
Pagi hari tiba, Sinta telah terbangun dari tidur lelapnya. Sinta terkejut saat melihat tidak ada David disampingnya, ia berpikir jika David akan menyentuhnya dan menemaninya tidur, namun kenyataannya justru sebaliknya, David tidak ada disampingnya.
Sarah kembali ke rumah David untuk menyaksikan adegan Sinta yang menurutnya sangat menarik untuk dilihat itu.
''Mas David kemana ya? apa dia udah bangun? atau dari semalam dia tidak tidur dikamar ini ya? tapi kalau dia gak tidur disini, terus dia tidur dimana? siapa yang menggantikan pakaian ku?'' tanya Sinta pada dirinya sendiri.
''Mas David'' panggil Sinta keluar kamarnya.
''Eh non, udah bangun?'' tanya bi Siti.
''Udah bi, mas David kemana ya?'' tanya Sinta.
''Tuan David sudah pergi dari tadi pagi non, dia titip salam sama non, katanya maaf gak bisa nganterin non pulang karena dia ada urusan penting, katanya sih rekan kerjanya mengganti jadwal meeting mendadak. Oh iya, tadi tuan David menitipkan uang ini ke bibi katanya untuk non Sinta pulang'' jawab bi Siti.
''Iya bi makasih, berarti semalam mas David udah langsung pergi atau gimana bi?'' tanya Sinta.
''Semalam tuan David tidur dikamar tamu, karena tidak ingin menganggu tidur non Sinta'' jawab bi Siti.
"Oh gitu, kalau baju aku siapa yang ganti bi?'' tanya Sinta.
''Oh baju non Sinta, bibi yang menggantikan semalam karena permintaan tuan David, baju non Sinta lagi bibi jemur di depan, udah bibi cuci juga semalam'' jawab bi Siti.
''Oh gitu, makasih ya bi'' ucap Sinta.
''Iya non Sinta sama-sama, makanan juga sudah bibi siapkan dibawah" ucap bi Siti.
"Iya bi makasih'' ucap Sinta.
''Sama-sama non, bibi tinggal ya non, mau angkat pakaian yang udah kering" ucap bi Siti mengangguk dan tersenyum.
''Iya bi silakan'' balasnya tersenyum.
''Hm kirain bakalan tidur bareng gak tahunya malah pisah ranjang, percuma dong satu atap kalau beda ranjang'' gerutu Sinta.
''Dasar gatal, kenapa sih lu masih hidup aja? kesel gw jadinya sama lu'' ucap Sarah kesal.
Sinta pergi ke dapur untuk sejenak mengisi perutnya. Setelah kenyang ia mengambil kembali bajunya dan memakainya lalu pergi dari sana.
''Bi, saya pamit pulang dulu ya'' ucap Sinta.
''Iya non, hati-hati dijalan'' ucap bi Siti.
''Bajuku udah tak ambil ya bi'' ucap Sinta.
''Iya non'' ucap bi Siti.
''Assalamualaikum'' ucap Sinta.
''Wa'alaikumsalam'' ucap bi Siti tersenyum.
Sinta pun pergi dari rumah David dengan perasaan kesalnya. Ia kira akan mendapatkan hati David di malam itu namun, nyatanya David malah meninggalkannya.
''Kirain bisa jadi rumah kedua malah gw ditinggalin, belum juga apa-apa udah ditinggal hm'' ucap Sinta.
Rasakan kau tante Sinta, emang enak hah? dulu kamu merusak hubungan seseorang, sekarang kamu yang ditinggalin. "KARMA IS REAL" ucap Sarah.
Aku jadi penasaran banget deh sama karma kamu yang selanjutnya. "UPS SORRY" haha, ucap Sarah tertawa menutup mulutnya.
Sinta memesan taksi online untuk pulang ke rumahnya, setelah cukup lama menunggu, akhirnya taksi pesanannya tiba.
''Ibu Keysinta Indira ya?'' tanya driver taksi online.
''Iya pak'' ucap Sinta.
Sinta pun duduk di kursi belakang sejajar dengan kaca.
''Oh jadi nama tante Sinta itu Keysinta Indira? hm, papah udah lama nikah lagi sama dia, tapi aku baru tahu sekarang nama lengkapnya, karena driver taksi online pula'' ucap Sarah duduk di sebelah Sinta.
Driver taksi online yang sedang mengemudi dibuat tidak fokus, karena tidak sengaja melihat Sinta membenarkan bajunya dari pantulan gambar yang ada di kaca.
''Astagfirullahaladzim'' batin driver taksi online itu, dan berusaha untuk fokus mengemudi lalu menutup kaca itu, agar ia tidak salah fokus.
''Ini pak uangnya, makasih'' ucap Sinta tersenyum memberikan uang sesuai dengan yang tertera di aplikasi.
''Sama-sama'' ucap driver itu tersenyum dan mengantongi uang Sinta.
"Darimana saja kamu?" tanya Alderts sinis.
"Dari rumah teman mas'' ucap Sinta.
''Bohong kamu, tidak usah bohong ya kamu sama aku" ucap Alderts.
''Aku tidak bohong mas sama kamu'' ucap Sinta.
''Bohong itu dia pah, orang habis berenang bareng sama cowok lain di pantai dekat rumah kita, ceraikan saja dia pah'' timpal Sarah.
"Jika memang benar kamu dari rumah teman mu itu, mengapa kamu mengenakan pakaian seperti itu? siapa mobil yang mengantarkan mu tadi? pasti selingkuhan kamu kan?" tanya Alderts.
''Bukan mas, dia driver taksi online, liat aja tuh sendiri kalau tidak percaya'' ucap Sinta memperlihatkan layar ponselnya.
''Oke, jika mobil tadi benar taksi online lalu mengapa kamu mengenakan pakaian seperti itu?'' tanya Alderts.
Sinta hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Alderts.
'Kamu habis dari pantai kan pasti? ketemuan sama siapa saja kamu di pantai?'' tanya Alderts.
''Gak ketemuan sama siapapun mas" ucap Sinta.
''Iya sih, benar gak ketemuan sama siapapun karena gak sengaja ketemu di pantai, tapi beradegan'' ucap Sarah sinis.
''Yang bener?'' tanya Alderts.
''Iya mas beneran kok'' ucap Sinta.
''Ya sudah sekarang cepat kamu masuk dan ganti baju itu, lain kali aku tidak kamu berpakaian seperti itu lagi, kamu harus ingat jika kamu masih berstatus istri orang, paham kamu?'' tanya Alderts.
'Iya mas maaf" ucap Sinta menunduk.
''Masuk sana'' ucap Alderts.
''Iya mas, permisi'' ucap Sinta.
''Iya'' ucap Alderts sinis.
''Papah kenapa sih? giliran sama dia aja kayak suami takut istri, giliran sama mamah udah kayak serigala kelaparan, kasar banget, bingung aku sama papah, apa jangan-jangan papah kena peletnya tante Sinta ya? eh tapi apa tante Sinta pakai pelet? mungkin aja sih, mas tadi langsung kepincut seketika jatuh cinta sama tante Sinta'' ucap Sinta menggaruk kepalanya dan masuk ke dalam rumah Alderts.
Sarah yang mulai mencurigai Sinta pun berniat untuk mencari tahunya. Malam itu bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, Sinta memasuki suatu ruangan yang gelap, Sarah terus mengikutinya. Sinta menyalakan lilin yang mengitari sebuah wadah. Sinta mengeluarkan bunga dari dalam tas nya dan mulai membakar kemenyan, tak lama kemudian sosok laki-laki bertubuh hitam, tinggi, dan besar datang dan tertawa.
Sinta melepaskan kain yang menempel di tubuhnya dan tertidur. Sarah yang melihat Sinta melakukan hal itu pun dibuat tidak percaya, Sarah yang ketakutan segera pergi dari sana sebelum makhluk itu menyadari kehadirannya.
''Ternyata benar dugaan ku, ada yang tidak beres dengan tante Sinta, ternyata selama ini dia pakai pelet? papah salah satu korban dari tante Sinta? kasian banget papah, semoga aja papah cepat mengetahui akan hal ini, kalau tidak nyawa papah bisa terenggut oleh makhluk itu'' ucap Sarah.
Sarah berusaha memberitahu pada Alderts dengan menuliskan sesuatu di cermin menggunakan sebuah lipstik.
3 kali usaha memegang lipstik, ia selalu gagal dan lipstik itu selalu terjatuh namun Sarah tidak menyerah begitu saja dengan penuh usaha dan tekat yang kuat akhirnya Sarah bisa memegang lipstik itu.
''Jauhi tante Sinta, dia wanita tidak baik, dia sudah menduakan mu, berduaan dengan pria lain dibelakang mu, dan ia mempunyai ilmu hitam, dan kamu menjadi salah satu dari korbannya'' kata-kata yang Sarah tuliskan dengan lipstik di cermin yang ada di kamar Alderts.
Setelah menuliskan itu Sarah pun pergi dan memantau di luar jendela kamar.
Alderts keluar dengan rambut yang masih basah. Alderts terkaget membaca tulisan yang ada di cermin itu, dan ia jadi mengingat Sarah.
''Siapa yang menuliskan ini dengan lipstik? tulisannya seperti tulisan Sarah, tapi tidak mungkin Sarah yang menuliskan ini, aku sendiri yang mengantarkan dia untuk dimakamkan, lantas siapa yang menulis ini? kemana lagi Sinta? sudahlah itu tidak penting lebih baik aku tidur saja'' ucap Alderts pada dirinya sendiri kebingungan.
Sarah yang mendengar semua perkataan Alderts pun dibuat sedih, ia tidak menyangka jika Alderts paham betul jika itu adalah tulisannya.
''Aku kira papah tidak pernah menyayangi ku lagi sejak kehadiran tante Sinta ternyata aku salah, papah bahkan tahu, jika itu adalah tulisan ku namun mengapa papah mengabaikan tulisan itu? aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada papah, aku sudah berusaha untuk memberitahukannya, namun papah malah mengacuhkannya begitu saja, aku harus tetap tinggal disini untuk menjaga papah dari tante Sinta'' ucap Sarah tersenyum dengan tatapan mata sedih.
Sarah pergi ke kamarnya dulu saat ia masih tinggal bersama Alderts. Disana masih ada fotonya yang terpasang di bingkai yang sangat besar, Sarah merebahkan tubuhnya ke atas kasur menatap jendela hingga pagi hari tiba.