Sarah

Sarah
Abang



''Assalamualaikum Shivanya'' ucap Aji di depan rumah Shivanya.


''Wa'alaikumsalam, kenapa Ji?'' tanya Shivanya.


''Shivanya ke taman yuk, kita lomba balap sepeda, yang kalah harus traktir yang menang, gimana?'' tanya Aji.


''Ayo siapa takut, aku ambil sepeda dulu sebentar'' ucap Shivanya.


''Oke'' ucap Aji.


''Ayok Ji" ucap Shiva datang membawa sepedanya.


''Siap? 1... 2... ucap Aji.


''Aji curang banget kan belum 3 kok udah jalan'' ucap Shivanya kesal.


''Biarin yang penting menang wleee'' kata Aji mengejeknya.


''Begitu banget kamu sama aku" ucap Shiva.


''Bodoamat, coba kejar aku kalau bisa wlee'' kata Aji menjulurkan lidahnya.


''Oke, siapa yang takut'' ucap Shiva.


''Yeay aku menang'' kata Shivanya.


''Sesuai kesepakatan kita diawal yang kalah traktir makan yang menang berarti kamu traktir aku" kata Shivanya.


''Hm, oke'' ucap Aji.


''Kamu curang sih tadi jadi kalah deh'' kata Shivanya mengejeknya.


''Hm, ya ya'' ucap Aji.


''Ya udah ayok, kamu bilang kamuingin mentraktirku'' ucap Shiva.


''Iya bawel'' ucap Aji.


''Kenapa kamu sangat menyebalkan?" tanya Shivanya.


''Ya maaf kamu mau makan apa?'' tanya Aji.


''Aku mau itu'' kata Shivanya sambil menunjuk salah satu pedagang di sana.


''Apa? Bakso?'' tanya Aji.


''Tidak mau'' ucap Shivanya.


''Itu Aji di samping tukang ketoprak'' ucap Shivanya


''Kerak telur?'' tanya Aji.


''Iya'' ucap Shivanya tersenyum menganggukkan kepalanya.


''Ayo kalau mau beli'' ucap Aji menarik tangan Shivanya.


''Pak, 1 porsi harganya berapa?'' tanya Aji.


''10.000 dek'' ucap penjual kerak telur.


''Pak mau 2 ya'' ucap Aji.


''Pedas atas tidak dek?'' tanya penjual kerak telur.


''Sedang aja pak dua-duanya'' ucap Aji.


''Oke, tunggu ya dek, antri dengan yang lain'' ucap penjual kerak telur.


''Iya pak, nanti kalau pesanan saya sudah siap, tolong bawa ke bangku sana ya pak, saya tunggu di sana'' kata Aji.


''Ya'' ucap penjual kerak telur.


''Ini uangnya pak'' ucap Aji.


''Tunggu ya dek'' ucap penjual kerak telur.


''Ya pak'' ucap Aji.


''Ayo tuan putri Shivanya kita kesana'' ucap Aji.


''Iya'' ucap Shivanya dengan nada jutek.


''Sangat tidak ramah bintang lima'' ucap Aji.


''Bodoamat'' ucap Shivanya.


''Lucu sekali wajahmu seperti ini'' ucap Aji tersenyum.


''Apa sih Aji?'' tanya Shivanya memukul lengan Aji.


''Akh sakit tau!! jangan KDRT deh!!" ucap Aji


"Apa sih Aji, kita di taman tahu bukan di rumah, tidak ada tangga di sini, kan? Lagi pula, kita belum menikah" kata Shivanya kesal.


"Tidak begitu konsepnya Munaroh" ucap Aji.


"Siapa Munaroh?" tanya Shivanya.


"Siapa lagi kalau bukan kamu, sekarang aku sedang berbicara denganmu, sudah pasti kamu'' ucap Aji.


''Nama aku Shivanya Nerissa you know? not Munaroh okay?" tanya Shivanya jutek.


''Oh jadi nama kamu itu Shivanya Nerissa?'' tanya Aji.


''Tidak apa-apa, padahal saya tidak bertanya siapa nama anda" ucap Aji.


''Tidak apa memberitahukan siapa nama lengkap ku sebelum kamu menanyakan hal itu lagipula kamu itu tidak peka, harus aku yang memulai terlebih dahulu'' ucap Shivanya.


''Peka? apa itu peka?'' tanya Aji.


''Untuk hal sederhana seperti itu saja kamu tidak tahu" ucap Shivanya.


''Haha!! aku tahu, tapi aku hanya berpura-pura tidak tahu saja, apa kamu tidak mengerti akan hal itu?'' tanya Aji.


''Aku mengerti tidak seperti mu'' ucap Shivanya.


''Oh iya, nama aku Aji Farzan, nama kamu Munaroh saja, itu nama panggilan terbagus untuk mu duhai putri tidur atau mau dipanggil dengan sebutan putri tidur saja?'' tanya Aji.


''Saya tidak ingin tahu siapa nama anda, karena anda telah mengubah nama saya, anda harus membuatkan saya nasi tumpeng, siapa itu Munaroh? saya tidak mengenalnya'' ucap Shivanya.


''Hm, terus maunya dipanggil apa?'' tanya Aji.


''Princess'' ucap Shivanya.


''Jangan, itu terlalu bagus untuk mu'' ucap Aji.


''Hm, lalu apa?'' tanya Shivanya.


''Hm, bagaimana jika putri tidur saja atau queen of ngemil?'' tanya Aji.


''Apa sih aji? kok putri tidur sih? apalagi queen of ngemil, kayak kamu enggak aja, kamu kan juga sama'' ucap Shivanya kesal.


''Setelah kita pulang, aku akan segera mengunci pintu kamar dan pergi tidur, kamar anda nyaman untuk tidur'' ucap Shivanya.


''Apakah anda tidak memiliki kamar sendiri?'' tanya Aji.


''Kamar kamu nyaman Aji'' ucap Shivanya.


''Besok, bayar sewa kamar, oke?'' tanya Aji mengangkat alisnya.


''Mengapa anda begitu pelit Aji?'' tanya Shivanya kesal.


''Hanya bercanda, hidup anda terlalu serius haha!!" ucap Aji menertawakan Shivanya.


''Benar-benar menjengkelkan'' ucap Shivanya memalingkan wajahnya dari Aji.


''Muka anda sangat lucu jika seperti itu'' ucap Aji.


''Bodoamat'' ucap Shivanya.


''Tunggu di sini, saya ingin membeli minuman'' ucap Aji.


''Y'' ucap Shivanya.


''Oke'' ucap Aji.


''Permisi, apakah anda kekasih yang membeli kerak telur ini?'' tanya penjual kerak telur.


''Saya temannya pak, bukan pacarnya'' ucap Shivanya.


''Maaf, ini pesanannya'' ucap penjual kerak telur memberikan pesanan mereka.


''Iya pak terima kasih'' ucap Shivanya tersenyum menerima 2 piring kerak telur.


''Ya sama-sama, saya permisi'' ucap penjual kerak telur.


''Ya pak silahkan'' ucap Shivanya tersenyum.


''Ya'' ucap penjual kerak telur.


''Ini minuman mu, hm dia bengong lagi, Shivanya'' ucap Aji


''Ada apa? kamu mengagetkan aku saja'' ucap Shiva.


'''Aku panggil-panggil kamu daritadi tapi kamu tidak menjawab, kamu kenapa melamun?'' tanya Aji.


''Sepertinya bahagia sekali jika punya kakak laki-laki, jadi ada seseorang yang menemani aku kemana-mana, aku tidak kesepian di rumah sendirian lagi'' ucap Shivanya dengan tatapan mata sendu menatap seseorang yang ada di taman.


''Apakah kamu ingin memiliki kakak laki-laki?'' tanya Aji.


''Iya, saya sangat ingin memiliki saudara laki-laki tetapi anda tahu sendiri kan kalau saya adalah anak pertama'' ucap Shivanya.


''Ya sudah kalau begitu, kamu boleh kok memanggil ku dengan sebutan "kakak", ''abang", ''mas'' atau apapun itu, setidaknya dengan memanggil saya seperti itu, kamu bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara kakak laki-laki'' kata Aji sambil mengedipkan mata dan tersenyum.


''Betulkah?'' tanya Shivanya.


''Iya benar'' ucap Aji tersenyum.


''Terima kasih Ji'' kata Shivanya sambil menangis di pelukannya.


''Ya sama-sama, kok nangis sih dek? jangan nangis ya, senyum dong'' kata Aji sambil menarik bibirnya untuk membuatnya tersenyum.


''Iya Ji, kok Ji sih?'' kata Shivanya menampar keningnya sendiri.


''Mas Aji boleh gak?'' tanya Aji.


''Terserah kamu saja'' ucap Aji tersenyum.


''Oke mas Aji'' ucap Shivanya tersenyum.


''Makanannya dimakan, nanti keburu dingin, kalau baru matang kan enak, kalau dingin gak enak nanti kayak hambar gitu lho dek'' ucap Aji.


''Iya mas'' ucap Shivanya.