
Callista dan Sinta yang melihat Shivanya menolak tawaran emas seperti itu pun sangat kesal.
"Itu orang sombong banget sih, bisa-bisanya dia nolak tawaran emas seperti itu, liat aja lu besok Shiv, habis besok lu sama gw" ucap Callista menunjuk ke rumah Shivanya kesal.
"Udah yuk balik" ucap Sinta.
"Ayok" ucap Callista.
Keesokan harinya, Callista menjambak rambut Shivanya dan melemparnya hingga terjatuh.
"Akh.... !" ucap Shivanya kesakitan.
"Kamu benar-benar bodoh kemoceng menolak tawaran emas seperti itu, ngerasa cantik banget apa lu, jelek aja juga belagu banget" ucap Callista dengan suara keras.
''Apa maksudmu Callista?'' tanya Shivanya bingung.
''Kamu pikir kami bodoh hah? kami melihat semuanya kemarin di depan rumah lu yang gak seberapa itu, lu nolak tawaran pak Haris kan, sutradara terkenal itu, padahal pak Haris menawarkan lu tawaran untuk bermain di film-nya sebagai karakter utama, apa lu merasa sangat cantik hah? sampai menolak tawaran emas seperti itu" ucap Callista mendorong Shivanya.
''Soal itu sih, aku nggak boleh sama orangtuaku bukan sok cantik Callista, Sinta' kata Shivanya.
''Sombong sekali lu jadi manusia'' ucap Callista mendorongnya ke tanah.
''Akh'' ucap Shivanya mengerang kesakitan saat lututnya berdarah tergores lantai yang rusak.
''Sini lu bangun kemoceng ikut sama gw'' ucap Callista dan Sinta menarik Shivanya.
''Akh sakit Cal, Sin, lepaskan, kamu mau bawa aku kemana?'' tanya Shivanya kesakitan karena Callista dan Sinta menggenggam tangannya terlalu erat.
''Callista, Sinta mau apa kita ke toilet?'' tanya Shivanya.
''Akh Cal udah, maaf'' ucap Shivanya memohon pada Callista untuk tidak menenggelamkan kepalanya ke dalam ember dan membenturkan kepalanya ke dinding kamar mandi lagi.
"Callista udah nanti, anak orang mati lagi, lu terus siksa kayak gitu" ucap Sinta.
''Tak apa, bukannya bagus ya kalau anak ini mati?" tanya Callista smirk menatap Sinta dan kembali membenturkan kepala Shivanya ke dinding kamar mandi.
''Jika dia meninggal, kita yang akan dapat masalah Callista mikir dong" ucap Sinta.
''Hm, kau benar juga, ayo kita pergi dari sini, tinggalkan saja dia di dalam sini" ucap Callista.
Sinta dan Dinda pun pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di depan rumah, Callista langsung masuk ke dalam rumahnya dan bertabrakan dengan ibunya karena kesal dengan Shivanya.
"Callista, kamu kenapa?" tanya ibunya.
''Aku masih kesal dengan teman sekolahku mah" ucap Callista.
''Siapa sayang?" tanya ibunya.
''Shivanya mah" ucap Callista.
''Shivanya?" tanya ibunya kebingungan karena nama mereka sama.
"Iya mah" ucap Callista.
''Namanya sama kayak mamah" ucap ibunya.
''Iya mah, aku kesal banget sama dia mah" ucap Callista.
''Kenapa sayang?'' tanya ibunya.
"Dia sok banget cantik mah" ucap Callista .
''Sok cantik? kenapa sayang?" tanya ibunya.
Terdengar ketukan pintu dari luar rumah.
''Assalamualaikum mah" ucap Altezza memasuki rumah dan langsung mencium punggung tangan ibunya.
'Wa'alaikumsalam' ucap Shivanya.
"Kok gw ditinggalin sih deh?" tanya Altezza.
"Gak tahu akh kesel banget gw sama si Shivanya" ucap Callista.
"Kenapa lagi deh?" tanya Altezza.
"Masa ya dia tuh nolak tawaran pak Haris" ucap Callista.
"Pak Haris siapa? yang namanya Haris banyak dek" ucap Altezza.
"Itu lho bang, pak Haris sutradara terkenal itu" ucap Callista.
"Wait... ! Shivanya ditawarin main film sama pak Haris?" tanya Altezza.
"Iya bang jadi pemeran utama lagi dan lu tahu? dia nolak tawaran itu" ucap Callista.
"Hanya karena itu kamu kesal dengan teman mu itu Callista?" tanya ibunya.
Callista hanya menatap ibunya.
"Sudah ya sayang, jangan kesal lagi, setiap orang punya jalannya masing-masing, dan semua orang berhak untuk memilih pilihan mana yang terbaik untuknya dari banyaknya pilihan, terbaik untuk kamu belum tentu itu yang terbaik untuk orang lain" ucap Shivanya mengelus pucuk kepala Callista tersenyum.
Callista yang mendengar perkataan ibunya semakin kesal dan meninggalkan mereka.
"Udah biarin mah, emang Callista kan kayak gitu anaknya" ucap Altezza.
"Iya sayang" ucap Shivanya tersenyum.
"Mah, Altezza ke kamar dulu ya" ucap Altezza.
"Iya sayang" ucap Shivanya tersenyum.
Keesokan harinya, mereka pergi ke rumah Shivanya Nerissa atas keinginan Roshni Callista dan betapa terkejutnya Shivanya Ayuningtyas melihat wajah gadis itu sangat mirip dengan foto Fredericka saat masih kecil. Fredericka tidak pernah ditemukan saat dia jatuh di tengah laut. "Mungkinkah Fredericka hidup kembali dalam tubuh yang berbeda? mungkinkah Shivanya, teman sekolah putrinya Callista adalah reinkarnasi dari kakak tirinya yaitu Fredericka? tidak ada satu perbedaan pun yang terlihat di wajah mereka. Akankah Shivanya tumbuh menjadi seperti Fredericka?" batin Shivanya Ayuningtyas bertanya-tanya hingga tanpa sadar matanya berlinang air mata.
''Callista, Altezza, tante'' ucap Shivanya tersenyum dan berlari untuk mencium punggung tangan Shivanya Ayuningtyas ibu Callista.
Shivanya Ayuningtyas diam mematung menatap wajah Shivanya Nerissa.
"Mamah kenapa diam saja? mamah... !" ucap Callista mengayunkan tangan ibunya yang masih diam mematung.
Callista yang kesal langsung pergi meninggalkan ibunya yang masih terdiam dan tidak berkata apa-apa.
Ibu Callista yang melihat Callista berlari tiba-tiba tersadar dan berlari mengejar kepergiannya.
Callista yang sedang berlari kencang, tidak melihat bahwa di depannya ada mobil yang melaju kencang ke arahnya.
"Callista awas" teriak Shivanya berlari mendorong Callista agar menjauh dari sana.
Callista pun kesal karena didorong oleh Shivanya dan menunjuk padanya, tetapi dia terkejut melihat Shivanya jatuh ke tanah dengan darah mengalir di sepanjang jalan. Shivanya dan Altezza yang baru saja tiba segera menghampiri Shivanya yang sedang dikerumuni warga sekitar.
"Pak, bu tolong bawa gadis itu ke mobil saya, biar saya yang bawa dia ke rumah sakit" ucap Shivanya Ayuningtyas.
Warga sekitar menggendong tubuh Shivanya Nerissa menuju mobil Shivanya Ayuningtyas dengan darah yang terus mengalir membanjiri jalanan.
"Pak, lebih cepat lagi bawa mobilnya kasian dia" ucap Shivanya Ayuningtyas pada supir pribadinya.
Shivanya Ayuningtyas masih memeluk Shivanya Nerissa yang terbujur kaku dan mencoba menghentikan pendarahan di kepalanya. Callista dan Altezza pun bingung melihat ibunya kenapa sangat peduli pada Shivanya, bahkan tidak peduli padanya. Callista yang melihatnya hanya bisa memendam rasa sakit di hati dan kakinya yang terluka karena Shivanya mendorongnya tadi.
''Dokter, suster tolong'' ucap Shivanya Ayuningtyas panik menggendong Shivanya Nerissa.
Suster pun membawa Shivanya Nerissa ke ruang perawatan untuk ditangani oleh dokter.
Shivanya Ayuningtyas tak henti-hentinya meneteskan air mata seolah-olah sudah sangat lama melihat Shivanya meski baru bertemu sekali.
Shivanya Ayuningtyas yang duduk dan menatap Callista pun terkejut melihat kaki putrinya yang terluka, Shivanya segera mengobati luka di kaki putrinya.
''Mah, mengapa mamah begitu khawatir pada Shivanya? seolah-olah mamah sudah sangat lama mengenal Shivanya, apa mamah pernah bertemu Shivanya sebelumnya?" tanya Callista.
''Mamah pernah bercerita tentang Fredericka Nerissa kakak mamah, apakah kamu ingat itu?" tanya Shivanya pada anaknya.
"Iya mah, ku ingat kok sama kak Fredericka, apa hubungannya Shivanya dengan kak Fredericka?" tanya Callista.
''Tunggu sebentar" ucap Shivanya mengeluarkan ponsel dari tasnya.
''Lihat ini" ucap Shivanya menunjukkan foto seorang anak yang sangat mirip dengan Shivanya Nerissa.
''Shivanya? kenapa mamah menyimpan fotonya? apa mamah sudah lama mengenal Shivanya?" tanya Callista.
"Coba liat dek" ucap Altezza merebut handphone yang Callista pegang.
"Mirip banget Shivanya" ucap Altezza terkejut.
"Bukan, ini adalah foto Fredericka Nerissa ketika ia kecil, kakak mamah yang menghilang beberapa tahun lalu di tengah laut, yang jasadnya tidak pernah ditemukan hingga saat ini" ucap Shivanya Ayuni meneteskan air matanya.
''Apa? kenapa mirip banget sama Shivanya mah?" tanya Callista menatap foto Fredericka saat kecil itu sekali lagi.
"Mamah juga heran nak, kenapa wajah mereka sangat mirip makanya mamah diam dan tidak berkata apa-apa karena mamah sangat kaget melihat kemiripan wajahnya dengan kak Fredericka" ucap Shivanya Ayuningtyas meneteskan air matanya.
"Maaf ya mah, Callista gak tahu" ucap Callista merasa bersalah.
"Iya sayang gak apa-apa kok" ucap Shivanya tersenyum menganggukkan kepalanya mengelus pucuk kepala anaknya.
"Sekarang kita pergi ke rumahnya yuk sayang, beritahu pada orangtuanya" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Callista dan Altezza kompak.
''Assalamualaikum" ucap Shivanya Ayuni mengetuk pintu rumah Shivanya Nerissa.
''Wa'alaikumsalam" ucap ibu Shivanya membuka pintu rumahnya.
''Kamu siapa? ada keperluan apa ya?'' tanya ibu Shivanya.
''Putri ibu mengalami kecelakaan saat mencoba menolong putri saya" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Papah... ! Rissa kecelakaan pah... !" ucap ibunya histeris.
"Apa? kecelakaan?" tanya ayahnya terkejut.
"Iya pak" ucap Shivanya Ayuningtyas.
''Astagfirullahaladzim ayok kita ke sana sekarang'' ucap ayah Shivanya membantu ibunya berdiri.
Mereka pergi ke rumah sakit dengan mobil Shivanya. Ayuningtyas.
Ibunya yang melihatnya langsung lemas dan jatuh tersungkur di lantai rumah sakit.
Ibu Shivanya pun dirawat di rumah sakit yang sama karena dia tidak sadarkan diri setelah melihat keadaan putrinya yang terbujur kaku dengan alat yang terpasang ditubuhnya.