Sarah

Sarah
Aleta Ingin Menggugat Cerai Hasan



Hasan bertemu dengan seorang wanita berbaju seksi di taman. Wanita itu langsung memeluknya. Aleta yang tidak sengaja melintas pun melihat mereka berpelukan. Aleta langsung merekam semua kejadian yang ada dengan ponselnya.


"Sayang, aku minta uang dong" kata wanita itu dengan nada manja sembari memeluk Hasan dan menyandarkan kepalanya di bahu Hasan.


Hasan yang mendengar sontak melepaskan pelukan wanita itu dan wanita itu pun terkejut karena Hasan mendorongnya.


"Kamu kan baru aku kirimin uang yang, untuk apalagi uang itu?"


"Sayang, uang yang kemarin kamu kasih ke aku itu udah habis untuk aku pergi ke salon, mempercantik diri, kan kalau aku cantik juga kamu yang senang, gak malu punya pacar cantik kaya aku iya kan?"


"Ya iya sih aku senang punya pacar cantik kayak kamu tapi aku lagi gak ada uang yang, kan kamu tahu kalau aku punya tiga istri mana cukup uang aku sayang"


"Kan istri pertama kamu kaya mas, pacar kamu yang lain juga kaya, siapa namanya aku lupa?"


"Fredericka maksud kamu?"


"Fredericka? Fredericka siapa yang dimaksud oleh dia?" batin Aleta bertanya-tanya.


"Nah iya itu, kan kamu bilang dia juga kaya raya ya kamu minta aja uang sama dia atau pinjam uang ke Fredericka gitu aja kok repot sih mas, pokonya aku gak mau tahu ya, aku mau uang itu malam ini juga, kalau kamu gak mau kasih uang itu ke aku malam ini juga, ya mas gak akan dapat nafkah lahir lagi dari aku, mas gak akan dapat jatah malam lagi dari aku, aku gak mau lagi melayani nafsu mas lagi, apa selama ini mas tidak benar-benar mencintai ku dan hanya menjadikan ku sebagai pemuas pribadi mas semata? iya?"


"Ya enggak dong sayang, aku cinta kok sama kamu, ya aku minta jatah sama kamu kan karena kamu pacar aku, aku cinta sama kamu, emangnya salah ya kalau aku itu minta jatah dari kamu hm? lagipula juga kamu menikmatinya bukan? kalau kamu tidak menikmati permainan ku mana mungkin kamu men de sah semerdu itu dan berulang kali sampai puncak"


"Iya aku akui memang aku menikmati permainan mu itu mas, tapi aku tidak mau melayani mu dengan gratis, kamu harus mencukupi semua kebutuhan aku, pokonya aku gak mau nanti malam uang itu harus udah ada sama aku, baik kamu bawa secara tunai maupun kamu transfer ke rekening aku, ya udah aku pergi dulu bye" kata wanita itu pergi dan mengibaskan rambutnya pada Hasan.


Hasan menarik wanita itu dan langsung mencium bibirnya serta memeluknya.


"Benar-benar tidak tahu malu mereka, bisa-bisanya melakukan hal seperti itu di jalanan, apa tidak ada tempat lain?" batin Aleta.


Hasan melepaskan pelukannya dan membawa wanita itu pergi, Aleta segera mematikan rekaman videonya dan mengejar kepergian mereka. Ternyata Hasan melanjutkan adegannya di semak-semak. Aleta pun kembali merekamnya.


"Haduh dasar pasangan gak modal ya, masa main di semak-semak sih? mas, mas, udah tahu kamu gak ada yang kenapa pakai acara gaya-gayaan punya banyak wanita?" batin Aleta bertanya-tanya dan menggelengkan kepalanya melihat Hasan yang masih bermain dengan wanita itu.


Setelah keduanya lemas bermain, Hasan dan wanita itu tiduran sembari berpelukan sejenak lalu Hasan bangun dan memakai kembali pakaiannya.


"Iya mas" kata wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Hasan pergi meninggalkan kekasihnya begitu saja di semak-semak. Aleta langsung mematikan video rekamannya dan bergegas untuk pulang sebelum Hasan tiba di rumah lebih dulu darinya. Hasan kembali ke rumah Aleta, namun bukan untuk memperbaiki semua kesalahannya, Hasan kembali hanya untuk meminta uang pada Aleta.


"Sayang aku minta uang dong"


"Hah? apa? uang? apa gak salah dengar aku? kan yang cowok itu kamu mas bukan aku, kenapa kamu malah minta uang ke aku? itu tuh tugas kamu untuk memberikan uang ke aku sebagai nafkah bukannya aku yang harus memberikan kamu uang mas, apa kamu gak malu minta uang ke istri kamu sendiri?"


"Malu? kenapa harus malu? kalau aku gak pakai baju, gak pakai celana, keliling-keliling itu baru malu, ngapain harus malu? kan kamu istri aku ya gak salah dong kalau aku minta uang ke kamu"


"Gak salah kamu bilang? hei sadar! kamu itu laki-laki bukan banci yang ketergantungan dengan wanita, kalau kamu ingin uang ya kamu bekerja bukan malah meminta!"


"Aku kan kerja di perusahaan papa kamu, tapi emang uang yang papa kamu berikan itu tidak mencukupi semua kebutuhan ku"


"Semua kebutuhan mu untuk para jalaangg mu itu kan? kamu bilang tadi kalau malu itu keliling gak pakai baju dan celana tapi kamu bermesraan dengan wanita lain di jalan, apa kamu tidak malu akan hal itu mas?"


"Jangan asal fitnah kamu, tahu darimana kamu hah? biar aku habisi orang yang telah menuduh ku seperti itu"


"Banyak orang yang mengatakan padaku tentang semua kebusukan mu selama ini mas, kamu sering bermesraan dengan wanita lain bahkan melakukan hubungan suami istri dengan wanita lain di tempat terbuka"


"Plakkk!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aleta.


"Jangan asal bicara ya kamu! aku tidak serendah itu! jangan merendahkan ku seperti itu! bentak Hasan menunjuk Aleta kesal.


"Aku tidak sedang merendahkan mu, tapi banyak yang mengatakan hal itu kepadaku, mereka melihat kamu bermesraan dengan wanita lain di tempat terbuka, apa kamu tidak malu mas hah? jika tidak memiliki uang, mengapa harus memiliki banyak wanita? kamu itu bukan raja mas, kamu bukan sultan, bukan orang kaya raya yang bisa membayar semua wanita di dunia ini untuk menjadi pe la cur kamu mas! kamu itu hanya orang miskin, orang miskin yang sok kaya dengan menyimpan dan bersenang-senang dengan banyak wanita, jika kamu ingin bersenang-senang dengan banyak wanita, pastikan dulu kamu memiliki uang, jangan kere sok-sokan punya banyak wanita, giliran dimintain uang sama selingkuhan kamu eh kamu malah minta uang ke aku, sama aja kan aku yang membiayai selingkuhan kamu itu, yang selingkuh kamu kok aku yang harus mencukupinya? ya seharusnya kamu lah yang mencukupinya bukan aku, tapi orang seperti kamu mana bisa mengerti akan hal itu, di pikiran kamu kan hanya bersenang-senang dengan para wanita tanpa harus memikirkan darimana datangnya uang itu, aku akan urus surat perceraian kita segera, aku udah benar-benar muak sama kamu mas!"


"Oke kalau kamu mau cerai sama aku, aku tunggu surat perpisahan kita itu agar aku bisa menikah dengan Putri kekasih ku yang cantik"


"Silakan saja! aku sudah tidak peduli dengan mu mas"


"Oke!" kata Hasan yang langsung pergi meninggalkan rumah Aleta.