Sarah

Sarah
Istri Hitam Diatas Putih



Di dalam kamar, Aleta sudah mengenakan baju dinasnya.


"Mas" panggil Aleta dan langsung tersenyum memegang tangan Hasan namun Hasan menepisnya.


"Jangan coba-coba menggoda ku, aku tidak tertarik pada mu, apa kamu mengerti hah?" tanya Hasan menatap Aleta mengangkat alisnya menyeringai.


"Aa-apa maksud mu itu mas?, aa-apa kamu tidak mencintai ku mas?" tanya Aleta menatap Hasan.


Hasan pun membanting tubuh Aleta ke ranjang, mendekatkan wajahnya ke Aleta.


"Apa kamu pikir kalau aku itu mencintai mu?" tanya Hasan tersenyum dan sembari mengelus wajah dan kepala Aleta berulang kali.


"Iya mas" ucap Aleta.


"Bodohnya kamu jika percaya akan hal itu" ucap Hasan tersenyum dan masih terus mengelus wajah dan kepala Aleta.


"Apa maksud mu itu mas?, katakan mas!, katakan!" ucap Aleta mendorong tubuh Hasan berlinang air mata.


"Aleta Cornelia Marit, listen to me baby, aku rasa tidak akan ada seorang pun laki-laki yang akan mencintai wanita seperti mu" ucap Hasan tersenyum menatap Aleta.


"Apa maksud mu itu mas?" tanya Aleta.


"Apa kamu masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan ku itu Aleta Cornelia Marit hm?" tanya Hasan mendekatkan wajahnya sejenak dan langsung menjauh.


Aleta hanya terdiam menatap Hasan tidak menjawab pertanyaannya.


"Oke biar aku jelaskan pada mu apa maksud ku itu, maksud ku itu adalah tidak satupun pria yang mau menikahi seorang wanita yang baru ia temui apalagi dalam keadaan wanita itu hamil anak pria lain" ucap Hasan tersenyum.


Mendengar perkataan Hasan sontak membuat Aleta meneteskan air matanya dan menundukkan kepalanya.


"Jika kamu tidak mencintai ku, dan tidak bisa menerima anak ini sebagai anak kamu, lalu untuk apa kamu menikahi ku mas?" tanya Aleta menatap Hasan.


"Mengapa aku menikahi mu?, iya?, karena kamu kaya" ucap Hasan tersenyum menatap Aleta dan memegang dagu Aleta.


Aleta sontak menepis tangan Hasan dari dagunya.


"Hanya karena harta kekayaan kamu menikahi ku mas?" tanya Aleta.


Aleta yang terkejut mendengar perkataan Hasan membuat seluruh tubuhnya bergetar dan terisak tangis.


"Minta uang" ucap Hasan membuka telapak tangannya.


"Uang?, untuk apa mas?" tanya Aleta.


"Aku mau ke bar, minta uang" ucap Hasan sinis.


"Mau ngapain ke bar mas?" tanya Aleta.


"Gak usah banyak tanya deh, berikan atau..." kata Hasan menghentikan perkataannya.


"Atau apa mas?, kamu mau menceraikan aku?, aku malah senang kalau kamu mau menceraikan aku" ucap Aleta.


"Hm senang dia bilang, ayah kamu aja langsung setuju kok buat nikahin kamu sama aku, kamu yakin mau cerai sama aku hm?, apa kata tetangga nanti ya kalau tahu kita baru nikah udah langsung cerai aja, eh kamu hamil, pasti mereka bakal tahu deh kalau sebelum kita menikah kamu udah hamil duluan, hamil anak laki-laki lain, seharusnya kamu itu bersyukur karena aku mau jadi suami kamu, bukan malah membebani aku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu, kamu pikir di bar itu ada apa hah?, kamu pikir bar itu kayak pasar malam gitu ya?, banyak makanan, ada kora-kora juga ya?, oh my God!, seru sekali jika ada seperti itu di bar, hm tapi sayangnya di bar itu cuma ada anggur merah sama kupu-kupu, ya yang menghiasi bar hanyalah kupu-kupu, kamu tahu kan kupu-kupu apa yang aku maksud?, Aleta istri ku, status kamu hanyalah istri hitam diatas putih, apa kamu mengerti apa maksud ku?, oke biar aku jelaskan apa maksud perkataan ku itu, maksud ku itu adalah kamu itu hanyalah istri sebatas surat pernikahan di kertas putih yang di tanda tangani oleh tinta hitam, aku tidak pernah mencintai mu Aleta, aku hanya menginginkan aset mu, aset yang aku inginkan itu bukan dirimu, melainkan harta kekayaan mu, apa kamu tidak pernah berfikir akan hal itu Aleta?, apa kamu tidak berfikir kenapa pria bisa jatuh cinta sama kamu hm?, ya karena kamu itu kaya Aleta, keluarga kamu itu orang terkaya kedua dan ketiga di dunia, jika ada pria yang mengatakan cinta kepada kamu itu semua bukanlah cinta Aleta, hai!, sadarlah Aleta!, pria hanya menginginkan wajah yang cantik atau wanita yang kaya raya, jika dia bilang dia tulus sama kamu, itu tidak sepenuhnya tulus Aleta, apa kamu tidak bercermin sebelumnya?, lihatlah wajah mu di cermin itu" ucap Hasan menarik Aleta dan melemparkannya ke depan cermin.


Aleta perlahan menatap wajahnya di cermin sesuai permintaan Hasan.


"Apa kamu sudah mengerti apa maksud ku Aleta?" tanya Hasan.


Aleta hanya terdiam karena masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan Hasan padanya.


"Dasar bodoh!, untuk hal sepele seperti itu saja kamu tidak mengerti Aleta?, apa kamu memiliki otak di dalam kepala mu itu Aleta?, ataukah hanya sekedar batok kepala tanpa otak?, begitu Aleta hm?, karena daritadi aku berbicara kamu hanya terdiam saja, setiap aku bertanya tidak ada jawaban sedikitpun yang terlintas dari bibir indah mu itu, sekosong itukah isi otak mu itu Aleta?" tanya Hasan tersenyum dan dan mendorong kepala Aleta dengan jari telunjuknya.


Aleta kembali terisak tangis dan menatap Hasan.


"Jangan menangis sayang" ucap Hasan tersenyum menghapus air mata Aleta.


Aleta terbelalak menatap Hasan yang tersenyum sembari menghapus air matanya itu.


"Ada apa Aleta?, apa kamu berfikir jika aku mengatakan hal itu berarti aku peduli padamu?, oh tentu saja tidak Aleta Aleta!, dasar kau ini ya!, aku mengatakan hal itu padamu, karena seribu tangisan mu pun tidak akan pernah mengubah keputusan ku, simpan saja air mata mu itu, jangan kau buang untuk ku, keluarkan saja air mata mu itu di tempat dan situasi yang tepat, tapi ini tidak tepat Aleta, mengertilah Aleta Cornelia Marit, sederas apapun air mata yang kamu teteskan itu tidak akan pernah bisa mencairkan hati ku, yang ada malah membuat ku makin ilfil sama kamu, kenapa?, karena aku menikahi wanita yang cengeng seperti kamu, sudah lah itu tidak penting, berikan saja uangnya, cepat!" bentak Hasan.


Aleta sontak terkejut dibentak oleh Hasan dan mengambil sejumlah uang dalam dompetnya. Melihat masih ada sisa uang di dompet Aleta, Hasan menarik dompetnya dan mengambil semua uang yang ada di dalam dompetnya. Hasan tersenyum menatap Aleta dan pergi meninggalkannya begitu saja. Melihat kepergian Hasan membuat hati Aleta semakin hancur. Sementara itu Hasan malah terlihat sangat puas karena tujuannya untuk memanfaatkan seluruh harta kekayaan Aleta kini telah dimulai.


Hasan pergi ke bar dan membeli kupu-kupu untuk menemani kekosongannya di malam itu, sementara Aleta terlihat sangat menyesali perbuatannya karena telah memilih Hasan menjadi suaminya.