
"Callista, nanti surat sakit Shivanya kamu bawa ya kasih ke guru kamu atau ke wali kelas kamu aja" ucap Shivanya Ayuningtyas.
"Apaan sih mah, kenapa jadi aku deh yang ngasih suratnya si Shivanya'' ucap Callista kesal.
"Kan kalian sekelas gimana sih kamu" ucap ibunya.
"Tapi mah... ! kenapa harus aku? kan kak Eja juga sekelas sama si Shivanya, males banget aku ngasih suratnya si kemoceng" ucap Callista kesal.
"Kemoceng? siapa yang kamu sebut kemoceng? Shivanya? kamu manggil Shivanya kemoceng?" tanya ibunya.
''Aaaa... !" ucap Callista terhenti.
"Callista... ! jawab pertanyaan mamah, siapa yang kamu sebut kemoceng? kamu panggil Shivanya kemoceng?" tanya ibunya.
Callista terdiam ketakutan menatap Altezza disampingnya.
"Callista jawab...!" ucap ibunya dengan nada tinggi.
"Iya mah, kenapa emangnya kalau aku panggil Shivanya itu kemoceng?" tanya Callista.
"Astagfirullahaladzim, Callista keterlaluan ya kamu" ucap ibunya yang ingin menampar Callista kesal.
"Mah, jangan... !" ucap Altezza menangkap tangan ibunya.
"Setelah Shivanya tersadar nanti kamu harus minta maaf sama dia" ucap ibunya.
Callista hanya terdiam mematung.
"Callista, dengar apa yang mamah katakan tadi?" tanya ibunya.
Callista yang tidak terima dengan perlakuan ibunya langsung pergi dari sana tanpa menjawab ucapan ibunya.
"Callista... ! mau kemana kamu?" tanya ibunya.
Callista hanya berbalik menatap ibunya dengan tatapan mata kesal dan langsung pergi dari sana.
"Astagfirullahaladzim ini anak 1 ya" ucap Shivanya Ayuningtyas menghela nafas panjang.
"Mah, Altezza pamit ya, mau ngejar kepergian Callista, assalamualaikum" ucap Altezza mencium punggung tangan ibunya dan berlari mengejar kepergian Callista.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati nak" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Altezza.
"Eja tunggu!" panggil ibunya.
"Iya mah, ada apa?" tanya Altezza.
"Surat Shivanya bawa ya" ucap ibunya.
"Iya mah" ucap Altezza memasukkan surat sakit Shivanya ke dalam tasnya.
"Callista berhenti!" panggil Altezza.
Callista hanya menatap sekilas Altezza dan langsung pergi.
Altezza berlari dan memegang tangan Callista, Callista pun menghentikan langkahnya.
"Lepaskan tangan gw!" ucap Callista.
"Gak!, gw gak akan lepasin tangan lo" ucap Altezza.
"Udah gw bilang lepasin" ucap Callista.
"Gw akan lepaskan tangan lu, kalau lu mau diem sebentar dengerin gw, gimana?" tanya Altezza.
"Oke, gw dengerin, awas lu ya kalau sampai ucapan lu itu gak penting" ucap Callista menunjuk Altezza emosi.
"Oke" ucap Altezza melepaskan tangan Callista.
"Ada apa hm?" tanya Callista.
"Kenapa lu jadi kayak gitu sama mamah?" tanya Altezza.
"Kayak gitu gimana hah?" tanya Callista.
"Kenapa lu jadi jahat kayak gitu?" tanya Altezza.
"Emangnya mamah peduli sama gw? bukannya mamah cuma peduli sama lu doang ya? Bright Altezza, anak kesayangan mamah" ucap Callista berlinang air mata.
"Lu salah paham soal itu" ucap Altezza.
"Salah paham lu bilang? oh iya? hm, udah jelas banget kok semuanya, kalau mamah itu cuma sayang sama lu, enggak sama gw" ucap Callista mendorong Altezza.
"Mamah itu sayang sama kita" ucap Altezza.
"Oh iya? kita? bukannya lu?" tanya Callista membuang wajahnya.
"Iya, kita, bukan hanya gw" ucap Altezza.
"Apa buktinya hah? gw denger kok apa yang mamah bilang waktu dia sendirian menatap foto papah, mamah cuma sayang sama lu doang, gak sama gw" ucap Callista meneteskan air matanya.
"Apa maksud lu?" tanya Altezza.
"Udah lah itu gak penting, kalau gw cerita juga gak akan merubah apapun yang ada" ucap Callista meneteskan air matanya dan pergi dari sana.
Callista hanya menatap Altezza dengan air mata yang terus menetes. Altezza menghampiri Callista dan memeluknya.
"Sepertinya mereka anak yang baik hanya saja kurang adanya kasih sayang yang membuat mereka jadi jahat pada Shivanya Nerissa" ucap Lia menatap Altezza dan Callista.
"Kita ke sekolah bareng yuk" ucap Altezza menghapus air mata Callista.
"Iya" ucap Callista menganggukkan kepalanya.
"Bu Kinara tunggu" panggil Altezza berlari mengejarnya.
"Iya Altezza ada apa?" tanya bu Kinara.
Callista pun berlari mengejar Altezza yang menghampiri bu Kinara.
"Eh itu kan Altezza sama Callista ngapain mereka sama bu Kinara, tumben banget, rekam kali ya? rekam aja deh kali aja ada gosip yang lagi nge-hits" ucap Sinta smirk melihat mereka dari kejauhan.
"Aku mau ngasih surat ini bu" ucap Altezza.
"Surat apa ini Altezza?" tanya bu Kinara.
"Ini surat sakitnya Shivanya bu" ucap Altezza.
"Lu bawa suratnya?" tanya Callista terkejut.
"HUST! nanti aja" ucap Altezza.
"Shivanya sakit apa Altezza?" tanya bu Kinara.
"Shivanya kecelakaan bu" ucap Altezza.
"Hah? gw gak salah denger nih? si kemoceng kecelakaan?" tanya Sinta bingung.
"Astagfirullahaladzim, kecelakaan? kok bisa?" tanya bu Kinara.
"Hm, sebenarnya Shivanya kecelakaan karena nolongin Callista bu, Shivanya tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri yang akhirnya membuat ia tertabrak oleh mobil" ucap Altezza.
"Jadi si kemoceng kecelakaan gara-gara Callista? wow ada gosip baru nih" ucap Sinta dalam hati dan smirk.
"Astagfirullahaladzim, terus gimana sekarang kondisinya?" tanya bu Kinara.
"Kata dokter Shivanya kritis bu" ucap Altezza.
"Nanggung banget sih pakai kritis segala, kenapa gak sekalian dead aja" batin Sinta.
"Astagfirullahaladzim, kasian sekali anak itu" ucap bu Kinara.
"Nanti pulang sekolah, kalian temenin ibu ya ke rumah sakit tempat Shivanya dirawat" ucap bu Kinara.
"Iya bu" ucap Altezza.
"Itu kan Sinta, ngapain dia disitu? dia ngerekam pembicaraan Altezza sama bu Kinara? songong banget tuh anak, berani-beraninya dia sama gw" batin Callista kesal.
"Ikut gw" ucap Callista menarik tangan Altezza.
"Mau kemana sih? tunggu sebentar" ucap Altezza.
"Cepat!" ucap Callista.
"Bu, kita duluan ya assalamualaikum'' ucap Altezza.
"Iya wa'alaikumsalam" ucap bu Kinara.
Callista membawa Altezza ke suatu tempat Sinta pun mengikuti kepergian mereka.
"Kenapa lu pakai bilang kayak gitu tadi hah?" tanya Callista kesal.
"Kan bu Kinara nanya" ucap Altezza.
"Lu tahu gak sih? tadi itu ada Sinta" ucap Callista.
"Jadi Callista sadar tadi gw ngerekam percakapan mereka? mampus gw, gw harus secepatnya pergi nih dari sini" ucap Sinta berlari menjauh dari tempat itu.
"Ya terus kenapa kalau ada Sinta?" tanya Altezza.
"Lu gak tahu Sinta itu orangnya kayak gimana? dia itu gak bisa dipercaya orangnya" ucap Callista.
"Maksud lu dia ember gitu?" tanya Altezza.
"Iya, dia ember banget orangnya, nanti kalau sampai dia ember masalah ini gimana?" tanya Callista kesal.
"Ya udah sih biarin, emang kenapa?" tanya Altezza.
"Emang kenapa lu bilang? kalau nanti gw di judge gimana?" tanya Callista.
"Tenang, ada gw kok" ucap Altezza.
Hm.
"Udah yuk masuk ke kelas, udah bel masuk tuh" ucap Altezza.
"Hm iya" ucap Callista.