
Pieter adalah seorang pria tampan bermata biru dan hijau keturunan Belanda, Myanmar, Jerman dan Indonesia yang tinggal di sebuah rumah sederhana di Indonesia. Mata kanannya berwarna biru sedangkan mata kirinya berwarna hijau.
Pieter adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal ketika dia masih kecil karena di bunuh oleh perampok. Saat ayahnya menjaga toko perhiasannya sampai larut malam, ada 4 orang perampok yang datang ke toko perhiasannya. Perampok itu mengambil semua perhiasan, uang tunai, ponsel dan komputer yang ada di dlm tokonya. Saat berusaha melawan, keempat perampok itu memukul ayahnya dengan keras dan menikam berulang kali di bagian perut dan dada hingga tewas di tempat.
Sejak saat itu, ia tinggal berdua dengan ibunya yang menderita stroke dan penyakit jantung. Karena sisa uang mendiang ayahnya semakin menipis, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan dan menitipkan ibunya kepada tetangga sebelah rumahnya.
Saat mencari pekerjaan, dia bertemu ayah Sarah yaitu Alderts. Karena Pieter terlihat sangat putus asa, Alderts menghampiri Pieter yang sedang duduk di pinggir jalan dan mengajaknya untuk berbicara.
"Apa yang kamu lakukan dek?" tanya Alderts.
"Enggak ngapa-ngapain kok om, hanya sedang duduk saja" ucap Pieter tersenyum menatap Alderts.
"Kenapa kamu terlihat begitu lemas seperti itu, apa kamu sakit? kalau kamu sakit, ayok saya antar kamu pulang" ucap Alderts.
"Enggak apa-apa kok om, saya sedang mencari pekerjaan tetapi saya sudah mencari kesana kemari dan masih belum dapat menemukan pekerjaan, sementara uang ayah saya hampir habis dan obat mamah juga hampir habis om" ucap Pieter.
"Astagfirullahaladzim, memangnya ayah kamu kemana dek?" tanya Alderts.
"Ayah saya meninggal dunia om ketika saya masih kecil, karena ayah saya ditikam oleh perampok om" ucap Pieter.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un, turut berduka cita ya dek, maaf saya tidak tahu" ucap Pieter menepuk pundak Pieter.
"Iya om, gak apa-apa kok" ucap Pieter tersenyum.
"Bagaimana kalau kamu bekerja sama om? ngomong-ngomong, om juga sedang mencari asisten pribadi, bagaimana? apa kamu bekerja dengan om?" tanya Alderts.
"Iya om, saya mau" ucap Pieter bersemangat.
"Ini kartu nama om" ucap Alderts sembari memberikan kartu namanya.
"Oh iya, nama kamu siapa dek?" tanya Alderts.
"Nama saya Brilian Pieter Cornelis om" ucap Pieter tersenyum.
"Wah, nama yang sangat bagus, jadi saya panggil kamu apa?" tanya Alderts.
"Terima kasih om, panggil Pieter aja om" ucap Pieter tersenyum.
"Oke Pieter" ucap Alderts tersenyum.
Pieter pun membalas senyuman Alderts.
"Warna mata sangat indah, warna mata seperti kamu itu sangat langka lho" ucap Alderts menatap mata Pieter.
"Terima kasih om" ucap Pieter tersenyum.
"Iya dek, sama-sama" ucap Alderts tersenyum.
"Jika boleh saya tahu, almarhum ayah kamu berasal darimana?" tanya Alderts.
"Belanda om" ucap Pieter tersenyum.
"Wah sama dong, om juga orang belanda" ucap Alderts tersenyum.
"Iya om" ucap Pieter tersenyum.
"Kalau ibumu berasal dari negara mana?" tanya Alderts.
"Myanmar om" ucap Pieter tersenyum.
"Apakah ada anggota keluarga kamu yang memiliki warna mata yang sama dengan kamu?" tanya Alderts.
"Ada om" ucap Pieter tersenyum.
"Siapa?" tanya Alderts.
"Ibu saya om, mata ibu saya juga biru dan hijau seperti ini" ucap Pieter.
"Oh begitu" ucap Alderts menganggukkan kepala.
"Iya om" ucap Pieter tersenyum.
"Oh ya, besok om tunggu di rumah om ya jam 9 pagi" ucap Alderts.
"Siap om" ucap Pieter bersemangat.
"Om pulang ya, assalamualaikum" ucap Alderts tersenyum.
"Iya om wa'alaikumsalam, terima kasih ya om atas pekerjaannya, hati-hati dijalan om" ucap Pieter tersenyum.
"Iya dek, sama-sama" ucap Alderts tersenyum.
Pieter pun pulang ke rumahnya dengan perasaan senang.
"Assalamualaikum bu" ucap Pieter di depan rumah tetangganya.
"Wa'alaikumsalam, Pieter" ucap tetangganya tersenyum membukakan pintu.
"Ibu, aku ingin menjemput ibuku" ucap Pieter.
"Bagaimana pekerjaannya? sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya tetangganya.
"Sudah dapat bu, alhamdulillah" ucap Pieter tersenyum.
"Alhamdulillah terima kasih ya Allah" ucap tetangganya tersenyum.
Pieter pun tersenyum menatap tetangganya.
"Ibumu sedang tidur" ucap tetangganya.
"Tidak apa-apa, bu, biar Pieter menggendongnya saja" ucap Pieter.
"Oh oke" ucap tetangganya.
"Masuklah" ucap tetangganya.
"Iya bu" ucap Pieter tersenyum.
"Ini kursi rodanya, biar ibu antarkan ke kamarnya" ucap tetangganya memberikan kursi roda ibu Pieter.
"Terimakasih bu" ucap Pieter tersenyum.
"Iya" ucap tetangganya tersenyum.
Pieter menggendong ibunya secara perlahan dan meletakkannya di kursi roda agar ibunya tidak terbangun dari tidurnya.
"Ibu, terimakasih ya, sudah menjaga ibuku selama aku pergi mencari pekerjaan" ucap Pieter tersenyum.
"Iya nak, sama-sama" ucap tetangganya tersenyum.
Pieter pun mendorong kursi roda ibunya di ikuti oleh tetangganya. Sesampainya di depan rumah, Pieter kesulitan mengambil kunci rumah yang ada di dalam saku celananya.
"Maaf bu, bolehkah saya meminta tolong untuk mengambilkan kuncinya di saku celana saya" ucap Pieter.
"Oke" ucap tetangganya mengambil kunci rumah Pieter dan membukakan pintunya.
"Terimakasih bu" ucap Pieter tersenyum.
"Iya sama sama" ucap tetangganya tersenyum.
"Terima kasih bu, telah membantu saya" ucap Pieter tersenyum.
"Iya dek, sama-sama" ucap tetangganya tersenyum.
"Ibu permisi ya dek, assalamualaikum" ucap tetangganya tersenyum.
"Iya bu, wa'alaikumsalam" ucap Pieter tersenyum.
"Itu anak udah ganteng, sayang banget sama ibunya lagi, seandainya saja dia mau menjadi menantu ku" batin tetangganya sembari bibirnya tersenyum.
"Kenapa bu, senyum-senyum sendiri, obatnya habis" tegur salah satu tetangga.
"Enggak kok bu, saya duluan ya bu" ucap tetangga yang membantu Pieter tersenyum.
Keesokan harinya Pieter mencari rumah Alderts di alamat yang tertulis di kartu namanya. Namun, penjaga keamanan rumah Alderts tidak mengizinkan Pieter untuk masuk.
"Permisi mas, mas mau cari siapa ya? mau cari pemilik rumah ini atau mau ngapain ya berdiri di depan sana" ucap petugas keamanan.
"Saya mau cari om Alderts, apakah om Alderts ada di rumah?" tanya Pieter.
"Ada keperluan apa mencari tuan Alderts?" tanya security rumah Alderts.
"Ini pak, kemarin saya ketemu sama om Alderts di jalan, dan dia kasih saya kartu namanya, tuan Alderts bilang kalau dia sedang mencari asisten pribadi" ucap Pieter.
"Boleh saya lihat kartu namanya?" tanya security rumah Alderts.
"Ini Pak" ucap Pieter sambil menyerahkan kartu nama Alderts.
"Apa nama anda Brilian Pieter Cornelis?" tanya security Alderts.
"Iya pak benar, nama saya Brilian Pieter Cornelis" ucap Pieter tersenyum.
"Oh oke, silahkan masuk, anda sudah ditunggu oleh tuan Alderts" ucap security.
"Iya pak, terima kasih" ucap Pieter tersenyum.
Memasuki halaman rumah Alderts, ia terkesima dengan rumah Alderts yang seperti istana di negeri dongeng. Rumahnya sangat luas, mewah, dan rapi.
"Hanya memasuki pekarangannya saja sudah sebagus ini bagaimana di dalam rumahnya" batin Pieter sembari menatap sekelilingnya.
"Tokkkk... tokkkk... tokk... assalamualaikum" ucap Pieter mengetuk pintu Alderts.
"Wa'alaikumsalam" ucap Sarah membukakan pintu rumahnya.
Pieter yang langsung terpesona dengan kecantikan wajah Sarah terdiam dan bahkan matanya tidak berkedip sama sekali.
Pieter dan Sarah hanya terpaut usia 3 tahun. Sarah berusia 16 tahun dan Pieter berusia 19 tahun.
"Mau cari siapa?" tanya Sarah memecah keheningan diantara mereka.
Tidak ada jawaban dari mulut Pieter.
"Mas? kenapa kamu diam saja?" ucap Sarah menepuk pundak Pieter untuk menyadarkannya.
"Akh sorry, saya mencari pak Alderts" ucap Pieter tergagap.
"Ada keperluan apa mas mencari ayah saya?" tanya Sarah.
"Ini anaknya? cantik banget" batin Pieter dan matanya terus menatap Sarah dari atas kepala hingga ujung kakinya.
"Siapa yang datang Sarah?" tanya Alderts.
"Enggak tahu pah" ucap Sarah.
"Eh ada Pieter, ayok masuk nak" ucap Alderts tersenyum.
Ya terima kasih om.
"Bibi, tolong buatkan minuman untuk tamu saya" ucap Alderts kepada asisten rumah tangganya.
"Iya tuan" ucap asisten rumah tangganya.
"Kalau langsung kerja hari ini, bisa gak Pieter?" tanya Alderts.
"Iya om bisa" ucap Pieter antusias.
"Oh jadi namanya Pieter, dia sangat tampan, matanya sangat indah, definisi matamu melemahkanku" batin Sarah menatap Pieter.
"Permisi non Sarah, tuan, ini minumannya" ucap asisten rumah tangganya.
"Terima kasih bi" ucap Alderts tersenyum.
Iya sama-sama tuan, permisi tuan, non" ucap asisten rumah tangganya.
"Iya bi" ucap Sarah tersenyum.
"Oh jadi namanya Sarah" batin Pieter.
Setelah minum Alderts mengajak Pieter untuk ikut dengannya.
"Pieter, ikut saya sekarang" ucap Alderts.
"Oke om" ucap Pieter.
"Sarah, papah pergi dulu ya, assalamualaikum" ucap ayahnya tersenyum.
"Iya pah, wa'alaikumsalam" ucap Sarah tersenyum sembari mencium punggung tangan ayahnya.
"Pieter, saya seorang mafia dan anda akan menjadi asisten pribadi saya, Sarah sampai sekarang tidak tahu tentang pekerjaan saya. Semua asisten saya juga tidak diperbolehkan untuk memberitahu Sarah tentang hal itu, jika melanggar saya akan segera memberinya hukuman" ucap Alderts.
"Mafia? bukankah itu ilegal? tapi aku sangat butuh uang untuk makan, beli obat ibuku juga" batin Pieter.
"Gaji Anda 20.000.000, belum termasuk fasilitas rumah, mobil sport dan uang makan" ucap Alderts.
'Wah, gajinya besar sekali, aku bisa langsung kaya kalau kayak gini" batin Pieter.
"Jadi bagaimana Pieter?" tanya Alderts.
"Oke om, yang terpenting saya bisa bekerja om" ucap Pieter tersenyum.
"Oke, baiklah kalau begitu" ucap Alderts.
Pieter pun menemani Alderts dalam misi yang telah dia rencanakan sebelumnya.
Sore harinya Pieter pulang. Di dalam kamarnya, dia tidak bisa tidur, karena selalu memikirkan kecantikan wajah Sarah. Begitu juga dengan Sarah, Sarah juga memikirkan Pieter sejak pertemuan yang sangat singkat itu.
Kecantikan Sarah terlihat begitu sempurna di mata Pieter dan ketampanan Pieter terlihat begitu sempurna di mata Sarah. Keduanya saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka belum saling mengenal tetapi sudah saling mencintai satu sama lain, meskipun mereka tidak saling mengenal tetapi entah mengapa mereka mempercayai satu sama lain.
"Kalau saja aku menikah dengannya, anak ku pasti akan sempurna" ucap Sarah dan Pieter bersamaan di tempat yang berbeda.
"Tadi papah bilang kalau dia jadi asisten pribadinya, berarti dia bakal kesini lagi kan? ya, saya harus meminta nomor teleponnya, tetapi bukankah terlalu agresif jika wanita yang memulai terlebih dahulu?" Sarah berkata pada dirinya sendiri.
"Tapi kalau aku tidak minta minta nomornya sekarang, terus mau kapan lagi?, aku akan terus memendam perasaan ini dong?, hm, pria itu menyebalkan sekali, dia baru saja bertemu denganku tapi sudah berani bermain-main di hati dan pikiranku" ucap Sarah kesal.
"Lebih baik aku tidur saja, menemui pangeran yang pastinya jauh lebih tampan darinya, hm tapi dia juga sangat tampan, seperti sedang berada di negeri dongeng. Kulitnya putih, bersih, hidungnya lancip sekali dan memiliki warna mata yang berbeda. Ketampanan pangeran di negeri dongeng ada padanya, udah lah, kenapa jadi mikirin dia terus sih, belum tentu juga kan kalau dia disana juga mikirin aku" ucap Sarah tersenyum sendiri dan memejamkan matanya hingga tertidur.