
"Siapa kamu? mau cari siapa?" tanya Rissa saat melihat seorang wanita memasuki ruang perawatannya.
Wanita itu hanya menatapnya dan tidak menjawab satu perkataan pun.
"Dek, kamu ngomong sama siapa?" tanya mas Amir.
"Mas Amir itu ada seorang wanita disana" ucap Rissa menunjuk wanita yang tengah memperhatikannya itu.
"Dimana dek?"
"Itu mas Amir di depan pintu, apa mas Amir tidak melihat wanita itu?"
"Tidak, mas tidak melihat ada wanita disana"
"Oh ya sudah kalau begitu"
"Hm oke"
Rissa yang telentang, memiringkan tubuhnya ke arah mas Amir dan memegang satu tangan mas Amir sebagai bantalnya. Rissa sesekali menengok ke arah wanita itu. Melihat wanita itu yang tidak kunjung pergi dari sana, tentu saja membuat Rissa kesal. Rissa bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri wanita itu.
"Eh kamu mau kemana dek?" tanya mas Amir memegang lengan Rissa.
Rissa menepis tangan mas Amir dan berjalan menghampiri wanita itu. Mas Amir mendorong perlahan besi tempat infusan Rissa.
"Ikh kamu pergi sana!" ucap Rissa mendorong wanita itu.
Aji yang melihatnya menggaruk-garuk kepala sedangkan mas Amir menepuk keningnya sendiri, karena mereka tahu jika Rissa tengah mengusir setan dan bukan manusia.
"Ada apa ini?" tanya seorang wanita yang entah masuk darimana tiba-tiba ada di belakang mereka.
Rissa yang mendengar suara seorang wanita di belakangnya pun menoleh.
"Suster usir dia dari sini, dia mengganggu ku" ucap Rissa menunjuk wanita yang ada di depannya.
"Kembalilah ke tempat tidur mu, dia salah satu pasien di rumah sakit ini, dia mendonorkan hatinya untuk kekasihnya yang mengidap kanker hati, namun ketika mereka baru keluar dari rumah sakit ini, wanita itu melihat kekasihnya dipeluk oleh wanita lain yang berlari menghampirinya dengan senyum sumringah, dan dia yang merasakan sakit pun pergi berlari meninggalkan pengkhianatan kekasihnya itu, namun dia tidak menyadari jika ada truk oleng di belakangnya, wanita itu terpental dan ada truk lain yang melintas, lalu melindas tubuh wanita itu hingga tubuhnya hancur, aku menyaksikannya sendiri, dan aku kembali membawa wanita itu ke rumah sakit ini, rumah sakit ini sudah seperti rumahnya sendiri, jangan ganggu dia, karena ini juga kamarnya, waktu dia mendonorkan hati ke kekasihnya, wanita itu dan kekasihnya dirawat di kamar ini, jadi kamu harus berbagi kamar dengannya" ucap suster itu.
"Apa? tidak suster, aku tidak ingin ada di kamar ini lagi, aku mau pindah ke kamar lain suster, aku tidak ingin di kamar ini lagi" ucap Rissa memegang tangan suster itu.
Melihat gelagat aneh Rissa, membuat mas Amir dan Aji kebingungan. Mas Amir dan Aji pun menghampiri Rissa.
"Dek, ikut mas yuk" ajak mas Amir menarik tangan Rissa.
"Aji buka pintunya" pinta mas Amir.
Aji berlari untuk membukakan pintu.
Mas Amir mengajak Rissa keluar diikuti dengan Aji yang berjalan di belakang mereka.
"Dek kamu ngomong sama siapa tadi? kamu megang apa dek? tidak ada apapun disana, sadar dek" ucap mas Amir memegang kedua pipi Rissa.
Rissa seketika kebingungan dan berulang kali melihat ke belakang lalu menatap mas Amir.
"Benarkah tidak ada orang disana tadi? tapi tadi disana ada suster, sepertinya suster itu masih muda, wajahnya cantik, apa dia bukan manusia?" tanya Rissa.
"Dek, benar kata mas Amir, tidak ada orang disana selain kita" sambung Aji.
"Jadi suster cantik itu setan? iya?"
"Iya dek, dia hantu dan bukan manusia, kamu memintanya untuk memindahkan mu ke kamar yang lain itu percuma dek, karena dia sendiri pun mayat, dan tadi suster menceritakan sesuatu kan sama kamu? apa yang dia ceritakan? sampai-sampai kamu ingin pindah dari kamar itu" ucap mas Amir.
"Tadi suster cantik itu menceritakan tentang wanita yang tadi ada di depan kita, wanita yang berdiri di depan pintu itu, yang Aji dorong karena membuka pintu itu" ucap Rissa menganggukkan kepala.
"Iya terus? kenapa bisa sampai kamu ingin pindah dari kamar itu? padahal kamu terlihat sangat nyaman dengan kamar itu" ucap mas Amir.
"Iya memang benar, kamar itu nyaman, aku suka ada di kamar itu, tapi kamar itu adalah kamar dari wanita yang tadi berdiri di depan pintu"
"Lalu?" tanya mas Amir.
"Iya suster itu tadi bilang kalau kamar itu adalah kamar wanita yang tadi itu, kata susternya dulu dia dan kekasihnya dirawat di kamar itu, wanita tadi mendonorkan hatinya kepada kekasihnya, terus saat mereka pulang dari rumah sakit ternyata kekasihnya selingkuh, ada wanita lain yang menjemputnya lalu memeluknya bahagia, wanita yang berdiri depan pintu tadi itu berlari meninggalkan mereka, namun ada truk oleh yang menabraknya hingga ia terpental dan ada truk lain yang melintas lalu melindas tubuhnya hingga hancur, suster tadi itu kembali membawa wanita itu ke dalam rumah sakit, makanya aku ingin pindah dari kamar itu, karena aku tidak ingin berbagi kamar dengan wanita itu, kamu tadi bilang dia hantu kan? iya dia hantu, dia mati terlindas oleh truk itu, aku tidak ingin ada di kamar itu lagi, suster itu tadi meminta ku untuk berbagi kamar dengannya, karena rumah sakit itu sekarang adalah rumahnya dan kamar itu adalah kamar dia, aku tidak ingin ada di kamarnya, aku ingin pindah dari kamar itu, atau kita pulang saja, biar aku dirawat di rumah saja, aku tidak ingin lagi ada di kamar itu ataupun di rumah sakit ini, ayok kita pulang mas, aku ingin pulang, aku tidak apa kok, mereka menahan ku, aku ingin pulang" ucap Rissa memegang tangan mas Amir.
"Hm, ya sudah kalau gitu kita temui dokter dulu ya, untuk memastikan kamu di izinkan pulang hari ini atau tidak, karena kan aku gak tahu tentang penyakit, dokter yang lebih tahu, takutnya ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi bagaimana?"
"Akh bujuk dokter itu, aku ingin pulang, jika aku kenapa-kenapa nantinya, kan bisa dirawat di rumah, aku ingin di kamar ku sendiri, tidak ingin di dalam kamar wanita itu, ayok pulang" pinta Rissa menarik tangan mas Amir.
"Kita masuk dulu ke dalam ya, biar dokter periksa dulu keadaan kamu ya" pinta mas Amir mengelus pucuk kepala Rissa.
"Tidak! tidak! aku tidak ingin masuk ke dalam, panggil saja dokternya keluar, mengapa harus di dalam? aku tidak ingin di dalam, apalagi di dalam kamar wanita itu, aku ingin disini, panggil saja dokternya kesini, jika dia tidak mau, tarik saja tangannya, bawa dia kesini, aku ingin disini saja, sana! cepatlah! aku dan Aji menunggu mu disini ya" ucap Rissa.
"Tapi dek.."
"Tidak! tidak ada tapi-tapian ya! cepatlah! aku ingin pulang" pinta Rissa.
"Hm iya dek" ucap mas Amir yang langsung pergi meninggalkan mereka.
"Sini Aji, duduklah di samping ku" pinta Rissa menarik tangan Aji untuk duduk di sampingnya.
Rissa memeluk Aji dan menyandarkan kepalanya di bahu Aji.