Sarah

Sarah
Bertemu Dengan Nyi Roro Kidul



Keluarga Fredericka beserta Aji dan Sasha pergi berlibur ke pantai selatan.


Di pinggir pantai Shivanya melamun memikirkan perkataan Fredericka yang selalu bergema di telinganya. Shivanya yang melamun perlahan-lahan maju ke dalam air laut dan meneteskan air matanya. Aji yang menyadari jika Shivanya semakin berjalan ke lautan pun menariknya.


'Mbak jangan' ucap Aji menarik tangan Shivanya.


Shivanya pun menghempaskan tangan Aji dengan tatapan kosong berlinang air mata dan kembali berjalan ke dalam lautan. Antara depresi atau kerasukan penunggu lautan itu Shivanya tidak menghiraukan perkataan siapapun.


'Mbak jangan' ucap Sasha menghentikan langkah kaki Shiva.


Shivanya menghempaskan tangan Sasha dengan kencang hingga membuat terjatuh.


'Akh' jerit Sasha.


Kamu gak apa-apa sayang? tanya Aji.


Aku gak apa-apa kok mas, tolongin kak Shiva mas.


Iya sayang.


Aji pun menggendong Shiva dan membawanya menjauhi air laut, Shivanya memberontak, memukul-mukul bahu Aji namun Aji menghiraukannya. Aji menurunkan Shivanya ke daratan namun Shivanya kembali berlari ke arah lautan, Aji memeluknya dari belakang yang membuat langkahnya tertahan. Shivanya memukul-mukul tangan Aji dan berusaha melepaskan pelukannya namun tenaga Aji terlalu kuat darinya. Shivanya pun berteriak histeris dan jatuh tersungkur di atas tanah.


Argh!!! teriakan Shivanya kencang.


Sasha berlari untuk memeluknya, Shivanya pun memeluknya dan menangis di pelukan Sasha.


Ayah dan ibunya pun memeluk Shivanya berusaha menenangkannya. Setelah Shivanya tenang, mereka kembali ke rumahnya. Aji membantu membangunkan Shivanya dan menuntun langkah kakinya yang lemah. Shivanya melihat ke arah belakang dengan berlinang air mata dan penuh dendam, Shivanya melepaskan tangan Aji dan berlari ke arah laut kembali.


'Keluar kamu, keluar kamu penguasa pantai selatan, aku tidak takut padamu, kembalikan kak Ika padaku, yang seharusnya kamu ambil itu mas Hasan si penghianat itu bukan kakak ku, kenapa kamu tega mengambil kakak ku? apa salahnya? dia tidak ada salah apapun padamu, mengapa kamu menghukumnya? kembalikan kak Ika dan bawa saja mas Hasan untuk menggantikan kak Ika, kembalikan kak Ika, DO YOU HEAR ME? aku tahu kamu dengar suaraku kan disana? aku mohon kembalikan kak Ika, jangan hukum raganya atas kesalahan yang dilakukan oleh laki-laki penghianat itu, yang seharusnya kamu hukum adalah laki-laki penghianat itu, HEI, kenapa kamu gak datang juga? hah? kenapa? penakut sekali kamu, sini datang, temui aku, aku ingin berbicara padamu' teriakan Shivanya kencang meneteskan air matanya dan jatuh tersungkur di pinggir lautan.


'Shiva jangan' ucap ibunya mengajaknya pergi namun Shiva menolak.


'Biarkan saja mah, biar dia dengar, jika kak Ika gak salah, mengapa dia menghukum seseorang yang tidak bersalah sama sekali? kenapa bukan mas Hasan saja mah? mas Hasan pantas dihukum olehnya karena mas Hasan tidak punya hati nurani sedikit pun, dia sangat pantas untuk dihukum mah, bukan kak Ika, hei penguasa pantai selatan keluar kamu, aku ingin bertemu dengan mu' teriakan Shivanya meneteskan air matanya.


Tak lama kemudian laut mulai mengalami perubahan, ombak bergelombang perlahan menghampirinya.


'Enggak mah, aku mau disini saja, aku ingin bertemu dengannya. Dia harus tahu kalau kak Ika tidak bersalah dan apa yang dia lakukan dengan menahan raga kak Ika di istananya itu perbuatan yang salah mah yang seharusnya ia hukum adalah mas Hasan, laki-laki yang telah tega menghabisi nyawa orang lain hanya karena kebahagiaannya sendiri bukan kak Ika' ucap Shivanya berlinang air mata.


Ombak itu pun berhenti di depannya, muncul cahaya hijau yang sangat menyilaukan mata di tengah-tengah ombak, tak lama kemudian ratu penguasa pantai selatan datang untuk menghampirinya.


Ada apa kamu memanggilku Shivanya Ayuningtyas? tanya ratu penguasa pantai selatan.


Darimana kamu tahu namaku? tanya Shiva.


Dari siapa lagi kalau bukan kakak mu.


'Kembalikan raga kak Ika, kamu salah menahan raga seseorang yang seharusnya kamu tahan adalah raga mas Hasan, laki-laki yang tidak punya hati nurani itu bukan kak Ika, kembalikan kak Ika padaku' ucap Shivanya emosi.


'Jika aku kembalikan raganya itu pun sudah percuma Shivanya, karena sejatinya kakak mu itu telah tewas saat Hasan menenggelamkannya ke tengah lautan' ucap ratu pantai selatan tersenyum.


Shivanya menatapnya penuh amarah.


Oke, jika kamu mengatakan jika kak Ika telah tewas pada saat mas Hasan menenggelamkannya ke dalam laut lalu mengapa kamu menahan raganya? mengapa kamu tidak mengembalikan raganya pada kami?


Karena dia gadis yang sangat baik, dia gadis yang sangat tulus dan aku menyukainya, aku ingin dia menjadi putri ku.


Kamu tidak bisa melakukan hal itu, dia kakak ku bukan putri mu, kembalikan raga kak Ika.


Kamu ingin Fredericka Nerissa kembali bukan, aku akan mewujudkannya, nanti akan ada seorang gadis yang sangat mirip dengan kakak mu, dan kamu akan merasakan jika Fredericka Nerissa itu hidup kembali di raga yang lain dan jiwa Fredericka Nerissa juga akan selalu berada disamping kalian beserta hasil dari reinkarnasinya, aku memberikan kalian kebahagiaan dengan melahirkan kembali Fredericka Nerissa di tubuh yang berbeda tapi kamu malah mengatakan jika aku jahat padamu? aku tahu kalian sangat menyayangi Fredericka Nerissa dan aku pun juga menyayanginya seperti anak ku sendiri makanya aku menghidupkannya lagi di tubuh yang berbeda tetapi dengan sifat yang sama seperti sifat Fredericka Nerissa, kalian pasti akan merasakan jika Fredericka selalu ada di samping kalian.


Yang kita inginkan adalah kamu kembalikan raga kak Ika.


Jika aku kembalikan raga Fredericka pada kalian, gadis itu akan mati, apa kalian tega merusak kebahagiaan seseorang hanya karena sebuah raga yang sudah tidak bernyawa? nyawa Fredericka telah berpindah ke tubuh gadis itu, gadis itu adalah Fredericka, hanya saja dengan keluarga dan lingkungan yang berbeda tetapi suatu saat gadis itu akan bertemu pada kalian dan kalian akan merasakan kehangatan yang sama seperti kehangatan Fredericka, lagipula itu permintaan Fredericka.


Apa maksudmu?


Aku memberinya tawaran kembali hidup menjadi manusia dengan menyebrangi lautan yang dipenuhi segala macam bahaya atau tetap tinggal disini dan hidup kembali di raga yang berbeda, dan Fredericka memilih untuk hidup kembali di raga yang berbeda karena ia tidak bisa berenang dan ia sangat takut ketika melihat ikan hiu berlalu lalang di depan istana ku, itu bukan kesalahan ku sepenuhnya, aku hanya memberinya pilihan dan kakak mu sendiri yang memilih untuk melakukan hal itu bukan atas dasar paksaan dari ku.


Shivanya yang mendengar pun diam mematung tanpa berkata satu kata pun, lalu ratu penguasa pantai selatan kembali ke istananya. Shivanya hanya bisa menatap kepergian ratu pantai selatan dan tidak percaya atas pilihan Fredericka. Mereka pun pergi dari sana dan kembali ke penginapan.