas Amir menghela nafas.


Hehehe.


''Apa yang ingin kamu makan jadinya?'' tanya mas Amir.


''Mie ayam bakso" ucap Shivanya.


''Begitu dong dari tadi, ditawarin ini bilang gak mau, ditawarin itu jawabannya gak mau juga tapi bilang terserah aku" ucap mas Amir.


''Hm ayo makan cepetan aku lapar" rengek-nya.


''Hm iya" ucap mas Amir.


''Apakah kamu sudah kenyang? ayok pulang sekarang" ucap mas Amir menarik tangan Shivanya namun Shivanya menolaknya dan mengatakan "tidak mau" ucapnya.


''Jadi kamu mau kemana dek?" tanya mas Amir.


''Ayo kita ke sawah mas" ucap Shivanya.


''Suka banget ke sawah, nanti hitam aja kamu" ucap mas Amir.


''Masih pagi, tidak mungkin hitam" ucap Shivanya.


''Ya sudah, ayok" ucap mas Amir menggenggam tangan Shivanya.


"AWW!! SAKIT!!" ucap Shivanya merasakan sakit di telapak kakinya.


''Kenapa dek?" tanya mas Amir datang menghampirinya.


''Sakit banget mas, kayak digigit sesuatu gitu, atau mungkin ular lagi" ucap Shivanya melihat sekelilingnya.


''Dimana ada ular? mungkin kamu digigit kodok kali HAHAHA!!" ucap mas Amir menertawakannya.


''Kamu kodoknya" ucap Shivanya memukul lengan mas Amir.


''Kenapa jadi aku deh?" tanya mas Amir mengangkat alisnya.


''Kamu seperti katak" ucap Shivanya meledeknya.


''Mengapa seperti katak? tampan begini juga seperti pangeran, masa disamakan dengan katak sih" ucap mas Amir mengangkat bajunya kepedean mengangkat alisnya menatap Shivanya dengan tatapan tajam.


''Yah memang sangat tampan seperti pangeran hanya saja pangeran kodok jadi sepertinya itu tidak terlalu buruk bukan?" tanya Shivanya mengangkat alisnya menyeringai.


''Hm okelah, intinya pangeran" ucap mas Amir pasrah.


''Nah ya sudah itu saja" ucap Shivanya.


"Hm, yaudah ayok sekarang kita pulang ya" ucap mas Amir menarik tangan Shivanya dengan tangan sebelahnya mengangkat ember berisi siput sawah yang mereka tangkap.


"Iya mas" ucap Shivanya berjalan mengikuti mas Amir.


''Mandi sana bau kodok" ucap mas Amir mengendus Shivanya.


''Saya berbau harum tidak seperti mu mas Amir, bau kodok" ucap Shivanya.


''Hm, ini siputnya biar mas rendam dulu, baru besok mas masak, jangan dibuat mainan" ucap mas Amir.


''Apakah itu lezat?" tanya Shivanya.


''Enak lah pasti kan mas yang masak" ucap mas Amir tersenyum mengangkat alisnya.


''Apa kamu bisa masak?" tanya Shivanya.


''Hm ya, apakah kamu ragu dengan masakan saya?" tanya mas Amir.


''Saya sangat tidak yakin deh hal itu" ucap Shivanya.


''Tunggu saja besok, sudah sana mandi duluan" ucap mas Amir.


"Iya bawel" ucap Shivanya.


Mas Amir pun pulang ke rumahnya yang berada tepat di depan rumah Shivanya.