
"Apa yang kalian lakukan?" tanya ibu Shivanya sambil menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah mereka berdua.
''Sini tidur, nakal banget'' ucap mas Amir sambil mencubit hidung Shivanya.
''Akh mas Amir, sakit tahu, nanti kalau hidung aku jadi pesek gimana?" tanya Shivanya.
''Siapa yang bilang kamu mancung? kamu itu pesek tahu'' ucap mas Amir mencubit hidung Shivanya lagi.
''Aku mancung tahu, tidak seperti mas Amir" ucap Shivanya kesal.
''Ya, tidak seperti saya karena saya mancung, kamu pesek'' ucap mas Amir mencubit hidung Shivanya.
''Akh sudah, sakit tahu mas Amir, hidungku merah tuh liat'' ucap Shivanya di depan cermin.
''Merah kayak badut, tinggal pakai baju badut dan rambut badut ke depan perempatan sana, pasti banyak yang nonton haha'' ucap mas Amir tertawa.
''Sungguh menyebalkan kamu jadi saudara, kamu bukan saudaraku lagi, aku tidak memiliki saudara jahat seperti mu mas Amir'' kata Shivanya dengan membelakanginya.
"Yah kan ngambek, maaf ya, maaf dek, nggak ada balon lagi, kalau mau ngambek besok aja dek biar bisa beli balon dulu" ucap mas Amir membujuknya.
''Siapa anda ngatur-ngatur saya? terserah saya apakah saya ingin merajuk sekarang atau besok'' katanya.
“Udah ayok tidur, sudah malam” ucap mas Amir sambil mengelus puncak kepala Shivanya dari belakang.
Zzz... Zzz... zz
''Good night dek" ucap mas Amir sambil mencium puncak kepala Shivanya.
''HELP!! HELP ME PLEASE!!'' ucap wanita misterius sambil terisak tangis.
''Kok ada suara cewek minta tolong sih? suaranya kayak suara wanita tadi yang ada di dalam sumur deh, tapi tadi aku cek sama mas Amir gak ada hm'' ucap Shivanya terbangun dari tidurnya.
''Tolong aku... keluarkan aku dari sini'' ucap wanita misterius sambil terisak tangis.
''Tuh kan benar ada suara yang meminta pertolongan, tapi siapa itu?" tanya Shivanya yang bergegas menghampiri asal suara.
''Tolong saya" ucap seorang wanita.
"Hm, baru jam 2 pagi apa yang kamu lakukan mbak?'' tanya Shivanya bingung
"Tolong aku" ucap wanita misterius itu sekali lagi.
''Iya aku tolongin, sabar dong, kamu ada dimana?" tanya Shivanya.
"Aku ada di dalam sumur ini, aku mendengar suaramu dari dalam sini, aku ingin mengambil senter dulu tapi kenapa kamu malah meninggalkanku di sini?" tanya wanita misterius itu dengan suara serak dari dalam sumur.
"Saya dan mas Amir kembali untuk memeriksa bagaimana keadaan kmu dibawah sana, tapi saya melihat tidak ada orang satupun di dalam sumur, mas Amir juga tidak melihat siapa pun di dalam sana, jadi kami pergi meninggalkan kamu" ucap Shivanya.
''Cepat bantu aku" ucap wanita misterius itu.
''Ya, tapi saya nolongin kamu pakai apa? tunggu sebentar kak, Shivanya cari talinya dulu" ucap Shivanya dari atas sumur.
''Cepat'' ucap wanita misterius itu.
"Mbak, pegang talinya, biar Shivanya menariknya dari atas sini" ucap Shivanya dari atas sumur.
"Iya" ucap wanita misterius itu dari dalam sumur.
''Ah, ini sangat berat, tolong'' ucap Shivanya, jatuh ke dalam sumur dan berpegangan pada bagian atas sumur.
''HIHIHI!!'' ucap wanita misterius itu terbang dari dalam sumur sambil tertawa dengan tatapan mata penuh amarah.
''Jadi mbak itu kuntilanak bukan manusia, lalu kenapa aku menolong mu?, mbak kenapa minta tolong kalau bisa terbang melayang?, mbak juga udah meninggal kan? jadi tidak ad pengaruh apapun jika mbak berada dibawah sana" ucap Shivanya kesal.
"Mbak tolong bantu Shivanya naik ke atas" ucap Shivanya sat merasa tangannya sangat sakit dan pegal karena menggantung diatas sumur.
''Kamu naik saja sendiri, aku ingin pergi, siapa yang menyuruhmu untuk membantuku kan aku hanya ingin mengerjai mu, dasar bodoh, aku pergi dulu, selamat tinggal, HIHIHI!!'' ucapp wanita misterius itu menertawakannya lalu terbang melayang menjauhi Shivanya.
''Mamah, papah, mas Amir, tolong Shivanya'' ucap Shivanya terisak tangis.
''Mas Amir tolong Shivanya mas, tangan Shivanya sakit mas" ucap Shivanya.
"Di mana kamu Shiv?" tanya mas Amir yang mendengar suara Shivanya.
"Di dalam sumur mas, cepat mas Amir, tangan Shivanya sakit" ucap Shivanya saat pegangannya diatas sumur hampir terlepas.
''Shiva'' ucap mas Amir yang menarik tangan Shivanya yang terlepas dari genggamannya dan hampir terjatuh ke dalam sumur.
"Mas, tangan Shivanya sakit" ucap Shivanya merintih kesakitan.
''Ayo naik dek, dikit lagi kamu pasti bisa, mas gak akan lepaskan tangan kamu dek" ucap mas Amir sambil mengangkat satu kaki Shivanya keluar dari sumur.
Sesampainya di atas, Amir segera menggendong Shivanya dan membawanya ke dalam kamarnya.
"Ini, kamu ganti baju dulu, baju kamu kotor, mas tunggu di luar ya" ucap mas Amir sambil memberikan sepasang pakaian kepada Shivanya.
''Iya mas" ucap Shivanya mengangguk patuh.
Tak lama kemudian Shivanya memanggil mas Amir "mas" panggilnya.
''Sudah selesai?" tanya mas Amir didepan pintu.
''Iya mas" ucap Shivanya.
''Kenapa kamu jatuh ke dalam sumur dek? emang tadi kamu lagi ngapain? kok bisa jatuh?" tanya mas Amir sambil mengelus puncak kepala Shivanya.
''Aneh kenapa dek?" tanya mas Amir.
''Wanita itu bisa terbang mas" ucap Shivanya.
"Astagfirullahaladzim, dia bukan manusia dek" ucap mas Amir sambil menepuk keningnya.
''Lalu apa jika dia bukan manusia?" tanya Shivanya terheran.
''Dian kukun" ucap mas Amir.
''Nama wanita itu kukun mas? Bagaimana mas tahu jika nama wanita itu adalah kukun, mas Amir kenal dimana sama wanita itu?" tanya Shivanya terheran.
''Kukun itu.. besok aja mas jelasinnya" ucap mas Amir.
"Akh mas Amir kenapa besok sih?" tanya Shivanya kesal.
"Intinya dia bukan manusia, ini baru jam 2 pagi, kita cek ke sumur tadi gak ada kan?, nggak ada orang lain'' ucap mas Amir sambil menepuk keningnya.
''Iya terus?" tanya Shivanya.
"Masih gak paham juga?" tanya mas Amir.
"Enggak" ucap Shivanya menggelengkan kepala.
"Hm, ya udah yuk kita sholat tahajud aja" ucap mas Amir.
''Tapi mas saya kotor, saya jatuh ke dalam sumur kan tadi" ucap Shivanya.
''Ya udah, mau mandi dulu enggak? kuat gak kamu mandi jam segini?" ucap mas Amir.
''Iya mas" ucap Shivanya.
"Ya sudah kamu mandi dulu aja" ucap mas Amir.
"Iya mas" ucap Shivanya beranjak pergi dari tempat tidurnya ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Shivanya keluar dari kamar mandi.
''Sudah selesai mandinya?" tanya mas Amir.
''Sudah mas" ucap Shivanya.
''Sudah berwudhu belum?" tanya mas Amir.
''Sudah mas" ucap Shivanya.
''Ya sudah mas ke kamar mandi dulu, mau ambil wudhu, ingat kalau ada suara gak dikenal abaikan saja" ucap mas Amir.
Hm.
Beberapa menit kemudian mereka selesai melaksanakan sholat tahajud.
''Mas, Shivanya ngantuk, boleh tidur lagi gak?'' tanya Shivanya sambil menguap.
''Ya sudah, kalau kamu mau tidur lagi tidak apa-apa" ucap mas Amir.
''Oke mas" ucap Shivanya.
"Iya dek" ucap mas Amir.
''Oh ya mas, jangan bilang orang tua Shivanya ya mas, Shivanya takut dimarahin karena mereka tidak percaya pada hal-hal seperti itu" ucap Shivanya.
''Hm oke, itu artinya talinya harus dikeluarkan dulu dari dalam sumur biar orangtua mu tidak tahu" ucap mas Amir.
''Iya mas" ucap Shivanya.
''Sebentar mas simpan talinya dulu, tunggu disini kalo ada suara abaikan saja ya ingat" ucap mas Amir.
''Iya mas" ucap Shivanya.
Beberapa saat kemudian, mas Amir kembali ke kamar.
''Sudah mas?, tali itu disembunyikan dimana?" tanya Shivanya.
''Sudah dek, mas sembunyikan di kebun belakang" ucap mas Amir.
''Kalau mamah sama papah Shivanya tahu gimana mas?" tanya Shivanya.
"Orangtua mu tidak akan tahu karena berada di kebun tempat pembuangan sampah, jadi orang tua kamu tidak akan curiga" ucap mas Amir.
''Hm oke mas, Shivanya tidur dulu ya mas, ngantuk" ucap Shivanya.
''Iya, selamat malam eh kok malam sih? selamat pagi, tapi masa pagi tidur lagi" ucap mas Amir bingung.
''Sama aja mas Amir, ribet banget sih" ucap Shivanya kesal.
''Hehe iya iya dek" ucap mas Amir tertawa.
Mereka pun tertidur sampai siang hari.
''Sepupu rasa saudara kandung beneran. Sungguh kisah yang sangat romantis dan indah untuk dikenang. Kalau saja aku punya saudara seperti Amir mungkin aku tidak kesepian lagi tapi aku hanya punya Fredericka dan Fredericka kini hilang seperti ditelan bumi. Jika benar Shivanya adalah reinkarnasi dari sahabatku Fredericka, aku berharap hidupnya akan selalu bahagia tidak berakhir menyedihkan seperti kisah cinta Fredericka. Fredericka, aku berjanji padamu, aku akan menjaga Shivanya jika benar dia adalah hasil dari reinkarnasi mu. Fredericka, bisakah kita bertemu sebentar saja?, aku juga sangat merindukanmu dan Sarah pun juga sangat merindukanmu. Dimana kamu Fredericka? Aku sungguh merindukanmu. Kembalilah Fredericka, aku mohon, kembalilah kepada kami. Fredericka, kamu adalah orang yang sangat baik tetapi mengapa dia jahat kepada kamu?, Fredericka, saya yakin, kamu pasti pernah mendengar suara saya kan? kembalilah Fre, kumohon" ucap Lia sedih.