Sarah

Sarah
Hasan Meninggal



''Mas, uang bulanan mana?" tanya Icha pada suaminya Hasan.


"Emang udah habis apa?" tanya Hasan.


"Ya habis lah mas, orang kamu cuma ngasih 10 juta doang, mana cukup mas? listrik untuk rumah sebesar ini aja udah 1 juta belum PAM, susu anak kamu, bayar ART, segala macem, gak cukup mas" ucap Icha.


"Dasar wanita tidak berguna kamu!! tidak bisa mengatur keuangan" bentak Hasan.


"Apa kamu bilang? aku gak bisa ngatur keuangan? kamu aja yang pelit, kira-kira dong mas, kita tinggal di perumahan elit, punya 1 ART, 1 baby sitter, 1 tukang kebun, 1 bodyguard, apa kamu kira uang 10 juta itu banyak mas? enggak mas" ucap Icha mendorong suaminya menyeringai.


"Udah mulai berani ya kamu sama aku?" tanya Hasan membentaknya.


"Kalau iya kenapa mas? kalau emang dompet pas-pasan ya minimal setia lah mas, kamu itu udah dompet pas-pasan sok-sokan memperbanyak wanita lagi, gak sadar-sadar ya kamu jadi lelaki? kamu itu udah berumur mas kalau gak bisa setia sama istri-istri kamu, siapa yang akan merawat kamu nantinya di hari tua" ucap Icha menyeringai.


Plakkk!! tamparan keras didapatkan oleh Icha.


Setelah menampar pipi Icha, Hasan pergi dari sana. Setelah kepergian Hasan, Icha mengacak-acak seluruh baju yang ada di lemari pakaian untuk mencari dimana sertifikat rumah yang ia tempati saat ini disimpan oleh Hasan, Icha berniat untuk menjual rumah itu dan membagi hasil penjualan rumah itu kepada Widya, dan Putri, istri mas Hasan yang lainnya.


Hasan yang pergi keluar bertemu dengan seseorang wanita cantik yang tengah duduk sendirian di bangku taman dan Hasan menghampirinya untuk bertukar nomor ponsel.


"Hai cantik, aku boleh duduk disini gak?" tanya Hasan tersenyum kepada seorang wanita yang tengah menangis sendirian di bangku taman.


"Iya mas boleh kok" ucap wanita itu menghapus air matanya dengan tisu.


"Asik!! dapet mangsa baru nih gw" batin wanita itu.


"Kamu kenapa nangis cantik?" tanya Hasan yang ingin menghapus air matanya namun ditepis.


"Gak apa-apa kok mas, hanya kemasukan debu aja jadi perih gitu deh" ucapnya tersenyum dan menghapus air matanya dengan tisu.


"Yang benar?" tanya Hasan.


"Iya mas" ucap wanita itu.


"Oh iya, nama kamu siapa? boleh kenalan gak?" tanya Hasan.


"Boleh kok mas, nama aku Celline" ucap wanita itu.


"Pantes cantik orang namanya aja Celline, sama-sama cantik" ucap Hasan memegang dagu wanita itu.


"Akh mas bisa aja deh" ucap Celline menepuk pundak Hasan tersipu malu.


"Kamu mau kemana habis ini?" tanya Hasan.


"Mau pulang mas" ucap Celline tersenyum.


"Aku antar ya cantik" ucap Hasan tersenyum mengangkat alisnya tersenyum.


"Boleh mas, emangnya gak ada yang marah?" tanya Celline.


"Gak ada dong, kan aku single" ucap Hasan tersenyum mengangkat alisnya.


"Akh masa sih mas? tanya Celline tersenyum mengalihkan wajahnya dari Hasan.


Hasan berdiri dan jongkok di sebelah Celline mengalungkan tangannya di bahu Celline.


"Aku antar kamu pulang ya sayang" ucap Hasan tersenyum.


"Iya mas" ucap Celline tersenyum dan mengangguk patuh.


"Gitu dong" ucap Hasan tersenyum dan mengelus pucuk kepala Celline.


Celline pun tersipu malu dan menundukkan kepalanya.


"Kenapa sayang?" tanya Hasan mengangkat sedikit dagu Celline.


''Gak apa-apa kok mas" ucap Celline.


"Ya udah yuk" ucap hasan terbangun dan membantu Celline berdiri dari tempat duduknya.


"Iya mas" ucap Celline" tersenyum.


Mereka pergi dari sana dengan tangan Hasan yang berada di pinggang Celline.


"Silakan cantik" ucap membukakan pintu dan menunduk mempersilakan Celline masuk ke dalam mobilnya.


"Bermobil nih cowok, tajir dong berarti" batin Celline menatap Hasan.


"Untung aja tadi gw udah pinjem mob sama Parjo kalau enggak pinjem mobilnya dia masa cewek secantik Celline gw ajak jalan kaki ya gak mungkin banget dong, ini semua gara-gara si Icha, gara-gara dia mobil terpaksa harus aku jual" batin Hasan.


Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah Celline.


"Mas itu rumah ku" ucap Celline menunjuk sebuah rumah di pinggir jalan.


Hasan pun memberhentikan mobilnya di depan rumah Celline.


"Makasih ya mas, mau masuk dulu gak mas?" tanya Celline.


"Boleh, tapi mobil ku parkir dimana?" tanya Hasan.


"Parkir di tempat kosong samping rumah ku aja mas" ucap Celline.


"Oke, aku parkir dulu" ucap Hasan.


"Iya mas" ucap Celline.


Setelah memarkirkan mobilnya, Hasan kembali untuk menemui Celline.


"Udah mas?" tanya Celline.


"Udah kok sayang" ucap Hasan menggandeng tangan Celline.


"Ya udah yuk masuk" ucap Celline tersenyum menuntun Hasan masuk ke dalam rumahnya.


"Iya sayang" ucap Hasan menyeringai.


"Apa aja deh terserah kamu" ucap Hasan tersenyum.


"Oke, tunggu sebentar ya mas, aku ambilkan dulu minumnya" ucap Celline.


"Iya sayang" ucap Hasan tersenyum.


Celline pergi ke dapur untuk mengambilkan minum namun belum selesai untuk membuatkan minum untuk Hasan, Hasan tiba-tiba datang memeluknya dari arah belakang yang membuat Celline terkejut.


"Akh mas Hasan, kirain siapa, ngagetin aja deh" ucap Celline terkejut.


Hasan mendekatkan wajahnya menatap Celline dan memeluknya, Celline mendorong tubuh Hasan dan menarik tangannya untuk berjalan mengikutinya. Celline mengajak Hasan ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.


Beralih ke kediaman Hasan, kini Icha telah menemukan sertifikat rumah Hasan, Icha segera pergi untuk menjual sertifikat rumahnya.


"Akh akhirnya yang aku cari ketemu juga" ucap Icha mencium sertifikat rumah yang berhasil ia temukan itu.


"Pak, saya mau jual rumah saya" ucap Icha pada seorang lelaki.


"Mau dijual berapa?" tanya laki-laki itu.


"Haduh mas Hasan beli tuh rumah berapa ya harganya? gak boleh sampai rugi nih aku, harus untung apalagi dibagi 3 juga sama mbak Icha dan mbak Putri" batin Icha.


"50 T" ucap Icha.


"50 triliun?" tanya lelaki itu.


"Iya pak" ucap Icha.


"Boleh saya lihat rumahnya dulu" ucap lelaki itu.


"Boleh pak, mari saya antar" ucap Icha tersenyum.


"Oke" ucap lelaki itu.


Setelah sampai di rumah Hasan, Icha menuntun lelaki itu untuk mengelilingi seluruh tepat yang ada di rumahnya. Pria itu mengangguk dan tersenyum setiap menatap beberapa tempat di dalam rumah itu.


"50 triliun sudah sama perabotan segala macam atau hanya rumah saja?" tanya pria itu.


"Sudah semua pak" ucap Icha tersenyum.


"Oke deal, saya beli rumah ini" ucap pria itu.


Icha yang mendengarnya sontak tersenyum bahagia dan menyerahkan sertifikat rumahnya ketika seluruh uang di transfer oleh pria itu.


"Apa sudah masuk uangnya?" tanya pria itu.


"Sudah pak, ini sertifikatnya" ucap Icha memberikan sertifikat rumah Hasan tersenyum lalu pergi dari sana.


"Mbak, rumah mas Hasan udah aku jual, minta nomor rekening mbak dong nanti aku transfer hasil pembagian dari rumah mas Hasan" notifikasi whatsapp dari Icha untuk Widya.


"Apa mas Hasan tahu kalau kamu menjual rumahnya" ucap Widya.


"Tidak mbak, biarkan saja, dia juga tidak memberikan mbak nafkah bukan?" tanya Icha.


"Iya sih" ucap Widya.


"Ya udah mbak kirimin ya nomor rekeningnya" ucap Icha.


"Oke" ucap Widya mengirimkan nomor rekeningnya pada Icha.


Icha pun mentransfer Widya uang sebanyak 5 triliun.


"Banyak banget Cha sampai 5 triliun" ucap Widya.


"Iya mbak" ucap Icha.


"Makasih ya Cha, kamu inget sama mbak, gak serakah seperti mas Hasan" ucap Widya.


"Iya mbak sama-sama" ucap Icha.


"Terus sekarang kamu tinggal dimana Cha?" tanya Widya.


"Di rumah ibuku mbak" ucap Icha.


"Oh gitu" ucap Widya.


"Iya mbak" ucap Icha.


"Mbak, rumah mas Hasan udah aku jual, minta nomor rekening mbak dong nanti aku transfer hasil pembagian dari rumah mas Hasan" notifikasi whatsapp dari Icha untuk Putri.


"Oke" balasnya.


"Udah masuk belum mbak uangnya?" tanya Icha.


"Makasih ya Cha" ucap Putri.


"Iya mbak sama-sama.


Icha memberikan Putri uang yang sama nominalnya dengan Widya yaitu 5 triliun. Ketika para istri Hasan tengah bahagia karena menikmati hasil penjualan rumahnya, Hasan justru tengah panik karena dia tidak bisa keluar dan tiba-tiba jantungnya merasakan sangat sakit, begitupun dengan Celline, Hasan dan Celline jatuh pingsan di dalam pelukan masing-masing.


Seminggu berlalu, tetangga Celline merasakan bau tidak sedap yang berasal dari rumah Celline dan mobil yang terparkir di depan rumah Celline juga tidak pernah pergi dari sana. Warga sekitar memeriksa ke dalam rumah Celline dengan ketua RT dan mereka terkejut melihat Celline dengan seorang pria membusuk tengah berpelukan. Warga pun berusaha untuk memisahkan mereka dan menguburkannya.


Warga mengambil ponsel Hasan yang tergeletak di lantai dan menghubungi panggilan terakhir di whatsapp yang bertuliskan "Icha".


"Assalamualaikum bu, saya ingin memberitahukan jika pemilik ponsel ini telah meninggal dunia di rumah tetangga saya" ucap tetangga Celline.


"Kirim saja alamatnya bu, nanti saya kesana" jawab Icha.


"Baik" ucap tetangga Celline mematikan telepon dan mengirimkan lokasi rumah Celline.


"Syukur deh itu buaya darat udah tewas" ucap Icha menyeringai.


Setelah mendapatkan lokasi rumah Celline, Icha kesana namun bukan untuk ke makam Hasan melainkan hanya untuk mengambil ponsel Hasan untuk menjualnya.