Sarah

Sarah
Tingkah Aneh Shivanya



''Mas Amir ini kupu-kupunya taruh dimana? biar gak terbang" ucap Shivanya.


“Letakkan saja di sini dek” ucap mas Amir mengambil toples di dekat rumah yang terbengkalai itu dan menutupnya menggunakan kantong plastik dan melubanginya.


''Mas, kok aku ngantuk ya?" tanya Shivanya.


"Kamu baru saja bangun mengapa sudah mengantuk lagi? apakah kamu sudah mandi?" tanya mas Amir.


"Udah mandi mas, tapi entah kenapa tiba-tiba ngantuk, ayo pulang mas mau tidur" ucap Shivanya menarik tangan mas Amir.


''Kita kan mau pergi, gak jadi pergi nih?" tanya mas Amir.


''Enggak akh, besok saja" ucap Shivanya.


"Ya udah ayok pulang" ucap mas Amir.


"Iya" ucap Shivanya.


''Assalamualaikum tante" ucap mas Amir di depan pintu rumah Shivanya.


''Wa'alaikumsalam" ucap ibu Shivanya membukakan pintu rumahnya.


''Amir, tadi kamu mengatakan kamu dan Shivanya ingin jalan-jalan, tidak jadi pergi?" tanya ibu Shivanya.


''Enggak jadi buk lek, Shivanya mengatakan dia benar-benar mengantuk" ucap mas Amir.


''Sayang, kamu baru bangun, kok sudah mengantuk lagi?'' tanya ibunya.


''Entahlah aku sangat ngantuk mah" ucap Shivanya.


'Ya sudah, sekarang kamu tidur ya sayang" ucap ibunya mengelus pucuk kepala Shivanya.


"Iya mah" ucap Shivanya menguap dan langsung pergi meninggalkannya.


Keesokan harinya Shivanya masih tertidur pulas, tidak bangun dari kemarin sore.


'''Shivanya bangun, makan dulu sayang, Shivanya, pah, papah'' teriak ibunya panik.


''Kenapa mah?'' tanya suaminya menghampiri.


''Kenapa Shivanya tidak bangun-bangun pah" ucap ibunya panik.


''Sudahlah, biarkan saja ia tidur dulu jika dia lapar pasti dia akan bangun dengan sendirinya" ucap suaminya.


''Tapi pah" ucap istrinya.


''Tenang, jangan panik begitu, daripada panik, mending kita keluar cari angin" ucap suaminya.


''Mengapa papah ingin mencari angin? aku tidak ingin mencari angin nanti yang ada aku masuk angin lagi" ucap istrinya.


''Bukan itu maksud papah mah, maksud papah itu kita pergi keluar rumah, jalan-jalan gitu refreshing lah" ucap suaminya.


''Mau pergi kemana pah?" tanya istrinya.


''Jalan-jalan saja dekat-dekat sini oke, kalau begitu kita pergi ke rumah Amir dulu agar Amir yang menjaga Shivanya saat tidur" ucap suaminya.


"Iya pah" ucap istrinya.


"Assalamualaikum" ucap ayah Shivanya mengetuk pintu rumah Amir.


"Wa'alaikumsalam pak lek, masuklah" kata Amir sambil mencium punggung tangan orang tua Shivanya dan mempersilakannya masuk.


'Iya Mir" ucap ayah Shivanya tersenyum.


''Duduk pak lek" ucap mas Amir.


" Iya Amir terimakasih" ucap ayah Shivanya.


''Mau minum apa pak lek, buk lek?" tanya mas Amir.


''Tidak usah repot-repot Mir, tujuan kedatangan kami kesini, kami ingin meminta tolong untuk menjaga Shivanya, karena Shivanya masih tidur, kami ingin jalan-jalan sebentar" ucap pamannya.


"Oke pak lek" ucap mas Amir.


''Maaf Mir boleh pinjam motor gak? kita mau naik motor, nanti kita belikan bensin deh" kata ayah Shivanya.


"Boleh pak lek, tunggu sebentar, Amir ambil kuncinya dulu" ucap Amir.


"Iya" ucap ayah Shivanya.


''Pak lek ini kuncinya, motor Amir yang mio itu" ucap mas Amir menunjuk salah satu motor yang terparkir di teras rumahnya.


''Oke, kita langsung jalan ya Amir" ucap ayah Shivanya tersenyum.


"Iya pak lek" ucap Amir tersenyum.


''Assalamualaikum" ucap ayah Shivanya.


"Wa'alaikumsalam" ucap Amir tersenyum sambil mencium punggung tangan orang tua Shivanya.


Setelah orangtua shivanya pergi, Amir pun pergi ke rumah orangtua Shivanya.


"Assalamualaikum" ucap Amir memasuki rumah Shivanya.


'Hm, kenapa bau seperti kentang rebus sih? orangtua Shivanya kan tadi bilang kalau Shivanya sedang tidur, ya sudahlah mungkin tetangga sebelah sedang merebus kentang, oh ya, di sini kan hanya ada rumahku dan rumah Shivanya, dan satu lagi rumah kosong yang ada di kebun itu, ibuku tidak merebus kentang, Shivanya bahkan tidak bisa memasak kan? apalagi dia sedang tertidur pulas, yang ada dia yang direbus bukan kentangnya haha, jadi siapa dong yang ngerebus kentangnya?'' tanya Amir garuk-garuk kepala bingung.


"Mereka mengatakan jika tiba-tiba bau kentang rebus muncul dari arah yang tidak diketahui asal baunya itu pertanda bahwa genderuwo telah ada di sekitar kita, apakah itu mungkin? ini kan masih pagi hm, lebih baik aku bangunin Shivanya aja deh" ucap Amir pada dirinya sendiri.


"Shivanya bangun, Shivanya udah siang dek, bangun woy makan dulu" ucap mas Amir menggoyang-goyangkan bahu Shivanya.


''Hm, jam berapa sekarang mas?'' tanya Shivanya dengan suara rendah tanpa membuka matanya.


"Jam 7" ucap mas Amir melirik jam dinding yang terpasang di ruang tamu yang tak jauh dari kamar Shivanya.


"Ah, ini baru jam 7, belum jam 9" ucap Shivanya.


''Ini bahkan belum siang, kamu bilang udah siang, siang itu jam 12 mas Amir" ucap Shivanya yang membelakangi tubuh Amir memeluk guling kesayangannya.


"Udah siang dek, bangun dek" ucap mas Amir.


"Berisik akh, udah sana nonton TV aja deh mendingan, aku ngantuk banget mas Amir" ucap Shivanya.


"Bangun dek, makan dulu sayang" ucap mas Amir.


"Nanti aja jam 9" ucap Shivanya.


"Hm oke" ucap Amir beranjak pergi dari kamar Shivanya.


''Shivanya bangun dek, tadi kamu bilang jam 9 ini sudah jam 9'' ucap mas Amir menggoyangkan bahu Shivanya.


Hm.


''Shivanya bangun Shivanya, aduh pakai kebelet pipis segala lagi, bangun Shivanya, bangun, makan dulu, akh!! aku sudah tidak tahan lagi, dek mas tinggal sebentar kebelet" ucap Amir meninggalkan Shivanya yang masih tertidur pulas.


''Shivanya... Shivanya... Shivanya'' ucap pria tak dikenal dengan suara keras.


''Akh mas Amir berisik tau" ucap Shivanya yang masih memejamkan matanya.


"Shivanya" ucap pria tak dikenal itu kembali memanggil namanya.


"Mas akh, Shivanya masih ngantuk banget tau" ucap Shivanya terbangun dari tubuhnya dengan mata yang masih setengah menutup.


''Ikuti aku hahaha'' ucap pria itu tertawa dengan suara keras.


''Mau kemana mas?" tanya Shivanya bangkit dari tempat tidurnya mengikuti langkah kaki pria misterius yang ia kira itu adalah Amir kakak sepupunya.


"Ikuti saja" ucap pria itu.


Shivanya pun mengikuti langkah pria itu dengan mata yang masih setengah tertutup.


''Rumah siapa ini?" tanya Shivanya saat pria itu berhenti di depan rumah terbengkalai di tengah kebun namun ia masih belum menyadarinya.


''Masuklah" ucap pria itu.


Beralih ke kediaman Shivanya, kini orangtua Shivanya telah kembali ke rumahnya.


"Assalamualaikum" ucap ibu Shivanya di depan pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam pak lek, buk lek" jawabnya sambil mencium punggung tangan orang tua Shivanya.


''Amir, apakah Shivanya sudah bangun?'' tanya ibunya.


''Belum buk lek, Shivanya masih tidur di kamarnya.


''Amir.. Amir.. dimana Shivanya?'' tanya ibu Shivanya panik dengan suara keras.


''Di kamarnya buk lek, tadi Amir bangunin dia gak mau bangun, dia bilang dia masih sangat mengantuk, Amir kebelet makanya Amir tinggal sebentar" ucap mas Amir.


''Sini kamu Mir, di kamar siapa? lihat, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar" ucap ibunya.


''Shivanya tadi ada di sini buk lek, dia sedang tidur, di mana lagi anak itu, Amir akan membantu pak lek dan buk lek mencari keberadaan Shivanya" ucap mas Amir.


''Ya sudah ayok, kita cari Shivanya" ucap ibu Shivanya berjalan mendahului Amir dan suaminya panik.


"Ayo, kita cari Shivanya," kata ibu Shivanya sambil menarik tangan suaminya.


''Shivanya'' ucap Amir memanggil Shivanya dengan keras agar Shivanya mendengarnya.


'Shivanya sayang di mana kamu nak?'' panggil ibunya gelisah.


''Shivanya'' panggil ayahnya.


''Pak lek, buk lek itu di depan sana yang sedang berada di depan rumah yang terkenal angker itu Shivanya bukan sih?" tanya mas Amir menunjuk ke arah rumah terbengkalai itu.


''Iya, Mir, ayok kita pergi ke sana" ucap ayah Shivanya.


''Shivanya sayang apa yang kamu lakukan di sini?'' tanya ibunya memeluknya meneteskan air matanya.


''Apa yang kamu lakukan di sini? kenapa kamu diam saja, seperti orang kemasukan aja" ucap mas Amir.


''Husssttt Amir jangan sembarangan kalau bicara" ucap ayah Shivanya.


''Iya maaf pak lek" ucap mas Amir.


"Lebih baik kita pulang sekarang" ucap ayah Shivanya.