Sarah

Sarah
Hati Sasha Mulai Terketuk



Terkadang Azka membenarkan bacaan Sasha yang salah. Sasha mulai terkesima oleh Azka.


"Ini cowok kalau diliat lama-lama ganteng juga ya, jago lagi baca Al-Qur'an nya, haduh! ini sih namanya cowok idaman, ya walaupun teramat dingin sih, tapi setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari dia" batin Sasha yang terus menatap Azka sembari tersenyum.


"Sha, Sasha" panggil Azka memetikkan jarinya di depan mata Sasha untuk menyadarkannya.


"Hm iya, a-ada apa?" tanya Sasha terbata-bata.


"Kamu kenapa melamun? apa yang sedang kamu pikirkan Sha?"


"Kamu"


"Aku?"


"Hm, e-enggak, maksud aku itu tadi aku lagi mikir apa nantinya aku bisa kayak kamu gitu yang lancar baca Al-Qur'an nya"


"Oh gitu, aku yakin kok Allah SWT pasti akan membantu kamu untuk memperlancar bacaan Al-Qur'an mu" jawab Azka tersenyum menatap Sasha.


"Hm, iya ka" jawab Sasha tersenyum kecil dan langsung menundukkan kepala.


"Kalau kamu mau memang benar-benar ingin belajar hingga lancar membacanya, maka sekarang kita lanjutkan lagi ya membaca Al-Qur'an nya" ucap ustadzah Mirna tersenyum.


"Hm iya" jawab Sasha tersenyum kecil.


"Itu kan cuma alasan gw doang biar Azka gak curiga soalnya tadi gw keceplosan bilang "kamu", bukan berarti gw benar-benar ingin melakukannya hm" batin Sasha menghela nafas.


"Kamu kenapa Sha?" tanya Azka.


"Hm, gak apa-apa kok" jawab Sasha tersenyum kecil menatap Azka.


"Oh ya udah, kamu lanjutkan lagi aja bacanya"


"Iya ka"


"Assalamualaikum" ucap Qila yang datang.


"Wa'alaikumsalam Raqila, ada apa?" tanya Azka.


"Aku cuma mau bilang ke kamu, kalau tadi abi kamu minta tolong aku buat kasih kamu ini" ucap Raqila memberikan Azka sebuah kotak.


"Apa ini?" tanya Azka menerima dan melihat kotaknya.


"Gak tahu, kamu buka saja sendiri, tadi abi kamu gak bilang sih isinya apa, abi kamu cuma minta aku buat kasih itu ke kamu"


"Halah! bilang aja lu cuma mau caper doang kan ke Azka! pakai cari-cari alasan segala!" gerutu Sasha.


"Astagfirullahaladzim Sasha, kamu gak boleh berbicara seperti itu pada Raqila, nak Raqila ini anaknya baik, kamu jangan berburuk sangka begitu sama dia" ucap ustazah Mirna.


"Baik sama pura-pura baik itu sangatlah tipis perbedaannya, dan aku yakin jika dia itu cuma pura-pura baik sama kita, karena dia punya maksud terselubung, maksud terselubung lu pasti mau deketin Azka kan? ngaku aja deh lu! gak usah sok-sokan alim begitu" bentak Sasha mendorong Raqila.


"Sasha hentikan!" ucap Azka.


"Kamu kenapa jadi belain dia? aku berkata benar, lihat saja nanti, cepat atau lambat pasti akan terbongkar jika cewek sok alim ini cuma pura-pura baik sama kamu untuk mendapatkan hati kamu!" ucap Sasha yang langsung pergi dari tempat itu.


"Sasha mau kemana kamu? pelajarannya belum selesai" ucap Azka.


"Gak perlu dilanjutkan lagi! gw udah cape belajar gara-gara dia datang!" ucap Sasha menunjuk Raqila.


"Sasha aku minta maaf sama kamu" ucap Raqila.


Sasha hanya menatap tajam Raqila dan tidak menjawab perkataannya.


"Udah biarkan saja dia Raqila, dia kan juga baru di pondok pesantren ini, hm mungkin dia butuh banyak waktu untuk menyesuaikan diri di tempat ini" ucap Azka.


"Hm, tapi aku jadi gak enak sama dia Ka"


"Gak apa-apa kok, nanti aku yang jelasin baik-baik ke dia"


"Oh iya itu jangan lupa dibuka ya pemberian abi kamu"


"Hm, iya makasih Raqila, nanti pasti aku buka kok" ucap Azka tersenyum menatap Raqila.


"Sama-sama, aku permisi ya ka, hm ustadzah Mirna" ucap Raqila tersenyum menganggukkan kepala.


"Iya" jawab Azka dan ustadzah Mirna tersenyum menganggukkan kepala.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


"Ini apa ya isinya ustadzah?" tanya Azka menatap ustadzah Mirna.


"Gak tahu Azka, coba kamu buka saja"


"Iya ustadzah"


"Dasar cewek kecentilan! ternyata di pondok pesantren ada juga ya spesies cewek kegatelan sok alim kayak dia, aku kira adanya di sekolah biasa doang, ternyata di sekolah keagamaan kayak gini juga ada hm" gerutu Sasha.


Sasha membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan keras hingga membuat kaget temannya.


"Astagfirullahaladzim, kamu kalau nutup pintu biasa aja dong Sha ngagetin tahu" ucap Disa.


"Kalau masuk juga biasakan beri salam" sambung Ica.


"Ketuk pintu juga biar gak ngagetin orang" sambung Ema.


"Berisik ya kalian semua! jangan sok kenal deh sama gw!"


"Kita tahu kok siapa nama kamu, nama kamu pasti Sasha Floella"


"Darimana lu tahu nama gw?"


"Aku tahu kok, kan tadi pas ustadz nyebut nama kamu Sasha Floella, oh iya nama aku Chaiza Dzevada panggil aja Ica" ucap Ica tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Nama aku Haleema Samaira panggil aja Ema" sambung Ema tersenyum menganggukkan kepala.


"Kalau nama aku Mandisa Faezya panggil aja Disa" sambung Disa tersenyum menganggukkan kepala.


"Sekarang kamu kan udah mengenal nama-nama kita, jadi biasakan ya datang berikan salam terlebih dahulu, atau kalau kamu tidak terbiasa bisa dengan memanggil nama kita, jangan seperti tadi tidak baik, gak enak sama santri yang lain" ucap Ica tersenyum menatap Sasha.


"Bisa diam gak lu hah?" tanya Sasha ketus.


"Aku hanya mencoba untuk mengutarakan apa pendapat ku saja, terserah kamu jika memang kamu tidak mau mendengarkan pendapat ku juga tidak apa-apa, tidak masalah bagi ku" jawab Ica tersenyum.


"Aku tahu perasaan kamu Sasha" ucap Ema tersenyum menepuk pundak Sasha.


"Jangan sok tahu deh lu!"


"Aku juga awalnya dipaksa oleh papa ku untuk masuk ke dalam pesantren, aku juga tadinya sama seperti mu yang merasa tidak nyaman berada di dalam pesantren, tapi lama kelamaan aku mulai nyaman berada di dalam pesantren ini, apalagi memiliki sahabat sebaik Ica dan Disa, kamu hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri kamu sama lingkungan baru kamu, aku yakin kok, cepat atau lambat, kamu pasti bisa menerima tempat ini, dan menganggap tempat ini sama seperti rumah kamu sendiri, ya walaupun mungkin kamar ini tidak sebesar kamar kamu, tapi lihatlah yang ada di dalamnya, jika di dalam kamar kamu selalu sendirian, tidak ada teman untuk berbicara, tetapi di dalam kamar ini, kamu memiliki teman yang bisa kamu ajak bicara, bertukar pikiran, setiap masalah pasti akan selalu ada hikmahnya, hanya tinggal kita saja yang menyadari nikmat yang ada di depan mata kita atau tidak" ucap Ema tersenyum menepuk pundak Sasha.


Sasha menatap tangan Ema yang memegang pundaknya.


"Maaf" ucap Ema tersenyum kecil dan melepaskan tangannya dari bahu Sasha.


"Hm!"


"Lebih baik kamu istirahat saja, kamu pasti lelah kan tadi belajar sama ustadzah Mirna dan Azka" ucap Ema tersenyum kecil.


"Hm!"


Sasha tiduran dengan membelakangi Ema, Ica dan Disa. Sasha merenungi perkataan yang Ema katakan padanya dan meneteskan air matanya. Sasha menghapus air matanya dan memejamkan matanya lalu tertidur.


Ketiga temannya saling menatap satu sama lain tersenyum dan kembali ke tempat tidur masing-masing.