
"Nadia, ingat selalu pesan papa ya, jangan sampai kamu dikeluarkan lagi dari sekolah, kalau sampai kamu dikeluarkan lagi dari sekolah, papa gak akan bantu kamu lagi, ini kesempatan terakhir kamu, papa sudah membantu mu dengan membayar mereka agar kamu bisa sekolah disini, kalau sampai kamu dikeluarkan lagi dari sekolah papa akan pindahkan kamu ke pesantren, agar kamu bisa belajar yang benar, biar gak cari masalah terus sama teman-teman sekolah mu"
"Iya pah, tapi jangan masukin Nadia ke pesantren dong, Nadia gak akan betah di sana"
"Ya sudah makanya dengar perkataan papa ya"
"Iya pah, lagipula juga kan aku sama Sasha dikeluarkan dari sekolah karena si Sarah! ngeselin emang tuh orang!"
"Nadia! jangan menyalahkan orang lain terus! Sarah gak salah apapun, tapi kamu dan Sasha yang bersalah, kamu dan Sasha membully dia hingga akhirnya kalian dikeluarkan dari sekolah, sekarang Sasha udah gak sama kamu lagi, semoga di sekolah baru ini kamu bisa mendapatkan teman yang baik, dan tidak membully orang lain lagi"
"Hm, iya pah!"
"Ya sudah, sekarang kamu masuk sana"
"Iya pah" ucap Nadia bersalaman dengan ayahnya.
"Belajar yang benar Nadia"
"Iya pah" ucap Nadia menoleh ke arah ayahnya.
"Dapat juga rekamannya, anak baru itu harus kita kasih pelajaran, gw akan kirim video ini ke grup kelas yang gak ada satupun guru disana, biar tahu rasa tuh murid baru!" ucap salah satu teman wanitanya mendengar pembicaraan Nadia dan ayahnya.
Dia adalah Kienzy Adira Ayyara salah satu teman sekelas Nadia yang juga merupakan siswa paling hits di sekolah dan suka mem-bully teman-temannya. Kienzy memiliki lima orang teman perempuan yaitu Berlin Fawnia, Finley Halina, Izora Leana Ivanka, Kirana Laquitta, dan Olivia Nidya Paramitha.
Kienzy mengirimkan rekaman itu ke grup kelas.
"Eh ini siapa deh? kenapa Kienzy ngirim video dia?" tanya Berlin teman Kienzy.
"Entahlah! kita tanyain langsung aja ke orangnya" ucap Finley.
"Eh itu Kienzy" ucap Olivia menunjuk Kienzy yang tengah melintas.
"Kienzy" panggil Izora.
"Hai Zora, eh ada Oliv, Kiran, Finley, sama Berlin, baru gw mau cari kalian, eh kalian udah pada ngumpul disini" ucap Kienzy menghampiri teman-temannya.
"Eh itu cewek yang lu kirim ke grup siapa deh?" tanya Kiran.
"Oh itu, itu anak baru disini, katanya dia masuk sini itu karena ketahuan nge-bully terus dikeluarkan dari sekolah lamanya" jawab Kienzy.
"WOW! ada penjahat rupanya!" ucap Oliv.
"Kita juga sama sih sebenarnya" sambung Berlin.
"Iya sih Berlin, tapi kan kita gak sampai dikeluarkan dari sekolah, dan gak mungkin juga kita dikeluarkan dari sekolah, kan orangtua kita donatur terbesar di sekolah ini, ya gak mungkin lah sekolah mengeluarkan kita, yang ada mereka rugi dan harus jadi donatur baru" ucap Izora.
"Yaps benar! hm, gimana kalau kita kerjain aja tuh murid baru? kan katanya dia dulu pembully kan? sekarang dia disini sendirian, gak punya satupun teman, kita buat saja dia gak betah di sekolah ini gimana?" tanya Finley.
"Hm, oke juga sih ide lu, ya udah yuk cabs ke kelas!" ajak Kienzy.
Teman-temannya mengikuti Kienzy masuk ke kelas.
Kienzy duduk dengan Finley di barisan tengah dan bangku nomor tiga. Berlin duduk dengan Izora disamping Kienzy. Kiran duduk dengan Olivia disamping Finley.
"Eh Kienzy, gimana kalau tuh murid baru gak sekelas sama kita?" tanya Olivia.
"Ya kalau gak sekelas sama kita, kita ke kelasnya lah!" jawab Kienzy.
"Tapi lebih enak sekelas gak sih?" tanya Finley.
"Iya sih, sekelas lebih enak ngerjainnya" jawab Kienzy.
"Eh ada bu guru datang!" ucap Izora berlari masuk ke dalam kelas.
"Lu darimana Zora?" tanya Berlin berbisik ada Izora.
"Gw dari toilet tadi, kayaknya murid baru itu sekelas sama kita deh!" ucap Izora.
"Iya kayaknya, soalnya tadi gw lihat wali kelas kita bareng sama tuh murid baru" ucap Izora.
"Assalamualaikum" ucap wali kelas masuk ke dalam kelas bersama Nadia yang sedari tadi sedang diperbincangkan oleh Kienzy dan teman-temannya.
"Wa'alaikumsalam" jawab seluruh murid.
"Murid-murid, hari ini kita kedatangan murid baru di kelas ini"
"Silakan Nadia perkenalkan diri kamu ke teman-teman mu" ucap wali kelas menatap Nadia tersenyum kecil.
"Hai guys" ucap Nadia tersenyum melambaikan tangannya.
"Hai" jawab seluruh murid tersenyum menatapnya.
"Nama gw Nadia Azkadina, salam kenal semuanya" ucap Nadia tersenyum melambaikan tangannya.
"Iya Nadia" jawab semua murid tersenyum menatapnya.
"Sok kab banget sih tuh orang?" tanya Finley berbisik pada Kienzy.
"Udah yarin, entar kalau tuh guru udah pergi baru kita kasih dia pelajaran!" bisik Kienzy.
"Nadia, kamu duduk di bangku kosong samping Delia ya" ucap wali kelas menunjuk satu-satunya bangku kosong yang ada di kelas itu.
"Iya bu" jawab Nadia tersenyum dan pergi ke bangkunya.
"Dia duduk di depan kita lagi, gimana kita ngerjain dia?" tanya Finley berbisik pada Kienzy.
"Gampang itu, nanti aja!" bisik Kienzy.
"Hai Nadia, aku Ardelina Ardani, panggil aja Delia, salam kenal" ucap Delia tersenyum mengulurkan tangannya.
Nadia hanya menatap tajam tangan Ardelia dan tidak mau menyentuhnya.
"Gw Nadia" jawab Nadia ketus memalingkan wajahnya.
Melihat perlakuan Nadia pada Delia membuat Kienzy dan teman-temannya tersenyum menganggukkan kepala dan saling menatap satu sama lain.
Kienzy menuliskan kata "saya orang gila" di sebuah kertas. Kienzy merobek kertas itu dan Finley memberikan double tip. Kienzy menempelkan kertas yang sudah diberi double tip itu di rambut Nadia.
"Hai Nadia, salam kenal, gw Kienzy" ucap Kienzy tersenyum sembari menepuk-nepuk dan sedikit menekan agar kertas itu menempel.
"Gw Finley, salam kenal Nadia" ucap Finley tersenyum menekan kertas itu agar menempel dengan sempurna.
"Hm maaf, tapi gw gak mau tahu siapa nanya kalian, dan gw juga gak nanya siapa kalian" jawab Nadia tersenyum kecil dan langsung memalingkan wajahnya.
"Hm, okay" ucap Kienzy.
Delia menatap Kienzy dan Finley ketakutan.
Kienzy memberikan kode pada Delia untuk tetap diam.
"Diam! jangan bilang apapun sama dia!" bisik Finley.
Delia menganggukkan kepalanya ketakutan dan kembali menatap ke papan tulis.
"Kenapa mereka sangat aneh? ada apa sebenarnya?" batin Nadia bertanya-tanya menatap Delia.
"Hm, ya sudahlah! mungkin ini hanya perasaan ku saja!" batin Nadia.
Kienzy tersenyum menatap teman-temannya dan mengangkat alisnya. Teman-temannya pun tertawa melihat ulah Kienzy pada Nadia.
"Rasakan lu cewek sombong! lu tuh murid baru disini! seharusnya lu tunduk sama gw bukan malah menyombongkan diri seperti itu! gw akan buat hidup lu seperti di neraka selama lu ada di sekolah ini!" batin Kienzy tersenyum kecil. menganggukkan kepala menatap Nadia.