Sarah

Sarah
Aleta Hamil



"Al kamu mau kemana?" tanya ibu Aleta yang melihat Aleta ingin pergi.


"Aleta mau pergi ke pengadilan mah"


"Mau ngapain nak?"


"Mau gugat cerai mas Hasan mah, Aleta udah gak tahan lagi hidup bersama mas Hasan" kata Aleta yang langsung meneteskan air mata menggelengkan kepalanya.


"Hasan kenapa lagi nak? dia nyakitin kamu lagi?" tanya ayahnya menepuk pundak Aleta.


"Iya pah, berulang kali kamu memergoki mas Hasan bermesraan dengan wanita lain dan sudah berulang kali juga mas Hasan mengatakan jika ia ingin menikahi selingkuhannya itu, mas Hasan bahkan membawa selingkuhannya ke dalam rumah ini, tanpa rasa malu sedikitpun, mas Hasan berhubungan badan dengan selingkuhannya di dalam kamar ku pah, mah, mas Hasan juga mengatakan jika aku hanyalah istri hitam diatas putihnya mah, sebatas istri yang tercatat di pengadilan agama pah, mah, mamah sama papah benar, jika seharusnya aku tidak pernah membawa mas Hasan lagi masuk ke dalam rumah ini setelah kepergiannya waktu itu" kata Aleta sesenggukan.


Ibunya dengan segera memeluknya. Aleta nangis sesenggukan di pelukan ibunya.


"Mamah sama papah selalu dukung keputusan kamu nak, alhamdulilah akhirnya takdir membukakan mata kamu untuk melihat semua kebusukan suami mu itu"


"Iya mah, Aleta berangkat dulu ya mah, pah, assalamualaikum" kata Aleta tersenyum dan langsung mencium punggung tangan orang tuanya.


"Iya nak wa'alaikumsalam" ucap ibunya menepuk pundaknya.


"Wa'alaikumsalam kamu hati-hati Al" kata ayahnya menepuk pundaknya.


"Iya pah" jawab Aleta tersenyum.


Baru saja ingin meninggalkan rumah, Aleta merasakan sangat mual dan ingin muntah.


"Huek! huek!"


"Kamu kenapa Al?" tanya ibunya menghampiri.


Aleta masih terus memegangi perutnya dan menatap ibunya.


"Gak tahu nih mah, perut aku mual banget rasanya"


Ibu Aleta seketika menetap suaminya.


"Apa jangan-jangan kamu hamil nak" kata ayahnya.


"Apa? hamil? enggak! Aleta gak mau hamil anaknya mas Hasan mah, pah" kata Aleta menggelengkan kepalanya.


"Kita harus periksa sekarang ke dokter biar lebih jelas semuanya"


"Iya pah"


"Kalau sampai Aleta hamil, Aleta tidak bisa menggugat cerai mas Hasan" kata Aleta meneteskan air mata menatap orangtuanya dan memegangi perutnya.


Aleta memeriksakan kondisinya ke dokter di temani oleh kedua orangtuanya.


"Dokter gimana anak saya?" tanya ibu Aleta panik.


"Pak, bu, tenang ya, anak bapak dan ibu tidak sakit apapun kok, anak bapak dan ibu mual-mual seperti itu karena anak bapak dan ibu sedang hamil, bukan karena penyakit apapun kok" kata dokter tersenyum dan menepuk pundak kedua orangtua Aleta.


Mendengar perkataan dokter sontak membuat orangtua Aleta terkejut dan saling menatap satu sama lain. Bagaimana tidak terkejut, karena hari itu adalah hari yang sudah Aleta rencanakan untuk menggugat cerai Hasan suaminya karena selalu bermain gila dengan banyak wanita bahkan di depan matanya sendiri, tetapi takdir malah menggagalkan rencananya dengan membawa kabar kehamilannya. Orangtua Aleta sontak berlari menghampiri Aleta. Aleta terlihat sangat syok dan menangis tersedu-sedu. Ibu Aleta segera memeluknya.


"Mah kenapa ini semua terjadi? kenapa takdir malah menggagalkan rencana ku untuk menggugat cerai mas Hasan dengan berita kehamilan ini?" tanya Aleta tersedu-sedu.


"Yang sabar ya nak, ini semua sudah ketentuan takdir, semoga dengan kabar kehamilan mu ini, Hasan bisa lebih memperhatikan mu, dan mengubah semua tingkah lakunya" kata ibu Aleta tersedu-sedu memegang kedua wajah Aleta.


"Itu tidak mungkin mah, mas Hasan sudah menikahi dua wanita dan berpacaran dengan banyak wanita, bagaimana bisa laki-laki seperti mas Hasan itu bisa berubah mah? itu tidak mungkin mah" kata Aleta tersedu-sedu.


"Apa nak? Hasan memiliki dua istri? tahu darimana kamu?" tanya ayahnya terkejut.


Aleta pun membuka ponselnya dan menunjukkan foto pernikahan Hasan bersama dengan kedua istri barunya. Melihat foto itu sontak membuat kedua orangtuanya terkejut.


"Pah kenapa Allah menghukum anak kita seperti ini pah? dosa besar apa yang kamu lakukan nak? sampai-sampai takdir memberikan mu ujian sebesar ini" kata ibu Aleta tersedu-sedu.


Mendengar perkataan ibunya membuat hati Aleta semakin sakit.


"Jangan bicara seperti itu mah, takdir tidak mungkin merencanakan semua ini jika Aleta itu adalah seseorang yang lemah, Allah tidak akan pernah memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya, Allah percaya Aleta kuat mah, mamah jangan berkata seperti itu lagi ya, jika Allah saja percaya, kita juga harus percaya, karena di setiap ujian pasti akan selalu ada hikmahnya, sehabis hujan pasti akan ada cahaya terang yang akan menyinarinya" kata suaminya menepuk pundak istrinya.


"Iya pah" kata istrinya menatap istrinya.


Ayah Aleta berusaha menenangkan istrinya dan juga Aleta yang nampak sangat tidak terima mendengar berita kehamilannya itu.


"Kenapa anak ini harus ada mah, pah?" tanya Aleta tersedu-sedu.


"Anak itu tidak salah Al, jangan pernah menyalahkan anak mu itu, biar gimanapun juga dia adalah darah daging mu, walaupun takdir menghadirkannya di tengah-tengah badai kehidupan mu, kamu harus bisa menerima anak mu, jika nanti selama kamu mengandung hingga melahirkan anak itu, kita akan ke pengadilan agama, kamu boleh menggugat cerai Hasan jika tidak ada perubahan dan rasa penyesalan sedikitpun dari dirinya" kata ayahnya.


"Iya pah" kata Aleta menganggukkan kepalanya menatap perutnya dan mengelusnya.


"Fredericka" kata Aleta.


"Fredericka siapa nak?" tanya ayahnya.


"Ketika mas Hasan bersama salah satu kekasihnya, kekasihnya mengatakan pada Hasan untuk meminta uang kepada Fredericka saja, tapi aku tidak tahu siapa Fredericka dan dimana ia tinggal"


"Kamu harus mencari tahu tentangnya nak, jangan sampai ia jatuh lebih dalam lagi ke dalam bujuk rayuan Hasan"


"Benar nak kata papah mu itu, mamah rasa jika wanita bernama Fredericka itu tidak mengetahui segala kebusukan Hasan, kamu harus mencari tahu tentangnya, kamu harus menceritakan semua kebusukan Hasan, agar tidak ada wanita lain lagi yang terjerat seperti mu Al"


"Iya mah" kata Aleta menganggukkan kepalanya.


"Selamatkan lah wanita yang bernama Fredericka itu nak, jangan sampai ia terhanyut dalam perasaannya kepada Hasan, jangan sampai ia menjadi korban selanjutnya nak, kamu harus lakukan segala macam cara untuk menyelamatkan wanita itu nak, karena papah sangat yakin jika ia sama sekali tidak mengetahui segala keburukan suami mu itu nak, bantulah dia untuk keluar nak, sadarkan ia jika ia telah mencintai seseorang yang salah, ceritakan semuanya kepadanya jika kamu adalah istrinya dan Hasan pergi meninggalkan mu lalu menikah dengan wanita lain, papah sama mamah akan membantu kamu nak untuk menemukan wanita bernama Fredericka itu" kata ayahnya tersenyum menepuk pundak Aleta.


"Makasih pah, mah" kata Aleta tersenyum.


"Iya nak" kata ayahnya tersenyum.