
Sebelum jam istirahat berakhir, Kienzy mengajak teman-temannya untuk pergi ke suatu tempat
"Eh guys! temenin gw yuk!" ajak Kienzy.
"Ke mana?" tanya Zora.
"Udah ayok ikut aja!"
"Hm oke!"
Zora, Finley, Berlin, Olivia, dan Kirana pergi menemani Kienzy.
Kienzy membeli sebuah lem tikus di pasar yang berada di dekat sekolahannya.
"Lem tikus? bakal apaan lu? rumah lu banyak tikusnya emang?" tanya Finley.
"Bukan buat rumah gw! tapi lem tikus ini buat tuh si anak baru yang sombong itu!"
"Oh! jadi lu mau ngerjain si Nadia lagi nih ceritanya?"
"Iya! ya udah yuk balik!"
"Oke!"
Mereka kembali ke sekolah dan masuk lebih dulu dibanding siswa lain. Kienzy langsung mengolesi bangku Nadia dengan semua lem tikus yang ia beli.
Jam istirahat berakhir dan semua siswa pergi ke kelas masing-masing.
Nadia duduk di bangkunya dan para pembully di kelasnya menahan tawa ketika melihat Nadia.
"Kok mereka pada ketawa-ketawa gitu sih? emang ada yang aneh ya sama gw?" batin Nadia bertanya-tanya dan langsung mengeluarkan kaca dari dalam tas.
"Perasaan gak ada yang salah deh sama gw, kenapa mereka ketawa-ketawa kayak gitu ya? apa jangan-jangan..." Nadia langsung memegangi baju belakangnya.
"Hm gak ada apa-apa di sini, akh udahlah! mungkin emang mereka orang yang kurang waras aja kali ya!" batin Nadia menatap Kienzy dan teman-temannya.
Setelah beberapa jam pembelajaran, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu waktu pulang sekolah.
Nadia mengemas barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas, ketika hendak ingin berdiri, Nadia mengalami kesulitan bergerak.
"Haduh kenapa gak bisa gerak ya? apa jangan-jangan daritadi itu rombongan Kienzy menertawakan aku karena hal ini? mereka sengaja ingin mengerjaiku! akh kurang ajar! awas ya kalian nanti!" gerutu Nadia sembari terus berusaha lepas.
Guru kelasnya sudah ke luar lebih dulu dan hanya menyisakan Nadia saja yang masih kesulitan berdiri. Rombongan Kienzy pun kembali ke dalam kelas.
"Ada apa Nadia? kok gak pulang sih? segitu cintanya ya sama sekolah ini sampai gak mau pulang hm?" tanya Kienzy menertawakan Nadia.
"Gw tahu kalau ini semua ulah kalian!" ucap Nadia.
"Apa buktinya kalau ini ulah kita hm? kamu gak ada bukti apapun! tidak usah menuduh kami yang tidak-tidak!"
"Tidak usah berbohong padaku, aku tahu seberapa licik kalian semua! cepat lepaskan aku!"
"Gak bisa, lem itu sudah menempel sangat erat, bahkan di anak kursinya sudah tidak akan bisa ditarik karena lem itu sangat kuat! cobalah sendiri jika kamu bisa!"
"Sialan kau Kienzy! terus gimana caranya aku lepas dari sini?"
"Hm maaf aku gak tahu! kamu pikirkan saja bagaimana caranya ya, selamat bersenang-senang di ruang kelas sendirian! kita pulang! bye bye Nadia!"
Kienzy mengunci pintu kelas agar tidak ada yang bisa menolong Nadia.
"Jangan dikunci pintunya! hei buka pintunya!" teriak Nadia.
"Sial! gw dikerjain lagi sama mereka! lihat aja lu ya nanti! tunggu pembalasan gw! tapi gimana caranya gua ke luar dari tempat ini?" tanya Nadia melihat ke sekelilingnya.
Nadia ingin mencoba mengambil gunting yang tergeletak di bawah lantai dengan berusaha menjatuhkan dirinya agar ia bisa mengambil gunting itu. Nadia terjatuh dan sedikit demi sedikit mulai berusaha meraih gunting itu dan akhirnya gunting itu pun berhasil ia ambil, Nadia berusaha untuk menggunting tali itu sekuat tenaga, akhirnya tali di tangannya terlepas. Nadia langsung membuka tali yang mengikat kakinya. Tangan dan kakinya berhasil terlepas, tapi tidak dengan rok yang ia kenakan. Nadia berusaha berdiri dan berjalan perlahan ke arah jendela sembari memegangi kursi yang menempel itu.
Tidak ada satupun orang yang melintas. Nadia kembali ke belakang untuk mengambil gunting yang tadi ia pakai. Nadia menggunting rok yang ia pakai agar bisa terlepas dari kursi, namun celana pendek yang ia gunakan juga ikut menempel, akhirnya Nadia menggunting celana pendeknya juga. Nadia berusaha berdiri, namun ternyata lem itu juga ikut menempelkan ****** ***** yang ia pakai. Nadia sempat berpikir lama apakah ia akan menggunting ****** ***** yang ia pakai juga atau tidak, dan akhirnya Nadia menggunting ****** ***** yang ia pakai.
Kini Nadia hanya memakai baju seragamnya saja dan tidak ada sehelai kain pun yang menutupi bagian bawahnya. Nadia berjalan santai ke depan pintu karena ia berpikir tidak ada orang lagi di sekolah itu. Nadia berusaha membuka pintu itu dengan mencongkelnya dengan gunting, namun usahanya sia-sia, Nadia yang stres pun berbalik badan dan menarik rambutnya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang. Nadia berdiri dan mengetuk-ngetuk pintu dengan keras, pintu itu pun terbuka. Nadia tersenyum karena saking senangnya, namun ia lupa jika dia tidak mengenakan celana sedikitpun yang menutupi bagian bawahnya, ternyata orang yang membukanya adalah Kienzy dan teman-temannya. Sontak Nadia langsung menutupinya dengan kedua tangannya.
"Ini pakai! gw tahu lu pasti akan melakukan hal ini! gw cuma pengen ngerjain lu doang kok, bukan berniat untuk mempermalukan lu!" ucap Kienzy tersenyum kecil memberikannya rok panjang untuk Nadia.
"Ayok gw anter pulang!" ajak Kienzy.
"Gak usah! makasih!"
"Tenang aja! kita gak akan ngapa-ngapain lu kok hm!" ucap Kienzy tersenyum mengangkat alisnya.
"Oke!"
Nadia pun ikut bersama dengan Kienzy dan benar saja, Kienzy mengantarkan Nadia hingga ke depan pintu rumahnya.
"Hm baik yang aneh! apa sebenarnya rencana dia yang selanjutnya?" batin Nadia bertanya-tanya menatap Kienzy sinis.
"Thanks!" ucap Nadia ketus.
"Sama-sama!" jawab Kienzy tersenyum manis.
Kienzy dan teman-temannya pun pergi dari rumah Nadia.
Beralih ke Sarah, di sekolah barunya, ia juga di bully oleh teman-temannya, namun kali ini berbeda, Sarah ditinggalkan sendirian di tengah-tengah hutan. Sarah berjalan menyusuri hutan sembari mencari sinyal di ponselnya. Sarah akhirnya berhasil menemukan sinyal dan langsung menghubungi ayahnya, untuk memberitahunya jika saat ini ia sedang tersesat di tengah hutan karena ditinggalkan oleh teman-temannya.
"Assalamualaikum pah!" ucap Sarah.
"Wa'alaikumsalam nak, kamu kok belum pulang? ada apa sayang? kamu dikerjain lagi ya sama-sama teman-teman kamu?"
"Iya pah, sekarang Sarah ada di tengah-tengah hutan, Sarah gak tahu jalan ke luarnya, papah jemput Sarah ya! Sarah takut sendirian di sini!"
"Share aja lokasi kamu sayang, papah ke sana sekarang juga!"
"Iya pah!"
Alderts mematikan panggilan teleponnya dan Sarah pun mengirimkan lokasinya.
"Kamu tunggu di situ aja ya Sarah, papah ke sana sekarang! jangan ke mana-mana sayang!" ucap Alderts.
"Iya pah" jawab Sarah.
Alderts dan para anak buahnya pergi ke hutan tempat Sarah tersesat.
Sarah melihat sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan, lalu melihat ke bawah serta pohon untuk memastikan apakah ada semut atau hewan lain. Sarah pun duduk dengan alas jaket yang ia pakai sembari menunggu kedatangan ayahnya.